Berjuang Bersamamu

Berjuang Bersamamu
Bertahanlah Sayang


__ADS_3

Sebulan berlalu....


Reyza duduk termenung menatap kearah jendela disebuah ruangan yang bernuansa putih dan beraroma menyengat.


Suasana didalam ruangan itu begitu sepi dan hening, hanya terdengar suara monitor pendeteksi detak jantung yang menemani kebisuan Reyza.


Wajah nya begitu kusut, bahkan bulu bulu halus telah banyak tumbuh merambat disekitar rahang tegas nya. Hati nya begitu perih saat melihat belahan jiwa nya masih terbaring lemah diatas tempat tidur dengan berbagai peralatan medis yang memenuhi seluruh tubuh nya.


Sudah sebulan lama nya Naina menjadi istri nya dan juga dirawat dirumah sakit itu semenjak malam pernikahan mereka.


Setelah malam itu Reyza langsung membawa Naina kerumah sakit besar milik keluarga nya yang memang khusus untuk pasien pengidap kanker.


Kondisi Naina sempat melemah saat itu membuat semua orang benar benar frustasi, terutama Reyza, namun untung nya dia masih bisa melewati masa kritis nya dan kini Naina dinyatakan koma oleh dokter.


Reyza dengan setia selalu menemani Naina, hanya sesekali dia datang keperusahaan nya jika ada meeting penting, selebih nya urusan perusahaan dikerjakan nya dari rumah sakit dan dihandle oleh Sean langsung disana.


Ibu dan Beti juga tidak pernah pergi dari rumah sakit itu, Reyza menyediakan sebuah ruangan disebelah ruangan Naina untuk tempat mereka beristirahat.


Loli setiap pulang kuliah sesekali menyempatkan diri untuk menjenguk kakak nya. Begitu juga dengan Sean, setiap hari dia selalu datang untuk memberikan laporan perusahaan pada Reyza sekaligus melihat perkembangan Naina yang memang belum ada perubahan.


Sesekali juga Clarissa dan juga Danil menjenguk Naina, mereka memutuskan untuk tidak menyembunyikan lagi tentang penyakit Naina kepada orang terdekat nya.


Meski itu masih tertutup juga dari publik.


..


Siang ini Reyza baru selesai kembali dari perusahaan nya setelah selesai dari meeteng penting nya. Dia kembali masuk dan duduk disamping istri nya seperti hari hari sebelum nya.


Menceritakan apa saja yang bisa diceritakan nya pada Naina, memberi semangat pada istri baru nya meski hati nya semakin hari juga ikut rapuh tak berdaya.


"sayang, maaf kakak baru tiba, bagaimana kabarmu hari ini? Cepat lah bangun, kakak rindu" ucap Reyza lirih sembari mengusap lembut pipi tirus wajah istri nya yang masih terpejam rapat.


Setetes air mata jatuh dipipi Reyza, sungguh pilu hati nya melihat tubuh kurus istri cantik nya dipenuhi oleh selang selang dan alat medis lain nya.


"berjuanglah sekali lagi untuk kakak Nai, kakak mohon, bangunlah sayang. Tidakkah kau ingin menjalani peran mu sebagai istri untuk ku Nai, aku ingin mempunyai anak anak yang lucu bersama mu, menjalani rumah tangga yang bahagia bersama. Berjuanglah sekali lagi sayang. Ku mohon" lirih Reyza yang terisak, tak dapat lagi dia menahan rasa sesak dihati nya meski ini sudah sebulan berlalu namun setiap kali melihat kondisi Naina air mata nya selalu tumpah tak terbendung.


Tidak dapat lagi dia berpura pura kuat melihat kesayangan nya terbaring tak berdaya.


Dibalik pintu ibu dan Beti saling berpelukan menahan tangis mereka.


Sedih hati ketika melihat Reyza yang tak pernah lelah menjaga dan merawat Naina sepenuh hati.


Bahkan sampai memandikan nya dia pun tak memperbolehkan orang lain yang melakukan.


Semua dilakukan nya sendiri mengingat kini Naina adalah istri nya.


..


Keesokan hari nya..


Orang tua Reyza, orang tua Naina, dan juga eyang putri tengah berkumpul disebuah ruangan disebelah kamar Naina yang dipakai oleh ibu dan Beti untuk menginap selama dirumah sakit itu. Mereka tengah berdiskusi mengenai kelanjutan pengobatan Naina dengan seorang dokter ahli kanker kepercayaan tuan Suryo.


