
Beberapa hari telah berlalu, kondisi Naina sudah bisa dikatakan dalam keadaan baik meski belum juga sadar dari koma nya.
Reyza dan ibu masih seperti biasa tak pernah pergi jauh meninggalkan kesayangan mereka.
Hanya Beti yang terkadang keluar membelikan perlengkapan mereka dirumah sakit itu.
Kini Reyza tengah membersihkan seluruh badan Naina, rutinitas setiap pagi yang selalu menjadi hobi baru nya, yaitu membersihkan tubuh sang istri.
Diusap nya seluruh tubuh Naina perlahan mulai dari wajah hingga keujung kaki.
Ada semburat pilu melihat keadaan Naina yang jauh berbeda dari saat mereka bersama dulu. Gadis cantik yang ceria, tinggi , sedikit berisi, pipi merona setiap kali Reyza menggoda nya, kini tinggalah tulang yang berbalut kulit, wajah pucat seperti mayat hidup.
Dengan lembut Reyza memakaikan pakaian Naina yang telah disediakan oleh Beti, dikecup nya singkat kening, kedua mata, dan terakhir bibir Naina.
"cepat bangun ya istriku, aku merindukan mu" kalimat bisikan yang tak pernah bosan diutarakan Reyza setiap saat
...
Hari ini adalah jadwal operasi Naina, meski belum sadar namun dokter Hoishi sudah memutuskan akan segera mengangkat sisa sel kanker dikepala Naina.
Seluruh keluarga Naina dan Reyza berkumpul untuk menunggu kelancaran operasi Naina.
Tak terkecuali Dion, dan Danil, sedang istri mereka berada dirumah karena Clarissa dan Angelina sama sama tengah hamil muda saat ini.
Mereka memutuskan untuk duduk diruang tunggu tak jauh dari kamar operasi Naina.
Hanya Reyza, ibu, mama dan Beti yang tetap berada didepan ruang operasi.
Sudah hampir empat jam operasi Naina berjalan namun belum ada tanda tanda operasi akan selesai. Tidak ada tanda tanda dokter Hoishi maupun dokter Bayu yang mendampingi nya keluar dari ruangan itu.
Mereka semua duduk tanpa sepatah kata apapun, hanya doa dan harapan yang sejak tadi berseru dalam hati mereka masing masing.
Tampak wajah kusut, lelah, sedih, cemas, semua bercampur menjadi satu pada wajah Reyza.
Tak ada yang bisa dilakukan nya selain berdoa memohon kesembuhan untuk istri nya.
Hingga tanpa sadar ia tertidur dalam duduk nya akibat lelah yang sudah mencapai batas.
Ibu dan mama membiarkan Reyza tertidur agar fikiran nya sedikit tenang, mengingat sebulan ini dia jarang beristirahat.
"kasihan nak Reyza, dia pasti kelelahan karena terus menjaga Naina" lirih ibu sendu, tampak mata nya berkaca kaca
"itu sudah tugas nya sebagai seorang suami mbak, " kata Miranti menenangkan besan nya
"saya hanya tidak tega melihat nya sedih dan terlihat begitu lelah" lirih ibu
"tidak apa mbak, dia sangat mencintai Naina. Dan semoga lelah nya dan lelah kita semua dibayar indah oleh sang pemilik kuasa" tutur Miranti lembut
"amin mbak yu" jawab ibu
..
Beberapa jam kemudian
"bagaimana keadaan Naina dokter? " kata Reyza cepat setelah dokter Hoishi dan dokter Bayu keluar dari ruangan itu
Semua orang terlihat menunggu jawaban para dokter yang wajah nya menunjukan raut yang sulit untuk dimengerti.
"dokter bicaralah! " seru Reyza tidak sabar
"maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kondisi tubuh Naina tiba tiba drop dan jantung nya tak dapat lagi memompa" tutur dokter Hoishi begitu menyesal
Isakan sudah terdengar dari mulut beberapa orang.
" ap apa maksud anda dokter? " kata Reyza terbata, wajah nya sudah pias
__ADS_1
"Naina tak bisa bertahan, dia sudah pergi dengan tenang dan tak akan merasakan sakit lagi" tambah dokter Bayu yang juga sangat terpukul mengingat sebulan ini dia yang bertugas mengontrol keadaan Naina
Duarr!!!
Seketika dunia Reyza runtuh, ada sebuah beban besar yang langsung menghantam tubuh nya,
Ia jatuh terduduk dengan derai air mata yang mengalir deras
"tidak, tidak mungkin, dokter kau bohong kan. Naina ku kuat, Naina ku kuat, dokter!!! " seru Reyza menjambak rambut nya sendiri
Terlihat sangat frustasi
Mama langsung memeluk nya erat
Namun langsung ditepis oleh Reyza, dia langsung berlari kedalam ruangan Naina, mengguncang guncang kan tubuh istri nya yang sudah kaku dan pucat tanpa darah.
