
Brakkk..
"Reyza!!! " teriak Danil dari kejauhan, dia berlari sekuat tenaga mendapati tubuh Reyza yang sudah terkapar bersimbah darah diatas jalanan beraspal itu.
Naina pun terhenti dari langkah nya, dia menoleh kebelakang dan terlihat Danil sudah duduk bersimpuh didekat tubuh Reyza yang sudah tergeletak bersimbah darah.
Jantung nya terasa terhenti dan air mata langsung turun dengan deras nya.
"oh tuhan kak Reza! " Naina segera berlari kearah Reyza dengan denyut jantung yang begitu cepat, Dilihat nya tubuh Reyza yang sudah melemah bahkan mata nya sudah terpejam dengan erat.
"kak, bangun kak" panggil Naina membangunkan Reyza dengan air mata yang sudah tumpah dipipi nya, tangan nya bergetar mengusap wajah tampan Reyza yang mulai memucat bahkan terlihat darah sudah banyak keluar dari kepala dan hidung Reyza.
"oh Tuhan jangan lagi" gumam Danil sembari berlari mengambil mobil nya
Banyak orang yang sudah berkerumun melihat kejadian itu
"kakak bangun. Jangan tinggalin Naina kak" teriak Naina sembari memangku kepala Reyza dipaha nya, tangan nya terus mengusap darah yang keluar dari kepala Reyza dan membasahi wajah tampan nya.
"kak bangun, hiks hikss" Isak Naina mencoba membuat kesadaran Reyza tetap bertahan, dunia nya seakan runtuh saat itu juga melihat tubuh gagah Reyza yang terkulai tidak berdaya, bahkan dia mengabaikan kerumunan orang orang yang sudah mengelilingi diri nya.
Reyza pun membuka mata nya perlahan, ditatap nya wajah Naina yang sudah penuh air mata dan kecemasan yang begitu dalam
"aku mencin taimu nai, maaf kan a ku yang tak bi sa juj jur , a a ku men cin ta i mu nai na" ucap Reyza lemah dan terputus putus. Naina menggelengkan kepala nya kuat, tak mampu menahan kesedihan melihat tubuh lemah Reyza.
Manik cokelat itu mulai meredup membuat Naina semakin histeris, dia menggenggam erat tangan Reyza yang mulai mendingin bahkan dapat dia lihat mata Reyza langsung terpejam dan tidak lagi sadarkan diri.
"kakak!! " teriak Naina histeris
"kakak bangun, !"
" ya tuhan jangan lagi! " teriak Naina dengan tubuh bergetar takut
Danil pun datang dengan mobil nya, diangkat nya tubuh Reyza dengan bantuan beberapa orang untuk masuk kedalam mobil nya.
Dan Naina langsung berlari masuk kedalam mobil Danil.
Danil melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan rambu lalu lintas lagi.
Dilirik nya Naina yang terus memanggil nama Reyza dan berusaha membangunkan pemuda itu. Terlihat jelas raut wajah khawatir dan takut diraut wajah Naina.
"mas, kak Reza mas" seru Naina memanggil Danil
"tenang Nai, sebentar lagi kita tiba dirumah sakit, tenang ya" jawab Danil tak kalah panik
"ya Tuhan jangan lagi" gumam Danil terus menerus
"kak Reza, bangun kak, jangan tinggalin Naina. maafin Naina kak, maaf " kata Naina menepuk nepuk pelan pipi Reyza yang sudah memucat karena sudah banyak mengeluarkan darah.
"bangun sayang, jangan begini, tolong, tolong bangunlah" Isak Naina semakin dalam, tapi Reyza benar benar sudah tidak sadarkan diri, bahkan wajah nya sudah pucat Pasih karena kehilangan banyak darah.
__ADS_1
Naina sudah sangat lemas melihat itu, ingin rasa nya dia mengganti posisi nya, karena sungguh, dia takut untuk kehilangan lagi saat ini. Meski dia kecewa tapi melihat Reyza seperti ini sungguh membuat nya seperti hancur dan tidak bernyawa lagi.
Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Danil tiba dirumah sakit terdekat. Danil langsung keluar dari mobil nya dan berteriak memanggil suster dan dokter dirumah sakit itu. Terlihat jelas raut khawatir dan kecemasan diwajah nya.
Selang beberapa menit kemudian petugas rumah sakit pun membawa Reyza masuk keruang ugd untuk segera ditangani.
Naina dan Danil terduduk dikursi tunggu rumah sakit itu dengan wajah frustasi bercampur cemas, khawatir dan takut.
"kak Reza, maafi Nai kak, ya Tuhan jangan lagi, selamatkan kak Reza, " isak Naina dengan tubuh nya yang sudah bergetar
"tenang lah Nai, yakin lah Reyza pasti selamat" kata Danil sembari memeluk tubuh Naina yang sudah lemas dan bergetar
"nai takut mas, nai takut kak Reza seperti kak Abi yang ninggalin Naina" kata Naina menangis sesunggukan dan terdengar pilu ditelinga Danil
"tidak akan, dia sudah berjanji untuk selalu menjaga mu kan, tenang ya, berdoa lah pada Tuhan minta keselamatan untuk Reyza" kata Danil yang terus mengusap pundak Naina
Ya tuhan, ku mohon jangan lagi, apa yang harus ku katakan pada orang tua nya jika sampai kejadian itu terulang lagi. Batin Danil yang kini juga merasakan kecemasan yang begitu dalam apalagi melihat kondisi Reyza yang cukup parah dan memprihatinkan. Kejadian yang lalu benar benar membuat trauma mendalam dihati nya, dan kini itu malah terulang kembali.