"jadi bagaimana dokter, apakah istri saya bisa dirujuk ke Jepang untuk melakukan pengobatan disana? " tanya Reyza pada dokter Bayu , salah seorang dokter ahli yang menangani Naina, masih muda dan terlihat tampan asli orang indonesia


"sebenar nya melihat kondisi nona Naina sekarang terlalu riskan jika harus melakukan penerbangan jauh tuan Askara, itu akan sangat beresiko, meski kanker nya sudah mulai terkikis namun kondisi pasien masih terlalu lemah" jelas dokter tersebut

__ADS_1


Reyza pun mendesah nafas berat,


"bagaimana jika dokter hHoishi yang kita minta kemari" ujar tuan Suryo


"apa dia bersedia pa? " tanya Reyza ragu


"akan papa usahakan. Tenang lah" jawab tuan Suryo


"dia memang ada jadwal diIndonesia beberapa hari lagi tuan besar, apalagi sudah jauh jauh hari kita memang sudah meminta bantuan nya, saya rasa dia akan bersedia melihat kondisi nona Naina saat ini" timpal dokter Bayu


"oh benarkah, semoga semua sesuai harapan kita" jawab tuan Suryo


Reyza pun hanya mengangguk lemah


Miranti menatap sendu wajah lelah Reyza. Dia tahu begitu berat beban yang dipikul anak semata wayang nya itu, sudah bertahun tahun dia memimpikan hidup bersama dengan gadis pujaan nya, namun kini keadaan seolah berbanding terbalik dengan harapan nya.


Ibu dan abah Naina pun hanya bisa pasrah melihat keadaan putri kesayangan mereka yang sampai detik ini belum mengalami perubahan apa apa.


..


Beberapa hari berlalu dokter Hoishi yang dimaksud pun tiba di rumah sakit itu.


Sudah hampir setengah hari dia memeriksa keadaan Naina.


Reyza, ibu dan juga Beti masih setia disana.


Ada gurat lelah, khawatir dan cemas terpancar diraut wajah ketiga nya.


"istirahat lah dulu nak, biar ibu yang menunggu disini" kata ibu pada Reyza yang kini duduk disebelah nya


"yasudah kita tunggu bersama sama ya. " kata ibu dengan senyum lembut nya


Beberapa menit keheningan tercipta, hingga suara Reyza mulai memecah kesunyian diruangan tunggu itu


"bu, kapan Naina akan sadar, saya sungguh merindukan nya. Rasa nya sungguh sakit jika harus berpura pura kuat melihat nya menderita seperti ini" ungkap Reyza sendu membuat ibu dan Beti menatap kearah nya


"bersabar lah nak, yakin lah Naina akan kembali pada kita. Dia pasti tetap berjuang untuk mu. Banyak berdoa ya, jangan menyerah, karena jika kamu menyerah siapa yang akan menguatkan nya" lirih ibu, sementara Beti sudah mulai meneteskan air mata nya, dan segera berlalu dari tempat itu, tidak mau jika ibu melihat nya terus terusan menangis


"iya bu, saya mengerti. Maafkan saya jika saya belum bisa menjadi suami yang baik untuk nya" jawab Reyza yang membuat ibu langsung memeluk nya


"kamu suami yang hebat nak, Naina pasti bangga memiliki mu. Kamu harus tetap kuat ya. " ungkap ibu sembari mengusap pundak kekar menantu nya itu.


Tangis Reyza pun pecah dalam pelukan ibu Naina. Bukan hal mudah untuk nya menerima kenyataan ini, dia tahu seharus nya dia tidak boleh lemah , karena dia adalah seorang lelaki, tapi siapa yang sanggup melihat orang tersayang nya menderita. Dia tidak ingin kehilangan lagi, sudah cukup dia kehilangan kakak nya, jangan lagi dia kehilangan Naina.


...


Beti terduduk dikursi taman rumah sakit itu sembari menangis terisak. Sudah beberapa tahun dia mendampingi Naina.


Mulai menjadi teman, asisten, hingga menjadi dekat seperti saudara dengan Naina membuat nya merasa terpukul dengan keadaan Naina. Dia yang notaben nya anak tunggal dan kini hanya tinggal mempunyai ayah dikampung nya merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Naina dan keluarga nya.


Dia sudah menganggap Naina seperti saudara nya sendiri, sehingga dia bisa merasakan kepedihan yang dirasakan oleh orang orang terdekat Naina dengan kondisi gadis itu.


