
Hari hari berlalu begitu cepat dan tanpa terasa bagi sebagian orang, setiap pergantian siang dan malam tak dapat dihitung oleh orang yang menjalani hidup nya dengan kesenangan, tapi tidak bagi Naina, setiap waktu yang berlalu terasa begitu berat dan sangat lama. Setiap hari dia hanya menghitung detik demi detik kapan penderitaan nya akan berakhir. Tidak banyak pinta nya pada sang Kuasa, jika dia ditakdirkan untuk sembuh maka dia ingin kesembuhan itu segera datang, dan jika takdir nya memang harus berakhir dengan penyakit ini, maka dia berharap ajal itu segera menjemput nya, dia sudah lelah, bahkan sangat lelah. Rasa nya dia ingin menyerah, tapi jika melihat ibu nya yang selalu memberikan kekuatan ditengah kelemahan nya, dia menjadi tidak tega dan pasrah dengan segala pengobatan yang sungguh menyiksa nya ini.
Walaupun kini kondisi Naina sudah lebih baik, karena bisa dikatakan dia sudah mulai bisa makan makanan berat walaupun hanya sesuap bubur. Dia juga sudah bisa berjalan agak jauh dan lama walau wajah nya masih terlihat sangat lemas dan pucat, karena beberapa kali sakit kepala yang begitu hebat masih terus dirasakan nya.
Sore ini dia kembali menjalani pengobatan tradisional yang dibuat oleh eyang putri sendiri.
"iki ndok, minum dulu" kata eyang putri sembari menyerahkan secawan air ramuan yang setiap hari harus diminum Naina.
"rasa nya lidah Nai sudah mati rasa eyang, ini sangat pahit, bahkan Nai selalu muntah setiap kali selesai meminum nya" lirih Naina dengan mata berkaca kaca
"itu karena ramuan ini membuat racun ditubuhmu keluar ndok. Maka nya kau muntah terus. Hanya dua bulan lagi, sesudah itu kau baru bisa kembali menjalani pengobatan dirumah sakit agar sel kanker mu habis " jelas eyang putri
Naina pun memejamkan mata nya sambil menahan nafas meneguk air ramuan itu. Rasa nya sungguh sangat menyiksa namun ia tetap harus semangat. Ia kasihan melihat ibu, abah, Beti dan juga eyang putri yang sudah kelihatan lelah menemani nya setiap hari. Meski mereka tak pernah mengeluh namun Naina merasa sangat menjadi beban untuk mereka.
Setelah meminum air ramuan itu Naina pun turun kesebuah kolam air hangat yang juga sudah ditaburi beberapa kembang khusus dan ramuan ramuan khusus.
Setiap sore selama setengah jam dia harus berendam dikolam itu.
Dengan setia ibu dan Beti selalu menemani nya.
Setelah berendam kepala Naina pun dibungkus oleh handuk yang juga sudah diletakan beberapa ramuan khusus dari eyang putri.
Naina hanya pasrah menjalani segala pengobatan nya itu.
Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah dan menunggu takdir baik berpihak pada nya.
Hingga menjelang maghrib pengobatan Naina pun selesai dengan diakhiri oleh Naina yang memuntahkan seluruh isi perut nya yang bewarna hitam.
Ibu dan beti sungguh tidak tega melihat penderitaan gadis itu, tapi apalah daya mereka harus tetap kelihatan kuat didepan Naina.
Hanya ketika mereka dibelakang Naina saja mereka menumpahkan segala kesedihan nya. Apalagi jika melihat Naina baru selesai melakukan pengobatan ini. Tubuh nya yang terlihat lemas , kurus dan sangat pucat membuat hati mereka begitu hancur.
..
Malam hari nya,
Kini Naina tengah duduk diranjang nya yang tak terlalu besar. Dia baru saja selesai menulis sesuatu dibuku diary nya. Dibuka nya sebuah kotak besar berisikan sebuah album foto dan beberapa barang barang pemberian Reyza. Dia memperhatikan sebuah foto yang menampakan foto nya bersama dengan Reyza ketika berada ditaman bunga tulip, tempat mereka mengikrarkan janji setia mereka. Foto dimana senyum masih terlihat menghiasi wajah mereka berdua, difoto itu jelas terlihat mereka sangat bahagia.
__ADS_1
Diusap nya lembut foto itu dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi wajah pucat nya.
"kak, apa kabar. Nai rindu" gumam Naina menangis sedih
Dia pun menggenggam liontin pemberian Reyza dengan penuh perasaan. Hati nya begitu sesak mengingat janji nya dengan Reyza, dan kini dia yang telah mengkhianati janji itu. Dia tahu Reyza pasti kecewa atau bahkan sudah membenci nya saat ini. Tapi apa mau dikata, melihat diri nya sendiri saja dia sudah hancur apalagi jika Reyza tahu, harapan hidup bahagia selama nya kini hanya tinggal angan angan nya saja.
