
Malam hari nya..
"Bet, ini kenapa aku didandani, kita mau kemana? " tanya Naina lemah, saat ini mereka tengah berada disebuah ruangan yang berada dibagian dibelakang rumah eyang putri.
"ada kejutan untuk mu" jawab Beti singkat. Dia sendiri yang menghias Naina, hati nya terenyuh melihat kondisi Naina yang masih saja lemah, bahkan terkadang dia tak bisa menopang tubuh nya sendiri. Padahal ini sudah hampir setahun, namun belum ada perubahan yang signifikan ditubuh Naina, dan kunci dari pengobatan ini adalah saat pengangkatan sel kanker nanti, semoga saja pengobatan tradisional eyang putri bisa cukup membantu untuk mengurangi penyebaran sel kanker Naina. Sungguh Beti begitu sedih melihat teman yang sudah dianggap nya sebagai saudara sendiri ini begitu menderita.
Tak lama kemudian, Loli masuk kekamar tempat Naina dirias. Sedari Reyza datang Naina memang belum ada masuk kerumah dan juga belum menemui pujaaan hati nya itu begitu juga dengan Dion dan Clarissa.
"sudah siap kak? " tanya Loli menatap wajah layu Naina
"sudah, apa sudah boleh keluar? " tanya Beti dan Loli hanya mengangguk
"kakak, kau cantik sekali, pasti kak Reyza tambah cinta" goda Loli, ya Naina memang terlihat cantik dengan kerudung yang menutupi kepala nya dan riasan natural yang menyamarkan wajah pucat dan layu nya.
"Reyza sudah tiba? " tanya Naina berbinar
"ya, dia sudah menunggu kakak didepan. Ayo keluar" ajak Loli sembari membantu Naina berdiri dan berjalan.
Beti dan Loli pun membawa Naina keluar ketempat dimana Reyza sudah menunggu.
Naina berjalan perlahan tertatih tatih, entah kenapa untuk sekedar berjalan sedikit saja dia sudah sangat lelah saat ini.
Sampai tiba didepan pintu Naina dibuat terperangah melihat dekorasi ruangan itu dan juga Reyza yang sudah duduk manis menatap nya dengan senyuman hangat penuh cinta.
Didepan Reyza duduk abah nya dan juga seorang pria paruh baya.
Reyza langsung berdiri dan menghampiri Naina.
Beti dan loli pun melepaskan pegangan nya dari Naina digantikan oleh Reyza.
Naina menatap lekat wajah Reyza yang tersenyum hangat menatap nya.
Ditatap nya Reyza yang terlihat gagah dengan pakaian putih nya sesuai dengan warna gaun yang dipakai nya sekarang.
"kakak, ini" kata Naina heran dan mata nya mulai berkaca kaca
"ya, ini kejutan untuk mu, aku akan menikahi mu Naina Sheralia Putri. sesuai janji kita dulu" jawab Reyza menatap lekat wajah Naina yang sudah mulai menitihkan air mata nya
Tubuh Naina sedikit limbung karena sudah terlalu lama berdiri dan dengan sigap Reyza langsung membawa nya untuk duduk dibantu oleh ibu.
Meski Naina mulai merasakan sakit dikepala lagi, namun hati nya terasa sangat bahagia malam ini, keinginan terbesar nya yang tak pernah dibayangkan akhirnya bisa tercapai, yaitu bisa menikah dengan Reyza.
Dekorasi sederhana bernuansa putih berhiaskan bunga mawar putih asli yang tampak indah dan menyegarkan mata, sederhana, namun mampu membuat Naina merasakan kebahagiaan yang begitu damai. Dan dia masih sangat tidak menyangka Reyza menepati janji nya dahulu.
"Nai, " panggil seseorang membuat Naina langsung menoleh kearah nya
"Cla, kau disini" kata Naina begitu terkejut
"ya, aku harus menyaksikan pernikahan sahabatku kan" kata Clarissa langsung memeluk tubuh kurus Naina, dia menangis dalam diam melihat keadaan sahabat nya yang sungguh sangat menyedihkan.
"aku sangat merindukan mu" ucap Clarisa tak bisa menyembunyikan Isak tangis nya
"aku juga merindukan mu Cla, sangat" jawab Naina yang juga semakin terisak
"sudah jangan menangis, ini malam bahagia mu, ayo tersenyum, kau sangat cantik malam ini" kata Clarisa menghapus air mata Naina yang langsung tersenyum senang menatap sahabat nya, ini sungguh kejutan yang luar biasa.
