
Semua orang yang tengah berkumpul diruang keluarga terkejut melihat Sean membopong tubuh Reyza dibantu dengan para pekerja eyang putri, terutama Naina. Tubuh kurus nya terhuyung lemah mendekat kearah Reyza dibantu oleh Beti.
"astaga kenapa dengan kak Reyza kak? " tanya Naina panik melihat Reyza lemas tak berdaya
"kau apa kan dia Sean? " tanya eyang putri melangkah mendekati tubuh Reyza yang sudah tak sadarkan diri.
Aku lagi yang kena. Batin Sean kesal
Wajah Reyza sudah sama dengan wajah Naina, pucat pasi bagai tak dialiri darah membuat semua orang panik dan khawatir.
"dia tiba tiba pingsan setelah beberapa kali muntah muntah eyang" jelas Sean takut takut saat telah merebahkan tubuh Reyza diatas sebuah
ranjang yang ada diruang tengah itu
"kak, bangun kak. Eyang wajah nya pucat sekali" kata Naina panik, dia kini duduk disebelah Reyza dan mengusap wajah nya berkali kali
"tenang lah nak" kata ibu mengusap pundak Naina sementara eyang putri sedang mengecek nadi Reyza yang memang melemah, mata nya terpejam dengan rapat bahkan dapat Naina rasakan jika tangan dan tubuh Reyza begitu dingin
"si bodoh ini gara gara cinta pasti tidak makan dan tidur, maka nya jadi seperti ini" jelas eyang putri membuat semua orang langsung menatap kearah nya
"astaga sampai segitu nya" kata Beti iba
Naina duduk disamping Reyza sembari mengoleskan minyak kayu putih dihidung nya. Sementara eyang meminumkan ramuan sedikit demi sedikit dibantu oleh ibu.
"Loli, ambilkan kotak obat eyang dikamar biasa" titah eyang pada Loli
Loli pun mengangguk dan langsung pergi. Hingga tak berapa lama dia datang dengan membawa kotak obat pesanan eyang putri.
Kotak obat yang dimaksud eyang putri itu berisi perlengkapan kedokteran seperti stetoskop, alat infus, obat obatan dan alat lain nya.
Membuat Sean terperangah kaget.
Sebenar nya apa profesi eyang putri ini. Batin Sean heran
Eyang putri langsung dibantu oleh pelayan pribadi nya untuk memasang kan infus ketangan Reyza mengingat kondisi nya yang memang sangat lemah karena kekurangan cairan.
Sudah lima belas menit namun Reyza masih juga belum juga sadar membuat Naina semakin bertambah cemas, meski kini wajah nya sudah tak sepucat tadi
"eyang, kenapa kak Reyza belum sadar juga? " tanya Naina cemas
"dia hanya beristirahat. Setengah jam lagi dia sadar. Ayo sekarang giliran mu seperti biasa. Eyang tunggu dibelakang" titah eyang yang mulai beranjak dari duduk nya
"tapi kak Reyza bagaimana " tanya Naina bingung
__ADS_1
"ada bocah gemblung itu yang akan menjaga nya" jawab eyang santai
"tapi eyang" rengek Naina. Rasa nya ia tak ingin meninggalkan Reyza dalam keadaan seperti ini
"pergilah kak, aku akan menemani kak Sean disini" kata Loli pula
Naina hanya mengangguk pasrah. Dia pun mulai pergi untuk menjalani pengobatan nya seperti biasa. Hari ini dia lebih semangat dan tidak banyak mengeluh lagi. Hati nya sudah membaik karena sudah bertemu dengan Reyza. Meski rasa khawatir karena kondisi Reyza saat ini membuat nya sedikit risau.
..
