
Reyza kini tengah berada dibelakang rumah dekat tempat eyang putri memberi pengobatan untuk Naina. Keadaan Reyza sudah pulih dan jauh lebih baik karena ramuan yang diberikan oleh eyang putri benar benar cukup berkhasiat.
Tempat pengobatan Naina sengaja diletakan dibelakang rumah agar nyaman untuk Naina karena dekat dengan taman. Dan lagi udara disana benar benar sejuk dan membuat fikiran tenang.
Reyza yang baru tiba ditempat itu diantar oleh salah seorang pelayan eyang putri dibuat terenyuh saat melihat Naina berteriak dan terduduk menahan sakit di kepala nya, dia langsung berlari dan mendekati Naina yang sedang memegang kepala nya dengan wajah yang pucat pasih bahkan nyaris seperti kapas, keringat dingin juga membanjiri seluruh wajah dan tubuh nya membuat Reyza semakin tidak berdaya melihat nya.
Beti ,ibu dan Loli segera menjauh untuk membiarkan Reyza yang menenangkan Naina.
Kini tinggalah Reyza dan juga eyang putri yang menemani Naina ditempat
"sakiit" lirih Naina memegang kepala nya bahkan tubuh nya pun ikut bergetar menahan sakit, jika disaat seperti ini rasa nya dia ingin mati saja karena rasa sakit yang begitu luar biasa seakan ingin mencabut paksa nyawa dari dalam tubuh nya.
Reyza langsung mendekap nya dengan erat sembari mengusap lembut kepala Naina berusaha meringankan sakit nya, meski dia tahu ini tak akan berarti apa apa
Naina masih terus saja mengeluh kesakitan hingga mata nya memerah, sungguh batin Reyza juga ikut menjerit pedih melihat penderitaan gadis nya itu.
"kakak sakit, hiks hiks" lirih Naina terisak lemas dan langsung tersandar didada Reyza yang kini juga berlutut mendekap tubuh ringkih itu
"sabar ya sayang, kamu harus kuat, Naina kakak kuat" lirih Reyza menahan air mata nya agar tidak jatuh. Sesungguh nya dia juga tidak sanggup melihat Naina seperti ini. Baru sekali ini dia melihat Naina seperti ini saja rasa nya dia sudah lemah, bagaimana dengan Naina yang selama hampir setahun ini menderita, ya Tuhan, Reyza benar benar frustasi sekarang
"sakit" lirih Naina begitu lemah dan kata kata itu seperti sebuah pedang yang menyayat hati Reyza setiap kali Naina mengatakan nya. Tubuh nya yang tidak berdaya kini masih bersandar lemas didada Reyza yang masih setia memeluk dan mengusap serta menciumi pucuk kepala Naina
Eyang putri datang dengan secawan ramuan ditangan nya. Dia langsung meminumkan itu pada Naina yang tengah menahan sakit nya.
"apa dia sering seperti ini eyang? " tanya Reyza sendu masih setia mendekap tubuh Naina yang sudah tak berdaya
"hanya beberapa hari sekali, kuat lah untuk dia" kata eyang putri dan Reyza hanya mengangguk lemah, bahkan air mata nya beberapa kali terjatuh namun dengan cepat dia menghapus nya.
Entah lah dia harus bagaimana, tidak bisa dipungkiri melihat Naina seperti ini dia merasa tidak sanggup. Ingin rasa nya dia menukar posisi nya pada gadis kesayangan nya itu. Gadis yang dulu selalu ceria dan semangat, kini berubah tidak berdaya, bahkan untuk tersenyum pun Naina terasa sangat sulit.
Setelah beberapa menit kemudian sakit yang dirasakan Naina mulai mereda. Reyza langsung meminumkan air putih pada Naina. Diusap nya lembut bibir pucat dan keringat didahi Naina yang masih terdiam sedari tadi menahan sakit nya.
