
"Pagi maa,,," sapa Clarissa pada bingkai foto Dinda yang tersenyum manis, "ma, bisa gak mama kembali, Ica capek sama kedaan rumah yang semakin berantakan. Papa kelihatan semakin kurang sehat karena sikap kak Bintang."
Tentu saja tidak ada jawaban. Clarissa mengusap kacanya dan tersenyum tipis. "Ica akan berusaha untuk mengembalikan semuanya, janji ya mama selalu ada disamping Ica,"
Ocehan ini sudah menjadi rutinitasnya setiap pagi sebelum keluar dari kamarnya.
Kabarnya Bintang menginap disalah satu rumah temannya, Clarissa sudah mengkonfirmasi bahwa yang menjadi tempat singgah Bintang bukanlah perempuan bernama Aleta, perempuan yang di bawa Bintang kemarin.
"Pagii pa..." Sapa Clarissa saat dia sudah sampai di meja makan, menerima sodoran nasi hangat dari bi Siti setelah mengucapkan sapaan paginya kepada wanita setengah baya itu.
Doni hanya tersenyum, menggeser susu putih agar lebih dekat pada jangkauan putrinya. "Tadi Tante Anita telepon, katanya ingin mengajak kamu jalan-jalan sepulang sekolah nanti, langsung bawa pakaian ganti ya sayang. Biar tidak repot untuk bolak-balik."
Kenapa harus sekarang? untuk bertemu Putra saja dia masih perlu mengatur sikap, bagaimana jika nanti dia harus bertemu dengan mamanya Putra, Anita.
"I-iya pa."
Mendengar keraguan dari jawaban putrinya, Doni menoleh. "Kenapa? apa kamu ada janji dengan orang lain? atau kamu ada jadwal less?"
"Eng-enggak kok pa, cuma kaget aja kenapa tiba-tiba tante Anita mengajak Ica jalan-jalan secar mendadak." Elaknya, tidak boleh ada yang tahu soal hubungan ini, yap, cukup Rehan saja agar sebagai tameng untuk menolak laki-laki itu.
"Hah? bukannya nyonya besar itu selalu memiliki kebiasaan dadakan?" mengingat sikap Anita yamg seenaknya, Doni tidak heran jika Anita bersikap demikian.
"Iya juga sih," menggaruk kepalanya.
Doni melihat itu hanya menggeleng dan terkekeh kecil. "Kamu aneh sekali,"
Clarissa menoleh ketika mendengar deru suara mobil Kanya. Buru-buru dia bangkit. "Pah, Kanya sudah dateng, Ica pamit dulu."
Putri kecilnya itu berlari menaiki tangga dan turun membawa papper bag yang berisi pakaian gantinya untuk nanti saat bertemu nyonya besar Adeitama. Clarissa sempatkan menghampiri papanya lalu mengecup kecil pipi Doni.
"Dada papaaaa, ica pergii...." Dilangkah larinya, Clarissa menghentikan diri secara mendadak dan menatap Doni lagi. "Pa, jangan khawatirkan soal kak Bintang, nanti Ica coba bujuk kak Bintang agar pulang."
Doni tersenyum tipis, dia mengangguk. "Okey, terima kasih ya sayang."
...πΌπΌπΌ...
Setelah memarkirkan kendaraannya, mereka turun diiringi omelan Kanya karena peraturan area parkir masih diperkenankan untuk para guru dan anak kalangan atas. Kanya masih tidak terima, padahal seharusnya tidak ada perbedaan perihal halaman parkir saja. Mereka yang terparkir di area bawah terpaksa berjalan kaki untuk sampai ke area lingkungan sekolah.
__ADS_1
Sebagai pendengar, Clarissa hanya mengangguk tampak setuju ketika Kanya menatapnya meminta dukungan. Padahal dia tidak mempermasalahkan hal sesepele itu. Suara khas mobil sport membuat kepalanya teralihkan, bahkan para siswi yang sedang berjalan menuju kelas saja mendadak menoleh kagum pada Putra yang secara aneh membawa mobil sportnya.
"Caperrr...." Ejekan Kanya membuat kepala Clarissa langsung melepaskan dari tatapannya oada kendaraan mewah kekasih beberapa harinya itu. "Tumben banget tuh anak bawa mobil, pasti cari sensasi lagi biar jadi trending topik sekolah. Gak bisa diem apa?"
"Lo pagi-pagi gak capek Nyak, ngomel mulu."
Mata Kanya mendelik kesal, "dih, tadi lo biasa aja pas gue ngedumel soal parkiran. Kok ini? Lo gak terima gue ngomongin Putra?"
"Bukan gitu,,,,"
"Halah," Kanya memotong kalimat pembelaan Clarissa dengan mengibas tangannya. "Gak heran gue, lo selalu gak terima kalau dia gue julidin. Selalu ngelak kalau gue ngomongin fakta."