Setelah lebih dari satu jam kemudian dokter dari ruangan Reyza pun keluar dengan raut wajah panik.
Danil pun segera menghampiri nya
"pasien kehilangan banyak darah, dan stok darah AB negatif sedang kosong dirumah sakit ini, apa kalian bisa menghubungi keluarga nya? " tanya dokter itu
"saya AB negatif dokter, ambil darah saya saja" kata Naina yang langsung menghampiri dokter itu
"kamu yakin Nai? " tanya Danil menatap wajah Naina yang juga memucat
"baiklah mari ikut saya" kata dokter itu pasrah
Naina pun pergi bersama dokter itu untuk mengecek darah nya.
Sementara Danil terduduk lagi dikursi tunggu.
"apa yang harus aku lakukan, siapa yang harus kuhubungi, orang tua Reyza pasti cemas jika mengetahui ini, tapi jika tidak kuberitahu, aku takut kejadian itu terulang lagi, ya tuhan tolong selamatkan lah Reyza" gumam Danil
Danil langsung menghubungi Beti untuk segera membawa pakaian ganti untuk Naina dan juga agar bisa menjaga gadis itu. Dia baru ingat keadaan Naina yang terlihat sangat berantakan, bahkan darah Reyza juga sudah membuat tubuh dan pakaian nya menjadi kotor.
Danil juga menghubungi pak Roy asisten tuan Suryo papa Reyza.
Setengah jam kemudian Beti pun tiba dirumah sakit tersebut. Terlihat wajah cemas nya sembari berlari mendapati Danil yang masih duduk diruang tunggu
"pak bagaimana keadaan bang ganteng pak? " tanya Beti langsung dengan nafas yang tersendat sendat
"belum tau bet, Naina masih mendonorkan darah nya untuk Reyza, doakan saja agar Reyza selamat" jawab Danil tak semangat
"iya pak, ya tuhan abang ganteng. Selamat kan lah dia ya tuhan. Kasihanilah Naina ku" gumam Beti yang juga ikut terduduk dikursi tunggu itu
Beberapa menit kemudian tiba pula pak roy dengan wajah sama frustasi nya. Saat Danil menelpon nya dia tengah berada diperusahaan gladion yang tak jauh dari rumah sakit itu.
__ADS_1
"bagaimana Reyza Danil? " tanya nya khawatir
"masih ditangani pak" lirih Danil
"bagaimana bisa terjadi, astaga," kata pak Roy frustasi, jangan sampai kejadian yang lalu terulang kembali batin nya.
"apa kita harus memberitahu tuan besar pak? " tanya Danil takut takut
"saya sudah mengabari nya, sekarang mereka tengah dalam perjalanan. Kamu tunggu disini ya, saya akan meminta pihak rumah sakit untuk reservasi rumah sakit ini dan menutup semua akses agar orang lain tidak tau kabar ini," jelas pak Roy
"baik pak" kata Danil lagi
Pak roy pun segera bergegas untuk melakukan pekerjaan nya. Karena dia sudah mengecek media sosial dan benar saja kecelakaan yang menimpa kekasih Sheralia penyanyi yang sedang naik daun itu sudah tersebar dimedia online. Dan dia harus segera menutup berita itu.
Beti yang sedari tadi ada disitu pun hanya bisa terdiam heran dan tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Danil dan juga pak Roy.
"bet, saya mohon sama kamu, apapun yang kamu lihat dan kamu dengar nanti, tolong jangan katakan pada siapapun, kau ingat ya" kata Danil tegas memberi peringatan pada Beti yang semakin terlihat bingung
"memang ada apa pak? " tanya Beti heran
"nanti kau akan tau, tugas mu hanya diam dan jaga Naina, kau mengerti" tegas Danil
Beti pun hanya mengangguk menelan saliva yang terasa nyangkut ditenggorokan nya
Ada apa sih. Batin nya
Hingga beberapa menit kemudian, Naina pun keluar dari ruangan nya dengan wajah nya yang semakin pucat. Terlihat dokter membawa dua kantong darah ditangan nya dan segera masuk keruangan Reyza.
Beti yang melihat Naina sangat lemas pun langsung memapah nya untuk duduk dikursi.
"duduk dulu Nai" kata Beti dan ikut duduk disebelah Naina
"kak Reza bet" lirih Naina yang menjatuhkan air mata nya lagi
"tenang lah, abang ganteng itu kuat, dia pasti selamat, kita berdoa aja ya" kata Beti mengusap pundak Naina yang kini kembali menangis pilu
"aku takut dia juga ninggalin aku kayak kak Abi bet , aku takut kehilangan lagi. hiks hiks. aku takut" isak Naina
"jangan lah kau ngomong gitu, dia pasti baik baik aja" kata Beti yang langsung memeluk Naina dan juga ikut menangis karena tidak tega melihat Naina yang begitu hancur dan rapuh.
Danil hanya mampu terdiam melihat Naina yang begitu hancur, karena dia mengerti bagaimana perasaan gadis itu sekarang, bahkan dia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa selain berdoa meminta pada Tuhan agar kejadian kemarin tidak lagi terulang.
"kita kekamar mandi yuk, kau ganti baju dulu" ajak beti
Naina pun melihat baju nya yang memang penuh dengan darah Reyza.
Akhir nya dia pasrah saat Beti membawa nya ketoilet rumah sakit itu untuk mengganti pakaian nya, sedangkan Danil tetap setia menunggu didepan ruangan Reyza dengan wajah yang masih terlihat cemas.
Apa yang harus aku lakukan Abi, Rey, lihatlah gadis kalian begitu terpuruk sekarang. Batin Danil frustasi.
__ADS_1
...
next