Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:56


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Mimik wajah Bintang ikut panik ketika melihat mamanya menyentuh leher Clarissa yang memerah. Wajah Clarissa terlihat tidak tahu apa yang dimaksud mamanya, dia menyentuh lehernya dan menatap mamanya. "Merah kenapa ma? gak tau Ica."


Dinda semakin mendekatkan diri kesisi Clarissa menekan tanda merah dilehernya. "Sakit tidak?"


"Tidak." Jawabnya sembari menggeleng.


Bintang yang melihat itu menelan salivanya sedikit panik. Dia berdiri mendekati mama dan adiknya. "Ma, sudah hampir jam sembilan, mama enggak jadi pergi ke rumah sakit?"


"Sebentar,"


"Biar Bintang yang obatin Ica saja ma." Mendengar itu, Dinda tersenyum dan menjauhi Clarissa.


"Yasudah, mama pergi ya sayang." Mengelus bahu Bintang dan meraih tasnya, lalu pergi meninggalkan dapur.


Bintang menarik kursi bekas mamanya duduk dan menatap Clarissa, memperhatikan tanda merah itu. "Itu beneran enggak sakit dek?"


Masih mengelus lehernya dia melirik Bintang. "Emang merah gimana sih? gak gatel kok kak."


"Semalam nonton sama siapa? enggak sama Anya?"


Clarissa menghela napas, arah pertanyaan Bintang dalam sekejap berubah. Dari menanyakan soal luka merah dilehernya yang dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya sampai dengan siapa dia semalam menonton konser. Clarissa tidak berniat menjawab, dia sudah menjawabnya tadikan?


"Dek..."


"Kak..." Clarissa menatap Bintang, mereka terjeda dalam beberapa menit. "Ica dari rumah emang sama Anya, tapi dianter sampai depan gerbang soalnya dia mau kencan sama gebetannya. Ica sendirian disana."


"Ica sudah besar, apalagi kakak." Bintang menunjuk leher Clarissa. "Merah itu kakak tahu apa sebabnya, kasih tahu kakak...."


"Emang merah kenapa?" potong Clarissa.


"Kamu disana ketemu sama siapa? laki-laki?"


"Iya dong, kan disana ramai kak, tiket konser bukan buat Ica aja."


Bintang tersenyum, dia harus perlahan menanyakan perihal tanda merah itu kepada adiknya yang polos. "Maksudnya ketemu ditempat yang sepi hanya berdua, atau ada laki-laki dewasa yang ngelecehin kamu? Dua hari lalu kamu kebingungan mau pakai kemeja, tapi semalam pulang kakak lihat kamu pakai sweater."


"Bahas sweater lagi...."


"Itu sweater siapa? itu pasti bukan punya kamu karena sweater yang kamu pakai itu kebesaran dikamu. Kemeja kamu dimana?" Clarissa tidak menjawab. "Tadi pagi sebelum bi Siti masukin semua baju kemesin cuci, kakak cium sweaternya bukan parfum kamu. Atau kamu ketemu sama Putra?"

__ADS_1


"Putra lagi pergi kak, ada urusan diluar kota sama om Gio."


"Sama...." Bintang memikirkan nama-nama teman Putra yang dia ingat. "Daze?"


"Enggak kak..."


"Rinda?"


"Ya ampun, enggak kak."


"Atau sama Erlangga?"


"Astaga kakak, enggak.."


"Terus sama siapa?" Bintang menatap Clarissa serius. "Kamu ketemu sama teman sekolah yang kakak enggak kenal? iya? laki-laki??"


Clarissa menunduk, tidak berani menatap Bintang terlalu lama. Dia merasa ingin menceritakan tapi takut dikatakan bodoh oleh kakaknya sendiri. Bintang meraih tangannya dengan lembut, mengelus dan tersenyum begitu hangat. Memang selama ini mereka tidak pernah saling bertukar cerita, kedekatan mereka hanya saling memberikan perhatian dan kasih sayang, bukan soal tukar cerita dari hati kehati.


"Kak..." Clarissa menarik tangannya. "Kak Bintangkan mau pergi, Ica masih ngantuk, mana besok mau ujian lagi."


Bintang mengangguk. "Ya sudah, kalau Ica belum siap cerita sama kakak, enggak apa-apa. Lain kali saja ya? kakak berangkat dulu." Dalam kecupan singkat Bintang pada keningnya, Clarissa mengangguk kecil.


...🌼🌼🌼...


Sekolah SMA Gemilang Cahaya meliburkan aktivitas dihari senin mereka soal Upacara Bendera karena mereka akan melaksanakan ujian tengah semester. Ujian akan dilaksanakan jam delapan, namun SMA Gemilang Cahaya sudah dipenuhi dengan murid-muridnya, entah sedang belajar bersama atau berkumpul karena takut telat untuk masuk dan tidak bisa mengikuti ujian tengah semester. Terutama dihalaman kelas IPA satu, semua murid dengan perkumpulan masing-masing duduk didepan kelas, membicarakan soal pelajaran yang akan keluar pada ujian nanti dan ada yang sedang bergosip dengan tema sembarang.