"sebenar nya eyang putri dulu nya bekerja sebagai apa sih Lol" tanya Sean yang kini tengah duduk disofa tak jauh dari ranjang Reyza yang masih tertidur karena pengaruh obat
"eyang putri itu dokter ahli kanker kak. Dia itu sepupuan sama nenek kami. Cuma udah kami anggap kayak nenek sendiri. " jelas Loli
"ooh berarti udah pensiun sekarang" tanya Sean lagi
"pensiun dini sih." jawab Loli
"kenapa? " tanya Sean lagi
"dulu suami nya juga mengidap kanker otak sama seperti kak Nai, dia juga yang merawat suami nya. Mereka menikah juga karena eyang putri jatuh cinta sama pasien nya sendiri" jelas Loli menghela nafas nya perlahan lalu mulai melanjutkan cerita nya sementara Sean terdiam ingin tau kelanjutan kisah eyang putri dari mulut Loli
"berbagai cara dilakukan sama eyang putri karena memang keahlian nya disitu, tapi saat itu eyang belum mengerti tentang pengobatan tradisional seperti sekarang. Dan takdir berkata lain, setahun pernikahan nya suami eyang meninggal, yang saat itu eyang sedang mengandung tiga bulan, eyang begitu terpukul karena dia merasa dia gagal dalam menjalan kan tugas nya, dan saat itu dia pun mengundurkan diri menjadi dokter. Dan melilih hidup seperti sekarang. Menekuni obat obatan tradisional yang kata nya diperlukan untuk mendampingi pengobatan dari rumah sakit" jelas Loli panjang lebar membuat Sean menganggukkan kepala nya beberapa kali
"anak nya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Cucu nya sebaya dengan ku kak, laki laki dan sekarang sedang kuliah diJepang" ungkap Loli
"ooohh begitu toh. Pantas saja dia begitu telaten merawat Naina. Ternyata dia memang seorang dokter" ungkap Sean
"iya, dia memang bertekad agar kak Nai sembuh, tinggal dua minggu lagi pengobatan ini, dan selanjut nya baru lanjutan pengobatan dari rumah sakit. Jika pengobatan eyang berhasil maka bisa dipastikan delapan puluh persen kak Nai bisa sembuh, tapi jika pengobatan eyang tidak berhasil, maka tergantung pengobatan dari rumah sakit" jelas Loli dengan nafas yang terdengar sesak didada nya
"dirumah sakit mana? " tanya Reyza sembari berusaha untuk duduk dan Sean dengan cepat langsung membantu nya
"biasa nya disingapura kak" ungkap Loli dan Reyza hanya terdiam sembari memijat kepala nya yang masih terasa pusing
" aku boleh membawa nya kejepang tidak ya, disana ada dokter spesialis kanker yang terhebat" ungkap Reyza
"kalau masalah itu kakak bicarain aja dulu sama ibu dan eyang, bagaimana baik nya" jelas loli dan Reyza pun hanya mengangguk
"hei, tuan, kau sampai tepar begini gara gara frustasi ya" goda Sean membuat Reyza menatap nya tajam
Sementara Loli hanya geleng geleng kepala melihat Sean yang suka sekali menggoda Reyza
"kau diam atau kepala mu kujadikan pajangan diperusahaan ku" ancam Reyza yang langsung membuat Sean terdiam sembari mengingat kelakuan psikopat Reyza tempo lalu
__ADS_1
"ck iya iya, " ucap Sean takut. Loli pun langsung menahan tawa nya.
"Naina dimana Lol? " tanya Reyza sembari melihat kesana kemari
"kalau jam segini setiap hari kak Nai melakukan ritual pengobatan dari eyang putri kak. Nanti kalau udah selesai kakak bisa liat " jawab Lolita
"aku mau lihat sekarang," ucap Reyza sembari hendak melepas infus yang tertanam ditangan nya namun dicegah oleh Loli
"eh jangan kak, nanti saja, setengah jam lagi. Sekarang kak nai lagi berendam tak boleh dilihat, lagian kakak juga belum pulih betul. kakak mau eyang ngamuk lagi? " tanya Loli tajam dan sontak saja Reyza langsung mengenggelengkan kepala nya melihat kelakuan bar bar eyang putri
Terlihat pelayan membawa dua mangkuk sup dan dua gelas susu hangat untuk Reyza dan Sean.
"ini makanan untuk mas Sean dan juga mas Reyza, kata eyang putri harus dihabis kan" jelas pelayan itu
"terima kasih mbak" ucap Sean sementara Reyza hanya mengangguk
"yauda kalian makan dulu ya, aku mau kebelakang dulu" kata Loli. Reyza dan Sean pun hanya mengangguk
Reyza memakan makanan itu dengan lahap karena memang perut nya sudah sangat lapar.
"hei, apa eyang putri memang menyeramkan seperti itu? " tanya Reyza saat sudah selesai makan
"lebih dari yang anda bayangkan tuan, aku sudah duluan disini" ungkap Sean sembari mengambil gelas susu untuk diminum Reyza
"lalu kenapa kau bisa bertahan disini? " tanya Reyza sembari menyambar gelas susu dari tangan Sean
"ya karena dua gadis itu lah, kau pikir apa" jawab Sean
Reyza pun langsung menenggak habis air susu itu
"kau terlihat sangat kelaparan tuan" ucap Sean geleng geleng
"bahkan tubuh mu sekarang pun ingin kumakan" jawab Reyza santai namun terkesan menyeramkan untuk Sean
"kau terlalu menyeramkan" gumam Sean mendengus kesal membuat Reyza tersenyum sinis
..
*waahh tinggal beberapa bab lagi nih bakalan tamat
mau happy ending atau sad ending guys??
Mohon dukungan nya ya😉*
__ADS_1
dan selamat menunaikan ibadah puasa