Berjuang Bersamamu

Berjuang Bersamamu
Sadar Kembali


__ADS_3

Naina kini tengah berada disebuah taman yang begitu luas. Hamparan rumput hijau dan bunga bunga banyak menghiasi taman itu.


Ada sebuah gerbang yang sangat besar dan megah, terlihat cahaya nya begitu menyilaukan mata .


Naina berjalan menghampiri gerbang itu, samar samar dia melihat bayangan seseorang dari sana, semakin dia mendekat semakin jelas siapa orang itu.


"kak Abi" panggil Naina pelan


Abimanyu tersenyum manis menatap nya,


"nana ikut kakak ya" kata Naina sembari menatap wajah Abimanyu yang berseri


"jangan sayang, belum waktu mu untuk kemari, kembali lah, lihat dia menunggu mu disana" jawab Abimanyu sembari menunjuk seseorang yang berdiri dibawah sebuah pohon rindang. Terlihat dia sedang tersenyum manis melihat Naina


"kak Reza" gumam Naina


"iya, dia adiku, orang yang akan selalu menjaga mu, pergilah, berjuanglah bersama nya. Aku akan bahagia jika kalian bahagia" kata Abimanyu dengan senyum hangat nya membuat Naina tertegun sejenak


"terima kasih kak, terima kasih sudah menjadi malaikat untuk nana" ucap Naina lembut memandang teduh wajah Abimanyu yang berseri


"sama sama sayang, pergilah, dia menunggumu" kata Abimanyu


Naina pun mengangguk. Dia langsung pergi ketempat dimana Reyza menunggu nya. Abimanyu melambaikan tangan nya pada mereka berdua, memberikan senyum terindah nya.


Naina dan Reyza pun membalas lambaian tangan itu.


...


"kak Abi" gumam Naina


Perlahan dia mencoba membuka mata nya yang terasa berat, hingga beberapa menit kemudian dia pun bisa melihat dengan jelas.


Dilirik nya kesana kemari, dan ketika dia menoleh kekanan dia pun melihat wajah Reyza yang sedang tertidur dengan tenang.


"kak Reza" panggil Naina


"kamu sudah sadar Nai" ucap Danil yang baru masuk keruangan itu


"mas" panggil Naina lemah


Danil pun segera memencet tombol pemanggil dokter seraya berjalan mendekati Naina.


"kak Reza mas" lirih Naina masih terlihat begitu sedih melihat Reyza yang terpejam dengan tenang


"tenang lah, Reyza sudah sadar, sedari siang tadi dia menunggu mu bangun, mungkin sekarang dia sedang tidur" jawab Danil mengusap lembut bahu Naina


"benarkah? " tanya Naina lagi dan Danil hanya mengangguk


Tidak lama kemudian dokter pun datang keruangan itu. Dia memeriksa Naina dengan senyum nya.


"kondisi mbak nya sudah membaik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hanya butuh perawatan agar segera pulih" ungkap dokter itu


"syukurlah, terima kasih dokter" ucap Danil


Dokter itupun kemudian memeriksa Reyza yang masih tertidur. Karena merasa ada yang mengusik tidur nya dia pun terbangun. Dilihat nya dokter sedang memeriksa tubuh nya dan ingin menyuntikan sesuatu kelengan nya.


Reyza menggeliat geli merasakan sesuatu yang sangat dibenci nya menyentuh tubuh nya.


"ah dokter, jauhkan itu! " seru Reyza sembari menarik lengan nya menjauh membuat dokter itu terkesiap kaget


"ini hanya cairan agar imunitas tubuh anda segera pulih tuan" jelas dokter itu


"aku bilang jauhkan dokter" kata Reyza lagi sembari menahan nyeri dikepala nya


"nanti saja dokter, dia pobia jarum suntik, apa bisa dengan cara lain? " tanya Danil pada dokter itu, sementara Naina dan seorang suster lain terlihat menahan tawa mereka, betapa bahagia nya Naina melihat Reyza yang sudah mulai membaik walau wajah nya masih terlihat pucat


" baiklah, saya akan menyediakan obat obatan saja kalau begitu" balas dokter itu pula


"jangan mentertawakan ku dokter" ancam Reyza menatap tajam dokter itu. dia belum menyadari bahwa sedari tadi Naina sudah sadar dan terus memperhatikan nya dengan mata yang berkaca kaca


"ah tidak, maafkan saya tuan. baiklah kami permisi dulu. kondisi tuan muda juga sudah membaik, tinggal luka dikepala nya yang harus dijaga dengan baik agar cepat pulih" kata dokter itu menatap Danil dan juga Reyza


Reyza pun hanya mengangguk. Setelah dokter itu keluar ruangan Reyza pun menoleh kearah Naina.


Dia mengerjapkan mata nya berkali kali, dan setelah yang kesekian kali barulah dia melebarkan senyum nya melihat Naina yang juga tengah tersenyum manis pada nya.


