
Beti duduk diruang tunggu sendirian. Dia sedang menunggu Reyza dan Naina yang sedang berada diruang istirahat. Mereka memutuskan untuk menunggu hasil pemeriksaan Naina yang akan keluar sebentar lagi, sekaligus untuk berbagi cerita bersama dokter Bayu tentang kesehatan Naina.
Beti memilih keluar dari pada harus merasa kesal karena diabaikan oleh dokter Bayu yang terlihat biasa saja pada nya, padahal sejak dari rumah hingga sekarang hati nya sudah berdebar tidak menentu karena ingin berjumpa dengan dokter tampan itu. Bahkan dia sudah berdandan semaksimal mungkin untuk terlihat menarik, tapi nyata nya semua diluar ekspektasi nya.
Apa semua gombalan dan rayuan nya dulu hanya sebatas kata yang seperti angin berlalu saja. Ah, rasa nya kesal sekali Beti memikirkan nya, hingga kini wajah nya tertekuk sempurna.
Dokter Bayu hanya memberikan senyum nya sedikit pada Beti, padahal Beti sudah berangan angan jika dia akan mendapatkan perlakuan manis dari dokter itu. Ya, ini seperti yang sering orang orang bilang, Beti sudah termakan gombalan manis dokter itu hingga dia menjadi baper sekarang, dan semoga dia tidak menjadi koper(korban perasaan) yang akan tercampakan kedalam bagasi.
Berulang kali dia menarik nafas nya dalam dalam dan membuang nya perlahan. Berusaha menetralkan perasaan nya. Baru saja dia merasakan perasaan aneh selama hidup nya, malah mengenaskan seperti ini, batin nya.
Lama dia termenung disana sendiri sementara Sean pergi entah kemana. Dan lamunan nya buyar saat seseorang menjentikkan jari nya dihadapan wajah nya.
Beti terkesiap kaget saat melihat pria yang sedang ada dalam fikiran nya itu sedang menatap nya sembari tersenyum dengan begitu teduh, senyum yang selalu membuat Beti meleleh hingga dia mengerjapkan mata nya berkali kali membuat dokter Bayu terkekeh pelan.
"kamu itu seperti sedang melihat hantu saja" kata dokter Bayu seiring dengan tangan nya yang terulur kearah Beti.
Beti mengernyit heran melihat tangan itu dan menoleh lagi kepada sang pemilik nya
"ayo" ajak dokter Bayu
"kemana?" tanya Beti heran, namun sebisa mungkin dia menahan untuk tidak langsung menerima uluran tangan itu
"ketempat kita" jawab dokter Bayu dan kembali membuat Beti mengernyit
"kelamaan" ucap nya lagi sembari langsung menarik tangan Beti hingga mau tidak mau Beti beranjak dari duduk nya dan mengikuti langkah dokter Bayu.
"bang dokter kebiasaan lah, nanti kalo tuan ganteng nyariin cemana?" tanya Beti kesal namun tak urung kaki nya malah berkhianat dan terus mengikuti langkah dokter Bayu yang masuk kedalam sebuah ruang perawatan.
Beti semakin bingung dibuat nya
"aku kan gak sakit bang, kenapa dibawa kesini" tanya Beti lagi namun dokter Bayu malah tertawa
"kamu memang sakit kok, kelihatan dari wajah kamu" jawab dokter Bayu membuat Beti langsung menghentikan langkah nya dan meraba wajah nya dengan sebelah tangan
"masak sih, kayak nya aku sehat sehat aja lah" gumam nya membuat dokter Bayu terbahak
"kamu sakit malarindu, wajah kamu memerah dan jantung kamu pasti berdebar kencang kan" ucap dokter Bayu membuat Beti melebarkan mata nya
"eh kok tahu" tanya Beti begitu polos membuat dokter Bayu gemas sendiri jadi nya
"saya mendengar nya" bisik dokter Bayu ditelinga Beti membuat gadis itu tertegun merasakan nafas hangat dokter Bayu diwajah nya, membuat wajah nya semakin memerah
"lihat wajah mu kembali memerah, dan diagnosa ku benar, jika kamu memang sedang sakit" ungkap nya lagi menatap Beti yang langsung memalingkan wajah nya
Dokter Bayu tak bisa untuk tidak terus tersenyum dan dia kembali mendekatkan wajah nya pada Beti
"kamu sakit karena sudah jatuh cinta padaku" ungkap nya membuat Beti langsung melebarkan mata nya menatap dokter Bayu yang tertawa pelan
"sembarangan" pekik Beti seiring tangan nya yang langsung memukul lengan kekar dokter Bayu namun tak dipungkiri jika wajah nya kini sudah semerah tomat.
Dokter Bayu menggeleng dan mengusap gemas pucuk kepala Beti
"sudah ayo masuk, saya ingin memperkenalkan mu pada seseorang" ajak dokter Bayu kembali menarik tangan Beti dengan tangan kanan nya dan tangan kiri nya membuka pintu ruangan itu.
