
Sudah beberapa hari Naina berada dirumah eyang Putri. Setiap hari dia harus menjalani ritual ritual dari eyang putri. Seperti berendam disubuh hari untuk memulihkan kesehatan nya, meminum ramuan ramuan yang sengaja diracik oleh eyang putri setiap pagi dan malam hari, dan untung nya ramuan itu tidak lagi seperti dulu yang terasa pahit dan begitu kelat, meskipun rasa nya tetap saja tidak bisa dijabarkan.
Kemarin Reyza pergi keperusahaan nya karena meeting penting yang harus dihadiri nya, namun hari ini dia telah kembali karena hari ini adalah hari syukuran untuk kesembuhan Naina yang diadakan oleh eyang putri dan ibu.
Rumah besar dan luas itu telah disulap menjadi tempat perkumpulan untuk para tamu yang datang. Eyang putri sengaja mengundang puluhan anak Yatim dan tetangga dekat mereka untuk berdoa bersama. Dan nanti akan membagi bagikan beberapa bingkisan berupa barang dan uang, yang didanai oleh Reyza tentu nya.
Sean baru hari ini tiba dirumah eyang putri setelah sebelum nya dia hanya menginap semalam disana karena harus mengurus masalah perusahaan.
Hari ini dia tampak begitu ceria karena Lolita juga hadir disana untuk menghadiri acara kakak nya.
Saat ini semua orang tengah sibuk berkumpul diruang tengah rumah eyang putri karena sebentar lagi tamu akan datang ditempat itu.
Didalam kamar, Reyza masih membantu Naina merapikan pakaian nya, padahal saat ini istri nya itu sudah bisa melakukan semua sendiri.
Naina terlihat begitu cantik dan berseri dengan gamis panjang bewarna putih nya dipadu padankan dengan selendang bewarna sama. Begitu juga dengan Reyza, dia terlihat begitu tampan dan gagah, juga sangat terlihat bersinar dengan pakaian muslim yang senada dengan Naina, semua serba putih, ditambah dengan kopiah nya. Benar benar ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.
"kakak" panggil Naina, saat ini dia dan Reyza berdiri didepan cermin besar nya, dengan Reyza yang memeluk nya dari belakang dan Naina memegang lengan yang melingkari perut nya
"iya sayang" jawab Reyza lembut sembari terus menciumi pucuk kepala istri nya
"kakak tampan sekali" ungkap Naina dengan senyum nya yang berbinar hingga mampu menular kepada Reyza
"tentu saja sayang, suami ini memang harus selalu tampan" jawab Reyza membuat Naina terkekeh pelan
"Nai begitu beruntung mendapat suami yang begitu baik dan sangat tampan seperti kakak" ungkap Naina lagi
"benarkah?" tanya Reyza membalikan tubuh Naina dan masih dengan tangan yang melingkari pinggang istri nya.
Wajah Naina kini sudah tidak begitu pucat lagi, sudah jauh terlihat lebih segar apalagi ditambah dengan makeup tipis diwajah nya, membuat Reyza kembali berdesir hati nya.
"iya, semoga selama nya selalu seperti ini" jawab nya dan merebahkan kepala nya didada bidang Reyza yang memeluk nya dengan mesra
"tentu sayang. selama nya harus tetap seperti ini, karena aku begitu mencintai mu" balas Reyza
"Nai juga sangat mencintai kakak, lebih dari apapun" ungkap Naina
Reyza menangkup wajah Naina dan mendekatkan bibir nya pada bibir merah muda itu, Naina memejamkan mata nya menantikan sentuhan lembut Reyza yang selalu membuat nya terbuai, namun
tok tok tok
Mereka langsung saling pandang dan dengan segera Naina melepaskan pelukan Reyza membuat Reyza mendengus kesal
"Nai, kalian udah ditunggu itu. Tamu udah pada Dateng semua" seru Beti dari luar kamar Naina
"iya Bet, bentar lagi kami keluar. udah selesai kok" jawab Naina. Dia kembali memutar tubuh nya dan membenarkan penampilan nya yang terlihat begitu anggun itu
"mengganggu saja" gerutu Reyza yang duduk disebelah Naina dengan wajah tertekuk
Naina tersenyum dan mengusap wajah tampan suami nya itu. Wajah yang kini sudah kembali bersinar cerah dan tidak lagi suram seperti saat pertama kali Naina membuka mata nya.