Dan tidak berapa lama kemudian, Naina kembali merasakan siksaan ditubuh nya, dia langsung memuntahkan lagi seluruh isi perut nya yang hanya berisi cairan bewarna keruh dan tentu saja itu membuat Reyza semakin kelimpungan. Dia menatap eyang putri yang hanya mengangguk berusaha menenangkan nya.
Reyza langsung membantu memijat tengkuk Naina yang terus saja memuntahkan seluruh isi perut nya.
Hingga beberapa saat kemudian barulah Naina selesai dan hampir terhuyung kebelakang karena lemas dan dengan sigap Reyza kembali mendekap tubuh nya.
Naina memejamkan mata nya sesaat dan bersandar lemah didada Reyza, menikmati aroma maskulin pria itu yang bisa membuat nya jauh lebih tenang.
Rasa nya begitu nyaman, hampir setahun rasa nya baru hari ini dia merasakan obat yang benar benar membuat nya merasakan ketenangan setelah merasakan sakit yang begitu hebat, dan jika bisa meminta, dia ingin menghentikan waktu saat ini juga, agar bisa selalu ada dalam dekapan Reyza.
__ADS_1
Melihat Naina yang begitu lemah, Reyza langsung mengangkat tubuh Naina membuat gadis itu sedikit terkesiap
"kak, Nai bisa jalan sendiri" kata Naina lemah, bahkan mata nya masih terpejam erat dalam gendongan Reyza
"tidak apa, tubuh mu ini seperti kapas, tak terasa digendong" jawab Reyza sembari menatap lekat wajah pucat Naina.
Naina hanya diam dan memejamkan mata nya dalam gendongan Reyza.
Sungguh hati Reyza begitu terenyuh melihat penderitaan Naina saat ini. Tubuh nya sangat kurus dan layu, tidak ada lagi binar cerah disana membuat batin Reyza menjerit ingin menangis.
Reyza membawa Naina masuk kedalam kamar nya diiringi oleh Beti dan Loli. Dia membaringkan Naina diranjang nya dengan hati hati. Diselimuti nya gadis itu yang nampak nya sudah terlelap entah pingsan. Reyza pun tak tahu.
Dikecup nya kening Naina lama dengan mata yang berkaca kaca, tak perduli bahwa didalam kamar itu ada Beti dan Loli yang memperhatikan nya dengan haru.
Reyza langsung bergegas keluar kamar, dia langsung jatuh terduduk lemas didepan kamar Naina. Menangis tertahan sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya. Tangis yang ditahan nya sejak menemani Naina ditaman belakang. Tubuh nya bergetar hebat menahan isak tangis yang kian menjadi. Sungguh saat ini dia merasa terpukul dengan keadaan Naina. Sakit, sungguh, bahkan rasa nya dia seperti merasakan sakit yang dirasakan oleh Naina
Sean dari kejauhan memperhatikan Reyza yang tengah menangis tersedu, hati nya juga ikut merasa sedih mengingat seberapa besar cinta diantara Mereka sedari dulu.
Ibu yang baru akan menuju kamar Naina begitu terkejut melihat Reyza yang sedang menangis didepan kamar Naina. Dia langsung berlutut dan merangkul tubuh Reyza yang sedang menangis itu kedalam pelukan nya.
Reyza menatap wajah sendu ibu yang terlihat sangat lelah, betapa semua orang juga merasakan kepedihan yang sama, Reyza langsung membalas pelukan ibu dengan erat, menumpahkan segala kesedihan dan kehancuran hati nya melihat kondisi Naina sekarang.
"kenapa semua ini terjadi pada dia bu, aku sungguh tidak kuat melihat nya menderita" ucap Reyza hancur dengan tangis yang masih tersisa
"maafkan saya yang baru datang sekarang Bu, maafkan saya" lirih Reyza masih memeluk tubuh ibu yang juga ikut memangis
"sudahlah nak, ini bukan salah mu. sekarang tugas kita adalah menjadi penguat untuk Naina ya. kamu adalah semangat nya nak, bantu Ibu membuat nya sembuh kembali" pinta Ibu menatap wajah tampan Reyza yang penuh sesal dan kesedihan
"tentu Bu, saya berjanji akan terus mendampingi nya, dia hidup saya" jawab Reyza yakin, membuat ibu tersenyum dan mengangguk.