"kamu sudah bangun Nai? " ucap Reyza yang berusaha duduk dibantu oleh Danil


Naina pun hanya mengangguk dan tersenyum


Danil yang mengerti keadaan pun langsung pamit untuk keluar dari ruangan itu.


"maafkan kakak yang tidak jujur pada mu Nai" lirih Reyza

__ADS_1


"tidak apa, Nai juga minta maaf, karena Nai kakak jadi celaka" jawab Naina sendu


"jangan seperti itu, kakak yang salah, kakak ceroboh. Kamu gak marah lagi kan? " tanya Reyza menatap lekat wajah Naina


Naina pun menggelengkan kepala nya


"jangan tinggalin kakak lagi" ucap Reyza meraih tangan Naina yang juga meraih tangan nya


"kakak juga jangan buat Nai takut lagi, Nai berasa seperti gak bisa bernafas lagi ngeliat kakak seperti semalam" jawab Naina berkaca kaca


"maaf, kakak kan udah janji sama kamu akan terus nemeni kamu. Kamu harus percaya itu, oke" kata Reyza dengan senyum hangat nya


Naina pun mengangguk tersenyum. Tidak bisa digambarkan kebahagiaan nya saat ini, bahkan rasa kecewa nya hilang entah kemana setelah melihat senyum Reyza kembali.


Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka, dan masuklah Beti bersama Miranti mama Reyza dan juga Danil bersama tuan Suryo. Mereka pun langsung melepaskan pegangan tangan mereka.


"aiih mak jang, udah sadar kau nai, ya tuhan terima kasih, berakhir sudah penantian ku" kata Beti langsung memeluk Naina yang masih terbaring diranjang nya


"bet, sesak" seru Naina


"eh, hehe, maaf maaf, habis nya takut kali aku nengok kau semalam, macam mayat idup. Gak bangun bangun pulaan, jangan kayak gitu lagi lah ya, sedih kali aku" kata Beti sembari menghapus air mata nya


"maaf, udah jangan sedih" kata Naina memegang lengan beti


"bagaimana keadaan kalian, sudah sekamar saja papa lihat ya, apa mau langsung dinikahkan" seloroh tuan Suryo membuat Naina langsung tersadar


"ah iya, maaf tuan, nyonya, saya juga tidak tau kenapa bisa sekamar ya" kata Naina menatap Beti dan juga Danil


"ya kerjaan abang ganteng mu itu, eh salah, maaf, tuan muda Reza maksud saya. Hehe. Maaf tuan" kata Beti membungkukan badan nya pada tuan Suryo


" biasa aja bet, kalau papa mau ngawini kami ya malah bagus pa, biar cepat" jawab Reyza santai namun mampu membuat Naina hampir tersedak udara


"mau enak nya saja kau, tugas mu belum selesai. Jangan jadi anak durhaka" kata tuan Suryo menepuk pelan pundak Reyza


Danil dan Beti hanya berusaha menahan tawa mereka.


"itulah jurus andalan nya" gumam Reyza sewot


"bagaimana keadaan mu sheralia? " tanya tuan Suryo menatap Naina yang terlihat begitu canggung


"sudah lebih baik tuan, maaf jika saya merepotkan" jawab Naina takut takut. Dia masih tak menyangka jika Reyza adalah anak sultan yang selama ini selalu dibicarakan oleh Dion dan juga Clarissa, rasa nya masih seperti mimpi dan dia berusaha untuk bangun


"tidak apa, terima kasih juga karena kamu sudah mau mendonorkan darah mu pada anak ini" kata tuan Suryo menatap Reyza yang masih setia menatap gadis nya


"bukan sedikit bantuan mu itu nak, kalau tidak ada kamu kami tidak tau apa yang akan terjadi pada Reyza" lirih Miranti yang duduk disebelah Reyza


"tidak nyonya, kak Reyza seperti itu juga karena saya, " jawab Naina sendu


"nai, kan sudah kakak bilang, kakak yang ceroboh, bukan salah kamu" kata Reyza pula


"sudah lah, yang terpenting sekarang Reyza sudah baik baik saja. Dan saya ada satu permintaan untuk mu sheralia" kata tuan Suryo tegas dan tentu saja itu membuat nyali Naina menciut kembali. Semua orang menatap tuan Suryo


"iya tuan" jawab Naina pelan


"kamu benar mencintai putera ku? " tanya tuan Suryo dengan suara berat dan tegas nya


"iya tuan" jawab Naina


"iya apa? " seru tuan suryo membuat Naina terhenyak kaget dan langsung menelan Saliva nya


"pa" ucap Reyza


"diam kau" kata tuan Suryo menatap tajam Reyza, seketika atmosfer diruangan itu berubah sesak dan dingin, wajah semua orang berubah menjadi tegang dan cemas