__ADS_1
"jangan begitu, mereka sudah menunggu kita. ayo kita turun" ajak Naina mencium singkat hidung mancung Reyza hingga wajah itu kembali tersenyum
"sebentar" kata Reyza menarik Naina hingga gadis itu jatuh diatas pangkuan nya.
"kita sudah ditunggu kak" kata Naina sembari menahan dada Reyza
"sebentar saja sayang" jawab Reyza. dia langsung memagut lembut bibir manis itu hingga membuat Naina kembali terbuai
Reyza melepaskan pagutan nya dan mengusap bibir tipis Naina dengan senyum yang mengembang
"sudah, ayo" ucap nya pada Naina yang masih terdiam melongo, suami nya ini benar benar
"kenapa, masih mau lagi" kata Reyza dengan senyum menggoda nya membuat Naina mendengus kesal namun rona merah diwajah nya tidak bisa disamarkan
"kakak ih" kesal Naina memukul pelan dada bidang itu dan beranjak dari pangkuan Reyza yang tertawa kecil. Senang sekali dia melihat Naina merona seperti itu.
Mereka keluar dari kamar beriringan menuju tempat acara. Reyza dengan setia menggenggam erat tangan Naina.
Semua mata memandang kagum kearah mereka, terlihat begitu bersinar diantara semua orang yang ada disana.
Decak kagum para tetangga eyang putri pun berkumandang disetiap sudut melihat penampilan Reyza yang begitu gagah dan sangat tampan.
Tadi mereka begitu mengagumi sosok Sean dan Danil yang sudah ada disana, tapi kini setelah Reyza keluar mereka kembali dibuat terperangah dengan penampilan lelaki itu. Terutama para gadis gadis yang berada disana, mereka benar benar ternganga melihat pesona Reyza membuat Naina menarik nafas panjang.
Naina dan Reyza menghampiri tempat dimana para orang tua berada. Disana telah ada tuan Suryo dan istri nya.
"jaga kesehatan mu selalu ya nak, agar tetap sehat seperti ini" kata Miranti setelah mereka saling melepaskan pelukan
"iya ma, pasti. terimakasih banyak untuk semua nya" jawab Naina masih begitu canggung memanggil nyonya besar itu dengan sebutan mama
"kamu juga anak mama sayang" jawab Miranti mengusap lembut wajah Naina yang merona.
"cepat lah sehat. agar kau tidak lagi membuat suami mu ini seperti orang gila yang kehilangan arah" kata Tuan Suryo pula. Pria yang masih terlihat gagah disaat umur nya yang sudah tidak lagi muda itu, dan kini telah menjadi mertua nya. Ah, Naina benar benar tidak menyangka jalan hidup nya seberuntung ini.
Reyza mendengus gerah mendengar penuturan tuan Suryo, meski apa yang dikatakan nya memang lah yang sebenar nya terjadi.
"tentu papa" jawab Naina dengan sedikit membungkuk dan tersenyum
Semua orang yang ada disana berbaur menjadi satu seperti keluarga pada umum nya. Meski orang tua Naina dan orang orang disana begitu canggung dengan keberadaan tuan Suryo dan istri nya yang terlihat dominan ditengah tengah mereka.
Namun tuan besar itu terlihat santai saja, sesekali dia berbagi cerita dengan Abah Naina tentang beberapa hal.