Beti tertegun sesaat saat melihat isi ruangan itu yang seperti nya dihuni oleh anak anak, bewarna biru muda dengan berbagai pernak pernik yang menggantung dilangit langit nya seperti kertas origami yang dibentuk menjadi pesawat, burung dan beberapa bentuk yang lain.
Dan dapat Beti lihat disana terbaring seorang anak laki laki kecil sekitar 8 tahunan yang terpasang selang dihidung dan tangan nya sedang memainkan sebuah pesawat mainan kecil.
"ayaah!!!" seru anak itu begitu riang melihat dokter Bayu ada disana.
__ADS_1
Beti langsung tertegun, seperti ada sebuah batu besar yang menghantam jantung nya, berdebar tapi terasa ingin keluar dari tempat nya. Ayah, anak kecil ini memanggil dokter Bayu ayah, apa dia tidak salah dengar, berarti dokter Bayu sudah menikah, astaga apa apaan ini
Wajah Beti yang semula merona kini berubah pucat, bahkan senyum nya terasa kecut memandang anak kecil itu, apalagi melihat dokter Bayu yang memeluk anak itu dengan begitu hangat dan lembut.
Tapi tunggu, hampir dua bulan Beti disini, tapi tidak pernah melihat istri nya datang, atau anak ini baru ini saja masuk rumah sakit, tapi kenapa rumah sakit ini, inikan rumah sakit spesialis kanker, batin Beti bertanya tanya, bahkan dia mengabaikan hati nya yang terasa terkoyak karena mendengar kata ayah dari mulut anak itu.
"bagaimana keadaan kamu nak, apa ada yang sakit" tanya Dokter Bayu lembut sembari memeriksa selang infus nya
"hanya pegal pegal Ayah, ayah Tante itu siapa" tanya anak kecil itu membuat dokter Bayu juga ikut menoleh pada Beti yang terdiam ditempat nya dan dapat dia lihat senyum hambar diwajah cantik nya
"dia Tante Beti nak, cantik kan" tanya Dokter Bayu pula. Anak kecil itu mengangguk lucu
"iya cantik, sama seperti ibu" jawab nya polos, namun dapat kembali menggores hati Beti
"Beti kenalkan dia Rayanza, dia dirawat disini tepat sehari setelah kalian pulang" ungkap Dokter Bayu pada Beti
Beti mengangguk dan mendekat kearah Rayanza dan berdiri disisi lain tempat tidur anak itu
"hai sayang, kamu ganteng kali. cepet sembuh ya" kata Beti mengusap lembut kepala Rayanza yang menatap nya dengan lekat
Hati Beti terenyuh melihat anak sekecil ini berada diruang perawatan seperti ini dengan selang yang terpasang ditubuh nya, tubuh nya juga kurus dan begitu pucat seperti tidak dialiri darah, bahkan kantung mata nya terlihat menghitam. Padahal anak lelaki itu jika sehat pasti begitu tampan dengan wajah oriental dan hidung yang begitu mancung.
"Tante Beti, Rayanza ngantuk, Tante Beti mau bacain dongeng gak untuk Rayanza" pinta nya memelas menatap Beti.
Dapat Beti lihat wajah sendu Dimata kecil itu, seperti mengharapkan atau merindukan seseorang
Beti menoleh pada dokter Bayu yang mengangguk penuh harap.
"boleh dong, kamu mau Tante bacakan cerita apa?" tanya Beti sembari meraih beberapa buku yang terletak diatas lemari kecil disamping tempat tidur Rayanza
"peri bulan dan anak Soleh" ucap nya cepat membuat Beti mengangguk dan dokter Bayu tersenyum sendu
Dokter Bayu juga duduk dikursi nya berhadapan dengan Beti, dia mengusap pelan pucuk kepala Rayanza sembari terus mendengarkan Beti bercerita panjang lebar.
Dan lima belas menit kemudian Rayanza sudah terbang kealam mimpi nya dengan wajah damai dan begitu tenang.
Beti menutup buku nya dengan mata yang berkaca kaca sembari menatap sendu anak lelaki itu
"dia anak kakak saya" ungkap Dokter Bayu begitu pelan menatap wajah Rayanza dan Beti tertegun mendengar nya, bukan kah kakak dokter Bayu sudah tiada
"bukan nya bang dokter bilang waktu" kata Beti tertahan
"ya, dia sudah tiada delapan tahun yang lalu, sehari setelah melahirkan Rayanza" ungkap Dokter Bayu membuat Beti tertegun
"dia mempertahankan bayi nya disaat kesehatan nya sendiri tengah memburuk waktu itu" kata nya lagi dan Beti terus menyimak setiap perkataan dokter Bayu yang terdengar begitu lirih
"dan harapan nya terkabul, Rayanza lahir dengan selamat, tapi dia tidak. Dia tidak dapat bertahan ditengah sakit kanker yang diderita nya" ucap nya lagi.
