
Hari ini adalah awal mula babak baru dalam kehidupan Naina. Kini status nya benar benar berubah, dari seorang gadis sederhana yang berjuang meraih mimpi beralih menjadi seorang putri raja yang tinggal didalam istana mewah milik keluarga besar Reyza Askara.
Diri nya merasa seperti berada dialam mimpi, bahkan dahulu sebelum dia mengenal Reyza bahkan Abimanyu, tidak pernah terfikir kan oleh nya jika dia akan hidup dan merasakan segala kemewahan ini.
Bangun pagi tadi dia langsung disambut oleh Beti dan seorang pelayan yang segera membantu nya bersiap siap. Meski sudah ada Reyza namun Miranti tetap memerintahkan Beti seperti biasa untuk membantu Naina.
Mereka sarapan bersama pagi tadi, sebelum Lolita pamit pergi untuk pulang kerumah tempat nya tinggal.
Sebenar nya Reyza dan Miranti sudah meminta Loli untuk tinggal bersama mereka, namun Loli menolak dengan lembut tawaran itu dengan alasan tempat nya kuliah jauh dari kawasan perumahan elit itu.
Meski sedih, tapi Naina tahu, jika Loli memilih tahu diri untuk tidak memanfaatkan kekayaan kakak ipar nya.
...
Saat ini Naina sedang duduk diruang keluarga bersama Miranti dan Beti, karena baru saja Reyza dan tuan Suryo pamit untuk pergi keperusahaan nya sebentar guna menghadiri rapat para pemegang saham diperusahaan nya.
Dan Naina harus siap mulai dari sekarang untuk terbiasa dengan kehidupan nya yang baru. Memenuhi tanggung jawab nya sebagai istri Reyza, dia tahu Reyza akan sedikit sibuk setelah ini, dan pasti nya Reyza tidak akan memiliki waktu yang banyak seperti biasa nya untuk menemani nya seperti dulu.
"kamu harus mulai terbiasa dirumah ini ya nak, rumah ini milik mu, semua yang ada disini milik mu, jangan merasa sungkan atau canggung untuk melakukan apapun disini" ungkap Miranti pada Naina yang mengangguk dan tersenyum lembut menatap mertua nya
"iya ma, Nai hanya merasa ini seperti mimpi. Nai yang dari kampung bisa merasakan kehidupan yang seperti ini. Sungguh Nai tidak tahu harus berkata apa sekarang" lirih nya tertunduk
Miranti tersenyum hangat pada menantu nya itu, gadis sederhana yang entah kenapa bisa menarik hati kedua anak nya
"ini takdir hidup kamu sayang. kamu harus menerima nya, dan menjalani nya sebaik mungkin" jawab Miranti
"iya ma, Nai harap mama mau membantu Nai dan mengajari Nai tentang banyak hal, sungguh Nai belum mengerti apapun untuk bisa menjadi istri yang baik" ungkap nya lagi
Miranti langsung mengusap lembut bahu Naina
"seiring berjalan nya waktu kamu pasti bisa dan mengerti apa yang harus kamu lakukan nak, mama percaya kamu pasti bisa menjadi istri yang baik untuk Reyza" jawab Miranti
"kamu sumber kebahagiaan nya, cukup selalu buat dia tersenyum itu sudah cukup untuk menjadi istri yang baik nak" tambah nya lagi
Naina langsung mengangguk dan tersenyum . Mertua nya ini benar benar begitu baik, tidak tahu kebaikan apa yang dilakukan Naina dulu, hingga Tuhan menganugrahkan nya semua kenikmatan ini.
