
Hari sudah menjelang tengah hari. Udara panas dan terik matahari tak menyurutkan tekad Reyza untuk segera bertemu dengan Naina.
Kini dia tengah duduk disebuah kursi yang telah disediakan oleh bodyguard nya tak jauh dari tempat landasan pesawat pribadi nya berada.
Dengan kacamata hitam bertengger diatas hidung mancung nya dan tangan yang bersedekap didada dia masih santai menunggu kedatangan Dion dan juga Clarissa yang ingin ikut pergi bersama nya.
Hingga beberapa menit kemudian tibalah Dion dan juga Clarissa.
Clarissa memandang takjub Reyza yang baru kali ini bertemu secara langsung dan dekat setelah sekian lama mereka tidak pernah berkumpul, namun sekarang bertemu suasana nya sudah berubah canggung, pesona nya sebagai raja dinegeri itu memang tak bisa diragukan lagi.
"maaf kami terlambat za" ungkap Dion tak enak sembari masih terus menggenggam erat tangan Clarisa
"tidak apa, mari kita berangkat" balas Reyza yang langsung beranjak dari duduk nya dan langsung berjalan kearah helikopter nya. Dia hanya melirik sekilas Clarisa yang sedari tadi memperhatikan nya.
Beberapa orang bodyguard nya menyambut kedatangan Reyza dan juga Dion dengan sopan dan ramah.
Terlihat mereka semua membungkukan badan nya ketika Reyza naik kedalam helikopter yang lumayan besar itu.
Mereka pun duduk dikursi masing masing.
"wah, memang enak kalau punya temen anak sultan" oceh Dion santai namun langsung mendapat kan cubitan dilengan nya dari Clarissa
"apaan sih yank, jangan gitu, gak enak tau" bisik Clarisa namun masih terdengar ditelinga Reyza
"tidak apa cla, santai aja. Dion mu memang seperti itu dari dulu kan" jawab Reyza membuat Clarisa langsung tersenyum canggung, sungguh berbeda Reyza yang sekarang dengan Reyza yang dulu, Reyza yang sekarang lebih terlihat dewasa, dingin dan wibawa nya juga sangat kelihatan, apalagi ketampanan nya, dan diakui Clarisa memang tidak ada yang bisa dipungkiri jika Reyza memang lah benar benar pewaris kejayaan Gemilang grup. Kenapa tidak pernah terfikir oleh nya sejak dulu.
"hehe, sampai sekarang aku masih tak menyangka za, anak sultan yang selalu kita bicarakan itu ternyata adalah kau sendiri. Ah bodoh nya aku tak pernah menyadari itu" jelas Dion terkekeh
Reyza pun hanya tersenyum tipis
"apa Naina tau kalau kakak, ah maksud saya tuan Askara adalah putra tuan Suryo? " tanya Clarissa takut takut
"panggil seperti biasa saja Cla. Hmh, ya Naina tau sebelum kami berangkat ke London dulu" jelas Reyza sembari memejamkan mata nya dengan tangan bersedekap didada
"apa, jadi hanya kami yang tidak tau, astaga, kau keterlaluan za" kata Dion kesal
"kalau kau tau aku tidak akan dapat makan gratis setiap hari darimu dulu" ungkap Reyza terkekeh pelan
"ah, sialan kau" sahut Dion kesal namun dia bahagia sekarang Reyza sahabat nya yang dulu hangat sudah kembali lagi
Mereka pun berbincang bincang untuk menghilangkan jenuh dalam perjalanan itu. Terkadang bercanda dan terkadang Clarissa menangis saat Reyza menceritakan keadaan Naina.
...
Ditempat Naina
"Bet, kenapa sedari pagi aku tidak boleh masuk rumah, ada apa sih? " tanya Naina yang kini tengah duduk berdua bersama Beti digazebo belakang rumah eyang putri.