"Naina bangun, Nai, bangun Naina!! !" teriak Reyza frustasi.
Ia menangis meraung sembari memeluk tubuh istri nya
"Nai, kau bercanda kan Nai, Nai bangun sayang, bangun!!.." teriak Reyza memenuhi seluruh ruangan itu
"haaaa.. ..!!!! Naina bangun!! !
"jangan tinggalkan aku Naina!!!
"bangun Naina!!!?"
"Rey! "
"nak"
"hei nak!
Reyza pun langsung tersadar dari tidur nya.
Ditatap nya mama, ibu dan juga beberapa orang lain yang memperhatikan nya
"ma, Naina ma, naina" kata Reyza lirih menatap wajah Miranti yang berkaca kaca melihat nya
"Naina masih didalam nak, kau kenapa? " tanya Miranti yang langsung memeluk tubuh Reyza yang bergetar
Reyza masih terdiam sembari menenangkan diri dari mimpi buruk nya
"Naina baik baik saja kan ma, dia belum pergi kan ma? " tanya Reyza mulai terisak lirih
"tenang lah nak, dia baik baik saja. Dokter belum keluar. Berdoa lah, jangan seperti ini. Kau harus kuat. Naina pasti baik baik saja" ungkap Miranti yang juga ikut bersedih melihat keadaan Reyza yang seperti nya bermimpi buruk
Ibu, Beti, dan Loli berusaha menahan tangis mereka melihat betapa hancur nya Reyza.
Sementara para lelaki yang lain masih memasang wajah datar mereka meski dalam hati masing masing merasa sangat iba melihat Reyza, terutama tuan Suryo.
Hingga beberapa saat kemudian Reyza sudah mulai tenang, Beti langsung memberikan nya air minum untuk melegakan pernapasan nya.
..
Sudah hampir tujuh jam mereka menunggu dalam kegelesihan, bahkan tidak ada yang beranjak dari tempat itu kecuali untuk buang air, dan akhir nya lampu tanda operasi sudah dimatikan dan itu menandakan bahwa operasi Naina telah selesai.
Semua orang menunggu dokter keluar dengan harap harap cemas.
Hingga pintu ruangan terbuka dan keluarlah dokter Bayu beserta dokter Hoishi dengan wajah lelah mereka.
"bagaimana keadaan menantu saya dokter? " tanya tuan Suryo langsung. Semua orang berdiri menantikan jawaban sang dokter kecuali Reyza yang hanya terduduk lemas dikursinya.
Sungguh untuk saat ini dia tidak ingin mendengar kabar buruk tentang Naina, apalagi tentang mimpi nya tadi.
__ADS_1
"operasi nya berjalan dengan lancar tuan, syukur lah sel sel kanker nya sudah berhasil kami angkat. Bantuan ramuan tradisional itu sungguh sangat membantu. Hingga tak ada satu kerusakan apa pun pada sel saraf nya. " jelas dokter Hoishi dan membuat beberapa orang yang mengerti bahasa nya dapat bernafas dengan lega
"apa kami sudah boleh melihat nya dokter? " tanya ibu dan abah pada dokter bayu. Mengingat hanya Reyza, tuan Suryo, Sean, Dion dan Danil yang mengerti perkataan tuan Hoishi yang memang berbicara dalam bahasa jepang
"untuk sekarang jangan dulu ya bu, kondisi nya belum stabil, masih terlalu lemah. Nanti jika sudah dipindahkan keruang perawatan baru bisa dijenguk" jawab dokter Bayu dengan senyum hangat nya
"baiklah" jawab ibu pasrah
Reyza yang mendengar itu pun dapat bernafas sedikit lega, meski kecemasan masih memenuhi rongga hati nya
Beti langsung terduduk dengan lega dikursi nya tak jauh dari tempat Reyza berada, sementara Loli kini tengah bersama kedua orang tua nya dan mama Reyza.
Dokter Bayu tersenyum melihat Beti yang terlihat sangat kelelahan namun begitu tulus menjaga sahabat nya itu.
"hei, mau menemaniku sebentar" ajak Dokter Bayu yang kini berdiri didepan gadis itu yang terkesiap kaget
"kemana" tanya Beti
"keluar sebentar, kita butuh udara segar saat ini" jawab dokter Bayu masih dengan senyum teduh nya, senyum yang mampu membuat Beti merasakan ketenangan didalam hati nya
"tapi aku masih mau nunggu Naina bang dokter" lirih Beti
"sudah ada mereka, kau perlu beristirahat. lagi pula Naina belum bisa dijenguk saat ini. ayolah" kata dokter Bayu lagi, dia langsung menarik tangan Beti yang terkesiap kaget dan langsung menoleh kearah Reyza yang masih tertunduk dalam diam dan juga menatap kearah keluarga lain nya yang sibuk dengan pembicaraan mereka, namun kaki Beti tetap berjalan mengikuti langkah kaki dokter tampan itu.
