
Sesudah mengganti pakaian nya Naina dan Beti pun duduk dikursi dimana Danil berada. Danil menatap wajah pucat Naina yang terlihat sendu. Tidak ada lagi air mata dipipi nya, hanya gurat kesedihan yang jelas terpancar diwajah cantik itu.
Sudah hampir tiga jam lebih Reyza ditangani namun belum ada seorang dokter pun yang keluar dari ruangan itu.
Nampak pak Roy pun tiba disana.
"apa belum ada perkembangan? " tanya pak Roy
"belum pak, dokter belum ada yang keluar" lirih Danil
Pak Roy pun terduduk dikursi sebelah Danil. Nampak dia menghembuskan nafas nya yang terasa mencekat didada. Benar benar dejavu, batin nya.
Dia melirik Naina yang tengah bersandar dibahu Beti, nampak sekali wajah sedih dan hancur nya. Sama dengan Danil yang sedari tadi hanya berdiam diri.
Setelah lima belas menit menunggu dalam keheningan, dokter pun keluar dari ruangan Reyza.
Pak roy dan Danil langsung menghampiri dokter itu sementara Naina masih terduduk lemas dan bersandar dibahu Beti. Entah lah rasa nya dia sungguh tidak ingin mendengar kabar buruk untuk saat ini.
"bagaimana keadaan nya dokter? " tanya pak Roy langsung
"pasien masih belum sadar pak, untung nya darah nona itu cocok dengan pasien, kalau terlambat sedikit saja mungkin nyawa nya tidak akan bisa terselamatkan, kita tunggu saja beberapa jam lagi, jika dia cepat sadar berarti tidak terjadi hal yang fatal dalam tubuh nya, namun jika sampai tiga jam lagi pasien tidak juga sadar, saya takutkan ada cidera berat dikepala nya dan mungkin akan berakibat fatal. " jelas dokter itu yang membuat semua orang disana menelan saliva mereka yang tiba tiba terasa mencekat ditenggorokan
"lakukan yang terbaik untuk nya dokter" titah pak Roy
"pasti pak, saya permisi"
"em apa kami boleh melihat nya? " tanya pak Roy lagi
"tentu saja, tapi bergiliran ya pak agar pasien tidak terganggu" jelas dokter itu
"baik dokter, terima kasih" ucap pak Roy
Pak roy dan Danil pun masuk keruangan Reyza
"ya tuhan, selamatkan dia" gumam Danil menatap Reyza yang terbaring dengan berbagai alat yang terpasang ditubuh nya
Sementara Naina masih terdiam disisi Beti.
"nai, kau tak ingin melihat abang ganteng? " tanya Beti pelan
"aku takut bet, aku takut kejadian itu terulang lagi, apa aku pembawa sial bet, mereka semua celaka ketika menjalin hubungan dengan ku bet" lirih Naina dengan air mata nya yang mulai keluar kembali
"hei, jangan lah kau ngomong kayak gitu. Kau punya Tuhan kan, takdir setiap orang itu udah diatur sama Dia nai, kita cuma menjalankan nya dan berdoa minta kebaikan. Jangan lah kau ngomong gitu" ungkap Beti mengelus pundak Naina
"aku takut bet, aku gak akan sanggup kehilangan lagi" isak Naina menutup wajah nya dengan kedua tangan nya
__ADS_1
"abang ganteng pasti selamat, kau harus yakin ya" kata Beti menghapus air mata Naina. Dia sungguh iba melihat Naina yang sangat begitu rapuh. Bahkan tubuh nya terlihat bergetar menahan tangis.
Beberapa saat kemudian tibalah tuan Suryo dan Miranti dengan wajah panik mereka, bahkan Miranti sudah menangis didalam rengkuhan tuan Suryo.
Dan saat itu juga Danil dan juga pak Roy keluar dari ruangan Reyza.
"bagaimana anak ku roy? " tanya tuan Suryo langsung sementara Miranti masih menangis disamping suami nya.
Dia melihat Naina yang terduduk lemas dikursi tunggu dengan wajah yang begitu pucat dan sedih.
"sudah lebih baik tuan, cuma masih belum sadar" jawab pak Roy tertunduk
"bagaimana ini bisa terjadi Danil? " tanya tuan Suryo lagi, dia menatap tajam Danil yang dipenuhi oleh rasa bersalah yang teramat besar
"maaf tuan, saya tidak bisa menjaga tuan muda dengan baik" jawab Danil menunduk takut
"tuan muda kecelakaan saat menyebrang jalan tuan, dia tidak melihat ada mobil melintas" jelas pak Roy yang sudah menyelidiki kasus Reyza.
Tuan Suryo dan Miranti pun masuk keruangan Reyza. Sementara Naina dan Beti masih terdiam belum mengerti apa yang terjadi dan siapa sebenar nya Reyza.
Danil duduk disebelah Naina yang masih terdiam seperti orang linglung. Tidak sedikitpun dia bertanya siapa sebenar nya tuan Suryo, karena fikiran nya masih sangat mengkhawatirkan keadaan Reyza didalam sana. Sementara Beti yang mulai mengerti pun menatap Danil dengan tatapan bertanya nya. Danil menganggukan kepala nya pada Beti.
