
...(pict by Pinterest)...
...πΌπΌπΌ...
Tok... Tok.... Tok.....
Pintu terketuk, Doni menatap ke ambang pintu dan tersenyum tipis, dia berdiri meninggalkan meja kerjanya menghampiri pria yang berdiri lama di ambang pintu ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Dokter Gio?"
Gio tersenyum. "Sibuk ya? maaf, baru masuk langsung membuat anda kerepotan, Dokter Doni."
Doni terkekeh. "Ah, tidak juga, saya sudah lama tidak bergerak banyak."
"Hmm.. Benar juga." Gio mengangguk kecil. "Apa Putra sudah menelpon?"
"Sudah," Doni mempersilahkan Gio untuk masuk ke dalam ruangannya. "Tolong katakan pada Putra, jangan memanjakan Clarissa, gadis kecilku itu memang suka tidur."
"Biarkan saja, toh tidak belajar juga. Terima kasih," Gio duduk dan menerima kaleng kopi dari Doni. "Sekolah hanya khawatir jika di pulangkan lebih cepat, anak-anak akan berkumpul dan membuat keributan pada jam sekolah. Makanya mereka membiarkan anak-anak tetap di area sekolah dulu."
"Itu bagus sih. Tapi, apa tidak apa-apa jika Clarissa dan Putra pulang lebih dulu?" Doni merasa itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Putra akan menjadi terbiasa untuk bersikap semena-mena, sayangnya Doni tidak berani mengatakannya pada Gio.
Gio tersenyum tipis. "Aku sudah bilang, jangan melakukan hal yang tidak baik, orang akan iri dengan tindakan seperti itu. Tapi, Putra tetaplah Putra, dia akan melakukan hal sesukanya jika itu untuk urusan Clarissa."
"Apa maksud anda?"
"Apa anda tidak mengerti, Dokter Doni?" Pertanyaan itu malah membuat Doni kebingungan. Gio terkekeh. melihat tanggapan Doni. Gio memberikan posisi seperti akan berbisik pada Doni. "Sepertinya, putraku memiliki perasaan pada gadis kecilmu itu, Dokter Doni."
"Ah, yang benar saja." Kalimat aneh itu membuat Doni tertawa renyah, bagaimana bisa Doni menyimpulkan hal seperti itu. Namun tawanya memudar dan terdengar hambar, "benarkah?"
"Coba saja anda perhatikan mulai sekarang, Putraku selalu bersikap aneh jika berurusan pada Clarissa. Tinggal Cool anak itu akan menghilang dan berubah menjadi ramah jika ada Clarissa."
...πΌπΌπΌ...
Clarissa mengerjap matanya, dalam setengah sadar dia mencari keberadaan ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil sebelah kasur. Namun, tiba-tiba dia tersadar. Dia mengangkat kepalanya dan menatap kesekeliling ruangan besar ini.
Ini bukan kamarnya.
Ruangan ini lebih pantas di sebutkan sebagai Apartement, di bandingkan kamar pribadi.
Dia melihat Putra tengah duduk bersandar di sofa single sembari memainkan tabletnya, mengenakan celana panjang hitam dan kaos tanpa lengan berwarna hitam yang menampilkan otot lengannya, sexy sekali, sesekali dia menyesap teh hangat di atas meja. Clarissa keluar dari balik selimut, merapikannya dan merapikan rambutnya.
"K-kok gue disini?"
Putra menoleh, dia menatap Clarissa yang sudah terbangun dengan wajah masih setengah sadar. Laki-laki itu tersenyum tipis. Dia berdiri setelah menaruh tabletnya dan menghampiri Clarissa.
__ADS_1
"Gue ganggu lo tidur ya?"
Mata Clarissa memicing, dia sama sekaki tidak terganggu. Tapi......
"Gue kebangun sendiri." Menggaruk kepalanya. "Kenapa gue bisa tidur disini? sekolah gimana?"
"Lo gak inget?" Tanya Putra dan di jawab gelengan oleh Clarissa. "Lo yang jalan kesini sendiri."
"Hah? gak mungkin."
"Rumah gue ada CCTV kok."
Clarissa terdiam mencoba mengingatnya. Sayangnya, dia tidak ingat sama sekali. "Masa sih?"
Putra tersenyum tipis, mengelus pipi gembul Clarissa. "Mau pulang? biar gue anter."
"Iyalah," buru-buru Clarissa berlari meraih tasnya yang tergeletak di sofa panjang, dan tidak sengaja dia melihat tablet Putra yang masih menyala, menampilkan grup sekolah yang sedang membicarakan foto antara Putra dan Meysa tadi.
"Keadaan Meysa gimana?" tanyanya sembari memakai tas punggungnya dan berjalan pelan menghampiri Putra.
Putra bergerak melepaskan tas Clarissa untuk dia bawa, Clarissa tidak menolak hal itu. "Baik, dia gue bawa ke UKS dan Marisa panggil Rosita untuk nemenin."
