
Disebuah pemakaman elit khusus keluarga Gemilang, tampak seorang lelaki sedang berlutut disana. Masih dengan pakaian kerja nya dan sebuah kaca mata hitam menutupi mata nya, lelaki itu berlutut dan meletakan sebuah bunga Lily diatas pusara bertuliskan nama Abimanyu Askara Gemilang.
Dia tersenyum dan mengusap pelan batu nisan yang masih terlihat terawat.
Hati nya masih selalu terenyuh setiap kali berada ditempat ini.
ya, dia Reyza, dia datang lebih dulu kesana sebelum Naina dan mama nya tiba ditempat itu.
Tadi dia hendak pulang kerumah, tapi tiba tiba saja Miranti menelpon nya dan meminta izin untuk membawa Naina kemakam Abimanyu.
Dan langsung saja dia menuju kepemakaman itu terlebih dulu karena jarak nya memang tidak terlalu jauh lagi dari lokasi nya berada.
"kak, bagaimana kabar mu. kamu pasti sudah tenang disana kan.
aku sungguh merindukan mu kak.
Andai kau masih ada disini, kebahagiaan ku pasti akan lebih lengkap karena aku telah berhasil membawa Naina masuk kedalam keluarga kita". ucap Reyza, tapi sepersekian detik kemudian dia terdiam, memikirkan kembali perkataan nya.
"apa semua akan seperti ini jika kau ada. apa aku akan memperistri Naina jika kau masih ada" gumam nya lagi
Hati nya terenyuh seketika
"tentu tidak, tapi jika memang kau masih ada, aku lebih memilih kita bersaing untuk mendapatkan Naina kak, atau mungkin aku pasti merelakan nya saja untuk mu." ungkap nya tertunduk
"bukan aku tidak mencintai nya, tapi kalian sama sama berharga untuk ku, kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan ku." gumam nya lagi
"tapi keadaan nya berbeda sekarang, kau pergi, begitu jauh. seolah kau mengalah padaku dengan memberikan kebahagiaan mu padaku."
"ya, sedari dulu kau selalu mengalah padaku, selalu memberikan semua yang kau punya padaku, meski kau tahu aku selalu nakal dan mengganggumu, tapi kau begitu menyayangiku"
"aku bukan adik yang jahat kan kak, bahagia disaat kau tidak ada disini, aku harap kau juga bahagia disana kak" kata Reyza dengan mata yang kini berkaca kaca. Bahkan dia mengulum bibir nya agar tidak bergetar membiarkan Isak tangis nya keluar.
Reyza terdiam lama, mengatur nafas nya yang terasa begitu sesak
"aku berjanji, akan menjadi anak yang membanggakan untuk papa dan mama seperti keinginan mu dulu, dan aku berjanji untuk menjaga dan mencintai Naina sepenuh hatiku. aku berjanji kak. aku berjanji" ucap nya begitu yakin, namun terdengar perih .
Reyza melepas kaca mata nya, dan mengusap sudut mata nya yang berair, dan tidak lama kemudian, dia terkesiap saat sebuah tangan mendarat diatas pundak kekar nya. Tangan itu mengusap lembut pundak nya.
Reyza langsung menoleh dan mendapati Naina yang berdiri menatap nya dengan wajah yang sudah basah oleh air mata begitu pula Miranti
"sayang" panggil Reyza pelan
Naina langsung memeluk tubuh Reyza dengan erat dan menangis tersedu disana. Hati nya begitu terenyuh mendengar semua ungkapan Reyza. Reyza yang masih terkejut akan keberadaan istri dan mama nya itu masih terdiam namun tetap membalas pelukan Naina.
__ADS_1
Dia menatap mama nya yang mengusap pundak nya dengan lembut, membuat air mata nya kembali menetes meski sudah berusaha ditahan nya sebisa mungkin.
Ya, hari ini dia menangis, menangis merindukan kakak nya, tangis yang tidak lagi bisa dia tahan.
Reyza mengecup lama pucuk kepala Naina membiarkan gadis itu menangis disana. Tidak, dia tidak cemburu karena Naina menangis karena lelaki lain, karena diapun sama, dia juga merasa kehilangan, merasa kerinduan pada sosok itu, sosok yang begitu berperan besar dalam hubungan mereka.
