
"Er, udah sembuh total ya?" Vina menatap Erlangga yang fokus menyetir. "Padahal kemarin kelihatan parah, udah lepas gips aja."
"Hmm,"
"Dijawab kek."
"Ya lo kan bisa lihat sendiri."
Vina mendengus, dia menatap kedepan lagi. Salah memang menerima tawaran, tidak, maksudnya menerima paksaan Putra untuk pulang bersama Erlangga. Dia ditempatkan pada dua orang manusia yang tidak menyukai obrolan, apapun.
"Ehh, gue berhenti dikafe itu boleh?"
Erlangga tidak menjawab.
"Mau ngapain Vin, rumah lo kan masih jauh."
"Mau ketemu orang, nih dia baru aja chat gue." Menunjukkan layar ponselnya pada roomchat, tapi tetap tidak terbaca oleh Clarissa. Vina tersenyum tipis menepuk lengan Erlangga. "Terima kasih atas tumpangannya, Erlangga."
"Sama-sama."
Vina melambaikan tangannya kepada Clarissa yang duduk dibangku belakang. "Bye Ica, kabarin gue ya kalau sudah sampai rumah."
Clarissa mengangguk kecil, sebenarnya dia tidak nyaman jika dibiarkan hanya berdua saja dengan Erlangga. Tapi apa boleh buat jika ini situasi yang sudah ditakdirkan untuk dirinya. Padahal tadi dia sudah berharap besar akan pulang bersama Putra hari ini, hari terakhirnya satu mobil dengan Putra.
"Lo pikir gue supir?"
Tersadar dari lamunannya, Clarissa mendongak melihat Erlangga lewat kaca spion. "Hah?"
Erlangga menatap kebelakang. "Gue bukan supir sampai buat lo duduk nyaman dibelakang."
"I-iya sorry, gue pindah." Clarissa turun dan duduk disebelah Erlangga. Walaupun mereka tidak membicarakan apapun disepanjang perjalanan, tapi tetap saja tidak nyaman jika Clarissa tetap duduk dibelakang.
Hal yang paling dibenci semua orang adalah macet. Erlangga tidak seperti Kanya ataupun Putra. Dia tetap tenang dan tidak berekspresi saat macet melanda. Omelan Putra ketika macet memang tidak separah Kanya, tapi Erlangga benar-benar diam sampai hembusan napaspun tidak terdengar.
Clarissa menekan dadanya, kenapa dia harus menoleh kearah kirinya. Dia melihat Putra tengah membonceng Meysa yang memeluk erat pinggang Putra. Clarissa menunduk dalam, ya, kenapa dia harus merasa special ketika Putra berbicara manis dengannya, dia bukan apa-apa dibandingkan Meysa, tapi rasanya sakit sekali.
"Huh.."
Clarissa menoleh melihat Erlangga yang sibuk menscroll layar pada mobilnya, tanpa sadar tangannya menekan pilihan lagu yang dia kenal. Erlangga menoleh sekilas dan membiarkan lagu pilihan Clarissa terputar.
__ADS_1
"The death of peace of mind." Clarissa melihat Erlangga. "Lagu terbaru Bad Omens kan ya? gue belum pernah denger, lo udah save aja."
"Gue harus tau dan kasih tau?"
Clarissa menggeleng. "Soal apa?"
"Lo belum pernah denger sama gue udah save," Clarissa mengerutkan dahinya. Biarkan dia mencerna maksud dari ucapan Erlangga. "Ck, apa gue harus tau lo udah denger lagu terbaru mereka atau belum, dan apa gue harus kasih tau lo soal save lagu terbaru mereka?"
Clarissa menggeleng kecil. "Otaknya dipakai, jadi orang gak perlu jelasin panjang kali lebar sama lo."
Clarissa hanya menunduk, tidak menanggapi kalimat yang terdengar kasar dari Erlangga.
Mereka telah sampai didepan latar rumah Adietama, Erlangga tidak keluar karena paham jika Putra belum sampai dirumah, jadi untuk apa dia mampir. Clarissa melepaskan sabuk pengaman, memakai tasnya setelah membuka pintu, namun dia belum turun dari mobil, kembali duduk menatap Erlangga.