"Hmm..." Jawabnya datar, kedua tangannya menopang dagu, menatap kearah depan yang langsung menjurus Putra. Laki-laki itu tengah mengobrol dengan Rinda, Erlangga, dan Noel, sedangkan Daze duduk berjarak sedikit mengobrol dengan kekasihnya. Sempat-sempatnya mereka berkumpul padahal kelas mereka berjarak jauh.


"Gimana sama konser kemarin?"


Mendengar pertanyaan Kanya membuatnya menghela napas, mengingat soal kejadian itu. Matanya masih menatap Putra, dihati kecilnya mengharapkan bahwa laki-laki dimalam konser itu adalah Putra Rizqi Adietama.


Wait.....


Clarissa menegakkan tubuhnya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.


"Ha Ca? gimana?" Kanya menyikut.


"Nanti aja deh ceritanya, lo masuk keruangan lo sana, bentar lagi bel nih." Bell masuk berbunyi, "tuh bunyikan?"


Seluruh siswa bergegas berdiri berbaris didepan pintu menunggu pengawas datang dan membukakannya, mempersilahkan mereka untuk masuk. Ujian pelajaran pertama berlangsung satu jam, dan selama ujian berlangsung tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara walaupun hanya sekedar untuk meminjam alat tulis.


"Gilaaa.... Soalnya susah banget Ca.." Kanya menyandarkan kepalanya pada bahu Clarissa, mereka mendapatkan kelas yang berbeda karena jarak abjad nama Clarissa dan Kanya sangatlah jauh untuk keseluruhan siswa/siswa IPA kelas dua belas. "Ca, tadi nomer 35 pake rumus yang bilang ke gue sebelum masukkan? tadi rada bingung sama pilihan ganda jawabannya."

__ADS_1


Clarissa menatap Kanya yang sudah menegapkan tubuhnya. "Lo gak tahu ya kalau bu Siska keliling ke setiap kelas,"


"Hah? enggak, kapan? jangan bilang waktu gue tidur 10 menit tadi."


Clarissa melebarkan matanya. "Lo tidur waktu ujian? nomer 35 sampai 40 itu enggak ada jawabannya dan bu Siska keliling buat kasih tahu soal itu."


"WHAT!?!?! ARE YOU KIDDING ME?" Kanya meremas kepalanya. "Kok gue tolot banget sih Ca."


"Kanya kenapa Ca?" Vina duduk didekat mereka.


"Dia ngerjain nomer 35 sampai 40 tanpa tahu kalau itu gak ada jawabannya." Jawab Clarissa membuat Vina tertawa keras. "Lagian, udah tahu ujian kok malah tidur.."


"Aneh banget lo Nyakk.." Vina malah semakin menyudutkan Kanya. Vina mengelus bahu Kanya untuk menenangkan. "Sudah, jangan disesali lagi lebih baik kita kekantin, kapan lagi ngerasain istirahat lebih dari 15 menit, kalau enggak pas ujian gini."


"Males guee..."


Vina mencibir. "Lo emang gak laper? Ca, yuk kekantin."


Clarissa menggeleng, sebenernya cacing didalam perutnya sudah berteriak kelaparan, tapi dia hanya ingin memastikan secara langsung. Ketika seseorang yang ditunggunya muncul, Clarissa langsung berdiri menghampiri laki-laki yang masuk kedalam ruang ujiannya.


"Rinda..."


Langkah Rinda terlihat berhenti dengan terkejut, bibirnya tersenyum kaku. "Ya...."


"Gue..."


"Ca, nanti dulu ya, gue ada urusan sama bu Siska," Rinda mengangkat tangannya kearah Eerlangga dan Daze yang kebetulan satu kelas dengan Clarissa. Rinda melesat pergi, membuat Clarissa mengerutkan dahinya.


Melihat respon Rinda, Clarissa berjalan menuju tempat duduknya lagi dan menatap Kanya serta Vina. "Kenapa?"


"Apa-apaan sama respon Rinda tuhh?"


"Tah tuh, sok sibuk banget." Vina menatap Clarissa. "Ada urusan apa sama Rinda Ca?"


"Enggak ada."


Banyak, dia harus menanyakan keberadaan Putra malam minggu. Kapan dia sampai di Jakarta? siang atau malam? apakah setelah kembali dia ada menyempatkan untuk pergi menonton konser? Semua harus dia utarakan tapi hanya kepada Rinda. Karena laki-laki itu, satu-satunya yang dia anggap nyaman untuk diajak bicara.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...HAPPY NEW YEAR!!!...


...SEMOGA DITAHUN DEPAN, KALIAN SELALU DIBERIKAN KESEHATAN DAN SITUASI YANG BAIK....

__ADS_1


...DIDEKATKAN DENGAN APA YANG KALIAN IMPIKAN....


...MAAF, BANYAK BANGET PEKERJAAN YANG MEMBUAT AKU LALAI SAMA CLARISSA, Tapi TETAP AKU SEMPATKAN UNTUK MENULIS....


__ADS_2