Naina melepas pelukan nya dari Reyza dan mengusap air mata nya.
"maaf kak" ucap nya pelan dan tertunduk
Reyza tersenyum dan menggeleng
"kenapa minta maaf Hem" tanya Reyza lembut
"harus nya Naina tahu tentang ini dari dulu. Harus nya Nai tahu jika kakak adalah orang yang paling kehilangan disini, tapi Nai malah tidak merasakan itu, yang Nai tahu Nai lah yang paling kehilangan dia, padahal waktu kami bersama begitu singkat, sedangkan kakak bersama dengan nya sudah sejak dari kakak dilahirkan kedua ini. Tapi kakak malah mengobati luka hati Nai dengan segala perjuangan kakak, sedangkan Naina tidak peka pada hati kakak" ungkap Naina begitu pedih
Reyza langsung menarik kembali Naina kedalam pelukan nya
"tidak sayang, jangan berfikiran seperti itu. Kita semua memang kahilangan dia, aku , kamu, mama dan papa. semua merasa kehilangan, dan rasa itu sama meski dalam porsi yang berbeda" jawab Reyza
Naina dan Reyza kini menoleh pada Miranti yang menangis terisak ditempat nya berdiri memandang makam anak kebanggaan nya
Reyza langsung beralih mendekati nya sembari menarik tangan Naina yang juga mendekat pada Miranti
"mama merindukan nya?" tanya Reyza pelan dan Miranti langsung mengangguk
"ya, sangat merindukan nya" jawab Miranti dalam pelukan Reyza
Naina menahan Isak tangis nya, agar tidak membuat Reyza bingung antara menenangkan dia atau mama nya. Meski kini hati nya terasa terluka kembali, tapi dia tahu dan baru sadar, jika kedua orang ini lebih terluka dari diri nya.
Dan memang, Abimanyu adalah orang baik, yang sudah membuat kenangan terbaik dalam hidup mereka masing masing, yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa mereka lupakan. Memang hanya tinggal nama, tapi nama itulah yang selalu tersimpan dihati mereka sampai kapan pun, bahkan sampai mereka kembali bisa berkumpul dialam keabadian.
Reyza membawa Miranti dan Naina duduk disamping makam Abimanyu. Dia memimpin doa saat itu. Melantunkan lantunan ayat ayat suci dan memanjatkan untaian doa terindah pada sosok yang sangat berharga dalam kehidupan mereka. Berharap semoga sosok itu tenang dan bahagia dialam sana, alam yang telah berbeda dengan mereka.
Mereka bergantian menaburkan bunga diatas pusara itu dengan senyum hambar, bukan tidak ikhlas, mereka semua sudah ikhlas, hanya saja mereka rindu, dan begitu rindu.
Takdir mereka ternyata begitu singkat, sungguh skenario Tuhan tidak bisa disangka sangka.
"kak, aku sudah menjadikan Naina istriku, istriku yang sangat aku cintai. Sesuai keinginan mu, Naina sudah masuk menjadi bagian keluarga kita. Tenanglah disana, aku akan menjaga dan mencintai nya selalu, dan juga mama dan papa" ungkap Reyza
"kak, terimakasih untuk semua nya. Bahagia disana ya, kami pasti bahagia disini. Tenang lah disana, semua nya sudah sesuai dengan keinginan mu. Terimakasih telah menjadi malaikat untuk kami" ucap Naina pula dengan air mata yang masih membasahi wajah nya
"nak, kamu pasti dapat melihat dan mendengar kan. Kami semua merindukan mu, tapi kami sudah ikhlas sayang. Tenang disana nak, surga tempat mu, bahagia lah disana, kami semua menyayangi mu. Doa mama dan papa akan selalu mengalir untuk mu" kata Miranti pula
__ADS_1
Mereka kembali terdiam dengan fikiran masing masing, namun tetap satu nama yang saat ini sedang mereka kenangkan
Reyza mengusap lembut pundak Naina dan mama nya, karena posisi nya memang berada ditengah tengah kedua orang yang begitu berharga dihidup nya itu.