"pergilah dengan Beti untuk melihat lihat isi rumah ini.Bi asih akan mengantar kalian berkeliling, mama akan menyusul nanti" kata Miranti pada Naina dan Beti
"iya ma" jawab Naima
"jaga Naina ya Bet" kini Miranti beralih pada Beti yang duduk didepan mereka
"siap nyonya" jawab nya langsung
"kamu sudah saya bilang panggil mama, masih juga panggil nyonya" dengus Miranti membuat Beti tertawa canggung dan Naina hanya tersenyum menatap mereka
"ah, iya baiklah mama" jawab nya sedikit ragu
"begitu dong, yasudah, kalau begitu mama tinggal dulu" kata Miranti lagi.
Naina dan Beti langsung mengangguk dan memberikan senyuman terbaik mereka.
Setelah Miranti pergi , Beti dengan cepat pindah tempat duduk kesamping Naina
"yok Nai, kita geledah isi rumah ini, penasaran aku, gede bener rumah nya" ajak Beti tak sabar
__ADS_1
"hiss kamu ini, gak sopan tau" dengus Naina. Beti hanya tertawa tanpa rasa bersalah
"hehe, aku kan penasaran. udah ah ayok, dari semalem aku pengen tau nya" kata nya lagi menarik tangan Naina, Dan mau tak mau Naina pun mengikuti nya.
Tidak lama kemudian bi Asih yang dimaksud mama datang tergopoh gopoh kearah mereka
"maaf nona muda, saya terlambat, saya sedang dikamar mandi tadi" ucap nya dengan sedikit membungkukkan tubuh nya
"enggak apa apa bi, kami juga belum kemana mana. Panggil Naina aja deh bi, biar lebih enak" kata Naina namun bi Asih malah terkesiap dan dengan cepat dia menggeleng
"tidak nona, maaf, saya tidak bisa melakukan itu. itu sungguh sangat tidak pantas" jawab nya tertunduk
"gak papa bi, kan biar lebih akrab" kata Naina lagi
"maaf nona, saya tidak bisa. bagaimana pun anda adalah nona muda dikeluarga ini, istri dari tuan muda kami" jawab nya lagi. Baru saja Naina akan menjawab namun Beti langsung mencela nya
"udah lah Nai, jangan mempersulit bi Asih, apa salah nya juga dipanggil nona muda, nona muda Askara gitu. keren itu" timpal Beti sembari mengacungkan jempol nya membuat Naina mendengus dan bi Asih menahan senyum nya
"yasudah lah terserah bibi" pasrah nya.
BI Asih pun mengajak Naina dan Beti berkeliling rumah itu. Rumah yang sangat mewah dan besar. Diruang tengah, tepat nya memang dibagian tengah rumah itu terdapat ruangan yang begitu luas dimana sebuah tangga yang berlapis kristal menuju keatas dilapisi oleh karpet mewah bewarna merah gelap. Tangga itu adalah tangga menuju kamar Naina dan Reyza yang berada diatas dan juga rooftoop yang memang disediakan diatas sana untuk tempat bersantai.
Namun Naina belum pernah memijakkan kaki nya ditangga itu karena Reyza selalu membawa nya turun naik dengan memakai lift yang langsung terhubung dengan kamar.
Ruangan tengah itu dihiasi oleh furnitur furnitur bergaya Eropa modern, dengan nuansa gold yang mendominasi. Memang benar perkataan Dion dahulu ketika masih berada dijaman kuliah, jika rumah keluarga Askara berisikan barang barang super mewah yang berasal dari brand brand terkenal, bahkan sendok pun dari emas, dan semua perkataan nya memang benar, maka dari itu Naina merasa hidup seperti didalam mimpi saat ini.
Bahkan saat pagi tadi dia begitu terkejut melihat dua ruang walking closet didalam kamar Reyza.
Dan betapa lebih terkejut nya dia saat Reyza membuka ruang khusus untuk segala perlengkapan nya. Dari mulai ratusan pakaian, aksesoris, tas, sepatu, bahkan perlengkapan make up juga tersedia disana. Dan Naina tahu jika itu semua adalah barang barang dari brand ternama dunia. Dan mungkin dia tidak akan membeli apapun selama sepuluh tahun ini karena banyak nya barang barang yang disiapkan Reyza untuk nya. Dan lagi semua barang barang itu sesuai dengan kriteria Naina, sederhana namun tetap terlihat memukau.