"Rayanza?" tanya Beti
dokter Bayu mengangguk lemah
"dia juga menderita kanker sama seperti ibu nya, kanker darah stadium akhir" jawab Dokter Bayu
"ya Tuhan" gumam Beti menatap sedih lelaki kecil tampan itu
"tapi dia kuat, dia sakit sejak dari bayi, dan dia bisa bertahan hingga sekarang, tidak pernah dia tahu bagaimana ibu nya, tapi keinginan nya hanya satu, dia hanya ingin bertemu dengan ibu nya, dan itu benar benar keinginan yang tidak bisa saya penuhi sampai saat ini" ungkap dokter Bayu tertunduk lirih
"tapi dia tahu ibu nya udah gak ada kan?" tanya Beti pula
__ADS_1
dokter Bayu langsung mengangguk pelan
"ya, dia tahu, setiap ulang tahun nya maupun ulang tahun ibu nya kami selalu mengunjungi makam nya" jawab dokter Bayu
"ayah nya?" tanya Beti ragu ragu
"ayah nya sudah meninggal saat dia baru berusia empat bulan dalam kandungan ibu nya" jawab dokter Bayu, dan lagi lagi Beti tertegun. anak yang begitu malang, batin nya
"dia anak yang kuat bang, dia pasti jadi anak yang hebat jika dia besar nanti" kata Beti
"ya semoga, dia sudah seperti anak saya sendiri, tidak ada yang dia punya selain saya dan ibu" ungkap dokter Bayu
"dia beruntung masih punya bang dokter dan nenek nya. bang dokter harus tetap semangat, supaya Rayanza cepat sembuh kembali, dia anak baik dan begitu tampan" kata Beti membuat senyum terukir diwajah tampan itu
"apa saya bisa meminta tolong padamu Bet?" pinta dokter Bayu penuh harap
"minta tolong apa bang?" tanya Beti
"sempatkan lah sesekali kemari menjenguk nya, saya merasa umur nya tidak akan lama lagi, saya hanya ingin memberikan kenangan manis pada nya dengan mendatangkan seseorang yang bisa membuat nya tersenyum" jawab dokter Bayu membuat Beti terkesiap
"kenapa harus aku" tanya nya heran
"karena cuma kamu yang cocok, kamu tahu, tidak pernah sebelum nya dia tersenyum dan meminta seseorang selain saya untuk membacakan cerita untuk nya, tapi dengan mu, hanya dengan sekali lihat dia langsung percaya" jawab dokter Bayu
Beti terdiam sesaat menimang nimang permintaan dokter itu, sembari mata nya menatap sendu anak malang ini
"saya sudah meminta izin pada Tuan Reyza, dan dia memperbolehkan mu untuk itu" kata Dokter Bayu lagi membuat raut wajah Beti berubah
"beneran" tanya nya tak percaya
"ya, saya tidak mungkin bercanda soal ini, bahkan saya meminta izin pada nya sebelum tahu jika Rayanza benar benar menyukai mu" jawab nya terkekeh membuat Beti tersipu malu. Apalagi jika mengingat prasangka buruk nya tadi, benar benar memalukan
"kamu kesal saat Rayanza memanggil saya ayah?" tebak dokter Bayu dengan senyum nya yang teduh membuat Beti gugup tak menentu
"eh, enggak kok. cuma terkejut aja" jawab nya tanpa mau menatap wajah dokter itu
"kamu pasti langsung patah hati tadi kan" goda nya lagi membuat wajah Beti semakin merona
"bang dokter jangan mulai" pekik nya tertahan sembari melirik Rayanza yang tertidur dengan pulas
Dokter Bayu mengulum senyum, namun tak lama Beti sedikit terkesiap
"ah, ya ampun. aku harus balik lagi , mereka pasti nungguin" kata Beti yang langsung beranjak untuk keluar namun langkah nya langsung ditahan oleh dokter Bayu
"jangan buru buru, mereka sudah menitipkan mu pada saya" ungkap Dokter Bayu membuat Beti mengernyit
"menitipkan, memang nya aku barang" ketus nya namun dokter Bayu malah terkekeh, apa pria ini tidak pernah berwajah masam, selalu tersenyum, batin Beti
"mereka berpesan, setelah hasil pemeriksaan selesai tadi, mereka pamit pulang duluan karena ingin berjalan jalan sebentar" jawab dokter Bayu lagi
"lah, jadi aku cemana" gumam Beti bingung dan kesal sekaligus, namun tidak bisa dibohongi sudut hati nya merasa bahagia bisa mempunyai waktu lebih lama dengan dokter tampan ini, apalagi dengan permintaan nya tadi, wah dengan senang hati Beti menerima nya.
"kamu biar saya antar nanti" jawab dokter Bayu membuat Beti terkesiap
"wah beneran bang" tanya nya tak bisa menutupi wajah senang nya, membuat dokter Bayu lagi lagi tertawa
"iya, tapi tunggu ibu datang ya, supaya ada yang menjaga Rayanza" kata nya lagi dan Beti langsung mengangguk dan kembali duduk ditempat nya
Mimpi apa dia semalam bisa berlama lama dengan dokter ini, perasaan resah gelisah nya selama ini sirna sudah, masa bodoh lah mau terbalas atau tidak, yang terpenting dia senang dulu sekarang, fikir nya.
__ADS_1