Sejak pagi ia sudah berada digazebo itu, ia dilarang masuk kerumah oleh Beti dan juga yang lain.
"sudah lah, enak disini kan dari pada didalam. Lebih sejuk" jawab Beti santai
__ADS_1
"Loli juga tidak kelihatan dari pagi, kemana? " tanya Naina lagi
"pacaran mungkin" jawab Beti cuek membuat Naina mendengus kesal
Dia pun merebahkan tubuh lemah nya diatas kasur empuk yang telah disediakan pelayan eyang putri.
Sementara Loli dan pelayan kini tengah sibuk mendekor rumah eyang putri yang akan digunakan untuk acara akad nikah sederhana Reyza dan Naina malam nanti.
Sedangkan Sean sibuk kesana kemari untuk mengurus hal hal yang akan diperlukan untuk pernikahan atasan nya.
Mereka berdua sangat bersemangat agar pernikahan Naina dan Reyza berjalan lancar meski hanya secara sederhana.
Ibu dan abah Naina juga merasa bahagia putri kebanggaan mereka akhirnya menikah meski dengan kondisi yang sangat memprihatinkan seperti sekarang.
Reyza dengan tulus mau mempersunting Naina yang keadaan nya jauh dari kata baik baik saja.
Hingga hari sudah mulai sore baru lah semua persiapan telah rampung dilaksanakan.
"ah, akhir nya selesai juga" seru Loli sembari duduk disebuah kursi panjang untuk meregangkan otot otot nya yang terasa pegal
"ya, semoga tuan Askara senang dengan hasil nya" timpal Sean pula
"harus nya dia suka. Hmh, pasti kak Nai bahagia dengan kejutan ini" kata Loli berbinar
"tentu, dia pasti bahagia. Dan setelah ini aku yang akan melamar mu" bisik Sean ditelinga Loli
"ihh, kakak. Loli masih kecil, belum lulus kuliah" kata Loli cemberut namun wajah nya merona membuat Sean gemas
"masih kecil tapikan sudah bisa buat anak kecil" goda Sean
"auh, aduh aduh, ampun eyang, ampun" seru Sean sembari memegang telinga nya yang titarik oleh eyang putri
"kalau ngomong itu ya mbok disaring, udah gak sabar kau ya. Mau aku nikahkan sama sapi ku ha" kata eyang putri sambil satu tangan nya ditaruh dipinggang membuat Loli dan juga ibu dan abah terkekeh geli
"heheh, ampun eyang, jangan dong. Eyang pilih kasih" kata Sean pura pura cemberut
"Reyza berani melamar Naina secara langsung, nah kau cuma berani pacaran dibelakang rumah, seperti sapi saja" kata eyang putri berdecak kesal
Loli dan Sean pun saling pandang dan hanya cengengesan menahan malu pada ibu dan abah
"sudah, sudah, yang penting tahu batasan. Biar Loli selesai kuliah dulu ya nak Sean" kata abah menatap Sean yang langsung menciut
"i iya abah, maaf, saya pasti akan menunggu sampai Loli selesai kuliah" jawab Sean terbata merasa canggung
Baru saja eyang akan menimpali perkataan Sean, namun dari arah luar rumah terdengar keributan beberapa orang warga dan sebuah suara berisik yang membuat eyang putri pun keluar untuk melihat nya, diikuti oleh abah, ibu, Sean dan juga Loli beserta para pelayan dirumah itu.
Terlihat dari kejauhan mendarat sebuah helikopter berlogo GG yang lumayan besar dan terlihat canggih membuat beberapa warga menatap takjub pada helikopter itu.
Rumah eyang putri terletak didepan sebuah lapangan yang sangat luas jadi dengan mudah helikopter itu dapat mendarat dengan sempurna.
Eyang putri dan juga semua orang disana menatap takjub melihat pemandangan itu kecuali Sean. Tidak pernah ada pemandangan seperti itu didesa terpencil seperti ini, mobil saja jarang apalagi sebuah helikopter super canggih seperti ini.