...πΌπΌπΌ...
"Tadi aku ke rumah, ternyata sudah berangkat sama Kanya?" tanya Putra ketika sampai di kelas, padahal dia belum menaruh tasnya.
"AKU??" Kanya sudah duduk rapi dibangkunya, mendengar hal tidak biasa membuatnya harus berbalik melihat kearah Clarissa yang duduk di belakangnya. Hal serupa juga dilakukan oleh anggota kelas yang tidak sengaja mendengar itu. "What do you mean by the word 'aku' why are you acting so sweet talking to Ica."
"Lo gak tahu? gue emang selalu berbicara manis kecuali sama lo." Dia merubah nada bicaranya menjadi menyebalkan. "And don't ever expect me to speak sweetly to you."
Kanya memicing. Bergiliran menatap Clarissa dengan tatapan curiga dan menatap Putra dengan wajah menyebalkan. "Ohow, jangan harap gue berharap sama lo, okey."
...πΌπΌπΌ...
"Pulang bareng ya?" ajak Putra setelah guru pengajar pamit saat bell berbunyi 10 menit yang lalu. "Aku bawa mobil kok,"
"Gue agak geli sihhh," Putra dan Clarissa menoleh pada Kanya, gadis itu sudah berdiri didekat Clarissa sejak guru berpamit pergi lebih dulu, dia membantu Clarissa merapikan alat tulis. "Entah lo emang aneh, atau sebenernya ini ada yang aneh."
Rinda melebarkan matanya ketika dia baru tiba dan Kanya sudah menatapnya aneh. "Lo tau? Putra sejak pagi ngomong manis sama Ica, and this is the first time Ica diem aja gitu di ajak ngomong sama Putra."
Menangkap pernyataan itu, Rinda melambaikkan kedua tangannya. "Gue gak tahu apa-apa."
"Whatever, Ca, lo pulang bareng sama gue kan?"
"Sorry...."
Clarissa menghentikan kalimatnya saat Putra tertawa.
__ADS_1
"Tuh kan, Ica pasti ikut pulang sama gue, dia bukan Ica yang dulu selalu nurut sama lo."
"Apaan sih," Clariss memicing heran. "Gue juga gak mau pulang sama lo."
Kanya menahan tawanya, dan dia lepaskan setelah 3 menit dia tahan. "Sok special lo..."
"Gue ada janji soalnya."
"Sama om Doni?"
Clarissa menggeleng. "Enggak, papa ada jadwal operasi."
"Sama kak Rehan?"
Pertnyaan itu membuat Clarissa melirik Putra yang sudah memasang wajah serius, dia tidak akan lagi sembarangan menerima tawaran Rehan sebelum izin pada Putra. Hal itu yang sering dilakukan Delisa ketika teman laki-lakinya mengajak pergi kerja kelompok, menurut Delisa, Noel akan marah jika mendadak Delisa pergi tampa sepengetahuan Noel. Dan kemarin, Putra memang tidak marah, tapi laki-laki itu mengikutinya.
"Bukan kok, dah ah, gue buru-buru.." Clarissa melambaikan tangannya dan berlari keluar kelas.
...πΌπΌπΌ...
"Ica sudah nunggu lama?" Sapa wanita anggun dengan dress berwarna ungu, dia taruh tasnya di kursi depan Clarissa dan duduk disebelahnya. "Maaf ya...."
"Gak apa-apa kok Tante, Ica juga baru sampai,"
"Kamu bawa baju ganti? padahal tante mau belikan kalau kamu tidak bawa." Anita mengelus puncak kepala Clarissa. "Diberitahu papa ya?"
"Iya tante, makanya Ica bawa baju ganti sebelum berangkat sekolah tadi." Jelasnya. Dia melihat pakaian yang dikenakan setelah melihat Anita yang sangat rapi itu. "Kita mau kemana Tante? Ica gak salah kostumkan ya?"
"Ohh enggak dong." Mengusap pipi Clarissa, "cuma mau makan siang direstaurant tempat teman tante, baru buka, jadi tante diajak untuk melihat-lihat."
Clarissa mengangguk kecil.
Anita berdiri dan melambaikan tangannya pada perempuan sebaya Clarissa.
"Meysa gabung sama kita, kamu gak masalahkan?" Clarissa menelan salivanya, kenapa lagi-lagi dia dipertemukan oleh Meysa.
Clarissa tersenyun tipis menyetujui peemintaan Anita, bahkan saat Meysa sampai dimeja merekapun, perempuan itu tampak kaget melihat Clarissa berada disana.
__ADS_1
"Yuk, berangkat sekarang, perjalanannya memakan waktu 30 menit, kalian masih bisa menahan laparkan?" Tanya Anita, Meysa dan Clarissa hanya mengangguk. Mereka terlalu canggung untuk saling bicara.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