"kuatkan hati mu Nai, perbanyak lah berdoa. Reyza pasti baik baik saja" kata Danil mengusap pelan punggung Naina
"sudah takdir nya Nai, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kau harus kuat untuk nya, kau mencintai nya kan? " tanya Danil menatap naina, dan Naina pun hanya mengangguk
"kalau kau mencintainya maka kau harus kuat, berdoa lah untuk nya, dia sedang berjuang disana" kata Danil menguatkan
"kenapa cinta Nai membuat mereka terluka mas? " lirih Naina terisak kembali, Beti langsung memeluk erat tubuh nya
"cinta mu tidak salah Nai, baik Abi maupun Reyza tulus pada mu, sekarang kamu harus terima kenyataan bahwa kamu harus memperjuangkan cintamu untuk Reyza yang ternyata adalah adik Abimanyu. Kamu harus tau Tuhan sudah mentakdirkan kalian untuk bersama, Tuhan mengirimkan Reyza ketika dia mengambil Abi darimu, kau harus terima itu Naina" ungkap Danil yang membuat Naina menatap nya
"apa ini sudah takdir untuk ku mas? " tanya Naina lagi
"iya, ini takdir yang harus kamu jalani, jangan kecewakan Reyza, dia tulus padamu, kamu harus kuat, jangan salahkan dirimu sendiri, jika kalian bahagia pasti Abi akan bahagia juga melihat orang orang tersayang nya bahagia disini" jelas Danil
Naina pun hanya tertunduk, menangis dalam diam nya. Hati nya begitu rapuh saat ini. Ternyata takdir tuhan tak pernah bisa terduga, Abimanyu mengirimkan adik nya sendiri untuk menggantikan nya
Kak abi, nana harus bagaimana, nana takut kak. Nana tak akan sanggup jika harus kehilangan lagi. Batin Naina menangis
"pulang lah dulu tenangkan dirimu" titah Danil lagi
"Nai disini aja kak, Nai mau nemeni kak Reyza" jawab Naina lemah
"sudah ada kami dan orang tua nya disini Nai" kata Danil lagi
__ADS_1
"orang tua? " tanya Naina heran
"ya kami orang tua Reyza" kata tuan Suryo yang tiba tiba sudah keluar dari ruangan itu
"tu tuan, jadi kak Reza" ucap Naina terkejut menatap tuan Suryo yang telah beridiri didepan nya
"ya, Reyza dan Abi adalah anak dari tuan Suryo Nai" ungkap Danil membuat Naina terkesiap kaget begitu pula dengan Beti
Naina pun langsung bersimpuh menangis didepan tuan Suryo. Semua orang disana menatap nya heran
"maafkan saya tuan, maafkan saya, kak reza celaka karena saya, maaf tuan, maaf. hiks hiks" ucap Naina terisak sembari memegang kedua kaki tuan Suryo yang masih terkejut dengan perlakuan Naina
Tuan Suryo terlihat iba melihat gadis itu, dia pun mengangkat tubuh gadis itu. Ditatap nya wajah sedih dan rapuh , terlihat jelas gurat kesedihan diwajah nya membuat tuan Suryo semakin iba melihat nya.
"semua sudah menjadi takdir Tuhan, Reyza pasti selamat. Terima kasih sudah mendonorkan darahmu untuk nya" kata tuan Suryo mengelus pelan bahu Naina yang bergetar
"maaf kan saya tuan" lirih Naina
"tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalau kau benar benar menyayangi anak ku, maka kuatkan dirimu, dan bantu dia agar cepat sadar" kata tuan Suryo lantang membuat Naina semakin ciut hati nya.
Naina pun hanya mengangguk pasrah.
Terlihat Miranti keluar dari ruangan Reyza bersama seorang dokter yang entah sejak kapan masuk nya.
Miranti pun mendekati Naina yang masih terisak dalam tangis nya
"maaf kan saya nyonya. maaf" lirih Naina menunduk takut
"sudah lah, percuma kau menangis. Masuklah, temui Reyza, bangunkan dia agar rasa bersalah mu hilang" ucap Miranti dingin membuat Naina semakin merasa bersalah
Naina pun lagi lagi hanya mengangguk pasrah.
Dia berjalan masuk keruangan itu dengan langkah lunglai menahan tubuh nya yang sudah terasa sangat lemas. Hati dan jiwa nya seakan entah berada dimana sekarang, membuat nya seperti berjalan diatas pijakan yang berduri, sakit dan sangat sakit.
Danil dan Beti menatap iba Naina, tapi mereka hanya bisa terdiam tidak tau apa yang harus mereka lakukan. Semua orang yang ada diruangan ini semua nya merasa terpukul atas kecelakaan yang menimpa Reyza.
Semua orang takut kejadian yang dulu terulang kembali. Apalagi tuan Suryo dan Miranti yang telah kehilangan satu anak nya.
Maafkan aku yang tak bisa membantu mu, berjuanglah. Batin Danil
Kasian kau nai, kaupun merasa terluka, tapi apalah daya, mereka orang tua nya, yang ternyata abang ganteng adalah anak sultan ini, kami bisa apa Nai, ya tuhan selamatkan lah anak sultan itu, kasian Naina ku. Batin Beti sedih
..
next
__ADS_1