__ADS_1
"astaga, apa itu presiden yang kemari? " tanya eyang putri takjub
"ck, itu cucu menantu mu eyang" ungkap Sean berdecak kesal
"kak Reyza? " tanya Loli takjub
"apa menantu ku sekaya ini? Sampai sampai menyuruh helikopter berhenti langsung didepan rumah? " ungkap ibu tak kalah heran
"itu helikopter pribadi nya bu" jelas Sean lagi yang semakin membuat mereka disana terperangah takjub
"astaga, abah berasa mimpi ini bu, punya menantu anak wong sugeh" kata abah geleng geleng kepala
Mereka semua dan juga warga yang berkerumun semakin dibuat terperangah ketika melihat Reyza turun dari pesawat itu dengan dua orang bodyguard yang mengawal nya juga dua orang yang dikenal oleh Sean dan juga Loli.
Dengan kaca mata hitam nya Reyza berjalan penuh pesona mendekati rumah eyang putri.
Dengan gaya cool nya dia melepaskan kacamata hitam nya dan menyapa orang tua Naina dan juga eyang putri yang masih menatap takjub kearah nya.
"selamat sore ibu, abah, eyang putri" sapa Reyza sopan.
Dia pun langsung menyalami ketiga orang tua itu bergantian dengan Dion dan juga Clarissa yang memperkenalkan diri mereka sendiri
"kau ini, membuat heboh orang sedesa dengan helikopter mu itu" sewot eyang putri namun tatapan takjub nya masih melekat diwajah tua nya
"oh maafkan saya eyang, saya hanya ingin cepat tiba kemari" jawab Reyza sambil tersenyum
"kalian boleh pergi" titah Reyza pada bodyguard nya
"siap tuan" ucap mereka semua
"masuk lah nak, Naina dibelakang tengah bersiap siap bersama Beti" ajak ibu pada Reyza dan juga Dion berserta Clarissa
"apa semua nya sudah selesai? " tanya Reyza pada Sean sembari duduk diruang tamu rumah itu
"sudah tuan, semua nya sudah selesai sesuai keinginan anda" jawab Sean
"nak Cla dan Dion, sebaik nya istirahat dulu ya, Loli antarkan mereka kekamar" perintah ibu
"mari, kak, Loli antar" ajak Loli pada Clarissa dan Dion yang langsung mengikuti Lolita
Tinggalah eyang putri, orang tua Naina dan juga Reyza bersama Sean duduk diruang tamu rumah itu.
"ibu, abah, eyang, saya mohon maaf, mungkin orang tua saya tak dapat hadir menyaksikan pernikahan ini" ungkap Reyza sendu
Ibu dan eyang putri saling melirik dan melihat raut wajah reyza yang menyimpan beban itu.
Ibu pun langsung menghampiri dan duduk disebelah Reyza. Diusap nya punggung kekar calon menantu nya itu
"tidak apa apa nak, kami mengerti. yang penting restu mereka itu sudah cukup. Jangan bersedih" kata ibu berusaha menenangkan Reyza
"terima kasih bu, " jawab Reyza tulus menatap wajah ibu Naina. Meski hati nya memang benar benar merasa sedih dengan keadaan ini, bukan pernikahan seperti ini yang diinginkan nya, dia ingin pernikahan yang mewah untuk Naina nya, pernikahan yang dihadiri oleh orang orang terdekat nya dan juga pernikahan yang disaksikan oleh orang banyak, agar semua orang tahu dia memiliki gadis cantik yang akan menjadi menantu dikeluarga Askara. Tapi yang terjadi malah diluar ekspektasi nya, dan sungguh ini membuat nya begitu sedih, namun dia harus tetap kuat untuk membahagiakan Naina nya, yang entah bisa bertahan lebih lama atau tidak .
__ADS_1
....
next