Berjuang Bersamamu

Berjuang Bersamamu
Trauma


__ADS_3

Naina masuk keruangan Reyza dengan langkah perlahan, degup jantung nya seperti terhenti saat itu juga ketika melihat Reyza kini terbaring dengan mata yang terpejam rapat dengan alat alat medis yang menempel ditubuh nya dan perban yang membalut kepala nya.


Perlahan dia mendekat keranjang Reyza, ditatap nya wajah tampan yang tampak tidak berdarah itu dengan hati yang begitu teriris, wajah tampan yang biasa nya selalu tersenyum indah, menampilkan kesan tegas dan gagah kini terlihat lemah dan tidak berdaya.


Naina mengusap lembut wajah tampan yang kelihatan masih begitu pucat itu. Diusap nya bibir merah muda Reyza yang kini sudah tak bewarna lagi, dia tersenyum namun air mata nya terus menetes membasahi pipi nya. Tidak ada Isak tangis yang keluar dari mulut nya, karena Naina berusaha sekuat tenaga untuk meredam segala kesakitan nya melihat Reyza saat ini.


Dilirik nya alat pendeteksi jantung yang berbunyi memenuhi ruangan itu. Entahlah rasa nya jantung nya pun seolah enggan untuk berdetak melihat orang yang disayang nya terbaring lemah seperti ini.


Jika dia menurunkan ego nya sedikit saja, jika dia mau mendengarkan Reyza dan Danil sebentar, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Reyza pasti masih ada bersama nya sekarang.


Hampir lima belas menit Naina terdiam diruangan itu tanpa sepatah katapun. Hanya jemari nya yang terus mengusap seluruh bagian wajah Reyza dan menggenggam erat tangan nya.


Bibir nya serasa kelu untuk berucap, pandangan mata nya tak pernah lepas dari tubuh Reyza yang terbaring tidak berdaya. Jika saja dia bisa menggantikan posisi Reyza saat ini, mungkin itu lebih baik untuk nya, dari pada harus melihat Reyza seperti ini, dan sungguh dia tidak ingin lagi kehilangan.


Hingga suara itupun keluar dan terdengar lemah.


"kak, bangunlah"


"jangan buat Nai merasa bersalah seperti ini kak"


"kakak udah janji kan akan selalu nemeni Nai terus"


Runtuh sudah pertahan nya, Isak tangis nya mulai terdengar pilu meski dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk meredam nya. Jemari nya bergetar menggenggam kuat lengan Reyza yang masih dingin dan pucat


"jangan tinggali Naina kak. " lirih Naina ditelinga Reyza. Dia merebahkan kepala nya didekat bahu pria itu dengan pelan dan tampak putus asa


"Nai takut kak, Nai gak sanggup" tubuh Naina kini ikut bergetar hebat menerjang seluruh luapan emosi nya , dia menciumi seluruh wajah Reyza yang masih diam bergeming


"kakak bangun, " isak Naina lagi


"nai gak akan sanggup kalau kakak pergi, " kata Naina semakin tersedu


Dia pun langsung duduk dengan tegak, menggenggam erat tangan Reyza dan menatap dalam wajah Reyza dengan tatapan hancur dan frustasi


"kak, bangun kak, jangan buat nai takut kak!" seru Naina kuat hingga semua orang diluar pun datang melihat nya, namun mereka hanya mengintip dari depan pintu ruangan saja


"aku mencintaimu Reza, aku mencintaimu, bangunlah, buktikan kata katamu, buktikan jika kau akan terus menemaniku. Bangun Reza!! " teriak Naina sembari memegang dada nya yang terasa sangat sesak


"huaaaa bangun kak, bangunnnnn!!!!" lirih Naina dengan Isak tangis yang sungguh terdengar pilu


Semua orang yang melihat nya menjatuhkan air mata Mereka. Beti yang melihat itupun tak tega dia langsung berlari memeluk Naina yang terlihat sangat rapuh.