Mereka melanjutkan langkah mereka untuk menuju dapur umum rumah itu setelah bi Asih menjelaskan panjang lebar beberapa ruang yang ada diruang tengah itu, namun belum lagi melangkah pandangan mata Naina menangkap sebuah figura besar yang terpajang rapi pada sebuah bingkai kaca.
Sejak kapan dia melupakan hal ini, dia lupa jika rumah ini adalah rumah nya juga, keluarga ini adalah keluarga nya juga, dan semua ini adalah milik nya juga.
Mata Naina langsung mengembun menatap lekat sebuah senyuman hangat itu, senyuman yang selalu membuat nya berdebar debar.
Tidak, dia tidak pernah melupakan sosok itu, bahkan meski dia bersama Reyza sekalipun, dia tidak bisa melupakan nya, tapi dia lupa, jika kini dia sudah benar benar masuk kedalam kehidupan keluarga nya dan terikat dengan cinta adik nya.
Ya, Abimanyu Askara, nama yang masih selalu ada didalam hati nya, nama yang pertama kali mampu memikat hati nya, nama yang pertama kali menjadi kebahagiaan ditengah tengah perjuangan nya.
Meski kini sudah ada Reyza yang mengisi seluruh ruang dihati nya, namun nama Abimanyu tetap ada ditempat nya sendiri, bahkan jika mengingat nya, hati nya masih teriris pilu. Ditinggalkan oleh seseorang ketika sedang berada pada puncak sayang nya bukanlah hal yang mudah.
Apakah jalan hidup nya akan sama jika Abi masih hidup? apakah dia akan menikah dengan Reyza jika Abi masih ada.
Tidak, tentu semua tidak akan sama. Ini takdir, takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Awal nya dia sempat berkata bahwa Tuhan tidak adil karena telah mengambil Abi nya, tapi itu adalah kesalahan terbesar nya, karena Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan Reyza yang begitu mencintai nya, dan Naina harus mensyukuri itu.
Abimanyu, nama mu selalu tersimpan sampai kapan pun sebagai seseorang yang pernah menjadi cerita indah dalam perjalanan hidup Naina.
"apa kamu merindukan nya?" tanya Miranti membuat Naina terkesiap kaget, dia langsung menghapus air mata nya yang entah kapan sudah membanjiri wajah nya. Dan dia juga tidak tahu kapan Miranti sudah berada disana, bahkan bi Asih dan Beti pun entah kemana pergi nya.
"mama" gumam Naina
Miranti tersenyum dan berjalan mendekat dan berdiri disamping Naina sembari menatap lembut foto keluarga nya.
"foto ini diambil sebelum Reyza berangkat kuliah ke Newyork" kata Miranti membuat Naina juga ikut melihat kembali foto itu.
__ADS_1
Dimana disana Reyza masih terlihat begitu muda, masih sedikit kurus dan belum berwibawa seperti sekarang. Dan Abi... ah Abi, dia selalu menjadi yang paling tampan sama seperti yang Naina kenal dulu, ya mungkin itu foto setahun sebelum Naina mengenal nya
"dia baru saja menyelesaikan kuliah S2 nya saat itu, dan baru mulai membantu papamu bekerja diperusahaan" ungkap Miranti lagi
"dia anak yang hangat, penyayang pada kami, terutama pada Reyza. Dia menjadi kakak yang selalu dibanggakan oleh Reyza, meski terkadang Reyza selalu mengeluh karena selalu kalah dari kakak nya. baik dari segi fisik maupun akademis nya" sambung Miranti dengan mata yang mulai berkaca kaca
"dia anak yang baik, anak yang selalu membanggakan kami. dia tidak pernah marah walau bagaimana pun tidak suka nya dia pada sesuatu." kata Miranti mulai meneteskan air mata nya
"mama" lirih Naina memegang lembut lengan Miranti yang menatap nya dengan haru
Miranti membalas mengusap tangan Naina dan tersenyum lembut sembari menghapus air mata nya
"suatu hari, dia berkata pada mama, jika dia sudah jatuh cinta pada seorang gadis. gadis pertama yang mampu menarik perhatian nya. Dia berkata gadis itu hanyalah gadis biasa dan begitu sederhana, tapi gadis itulah yang mampu membuat nya jatuh cinta untuk pertama kali nya sepanjang dia hidup" ungkap Miranti dan Naina sudah tertunduk dengan air mata yang kembali mengalir deras diwajah nya
"dia berkata, ingin membawa gadis itu menjadi bagian dari keluarga ini, tapi dia tidak berkata jika dia ingin menjadikan mu istri nya." kata Miranti terisak kembali
Naina mengusap air mata nya yang tidak bisa berhenti mengalir, dia rindu sangat rindu.