Ibu, eyang putri, Beti dan Loli hanya menatap penuh haru Naina yang terlihat sangat bahagia dimalam itu.
__ADS_1
"maaf kan sikapku kemarin Nai, aku sungguh salah paham padamu" ungkap Dion setelah Clarissa melepaskan pelukan nya pada Naina
"tidak apa kak, terima kasih kalian mau datang" kata Naina yang masih meneteskan air mata bahagia nya
"sudah jangan menangis,riasan mu akan luntur nanti" hibur Clarissa
Semua orang disana pun hanya bisa menahan haru melihat interaksi diantara Naina dan Clarissa. Mereka merasa bahagia meski sedih masih sangat jelas terukir diwajah mereka melihat kondisi Naina yang sempat melemah
Reyza hanya dapat tersenyum getir melihat Naina, sungguh dia bahagia bisa menikahi gadis itu, namun hati nya sangat sakit melihat keadaan Naina yang sekarang. Reyza jelas tahu jika calon istri nya itu sedang menahan sakit sekarang, disaat semua orang hanya menatap nya penuh haru, Reyza terus berdoa dalam hati kira nya Tuhan mau berbaik hati pada nya sekali lagi untuk tetap mempertahankan Naina disisi nya lebih lama lagi.
"baiklah, apa bisa kita mulai sekarang? " tanya pak penghulu
Reyza mengangguk dan diikuti oleh semua orang yang ada disana. Hanya ada keluarga inti Naina, dan beberapa orang tetangga terdekat. Dari pihak Reyza hanya ada Sean, Dion dan Clarissa.
Reyza pun menarik nafas nya dalam dalam, ada sedikit sesak dan gugup yang menghinggap dihati nya.
Gugup karena akan mengucapkan janji suci dihadapan semua orang dan Tuhan nya dan sesak karena dihari bahagia nya orang tua nya tidak ada menemani nya.
Namun, ketika penghulu hendak memulai kata kata nya terdengar derap langkah kaki memasuki ruangan itu. Semua mata beralih kearah pintu dimana sepasang suami istri dan pengawal nya tiba menatap Reyza dan Naina dengan tatapan penuh arti.
Semua orang didalam ruangan itu nampak terkejut dan gurat tegang langsung terpancar diwajah mereka melihat kedatangan orang yang paling berpengaruh dinegara itu, bahkan wibawa tuan Suryo dapat membuat sesisi ruangan menjadi tegang dan dingin.
Semua orang yang ada disana bahkan sudah terlihat pucat pasih, apalagi Reyza, Sean, Dion dan Naina.
"papa, mama" gumam Reyza langsung berdiri dari duduk nya
Sedangkan Naina hanya mampu terdiam dan menatap takut wajah tuan Suryo dan istri nya yang datar, dibelakang mereka ada Danil dan pengawal nya.
Tuan Suryo langsung duduk disebelah Reyza sementara Miranti duduk disebelah ibu. Semua orang masih terdiam menatap mereka hingga suara tuan Suryo memecah ketegangan diruangan itu
"papa" lirih Reyza menatap tuan Suryo.
Tuan Suryo langsung menepuk pelan pundak Reyza
"papa tidak mungkin tidak datang dihari bahagia mu, ayo jangan membuat malu" kata tuan Suryo tersenyum lembut membuat semua orang disana dapat bernapas lega
"terima kasih pa" kata Reyza terharu dan langsung memeluk papa nya
"astaga, aku sampai tak dapat bernapas" gumam Dion yang berada disebelah Sean
"aku kira tuan Suryo akan mengamuk" balas Sean pula
"ssstttt" desis Clarissa menatap tajam kedua orang itu
Penghulu langsung memulai untuk menikahkan Reyza dan Naina, abah dan Reyza mulai saling berjabat tangan. Dengan bahasa yang jelas dan lantang Reyza pun dapat menyelesaikan ijab kabul nya dengan diakhiri oleh kata Sah dari para saksi. Membuat semua orang disana tersenyum bahagia.
Naina meneteskan air mata nya saat Reyza memakaikan cincin pernikahan mereka dijari nya, setelah bergantian air mata nya kembali menetes saat dia mencium tangan Reyza yang kini sudah menjadi milik nya seutuh nya.
Reyza langsung mencium lama dahi Naina.
Dihapus nya air mata istri nya itu dengan tatapan sayang penuh cinta.
