
...(Pict by pinterest)...
...🌼🌼🌼...
Clarissa berlari kencang, betisnya yang mengencang tidak diperdulikan, dia menulikan panggilan dari laki-laki yang mengejarnya. "Clarissa....... Clarissa....... Icaaaa...."
Tidak. Tidak. Clarissa tidak ingin menoleh, dia harus meninggalkan tempat ini, laki-laki itu hanyalah orang yang sempat membantunya. Tidak lebih. Dia saja tidak memperdulikan sweater laki-laki itu yang kebesaran pada tubuh mungilnya, bahkan panjangnya hampir menyaingi rok mini Clarissa. Dia semakin berlari kencang ketika mendengar suara laki-laki itu mendekat. Tolong jangan kejar Clarissa.
Suara keras laki-laki itu tidak lagi terdengar, mungkin telah kehilangan jejaknya dalam berlari, dia sudah memaksimalkan kekuatan kakinya agar melesat lebih cepat. Jika situasi seperti ini saja kakinya bisa diajak kompromi, kenapa saat pengambilan nilai lari jarak jauh dalam kelas olahraga dia selalu tidak bisa cepat. Kakinya bergerak kebingungan, kekiri dan kekanan, memeras rambutnya kesal karena bingung ingin pergi kemana. Hingga dia melihat perkumpulan ojek yang seharusnya tidak ada didekat sini bukan?
Bodo amat soal tempat ojek online berkumpul, yang terpenting adalah dia harus pergi dari sini.
"Pak, saya mau pulang." Ucapnya tiba-tiba setelah berhenti ngos-ngosan didepan beberapa bapak-bapak yang sedang asik mengobrol, mereka kompak mengenakan jaket berwarna hijau kombinasi hitam dengan logo motor dibelakangnya. "Tolong cepat."
"Neng, harus pesan diaplikasi dulu."
"Itu bisa nanti sekalian jalan kan? tolong pak saya buru-buru."
Melihat wajah Clarissa yang ketakutan membuat salah satu dari mereka berdiri. "Ya sudah neng, bapak antar."
Bergegas dia berjalan kearah motor yang bapak itu duduki, meraih helm dan langsung naik.
"CLARISSA TUNGGU...." Mata Clarissa melebar, dia mengenal suara ini, suara laki-laki yang ada dibalik pohon tadi. Dengan kuat Clarissa memukul lengan bapak ojek dan memintanya bergegas pergi.
Dia menoleh kebelakang, laki-laki itu hanya terlihat ujung rambutnya saja, semakin jauh dia semakin tidak bisa menebak siapa laki-laki yang menolongnya itu. Menolong dengan mencari kesempatan. Anggap saja itu tidak disengaja atau memang bantuan pernapasan gaya baru. Tangannya meremas kuat jaket bapak ojek didepannya.
"Kenapa neng? berantem sama pacarnya?" tanya bapak itu random.
Pacar?
Siapa maksud bapak itu, pacarnya?
Laki-laki tadi?
Gila saja, Clarissa saja tidak tahu namanya.
Ah, jangankan nama, wajahnya saja dia tidak tahu.
"Bukan pacar saya,"
"Tapi tadi ngejer nona dengan wajah panik." Ucap bapak ojek dengan tenang.
"Bukan. Itu tadi laki-laki cabul."
"Heh?" Bapak ojek itu menoleh melihat Clarissa sekilas lalu menatap kedepan lagi, memfokuskan pandangannya. "Kamu harus lapor polisi. Apa mau bapak antarkan?"
__ADS_1
"Tidak usah pak, toh enggak kenal juga. Lagian saya gak tahu wajahnya."
"Bapak tahu. Ganteng." Jawabannya membuat Clarissa mendengus. Ganteng definisi orangkan berbeda-beda. Noah Sebastian yang memiliki wajah tampan saja tidak bisa dikatakan ganteng oleh orang lain. Itu kata Kanya.
Song Jong-ki yang Kanya bilang ganteng saja, menurut Clarissa dia hanya memiliki tipe wajah imut. Atau Jefri Nichol menurut Vina termasuk kriteria laki-laki ganteng, padahal dia hanya memiliki wajah manis, menurut Clarissa. Jadi menurut bapak ini, ganteng yang seperti apa?
"Enggak apa-apa kok pak, yang penting saya sudah selamat. Terima kasih." Ucapnya lagi karena merasa itu bukanlah kelakuan tidak senonoh yang melebihi batas. Karena yang dilakukan laki-laki tadi adalah menolongnya.
Setelah memberikan uang jasa beserta tips karena sudah menolong, Clarissa langsung masuk kedalam rumah. Gerbangnya tidak dikunci karena pasti mereka tahu adalah salah satu anggota yang belum pulang. Saat sedang mengunci gerbang, Clarissa terdiam.
Astaga.
Ya ampun.
Album Bad Omens.
Stik drum dari Nick Folio?