"ternyata Tuhan menjawab keinginan nya nak, dia memang membawa mu masuk kedalam keluarga kami. Meski bukan karena dia kamu ada disini" Isak Miranti dan langsung memeluk tubuh Naina yang tidak bisa lagi menahan tangis nya
"bagaimana mama tidak menyayangi mu, jika kamu adalah kebahagiaan bagi kedua putera mama" kata Miranti
"tolong , tolong jangan lupakan dia nak. tolong selalu sebut nama nya dalam setiap sujud mu, meski kini sudah ada Reyza yang menjadi surga mu" pinta Miranti sungguh sungguh.
Naina langsung menggeleng cepat
"tidak mama, tidak. Nai tidak pernah melupakan kak Abi, tidak akan bisa. Cinta Nai memang untuk kak Reyza, tapi nama kak Abi tidak akan pernah hilang dalam cerita hidup Naina ma" jawab Naina. Ya mana mungkin dia melupakan Abi, tidak akan dan tidak mungkin pernah bisa. Bahkan disetiap ketidaksadaran nya wajah Abi lah yang selalu muncul dan membantu nya untuk kembali hidup dan menjadi kebahagiaan untuk Reyza. Sungguh Abi adalah wujud malaikat bagi Naina.
"kamu perempuan baik, pantas saja mereka begitu memujamu" kata Miranti mengusap wajah Naina
"Naina tidak sebaik itu ma." lirih nya
"kehilangan Abi adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup kami, terutama bagi Reyza" ungkap Miranti lagi
"ya, Naina juga bisa merasakan nya ma" jawab Naina
"pasti itu juga berat bagimu nak" kata Miranti pula, Naina hanya tersenyum hambar, jika mengingat masa itu rasa nya dia masih ingin menangis meraung, karena sakit nya masih bisa dia rasakan sampai saat ini
"ya, hari itu tidak akan bisa Nai lupakan ma, sakit , bahkan sangat sakit. tapi ini memang sudah takdir nya. Kak Reyza datang dan mengobati segala nya, meski terkadang Nai tidak mengerti mengapa takdir ini begitu aneh" kata Naina membuat Miranti tersenyum. Perasaan nya sama seperti Naina
"ini memang sudah takdir nya nak, seperti katamu" jawab Miranti
Mereka masih berdiri memandang foto itu, sosok yang masih mereka rindukan sampai saat ini bahkan sampai kapan pun.
"ma" panggil Naina pelan
"ya sayang" jawab Miranti
"apa Nai boleh kemakam kak Abi" tanya Naina lagi
Miranti tersenyum dan mengangguk
"tentu, setelah ini kita akan pergi kesana" kata Miranti
"hanya kita?" tanya Naina lagi
__ADS_1
"ya, tanpa Reyza dan papa nya. ini hanya menjadi urusan kita saja. mama akan meminta izin mereka nanti" jawab Miranti
Dan Naina langsung mengangguk setuju