"Oh," langkah mereka berhenti, karena Putra menahan handle pintu, kepalanya menoleh pada Clarissa yang menunggu pintu terbuka. "Ke-kenapa?"
"Lo gak tanya soal Meysa sama gue?"
Putra mengangguk. "Lo tahu soal itu?"
"Iya, dari Om Gio." Jawabnya. "Terus Meysa juga kasih tahu waktu itu."
"Meysa?" Putra menatap heran dengan anggukan Clarissa. "Meysa tell you that?"
"Iya, sewaktu kami bertemu di Rumah Sakit." Clarissa berjalan bersandar di dinding untuk menatap Putra. "Put, apa lo tahu soal Clara penyebab mama meninggal?"
"Hah? lo tahu dari mana?"
"Jadi lo tahu soal itu."
Putra menaruh tas Clarissa di lantai, dia menyentuh kedua bahu Clarisaa dan menatap serius. "Jawab Ca, lo tahu dari mana?"
Clarissa tidak menjawab.
"Ca, jawab."
"Ponsel papa," matanya memerah, dia tidak di beritahukan soal sepenting ini. "Kalian emang gak ada yang mau kasih tahu soal ini sama gue? kenapa? apa lagi soal papanya Meysa, Clara juga jadi penyebab papanya Meysa meninggal kan? gue ngerasa jadi penjahat Put, gara-gara papa, Meysa harus kehilangan papanya."
"Kenapa lo harus merasa bersalah Ca? wanita itu yang seharusnya merasa bersalah, bukan lo."
__ADS_1
"Dulu gue gak berani natap Meysa karena kalau ketemu dia, seakan-akan gue ini sasaran empuk buat dia bully." Clarissa menyeka air matanya yang mendadak terjatuh. "Tapi, sekarang buat gak sengaja natap Meysa aja gue udah ngerasa takut karena gara-gara keluarga gue dia harus kelihangan orang yang dia sayangi."
"Lo juga kehilangan orang yang di sayang Ca." Putra bergerak memeluk Clarissa, sangat erat. "Jangan pernah berpikir macam-macam, lo gak salah, gue bakal buat wanita itu membusuk di penjara. Gue janji."
Putra mendorong kuat ketika pintu tiba-tiba terbuka. Ada teriakan kecil dari luar sana. "Putraaaa.... Apa yang terjadi? kenapa kamu tutup pintunya."
Mendengar teriakan suara Anita, Clarissa hendak melepaskan pelukan itu namun Putra menahannya dan tetap membiarkan mereka dalam posisi saling berpelukan.
"Sebentar ma..." Ucap Putra.
"Ica sudah bangun? kalau belum jangan ganggu dia, kamu keluar dan makan sekarang!!!" Anita kembali berteriak dari luar, suara omelannya memudar menjauh. "Haih, kenapa aku juga berteriak,"
Setelah memastikan Anita sudah tidak ada lagi di depan kamarnya, Putra melepaskan pelukan itu dan meraih kedua bahu Ckarissa.
"Ca...."
Clarissa mendongak. "Hmm..."
"Akhir-akhir ini, kenapa lo menjauh lagi dari gue?"
"Eng-enggak kok."
"Jujur Ca, gue tahu lo lagi menjauh dari gue."
"Enggak!!"
"Iya.."
Clarisaa melepaskan kedua tangan Putra dari bahunya, tatapannya dia coba untuk menajam, walaupun dia belum pernah melakukan hal ini. Clarissa meraih tasnya yang tergeletak di lantai.
"Gue bilang enggak ya enggak, ngeyel sihh.."
"Gue ngerasa gitu loh." Tanggapnya sembari memperhatikan oergerakan Clarissa di depannya, padahal semha gerakan itu terlihat gugup dan bingung. "Lo beneran gak mau nanya soal Konser itu Ca?"
Clarissa menghentikan gerakannya, dia menunduk dan menghela napas pelan. "Enggak."
"Padahal gue nunggu-nunggu loh buat di tanya soal itu, gue udah rangkai segala macam jawaban kalau tiba-tiba lo nanya sama gue."
"Enggak berminat bahas itu." Clarissa berbalik, tangannya yang memegang handle pintu mendadak membeku, dia tidak bisa bergerak ketika tangan kekar Putra melingkar di lehernya, kepala laki-laki itu disandarkan telat diatas puncak kepalanya. Hanya napas teratur Putra yang dapat Clarissa dengar.
"Le-lepass...." Ucapnya gugup, ini lebih gugup dari biasanya. "Put-putraa..."
Putra tidak menajwab, dia semakin mengeratkan pelukan dengan melingkarkan lengan satunya semakin erat. Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga Putra mengendurkan pelukannya, namun mereka masih dalam posisi Clarissa berdiri membelakangi Putra.
"Gue suka sama lo Ca "
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1
ππππππ PUTRAAAAAAAA!!?!?!?!?!!!!!! π€π€π€π€π€π€π€π€π€.