
"Meysa dimana?" Anita menatap kebelakang Clarissa, tidak ada keberadaan putrinya. Dia menghela napas kesal. "Pasti dia marah,"
"Eng-enggak kok Tante." Clarissa mendekat, mengelus punggung Anita yang tertunduk. "Meysa baik-baik saja, cuma tadi kami ketemu Erlangga, dan dia pulang sama Erlangga."
"Erlangga disini?"
Clarissa mengangguk.
"Ya sudah, kita pulang ya. Padahal tante ingin ajak kalian jalan-jalan." Meraih tas beserta ponsel dan dompetnya, lalu dia masukkan kedalam tasnya. "Tapi sepertinya tidak bisa, situasinya tidak seperti yang tante bayangkan."
"It's okey tante, lain kali kita jalan bareng lagi bertiga."
Anita menatap Clarissa. Anak sebaik ini bagaimana bisa menjadi sasaran amarah Meysa saat didekati oleh Putra. Salahnya juga karena menyayangi Clarissa dibanding putrinya itu, tapi tidak sedikitpun ada wajah dendam dari Clarissa untuk Meysa.
Sesampainya mengantar Clarissa, mobil milik Anita langsung melesat pergi menembus kota menuju kedimannya. Sepanjang jalan dia hanya memikirkan bagaimana jika dia berada dalam posisi putrinya, pasti menyakitkan karena tidak dianggap oleh ibu kandungnya. Tapi, posisinya saat ini tidak bisa diutarakan, Anita sangat tidak tahu harus bertindak seperti apa pada public mengenai dirinya.
"Bu, tidak turun?"
Anita terkesiap, dia tersadar dari lamunanya saat supir pribadinya sudah membukakan pintu untuknya.
"Maaf pak, saya melamun."
"Oh, kenapa ibu minta maaf, seharusnya saya yang meminta maaf karena sudah membuyarkan lamunan ibu."
Anita tersenyum, dia pergi meninggalkan supri pribadinya untuk masuk kedalam rumah utama. Pertama kali dia masuk sudah di sambut hangat oleh Putra, putranya itu berjalan kearahnya sembari menenten piring berisi buah dan memeluknya.
"Mama dari mana?" tanyanya dalam pelukan.
"Sehabis makan diluar,"
Putra mengecup kecil pipi mamanya. "Sama siapa? pasien langganan."
"Sama Clarissa dan Meysa."
Putra melirik sang mama yang sedang merapikan kalungnya yang miring akibat pelukannya tadi, dia menyuap satu buah. "Kok Ica gak bilang sama Putra."
Anita mendelik tajam. "Kenapa juga dia harus bilang sama kamu. Aneh."
Mamanya pergi meninggalkannya, tentu saja respon mamanya seperti itu. Putra menghela napas kesal, kenapa juga Clarissa melarangnya memberikan kabar bahagia ini.
__ADS_1
"Hey dude, sedang apa didepan pintu." Gio masuk dan menepuk pundaknya. "Bengong saja,"
"Papa kok sudah pulang,"
"Tadi ada pertemuan di dekat rumah, mama sudah pulang?"
"Sudah. Baru naik," menunjuk ke arah tangga.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah pa,"
Gio mengangguk, dia menepuk pundak Putra lagi. "Papa naik dulu,"
"Iya pa."
...πΌπΌπΌ...
Gio mengetuk pintu pelan sebelum mendorongnya dan dia buka lebar. Terlihat Anita tengah duduk didepan cermin dengan tatapan kosong. Tangan halusnya juga mengambang melepaskan beberapa jepitan pada rambutnya. Gio mendekati Anita dan mengelus kedua bahunya secara lembut. Merasakan hal itu Anita tersentak kaget, dia tersenyum tipis menatap Gio pada pantulan cermin.
"Papa sudah pulang? bukannya ada pertemuan."
"Jadi pa," Anita memutar dirinya agar menatap Gio secara bebas, Gio juga duduk di ranjang setelah menarik kursi rias yang diduduki Anita agar lebih mendekat.
"Dilihat dari raut wajah mama, sepertinya tidak berjalan dengan baik."
Anita menunduk, dia menatap kedua tangannya yang digenggam oleh Gio. Sebelum mengeluarkan kata-katanya, dia sempat menghembus napasnya pelan. "Mama bukan mama yang baik untuk Meysa pa,"
"Kenapa mama bicara seperti itu?" mengelus puncak kepala Anita, membuat wanita anggun itu mendongak melihatnya.