Setiap hari tiada detik dan tiada tarikan nafas tanpa mengingat nama Reyza, bukan hanya sakit dikepala nya yang membuat nya tersiksa, tapi juga sakit dihati nya karena memendam rindu untuk Reyza, yang sampai saat ini masih tidak bisa dia lepaskan dari hati nya.
Hampir satu jam dia menangisi nasib cinta nya hingga ia pun tertidur sembari mendekap erat foto Reyza.
Beti yang sedari tadi memperhatikan dari sebalik dinding pun hanya bisa terisak lirih melihat penderitaan sahabat terbaik nya yang belum berujung. Setiap malam Naina pasti melihat foto Reyza sebelum tidur, mungkin itu adalah semangat nya untuk menghadapi hari esok yang akan terasa sangat berat bagi Naina
..
Sedangkan dibelahan bumi lain..
Reyza dan Dion kini tengah berada disebuah pesawat untuk kembali kenegara mereka. Tiga tahun sudah berlalu perjuangan mereka untuk mendapatkan gelar master of bussines.
Sedari awal penerbangan Reyza hanya terdiam sembari menatap keluar jendela. Fikiran nya melayang mengingat nasib percintaan nya yang selalu saja berakhir dengan pengkhianatan.
Antara benci dan cinta, dua kata yang kini memenuhi hati nya. Ingin rasa nya ia datang dan menghabisi gadis yang sudah membuat hati nya hancur berkeping keping, namun rasa cinta nya membuat ia kehilangan akal.
Kenapa Ini lebih menyakitkan dari pada ketika ditinggal Angel dulu. Batin Reyza pilu
..
Keesokan hari nya..
Reyza sudah mendarat dengan selamat di Indonesia. Dion sudah duluan dijemput oleh supir nya sedangkan Reyza masih menunggu pak Roy yang menjemput.
Setelah beberapa saat pak Roy tiba, dia pun langsung masuk kemobil tanpa basa basi apapun, melihat itu pak Roy juga terdiam saja.
Beberapa menit perjalanan Reyza tiba dirumah nya. Dia disambut oleh papa dan mama nya.
"hai boy, bagaimana perjalanan mu? " tanya tuan Suryo memeluk Reyza yang juga balas memeluk nya walau hanya singkat saja
"biasa saja pa" jawab Reyza singkat
__ADS_1
"mama sangat merindukan mu nak" kata Miranti memeluk Reyza erat. Reyza pun membalas pelukan hangat itu yang bisa membuat hati nya sedikit menghangat
"Rey juga rindu ma. Yasudah, Rey naik dulu" kata Reyza langsung meninggalkan kedua orang tua nya yang masih menatap heran dirinya.
"ada apa dengan Reyza? " tanya Miranti heran sementara tuan Suryo hanya mengendikan bahu nya
Pasti karena sheralia yang menghilang. Batin tuan Suryo.
..
Beberapa hari sudah berlalu
Kini Reyza tengah bersiap siap untuk pergi keperusahaan Gemilang group. Hari ini dia akan diresmikan sebagai pewaris seluruh kejayaan Suryo Seno Gemilang.
Reyza tidak ingin berlama lama dirumah hanya untuk bersantai, jadi dia memutuskan untuk segera bekerja dan mengambil alih perusahaan orang tua nya meski masih dibawah pengawasan tuan Suryo.
Reyza sudah rapi dengan setelan kemeja dan jas nya, juga dasi dan sepatu yang pas ditubuh kekar nya. Raut wajah nya yang dingin serta tatapan mata nya yang tajam membuat tuan Suryo yakin bahwa dia akan mampu menjadi pemimpin yang akan ditakuti oleh para bawahan nya.
"kau yakin akan pergi duluan boy? " tanya tuan Suryo menatap Reyza
"hmm" gumam Reyza
"nak, semenjak pulang dari luar negeri sifat mu berubah, apa kau sedang ada masalah? " tanya Miranti lembut
Reyza pun menghela nafas panjang
Dia menatap mama nya, rasa tak tega, tapi hati nya masih penuh akan kebencian pada gadis yang masih mengisi hati nya hingga kini.
"Rey tidak apa apa ma. Tenang lah. Rey permisi dulu" ucap Reyza langsung beranjak dari duduk nya
Miranti pun hanya bisa pasrah melihat sikap Reyza yang sangat berbeda.
"sudah lah ma, dia butuh ketenangan. Jangan risaukan dia ya" kata tuan Suryo menenangkan istri nya
"tapi sikap nya sangat berbeda dengan Rey yang dulu pa" lirih Miranti sedih
"mungkin masalah cinta. Kau tau kan kalau sheralia menghilang sudah setahun ini. Mungkin itu sebab nya Reyza seperti itu" jelas pak Suryo
__ADS_1
"iya, tapi kemana sebenar nya gadis itu? " tanya Miranti heran
"akan papa cari tau" jawab tuan Suryo langsung