"nyonya, ini coba dicicipi kue khas daerah kami" kata Ibu Naina sembari menyerahkan sepiring kue berbungkus daun pisang pada besan nya
"ini apa mbak?" tanya Miranti memandang kue itu,
"ini nama nya nagasari nyonya, isi nya terbuat dari tepung beras dan sisi oleh sedikit potongan pisang" jelas ibu Naina
"seperti nya enak" gumam nya seiring tangan nya yang mencomot sebutir kue itu
__ADS_1
"ah iya mbak, jangan panggil nyonya, kita sudah jadi satu keluarga sekarang" kata Miranti lembut menatap ibu Naina yang tersenyum canggung
"rasa nya sungguh tidak pantas nyonya" jawab ibu
"jangan begitu, kita sama sama orang tua mereka. tidak ada yang membedakan" ungkap mama kembali
"baiklah mbak yu" sahut ibu membuat mama langsung tersenyum
"itu jauh lebih baik" jawab nya sembari menggigit kue yang ada ditangan nya
"emm, ternyata ini enak Mbak" ucap nya lagi
"benarkah, masih banyak kue tradisional yang lain nya jika mbak yu ingin mencoba" kata ibu kembali
"tentu, saya tidak pernah makan kue seperti ini sebelum nya, ternyata ini enak dan cocok dilidah saya" jawab mama
Mereka mengobrol pasal makanan dan hal hal yang berbau rumah tangga dengan kesan yang sudah terlihat akur.
Sedangkan tuan Suryo kini bergabung bersama Abah dan para tetua yang diundang diacara itu.
Reyza, Naina, Beti,Loli, Sean dan Danil duduk lesehan tidak jauh dari para tetua itu berkumpul. Mereka duduk didepan para tamu dan anak Yatim yang sudah duduk berkumpul disana.
"kak Angel tidak ikut mas?" tanya Naina pada Danil
"tidak Nai, dia sedang hamil muda saat ini, jadi tidak bisa bepergian jauh, dia hanya titip salam pada mu" jawab Danil
"iya mas, wah, berarti gadis kecil ku akan menjadi kakak sebentar lagi" balas Naina
"iya, dia sangat menantikan adik nya cepat lahir" jawab Danil terkekeh membuat Naina dan Reyza juga ikut tertawa.
Sayang nya Dion dan Clarissa tak bisa hadir hari ini, Clarissa benar benar tidak bisa bepergian jauh karena sedang hamil muda, sedangkan Dion masih sibuk mengurus perusahaan dan istri nya.
Tidak lama kemudian, acara itu dimulai oleh seorang ustadz yang akan memimpin doa diacara itu. Segala permohonan tentang kebahagian, kesehatan dan perlindungan hidup mereka panjatkan dengan hikmat, bahkan Naina dan ibu menangis haru saat itu.
Mereka bersyukur Naina bisa kembali dan berkumpul bersama mereka lagi, tertawa ceria dan menjadi mentari dihati semua orang.
Acara diakhiri dengan pembagian bingkisan langsung oleh Naina dan Reyza dibantu oleh Beti, Loli, Sean dan juga Danil tentu nya.
Senyum sumringah terpancar diwajah anak anak itu, membuat hati Naina dan Reyza menghangat karena bisa berbagi pada orang lain.
Semoga segala kesakitan dan kepedihan tidak lagi mereka rasakan. Semoga kebahagiaan selalu terselip diberbagai cerita kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
Reyza menatap wajah Naina yang tersenyum bahagia ketika membagi bagikan bingkisan pada anak anak Yatim itu. Meski lelah, tapi istri nya itu terlihat begitu semangat saat ini
' terimakasih Tuhan, terimakasih telah Kau kembalikan Naina ku saat ini. Semoga tidak ada lagi kesakitan yang kami rasakan. Aku tidak berharap apapun lagi, kecuali kebahagiaan untuk istriku'. batin Reyza dalam hati
...
next
__ADS_1