"iya tuan, saya mencintai kak Reyza, sungguh" jawab Naina yakin


"apa yang bisa kau buktikan jika kau mencintai putera ku" tanya tuan Suryo lagi


"apapun yang tuan minta, jika saya mampu akan saya penuhi tuan" jawab Naina


"baiklah, kalau begitu lepaskan putera ku" kata tuan Suryo tegas. Membuat semua orang disana terperangah kaget


"apa maksud papa? " tanya Reyza terkejut dan begitu tidak terima


Naina pun sudah berkaca kaca, seketika jiwa nya yang baru muncul harus hilang lagi sekarang


Yatuhan. Apa aku sungguh tidak pantas dengan dia. Batin Naina pedih


"bagaimana sheralia? " tanya tuan Suryo lagi


"ta tapi tuan, ba bagaimana mungkin, saya sungguh mencintai nya" lirih Naina yang sudah terisak


"papa, kenapa harus begitu" kata Reyza tak terima

__ADS_1


"pa" ucap Miranti pula


"apa kau tidak sanggup untuk melepasnya hanya untuk tiga tahun saja? " tanya tuan Suryo lagi


Naina pun menatap nya heran, begitu juga semua orang yang ada didalam ruangan itu


"ma maksud tuan? " tanya Naina mencoba memahami ucapan tuan Suryo


"ya untuk melepas nya melanjutkan kuliah nya, kau kira untuk apa" kata tuan Suryo santai namun semua orang yang ada didalam ruangan itu terlihat bingung dengan wajah terperangah


"astaga papa" ucap Miranti menggeleng kan kepala nya


"oh my god, jantung ku hampir copot" gumam Beti


"papa keterlaluan, lihat Naina sampai menangis" kata Reyza lagi


"papa hanya bertanya, apa itu salah" jawab tuan Suryo


"maaf tuan"lirih Naina sembari mengusap air mata nya


Danil pun hanya terkekeh pelan melihat kelakuan tuan Suryo yang menggoda Naina


"jadi bagaimana apa kau sanggup? " Tanya tuan Suryo lagi


"saya sanggup tuan" jawab Naina yakin


"bagus, satu lagi" kata tuan Suryo


"astaga apalagi" gumam Beti


"jangan beritahu siapapun bahwa Reyza adalah putera ku, kau mengerti? " pinta tuan Suryo lantang


Naina pun menelan saliva nya yang terasa begitu mencekat ditenggorokan nya


"iya tuan saya mengerti, saya akan menjaga rahasia ini dengan baik" jawab Naina mengangguk patuh


"bagus, dan termasuk kau juga nona, jangan bocorkan pada siapapun, kalau sampai ini bocor kalian terima akibat nya" ancam tuan Suryo


Seketika beti pun mengangguk anggukan kepala nya.


"i iya tuan, saya janji, " kata Beti terbata sembari menganggukan kepala nya


"bagus, Danil kau pulang lah, Reyza sudah lebih baik, kasihan istri mu dirumah" kata tuan Suryo yang berubah lebih hangat dengan Danil


"baik tuan, saya pamit dulu. Mari nyonya, tuan muda" kata Danil pamit pada mereka


"terima kasih banyak mas, maaf merepotkan" kata Reyza tulus


"tidak apa tuan. Sudah tugas saya. Saya permisi" kata Danil yang langsung berlalu keluar ruangan itu.


"kau tidak pulang juga nona? " tanya tuan Suryo pada Beti


"ti tidak tuan, saya disini saja menjaga Naina" kata Beti takut takut


"mama dan papa saja yang istirahat , kami sudah tidak apa apa" kata Reyza menatap mama dan papa nya


"apa tidak apa apa kami tinggal nak" tanya Miranti


"tidak ma. Mama istirahatlah, mama kelihatan lelah. Kami sudah lebih baik. Yakan nai" kata Reyza menatap Naina


"iya nyonya, sebaik nya tuan dan nyonya beristirahat. Kalau ada apa apa kami akan langsung menghubungi nyonya" kata Naina pula


"baiklah kalau begitu, kalian istirahat juga. Beti, jaga mereka baik baik ya" kata Miranti pada beti


"siap nyonya. " kata Beti membungkukan badan nya


"kalau ada perlu apa apa, roy dan pengawal yang lain ada didepan, kalian bisa minta apapun pada mereka" kata tuan Suryo


"iya pa" jawab Reyza. Naina dan Beti hanya menganggukan kepala mereka


Akhirnya tuan Suryo dan Miranti pun kembali kehotel tempat mereka menginap dan beristirahat.


Tinggalah Reyza, Naina dan juga Beti diruangan itu.


"astaga, jantung ku perlu diperiksa ini Nai" kata Beti memegang dada nya dan terduduk lemas dikursi dekat ranjang Naina


"sama bet, aku juga" timpal Naina pula


"ada apa dengan jantung kalian? " tanya Reyza dengan tampang bodoh nya


"berasa mimpi tuan ganteng rupa nya anak sultan" kata beti dan diangguki oleh Naina


"ck, kalian ini" kata Reyza geleng geleng kepala

__ADS_1


__ADS_2