Apalagi selama ini dia yang tau seluk beluk hingga keperasaan Naina seperti apa. Sungguh dia tak tega melihat penderitaan sahabat nya itu.


Beti duduk merenung sembari mengusap air mata yang sedari tadi tak berhenti menetes. Hingga seseorang menghampiri nya dan memberi kan sehelai sapu tangan kearah nya.

__ADS_1


Beti pun mendongak dan menatap kearah orang tersebut.


Terlihat seorang pemuda tersenyum lembut kearah nya dan langsung duduk disebelah Beti.


"nih pakai, lihat tuh ingus mu sudah kemana mana. Jorok sekali" kata pemuda yang tak lain adalah dokter Bayu


Beti pun berdecak cemberut sembari meraih sapu tangan itu


Dia pun langsung menghapus sisa air mata nya dan juga ingus dihidung nya.


"terima kasih bang dokter" jawab Beti tanpa melihat wajah dokter muda itu yang memperhatikan wajah sendu Beti


"sudah jangan menangis, kau jelek sekali jika menangis begitu" kata Bayu terkekeh


"ck, biarlah. Aku cuma sedih melihat keadaan Naina yang tak sadar sadar juga. Padahal sudah sebulan " ungkap Beti sendu, dokter Bayu langsung mengusap punggung Beti dengan lembut membuat Beti melirik nya sekilas dengan perasaan yang menghangat


"dia pasti baik baik saja. Percayalah. Kanker nya sudah mulai terkikis, setelah kondisi nya pulih dia bisa operasi mengangkat sisa sel kanker nya, mungkin sekarang dia hanya sedang beristirahat." jelas Bayu dengan wajah ramah nan sendu nya.


"ya semoga saja bang, aku tak tega melihat ibu dan juga tuan ganteng bersedih dan terus berpura pura kuat seperti itu" jawab Beti lagi


"ini ujian untuk mereka. Tuan askara adalah suami yang baik, ia memang harus tetap kuat agar Naina bisa terus bersemangat. " ungkap Bayu menatap wajah Beti yang sudah sembab akibat menangis


"ya, aku sungguh salut melihat ketulusan tuan ganteng bang, mudah mudahan masih ada sisa satu untukku yang seperti dia" ungkap Beti namun membuat dokter Bayu terkekeh pelan mendengar ocehan gadis itu


..


Didalam ruangan Naina..


"bagaimana keadaan istri saya dokter? " tanya Reyza pada dokter Hoshi yang saat ini mereka sudah berada didalam ruangan Naina


"kondisi nya sudah mulai stabil, meski belum bisa dikatakan baik baik saja" ungkap dokter Hoishi


"jadi belum bisa diprediksi kapan dia akan sadar? " tanya Reyza lagi


"ya benar sekali tuan, setahun menanggung rasa sakit membuat nya berada dalam fase nyaman ditidur nya, meski sel kanker nya sudah mulai menipis akibat bantuan ramuan tradisional namun tetap harus menjalani operasi lanjutan untuk mengangkat sel kanker terakhir yang tersisa, dan itu harus menunggu keadaan pasien benar benar pulih" jelas dokter Hoishi sembari memperhatikan detak jantung Naina


"harus menunggu dia sadar? " tanya Reyza lagi dan lagi


"tidak juga, yang terpenting jika keadaan nya mulai membaik. Saya rasa kita harus menunggu waktu tiga sampai empat hari lagi, jika sudah memungkinkan maka akan kita lakukan operasi nya sembari saya memberikan racikan obat dari Jepang pada istri anda selama beberapa hari ini" ungkap dokter Hoishi


"tolong lakukan yang terbaik dokter" lirih Reyza


Dokter hoishi pun tersenyum menatap wajah kusut Reyza


"tentu tuan, tenang lah. Semoga semua sesuai harapan kita" kata dokter itu menenangkan


Beberapa saat kemudian dokter beserta perawat keluar meninggalkan Reyza sendiri bersama istri nya.


Ditatap nya lagi wajah pucat Naina yang semakin kurus.


Jemari nya mulai menggenggam erat tangan Naina yang dingin bagai tak dialiri darah.


"bertahan lah sayang. Kembalilah padaku. Aku merindukan mu" ungkap Reyza sembari mengecup lembut kening wanita nya dan langsung merebahkan kepala nya didekat bahu Naina.


Tanpa disadari nya setetes air mata Naina jatuh bergulir dari sudut mata gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2