"Dari mama baiknya coba, mama tidak berani bilang kepada orang kalau Meysa itu anak mama." Anita mendengus kesal. "Meysa saja yang dari awal diam, mendadak buka suara lalu pergi meninggalkan meja makan. Apa lagi mama ajak makan dia bawa Clarissa sebagai teman, padahal tidak perlu bawa Clarissa, kami bisa mengobrol santai kan?"
"Mama harus belajar lebih terbuka, papa saja sudah mempersiapkan pesta untuk memperkenalkan Meysa sebagai putri kita."
Wajah Anita berbinar. "Benarkah?"
"Tentu. Tapi setelah Jeri memberikan Meysa pada kita, sepertinya dia masih keras kepala soal hak asuh Meysa."
"Mama masih ada hak kan pa?"
__ADS_1
"Iya. Tapi semua kembali pada Meysa, seperti kakus Clarissa dan Bintang kemarin, saat Dokter Dinda masih ada."
Anita menghela kesal, dia akan kalah. Meysa tidak akan mau menerima tawarannya untuk menjadi bagian keluarga Adietama seutuhnya.
"Kita akan cari cara, meminta Meysa secara baik-baik tanpa ada paksaan dari pihak manapun,"
"Terima kasih pa. Terima kasih telah menerima mama dengan sangat baik, maaf kalau mama semoat membohongi papa soal Meysa dulu."
Gio menggeleng pelan. "Tidak masalah, kebahagiaan Putra yang terpenting, dia menyayangi mama, maka papa harus memberikan sayang papa untuk mama pula. Toh itu sudah berlalu, bahkan mama sudah menerima papa dengan baik saja itu sudah timbal balik yang sangat papa hargai."
...πΌπΌπΌ...
Bintang telah kembali, mereka bertiga duduk diruang keluarga dengan kebisuan. Tidak ada yang memulai pembicaraan, duduk disini saja entah siapa yang memulainya. Clarissa melirik Bintang, ujung bibirnya ada luka yang masih memerah, mungkin Bintang melampiaskan segalanya pada dirinya.
Clarissa berdiri namun tangannya ditahan oleh Bintang. "Gak perlu, kakak baik-baik saja."
Gerak-gerik Clarissa mudah terbaca, perempuan mungil itu selalu memperhatikan diri Bintang sejak kecil. Bintang syukuri itu, tapi dia kecewa pada dirinya karena sempat membentak adik yang paling perduli padanya itu. Bintang menggenggam tangan Clarisssa kuat.
"Maaf kalau kakak gak bisa tinggal disini."
"Kak....." Doni memanggil lirih, "tidak bisakah kita bicarakan baik-baik.
Bintang tetap menatap Clarissa, dia tidak perduli pada sosok Doni yang duduk disebrang mereka. "Ica pasti aman tinggal disini, papa tidak akan menyakiti Ica karena Ica anak kandung papa."
"Kak, stop mengatakan hal aneh."
Bintang menatap Doni dengan tatapan tidak suka. "Maaf pa, tapi itu faktanya."
"Papa tidak pernah memandang kamu itu siapa, berapa kali papa harus katakan kalau kamu itu anak papa, tidak ada perubahan." Doni lelah harus mengatakan hal itu berulang kali.
"Thiis is a fact. I have to accept that." Bintang merubah posisi duduknya lebih menghadap Doni. "Setelah Bintang pikir, semua kesakitan yang papa perbuat itu mengarah pada Bintang."
"Kak, papa tidak pernah berniat seperti itu," Donu menegapkan dirinya. "Mana papa tahu kalau Raisa adalah anak Clara, papa memang berhubungan dengan Clara, tapi tidak sekalipun papa pernah menemui anak-anaknya."
"NEVER LIE TO ME!?!?!!!!!" Napas Bintang memburu. "ONCE A LIAR ALWAYS A LIAR!! what's more, you guys have started a relationship on the basis of lies, yep, mama and papa." Dalam setiap kalimat yang Bintang lontarkan, bibirnya bergetar hebat, dia menahan tangisnya.
Doni terbungkam, kalimat Bintang memang benar adanya. Kalau saja dia dan Dinda tidak memulai pernikahan dengan kebohongan, pasti semuanya tidak sekacau ini. Dia harus apa? dia harus bagaimana untuk memulainya? semua telah berantakan.
Kepala keluarga itu berdiri, dia menghampiri Bintang dan Clarissa. Dia tatap kedua anaknya dengan tatapan menyesal, "kak, beritahu papa, bagaimana caranya agar kakak dan Ica percaya bahwa papa benar-benar menyayangi kalian berdua. Beritahu papa, bagaimana caranya agar kita tetap menjadi keluarga yang saling menguatkan dan saling melindungi. Papa ingin menjalani kehidupan dengan kalian tanpa adanya kebohongan."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