"terima kasih sudah memberikan kebahagian ini kak. Aku mencintaimu" kata Naina pelan menatap wajah tampan Reyza yang nampak berseri seri
"aku juga mencintaimu, berjuanglah untuk ku sekali lagi" kata Reyza merengkuh tubuh lemah Naina dalam pelukan nya
Naina merasakan hangat nya pelukan Reyza dalam kesakitan nya, dieratkan nya lingkaran tangan nya pada pinggang Reyza. Sungguh untuk sekarang bila waktu hendak berhenti maka Naina sudah pasrah. Kehangatan ini benar benar menghanyutkan nya, egois kah dia bila ingin meminta umur panjang pada yang Kuasa, setelah dia berikan kebahagiaan ini?
__ADS_1
Naina merasa kan kepala nya mulai berdenyut tak tertahan, aliran hangat terasa keluar dari hidung nya, hingga suara hingar bingar semua orang mulai kabur dari pendengaran nya.
Dia hanya masih merasakan pelukan hangat Reyza yang mendekap nya. Rasa nya dunia seakan luruh, dia sungguh tak sanggup lagi sekarang. Sakit , ini begitu sakit.
'maaf kak, aku sungguh tidak kuat lagi'. batin Naina dalam hati
Hingga tangan Naina tak lagi mampu membalas pelukan itu.
Reyza menatap heran Naina yang terkulai dalam pelukan nya. Begitupun semua orang menatap heran kearah mereka.
Dilepas kan pelukan nya perlahan dari tubuh Naina, dan betapa terkejut nya dia melihat darah sudah mengalir dari hidung Naina dan Naina yang sudah pingsan tak berdaya.
Di tepuk tepuk nya pelan pipi tirus pucat istri nya sembari terus memanggil nama Naina . Tak terasa air mata menggenang diwajah tampan Reyza.
"Nai, bangun sayang. Naina" panggil Reyza lirih terisak, mencoba kuat namun hati nya sangat lemah
Semua orang yang ada disana terlihat panik terutama ibu dan juga abah.
Suara teriakan memanggil nama Naina keluar dari mulut semua orang, tangis pun pecah menghias malam pernikahan Reyza dan Naina.
"bawa kekamar nya Reyza" perintah eyang putri
Dengan air mata yang masih mengalir diwajah nya Reyza langsung mengangkat tubuh istri nya yang terlihat sangat pucat. Sembari berjalan dan menggendong tubuh Naina dia terus memperhatikan wajah istri nya yang sangat tidak berdaya. Sungguh ini lebih menyakitkan dari apapun yang pernah dirasakan oleh Reyza. Bahkan jika boleh memilih, dia lebih memilih jika dia dikhianati oleh Naina, daripada melihat nya seperti ini.
Semua orang menatap iba dan sedih melihat nasib percintaan Naina dan Reyza yang entah bisa bertahan sampai kapan.
Ibu dan mama Reyza juga menyusul Reyza diikuti oleh Beti , Loli dan juga Clarissa
Reyza terduduk lemas didepan pintu kamar Naina setelah meletakan istri nya kepembaringan untuk diperiksa oleh eyang putri.
Dia menangkupkan wajah nya dengan kedua telapak tangan nya, tak perduli tatapan orang orang, dia terus menangis mengeluarkan sesak yang ada didada nya. Seharus nya ini menjadi malam yang bahagia untuk mereka, tapi kenyataan nya ini adalah malam yang paling menyedihkan bagi semua orang.
Miranti langsung memeluk tubuh Reyza yang bergetar hebat menahan tangis. Berusaha menenangkan anak semata wayang nya itu.
"tenang lah, dia pasti baik baik saja" ucap tuan suryo menepuk pelan bahu Reyza
"dia gadis yang kuat tuan, dia pasti bertahan" timpal Sean pula
"berdoa lah, jangan ikut terpuruk za. Semua pasti baik baik saja" ujar Dion pula
"dia kuat, dia pasti bertahan" kata Danil yang sebenar nya juga merasa begitu terpukul setelah mengetahui keadaan Naina yang sebenar nya
Reyza pun hanya bisa terdiam dengan air mata mengalir kepipi nya. Sungguh dia sangat takut kehilangan lagi.
Beti, Loli, dan juga Clarissa juga sama sedih nya, mereka hanya bisa menangis dalam diam, sembari terus berdoa agar Naina bisa bertahan.
Hingga beberapa saat kemudian eyang putri keluar dari kamar Naina dengan wajah kusut
"sudah tidak ada harapan lagi! " ucap nya
Membuat semua orang disana menatap nya lekat, terutama Reyza yang semakin terpuruk dan tertunduk dalam
...
dah lah .....
sedih beud
__ADS_1