Keesokan pagi nya....
Pagi ini Reyza tengah menyuapi Naina sarapan bubur. Dengan lembut dan telaten dia menyuapi Naina.
"sudah kak" kata Naina menolak suapan dari Reyza
"sedikit lagi ya, baru tiga sendok" jawab Reyza memaksa
"nai mual kalau banyak banyak" jawab Naina dengan mata yang berkaca kaca
"oh yasudah, ini minum dulu" kata Reyza sembari menyodorkan segelas air putih kemulut Naina.
__ADS_1
Setelah minum eyang putri pun datang membawa secawan ramuan lagi membuat raut wajah Naina seketika berubah
"minum dulu Nai, " ucap eyang putri menyerahkan cawan itu pada Naina namun ia menggeleng
"besok saja ya eyang, lidah Nai sudah terasa pahit sekali" ucap Naina memelas
"sayang sedikit saja, kata nya mau sembuh" bujuk Reyza pula
"tapi ini sungguh pahit kak" jawab Naina yang memang sedih jika disuruh minum ramuan eyang
"kakak juga minum, sehabis itu kamu yang minum" kata Reyza mengambil cawan itu dari tangan eyang dan langsung meneguk nya
Glek
Rasa nya sungguh tak bisa dijelaskan, dia pun memejamkan mata nya sejenak sembari mengatur nafas, rasa nya Reyza ingin muntah, namun dia tetap memaksakan nya untuk segera masuk ketenggorokan nya
"kak jangan, itu gak enak. Biar Nai aja" kata Naina langsung merebut minuman itu dan langsung menenggak nya sampai habis dengan air mata yang langsung membanjiri wajah nya.
Eyang putri hanya tersenyum melihat ulah Reyza.
Reyza menghapus air mata Naina dengan senyum yang selalu dipertahankan nya didepan Naina. Padahal dia sendiri pun rasa nya ingin menangis karena rasa ramuan itu yang terasa aneh, pahit dan kelat. Sungguh perpaduan paling tidak enak yang pernah dirasakan nya.
Astaga, aku baru sekali teguk saja sudah tidak kuat. Bagaimana dengan dia yang setiap saat. Batin Reyza sedih
"gak enak kan,?" tanya Naina melihat wajah Reyza yang menahan mual
"nama nya juga obat sayang. Kakak juga kan pengen rasa ramuan dari eyang. Hehe" jawab Reyza cengengesan padahal rasa nya sudah ingin muntah saat ini
"yasudah waktu nya mandi ya, biar dibantu Beti dan Loli" ungkap ibu yang datang bersama dua dayang setia Naina.
Setelah Naina pergi bersama Beti dan Loli, tanpa basa basi Reyza langsung berlari kekamar mandi, dia memuntahkan semua isi perut nya yang terasa sangat mual karena ramuan aneh itu.
Sean, ibu dan eyang hanya menatap iba Reyza yang tak kehabisan akal dalam membujuk Naina meski diri nya sendiri harus tersiksa.
"ini nak minum dulu" kata ibu sambil menyerahkan air lemon hangat pada Reyza yang sudah terduduk lemas diatas kursi panjang disudut ruangan itu
Reyza langsung meneguk minum nya
"terima kasih bu" jawab Reyza tak enak. Ibu hanya tersenyum dan mengusap sekilas pundak Reyza kemudian pergi kekamar Naina untuk melihat anak nya itu.
'aku harus kuat, meski rasa nya hati ku hancur melihat nya menderita begitu. ya Tuhan, andai bisa sakit itu dialihkan padaku, aku ingin sekali menggantikan nya'. lirih Reyza dalam hati
__ADS_1
...
next