Mata Beti mengerjap beberapa kali saat dokter Bayu membawa nya kesebuah taman dibelakang rumah sakit, tempat dimana banyak pasien yang menenangkan diri mereka disana, karena memang tempat itu dibuat begitu indah dengan pohon pohon rindang yang sengaja ditanam dan juga bunga bunga yang dirawat dengan baik, bahkan air terjun buatan juga ada disana meski berukuran mini. Benar benar tempat yang menenangkan, kenapa sebulan ini dia tidak tahu ada tempat sebagus ini dirumah sakit besar itu.
"Hei, ayo duduk sini" seru dokter Bayu membuat lamunan Beti buyar
Dia melihat dokter itu sudah duduk disebuah kursi panjang bewarna putih dibawah pohon beringin kecil sembari melepas jas putih kebanggan nya.
Beti langsung berjalan menghampiri dokter itu dan duduk disebelah nya
"kenapa aku tidak pernah tau ada tempat sebagus ini disini ya" kata Beti pada diri nya sendiri namun membuat dokter Bayu tersenyum menatap nya, gadis polos yang selalu apa ada nya
"bagaimana kamu mau tahu, jika waktu mu hanya kamu habiskan didalam ruangan nona Naina saja" jawab Dokter Bayu sembari mengetik sebuah pesan diponsel nya
"ya mau bagaimana lagi bang dokter, Naina itu udah kayak saudara ku sendiri, gimana aku bisa jauh jauh dari dia" sahut Beti sembari terus menatap wajah dokter tampan yang sangat murah senyum itu
"ya, saya salut sama kamu. kamu begitu tulus menemani nya" jawab dokter Bayu
"udah tugas ku kok" jawab Beti memalingkan wajah nya dari tatapan dokter Bayu yang selalu bisa membuat hati nya berdebar debar tidak menentu
"gimana keadaan Naina bang, dia gak papa kan" tanya Beti lagi
"dia masih dalam kondisi kritis saat ini, mudah mudahan dia segera sadar, berdoa saja" jawab dokter Bayu sembari meregangkan otot otot nya yang terasa kaku
"Abang kelihatan lelah kali, pasti gak mudah jadi dokter kan ya" ucap Beti pada Bayu yang terkekeh pelan
"memang tidak mudah, apalagi menangani pasien dengan sakit yang berbahaya seperti ini. tapi ini cita cita saya, dan saya menikmati nya" jawab dokter Bayu dengan senyum khas nya
"kenapa gak bercita cita jadi pengusaha atau yang lain aja. kan gak ngadepi kasus mengerihkan kayak gini. aku aja sebulan ada disini, berasa kayak berada dialam lain bang, masih ngadepin Naina sendiri, cemana lagi Abang yang ngadepin banyak pasien, belum lagi pasti banyak gangguan dari para hantu hantu disini" oceh Beti yang membuat dokter Bayu kembali terbahak
"kamu ada ada saja. tapi memang terkadang melelahkan. tapi saya suka menolong orang lain, apalagi yang mempunyai riwayat penyakit seperti nona Naina. kamu tahu, kakak saya juga dulu seperti Naina, dia mempunya kanker yang bersarang ditubuh nya, dan itu membuat nya tidak bisa bertahan lebih lama. saya begitu terpukul, karena hanya dia dan ibu yang saya punya. sejak saat itu saya bercita cita untuk menjadi dokter spesialis kanker agar bisa mengobati orang lain dan bisa sembuh dari penyakit nya" ungkap dokter Bayu membuat Beti menatap nya penuh haru
"tapi penyakit kanker memang jarang yang bisa sembuh kan bang" lirih Beti
"semua tergantung yang Maha Kuasa Bet, tidak ada yang tidak mungkin bagi Nya. Jika kita selalu berusaha dan berdoa saya yakin penyakit apapun itu pasti bisa sembuh, walaupun sebenar nya penyakit kanker memang penyakit paling mematikan didunia selain HIV " jelas dokter Bayu membuat Beti mengangguk lemah
"semoga Naina bisa sembuh" gumam nya
"dia pasti sembuh. yakin lah. dia mempunyai orang orang hebat didalam hidup nya dan sangat menyayangi nya. itu adalah kekuatan tersendiri untuk nya" jawab dokter Bayu lagi
"ya , Naina memang begitu beruntung" lirih Beti, dan tiba tiba saja hati nya menjadi mendung mengingat dia tidak memiliki keluarga yang hangat seperti Naina, dia sendiri disini, ayah nya tidak pernah memperdulikan nya hingga dia nekad merantau keibukota untuk mengubah nasib nya, dan beruntung nya dia bisa bertemu dengan Naina dan keluarga nya.
Bayu dapat melihat ada luka didalam hati gadis itu, luka yang disembunyikan disetiap tawa dan ocehan nya.
__ADS_1