"Sepertinya lo yang harus pakai otak. Gak semua orang paham sama kalimat singkat, padat dan gak jelas lo itu."
Demi apapun, ini pertama kalinya Clarissa berani menatap Erlangga dan berkata dengan nada tinggi bahkan lebih dari nada biasanya yang dia gunakan. Dia turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah tanpa menatap kebelakang.
...πΌπΌπΌ...
Pintu terketuk sebelum terbuka kecil. "Nona Ica, ibu Dinda sudah ada dibawah."
"Baik."
Clarissa mematikan layar laptopnya dan menutupnya, dia berlari menuruni tangga langsung memeluk Bintang yang baru berjalan masuk kedalam rumah Adietama.
"Kangen kak Bintaaaaangggg." Teriaknya kecil.
Bintang balas memeluk erat Clarissa, mengelus puncak kepala adiknya sebelum mengecup kilas. "Kak Bintang kangen adik kakak yang imut ini juga loohhh..."
"Kita bakal kumpul bareng lagi, yeyy...."
Bintang menarik Clarissa dalam pelukkannya lagi. "Senengnya bisa lihat adik kakak tersenyum lagi." Dia masih merasa bersalah karena menolak permintaan Clarissa untuk tinggal dengannya pada hari itu, malah membiarkan Clarissa tinggal ditempat orang lain dibandingkan ditempatnya sendiri.
"Kak Raisa bakal tinggal bareng sama kita juga gak?" tanyanya dengan berbisik, berusaha agar Dinda dan Anita yang tengah duduk sembari berbincang tidak mendengar pertanyaannya.
Bintang menutup mulut Clarissa tanpa membuat adiknya itu kesusahan bernapas, hanya untuk mengingatkan agar tidak sembarangan berbicara. "Itu kita bahas nanti,"
"Ica...." Panggil Dinda.
__ADS_1
"Iya ma," melepaskan pelukan dari Bintang.
"Kamu sudah siap siap?"
"Sudah ma,"
Dinda mengangguk. "Bintang, tolong ambilin koper Ica ya,"
"Iya ma," Bintang menatap Anita. "Permisi tante,"
"Iya Bintang, naik saja."
Selagi menunggu Bintang mengambil koper milik Clarissa, mereka bertiga berjalan keluar rumah, berdiri diteras dan berbincang kecil. Anita terus memeluk Clarissa erat disela mereka berbincang, yang dipeluk hanya diam saja sembari memainkan game diponselnya.
Bintang muncul dari dalam.
"Sudah ma,"
"Okey," Dinda tersenyum menatap Anita. "Mba, pamit ya, maaf kalau ada salah dan sempat mereptokan."
"Iya, tidak masalah kok." Anita menatap Clarissa yang masih dalam pelukannya. "Nanti kalau barang Clarissa masih ada yang tertinggal akan kami antar, ya sayang."
Clarissa mengangguk.
"Sering-sering main ya, sudah biasa melihat kamu dirumah sekali tidak ada itu rasanya kesepian bukan?" Clarissa mengangguk lagi tanpa menjawab.
Anita masih berdiri dianak tangga teras, menatap Bintang yang sedang memasukkan koper kedalam bagasi. Dinda berjalan beriringan dengan Clarissa yang masih fokus menatap layar ponselnya.
Suara motor besar memasuki area rumah Adietama, terlihat motor hitam dengan pengendara menggunakan seragam SMA masuk dan menghentikan motornya tepat diarea parkir. Helm dibuka dan laki-laki itu tersenyum menatap Dinda.
"Sudah mau pergi tante?" tanyanya sembari jalan mendekat.
"Iya, Putra."
Putra mencium punggung tangan Dinda, "kenapa tidak menginap disini?"
"Lain kali saja, kami harus beres-beres." Dinda berpamit untuk pergi lebih dulu menuju mobil. Clarissa berlari menyusul Dinda, dia enggan menatap Putra yang sudah berbohong tanpa mau menjelaskan. Walaupun mereka tidak memiliki hubungan dekat, tapikan Clarissa memiliki perasaan khusus kepadanya. Dan lagi, sebagai seorang perempuan yang memiliki rasa pada Putra pasti akan sakit ketika laki-laki itu berbohong kepadanya tentang tidak bisa pulang sekolah bersama.
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1