Hingga mereka kembali dibuat terkesiap oleh hentakan sepatu seseorang yang datang dengan tergopoh gopoh.
Dan orang itu adalah tuan Suryo, dia langsung berlutut disisi lain makam anak nya.
"ah, maaf papa terlambat" ucap nya menyesal, namun Miranti, Naina dan Reyza malah tersenyum dan menggeleng pelan
"tidak pa, kami belum lama" jawab Reyza membuat tuan Suryo tersenyum
Kini pandangan mata nya beralih kemakam anak nya, anak yang sedari dulu menjadi harapan dan kebanggaan nya. Anak yang selalu berbakti dan tidak pernah berkata keras sedikit pun pada nya. Berbeda dengan Reyza yang masih belum bisa mengontrol emosi nya, Abimanyu adalah orang yang hangat dan begitu lembut pada mereka, meski pada orang lain sikap nya tetap saja dingin.
Tuan Suryo tersenyum menatap makam itu dan mengusap nya perlahan. Sinar mata nya yang tajam kini sedikit meredup menandakan kerinduan yang mendalam, meski dia tidak menangis tapi semua orang tahu jika dia juga begitu kehilangan.
"hai boy, bagaimana kabar mu. maaf papa sudah lama tidak kemari. kau tahu adik nakal dan bodoh mu ini sudah menikah, dia sudah dewasa sekarang. Dia sudah terlihat bahagia sekarang, dan papa harap kamu juga bahagia disana" ungkap Tuan Suryo membuat Reyza tertegun dan menunduk dalam.
ya, sedari dulu dia selalu marah ketika tuan Suryo dan Abimanyu mengatai nya nakal dan bodoh, tapi sekarang, dia begitu merindukan ejekan itu. Dan lagi bahagia, apa dia pantas bahagia, sedangkan yang dia dapatkan adalah dari pengorbanan kakak nya.
Tapi tidak, dia tidak boleh berfikir seperti itu, semua yang terjadi adalah takdir dari yang Kuasa. Mereka tidak bisa berbuat apa apa selain menerima, mungkin inilah jalan nya bertemu dengan Naina. Tuhan membiarkan Abimanyu terlebih dahulu yang dicintai gadis itu, agar mereka bisa merasakan kasih sayang dari sosok nya yang begitu baik sebelum akhir nya Tuhan mengambil nya dari mereka.
Tuan Suryo berdoa sejenak dengan memejamkan mata nya dan tertunduk , sedangkan Naina dan Miranti kembali mengusap wajah mereka yang sembab karena menangis.
Siang hari itu, perasaan mereka kembali terhempas pada beberapa tahun silam, tahun dimana mereka kehilangan orang yang sangat mereka cintai.
Banyak kenangan dan kisah yang tidak dapat mereka lupakan. Apalagi jika kenangan itu dibuat oleh orang baik sebaik Abimanyu.
Mereka ikhlas, karena mereka sadar, setiap manusia pasti akan berpulang ketempat asal nya.
Meski sulit tapi mereka harus menerima nya. Takdir Tuhan adalah yang terbaik walau terkadang begitu menyakitkan untuk dirasakan.
Siang hari yang mendung dengan angin yang berhembus pelan, seolah menambah desir hati mereka yang sedang merindu.
"kami pamit kak, kami akan sering sering kemari" kata Reyza kemudian.
Mereka semua berdiri dan menghadap kemakam itu. Tersenyum lembut setelah sebelum nya melepaskan air mata mereka. Ya, mereka tidak boleh lagi menangis, mereka harus pergi dengan memberikan senyuman terbaik mereka.
Langkah kaki tuan Suryo dan Miranti berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Reyza yang menggenggam tangan Naina yang berjalan dibelakang mereka.
Naina menoleh kebelakang sejenak untuk melihat sekali lagi makam orang tersayang nya dan kembali menatap jalanan didepan nya dan berjalan disamping Reyza.
...
__ADS_1
Seseorang berdiri disamping makam itu dengan pakaian putih bersinar dan wajah yang begitu indah berseri. Dia tersenyum teduh melepas kepergian orang orang itu. Orang orang yang sangat dicintai nya selama dia hidup dan....mati.