"bangun kak, bangun!! " kata Naina terisak pilu


"ya tuhan jangan lagi, aku gak akan sanggup tuhan, ku mohon selamatkan dia! " seru Naina yang masih menggenggam erat tangan Reyza


"sudah nai, tenangkan dirimu" ucap Danil yang juga iba melihat Naina dan mendekat kearah gadis itu


"kak reyza, bangun, kak" lirih Naina lagi dalam pelukan Beti

__ADS_1


Danil terkesiap saat mata nya tanpa sengaja melirik Reyza yang berusaha mengerjapkan mata, dia pun langsung memencet tombol yang ada diatas ranjang Reyza.


Sementara Naina masih terus memanggil nama Reyza dalam pelukan Beti. TuanSuryo dan Miranti sudah berdiri disisi lain ranjang Reyza memperhatikan anak mereka dengan wajah cemas dan begitu khawatir


Tidak lama kemudian dokter pun datang, dia langsung memeriksa keadaan Reyza. Naina yang melihat dokter masuk pun segera ditarik oleh Danil agar menjauh


"kak Reyza bangun, aku mencintaimu kak" lirih Naina yang masih setia berada dirangkulan Beti. Dia memegang dada nya yang terasa sakit dan begitu sesak. Bahkan wajah nya juga ikut memucat sekarang, hingga tak lama kemudian


Brukk


Naina pun jatuh terkulai lemah dengan air mata yang masih membasahi pipi nya. Untung ada Beti yang selalu berada disisi nya sehingga tubuh nya tak langsung jatuh kelantai.


"Naina, ya ampun, pak" ucap Beti panik dan melihat kearah Danil yang langsung berlari mendapati nya


"bawa keruangan sebelah saja tuan" kata seorang suster


Danil pun segera mengangkat tubuh Naina yang sudah tidak sadarkan diri dan membawa nya keruangan sebelah diikuti oleh Beti yang nampak begitu panik.


Sementara tuan Suryo dan Miranti masih harap harap cemas melihat Reyza. Namun seketika senyum mengembang diwajah mereka ketika melihat Reyza sudah mulai membuka mata nya perlahan.


"syukurlah, mukjizat Tuhan, pasien sadar sebelum waktu nya, itu berarti tidak ada yang fatal tuan dan nyonya" ungkap dokter itu yang juga dapat bernafas dengan lega setelah jantung nya sempat berdetak tidak karuan selama beberapa jam ini mengingat siapa pasien yang sedang ditangan nya ini


"syukurlah, terima kasih dokter" ucap tuan Suryo.


Dokter dan suster itupun keluar dari ruangan Reyza setelah selesai memeriksa dan memastikan semua nya berjalan dengan baik baik saja.


"sayang, akhirnya kamu sadar juga nak" kata Miranti mengelus sayang kepala Reyza dan membenamkan kecupan hangat dipucuk kepala Reyza, wajah nya sudah sedikit berbinar setelah sebelum nya dia sungguh tidak bernyawa melihat anak nya tidak sadarkan diri.


"istirahat lah dulu agar kau cepat pulih" kata tuan Suryo menatap Reyza. Ada kelegaan yang begitu besar dihatinya melihat Reyza baik baik saja


"Naina ma? " tanya Reyza menatap mama nya


"dia sedang istirahat nak" jawab Miranti lembut


"tapi tadi aku dengar dia ada disini, aku mau menemui nya ma" lirih Reyza masih dengan suara yang lemah nyaris tak terdengar


"dia masih lemas Rey, dia sudah mendonorkan darah nya untuk mu. Biarkan dia istirahat dulu, dan kau juga harus istirahat" ucap tuan Suryo lagi


"apa dia baik baik saja? " tanya Reyza lagi


"dia baik baik saja nak, tenang lah, dia pasti senang melihat mu sudah sadar" jawab Miranti mencoba menenangkan Reyza meski dia juga tidak tahu bagaimana kondisi gadis itu sekarang.