Kakinya menghentak keras, jatuh dipohon? kenapa dia sial sekali sih? itu adalah abenda berharganya.
Wait.
Wait a minute.
Apa jangan-jangan laki-laki tadi itu membantunya karena dia ingin mendapatkan hadiah itu. Kepala dia remas kesal, kenapa dia bodoh sekali sih. Ingin kembali tapi ini sudah terlalu malam, bagaimana kalau laki-laki itu masih ada disana. Bersama album serta stik drumnya, Clarissa ingin menangis.
"Loh Dek kok sudah pulang? temen kakak aja masih ada yang live disana, dia titip salam....." Bintang diam, Clarissa melewatinya saja tanpa membalas pertanyaan darinya. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya, ada yang aneh tapi dia tidak paham.
Bintang kembali menuruni tangga dan menyapa bi Siti yang sedang membereskan dapur pada jam tengah malam gini, aneh. "Bi, Bintang mau teh hangat sama kue yang didalam kulkas."
Bi Siti yang sedang menata rak piring menatapnya. "Siap mas Bintang, tapi sebentar ya bibi mau menata ini dulu."
Bintang menganggukkan kepala. "Ke ruang TV ya bi, mau nonton pertandingan bola."
"Siap..." Punggung bi Siti ditepuk dua kali membuatnya menoleh. "Sebentar mas Bintang."
"Biar saya saja."
"Ehh, ibu, kok belum tidur?"
"Tadi mau ambil air putih, haus." Dinda meraih gelas dan piring kecil untuk menyiapkan pesanan Bintang. "Lanjutkan saja, biar saya yang menyiapkan untuk Bintang."
"Iya bu, maaf merepotkan." Dinda hanya menggeleng.
Setelah selesai menyiapkan dia membawa semuanya dalam nampan dan dia bawa ke ruang TV, menaruh diatas meja. Dia tidak langsung duduk, dia menghidupkan lampu agar Bintang tidak menonton TV sembari makan dengan lampu padam. "Kenapa tidak dihidupkan lampunya?"
"Eh, mama kok belum tidur?"
__ADS_1
"Tadi haus, mama ambil minum." Dinda menatap jam dinding. "Adik kamu sudah pulang?"
"Sudah ma, tapi ada yang aneh deh sama Ica."
Hal itu membuat Dinda menatap serius kepada Bintang, "aneh?"
"Masa Bintang cuma nyapa kenapa dia pulang cepet padahal temen Bintang yang lagi nonton aja masih Live disana, ehhh dia diem aja ngelewati Bintang, seakan-akan Bintang itu tidak terlihat." Ucapnya kesal.
Dinda menepuk bahunya. "Kamu urusi saja urusanmu, kenapa memikirkan adikmu. Memangnya tidak boleh pulang cepat? walaupun itu Band kesukaannya tetap saja pasti dia merasa lelah."
...🌼🌼🌼...
KRING... KRING... KRING...
Clarissa mengucek matanya lembut, menguap dengan mata masih tertutup. Tangannya perlahan mematikan tombol alarmnya. Pintunya terbuka. "Sayang, bangun, sarapan yuk, mama sama kak Bintang mau pada pergi."
"Ica enggak laper."
"Ayo makan, kita harus sarapan bersama, setidaknya duduklah dimeja makan." Tegas Dinda membuat Clarissa terpaksa mengangkat tubuhnya dan berjalan kekamar mandi, mencuci muka sebelum turun.
Dinda dan Bintang sudah duduk manis dengan pakaian yang rapi. "Padahal pulang cepet, kok tidur bisa kebo gitu sihh?"
Clarissa tidak menanggapi ejekan Bintang.
"Nonton sama siapa dek?"
"Kanya."
"Serius?"
Clarissa menatap kakaknya. "Kenapa?"
"Semalem pakai sweater siapa?"
"Sweater?" Dinda ikut nimbrung.
"Gak tau." Jawab Clarissa, karena terlalu fokus untuk lari, dia sampai lupa soal sweater laki-laki itu yang dipakainya. "Ma mau selai cokelat,"
"Gak usah ngalih-ngalihin pembicaraan deh." Bintang menarik selai cokelat disampingnya menjauh dari jangkauan sang mama, agar tidak sampai untuk mengambil. "Kamu punya pacar?"
"Bintang..." Tegur Dinda pelan. "Ica kan bukan anak kecil lagi, tidak apa-apa kalau dia nonton bersama pacarnya."
"ICA GAK PUNYA PACAR, MAMA." Jawabnya tegas.
Dinda dan Bintang sama-sama menatap Clarissa kaget, perempuan mungil itu tidak pernah sekalipun bernada tinggi, bahkan mendengar suaranya saja sudah susah karena saking pendiamnya. Mata Dinda lebih memicing, dia berdiri dan menyentuh leher Clarissa. "Ini merah kenapa sayang? digigit binatang ya?"
...🌼🌼🌼...
__ADS_1