Reyza pun hanya bisa terdiam, tenaga nya belum cukup pulih untuk banyak berbicara. Kepala nya juga masih terasa begitu sakit bahkan tubuh nya belum mampu dia gerakan barang sedikit pun.


Sedangkan hati nya juga merasa cemas dengan keadaan Naina yang belum dilihat nya. Dia begitu takut gadis itu kecewa dan pergi meninggalkan nya.


Beberapa saat kemudian Reyza pun tertidur kembali akibat pengaruh obat yang disuntikan ketubuh nya.


"mama mau melihat kondisi gadis itu dulu, papa mau ikut? " tanya Miranti

__ADS_1


"pergilah, papa disini saja menemani Reyza" jawab Tuan Suryo


"baiklah"


Miranti pun pergi keruangan dimana Naina dirawat. Terlihat pak roy dan Danil duduk dikursi tunggu didepan ruang perawatan nya


"bagaimana keadaan Naina? " tanya Miranti


"keadaan nya buruk nyonya, dokter bilang dia mengalami traumatic yang hebat yang mengakibatkan fungsi jantung nya melemah" jelas pak roy sementara Danil duduk terdiam dengan wajah frustasi nya


"ya Allah" lirih Miranti terhenyak kaget


Miranti langsung masuk keruangan dimana Naina dirawat, terlihat disana sudah ada Beti yang setia menunggu nya. Terlihat dia menangis meratapi sahabat nya itu.


Dia menatap Miranti yang baru masuk keruangan itu.


Miranti berdiri mematung menatap wajah Naina yang terlihat sangat pucat.


"jangan salah kan Naina nyonya, kasihan dia, dulu dia begitu terluka saat kehilangan mendiang mas Abi, dan sekarang dia juga merasa bersalah karena mas Reza kecelakaan. Ini bukan salah nya nyonya. Hiks hiks" isak Beti menahan tangis nya


"saya tidak menyalahkan nya nak, saya tahu rasa nya jadi dia, saya juga merasakan itu. Abi dan Reyza adalah hidup saya, sama seperti yang dirasakan nya" jawab Miranti yang juga ikut terisak


Mereka pun sama sama menahan tangis diruangan itu melihat Naina yang seperti putri tidur. Pucat dan enggan untuk bangun lagi.


Setelah beberapa saat Miranti pun keluar dari ruangan itu, terlihat Danil duduk seorang diri. Miranti pun duduk disebelah nya.


"apa dia begitu mencintai anak anak ku Danil? " tanya Miranti tanpa menatap danil


"iya nyonya, nyonya bisa melihat sendiri bukan" jawab Danil pelan, dia pun tidak berani menatap wajah Miranti


"aku bisa melihat nya, melihat Reyza yang masih hidup saja dia begitu terluka, bagaimana dulu ketika Abi meninggalkan nya" lirih Miranti sendu


"dia terlihat kuat nyonya, namun sebenarnya sangat rapuh. Dan hanya tuan muda Reyza sajalah yang bisa mengobati luka hati nya selama ini " ungkap Danil


"ya aku tau itu" jawab Miranti singkat


"saat ini dia dalam fase trauma nya nyonya, dokter bilang dia akan betah tertidur karena dunia alam bawah sadar nya akan jauh terasa lebih nyaman untuk nya" ungkap Danil menatap Miranti dengan ragu


"apa itu berarti tidak bisa diprediksi kapan dia akan sadar? " tanya Miranti


Dan Danil pun hanya mengangguk


"ya tuhan, bagaimana kalau Reyza tahu" gumam Miranti khawatir


"semoga semua nya baik baik saja nyonya" kata Danil menenangkan


..


maafkan tulisan ku yang masih acak acakan guys

__ADS_1


jangan lupa like and coment nya


__ADS_2