Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:15


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Bintang duduk tenang menatap perempuan dihadapannya, setelah seharian lelah karena hari pertamanya magang. Dia sempatkan menerima ajakan Raisa untuk bertemu, wajah perempuan itu lesu, matanya sembab seperti sehabis menangis lama. Bintang tidak berkutik, dia diam hanya memandangi sampai perempuan itu mendongak dengan tangan yang ragu mulai meraih tangannya.


"Bintang,,,,," suaranya serak, beberapa kali dia berdehem untuk menetralkan. "Maaf,"


Hanya kalimat itu yang dia ucapkan sebelum kembali menatap Bintang dengan tatapan sedih, perempuan itu sudah kehilangan arah untuk mendapatkan maaf dari Bintang, sampai dimana Bintang menerima ajakannya untuk bertemu ditempat cafe biasa mereka bersantai. Bintang enggan berbicara sedikitpun, hanya menatap jari jari Raisa yang tersemat cincin pemberiannya. Sial.


Benda itu mampu membuatnya sedikit goyah, namun sukit dia lukiskan lagi. Bintang berdiri, mendekati Raisa dan mengelus puncak kepalanya.


"Anthony you want to say?" Raisa mendongak, matanya mulai mengeluarkan cairan bening. "Today i'm tired. Kembalilah ke apart, aku harus pulang kerumah."


Raisa meraih tangan Bintang pelan-pelan. "Kenapa tidak kembali kerumah, aku akan ceritakan kesalah pahaman ini, Bintang. I love you,"


Bintang tersenyum, jika dulu dia mudah menjawab balasan dari ucapan Raisa. Kini dia hanya tersenyum, hatinya mulai bergerak bimbang. "Aku harus memperbaiki hubunganku dengan papa dulu, tidak apa-apa kan?"


Raisa berdiri, bergerak memeluk Bintang sebelum berpamitan pergi. Dalam pelukan itu Raisa berbisik pelan. "Aku tidak akan pergi kemanapun, aku menunggumu."


Keduanya melepaskan pelukan, Raisa tersenyum saat Bintang mengangguk dan mengelus pipinya lembut. Dia mengantarkan Raisa sampai masuk kedalam taxi, dia kembali masuk kedalam cafe untuk mengambil tas dan membayar minumannya.


"Om Bintaang," panggilan tidak Bintang tanggapi, hanya dengar suaranya saja sudah dapat ia tebak siapa sang pemiliknya. "Sendiri?"


Melihat dia tidak menanggapi membuat perempuan itu terkikik gemas dan mengejar Bintang untuk keluar dari cafe. "Tau tidak, aku sama Clarissa mulai dekat, walaupun dia masih sulit mengobrol karena Kanya."


Masih tidak ditanggapi, perempuan itu berlari mengiri langkah Bintang menuju parkiran mobilnya. "Tidak masalah. Kami bisa akrab nanti saat satu rumah."


Langkahnya tersentak kaget ketika Bintang mendadak berhenti. "Shut the hell up. Bisa berpikir dulu sebelum berbicara," Bintang memposisikan dirinya untuk berdiri berhadapan dengan Meysa seutuhnya, Meysa tidak bergerak ketika Bintang mengangkat tangannya dan mengelus puncak kepalanya Meysa lembut. "Sorry, stop chasing, I'll still be with her. Find someone who deserves you."


Bintang menatap Meysa yang membisu, dia dapat melihat mata Meysa yang mulai memerah. Hatinya masih dapat luluh hanya melihat mata itu, membuatnya melenggang pergi meninggalkan Meysa yang masih membeku.


Dalam kemudinya dia melihat sosok Meysa dari balik kaca, Meysa berjongkok dengan menenggelamkan wajahnya dikedua lututnya. Sial. Apa mungkin Meysa menangis, Bintang menambah kecepatan mobilnya agar tidak lagi melihat sosok Meysa diujung kaca mobilnya.


...🌼🌼🌼...


Disini. Dimeja makan rumah Adams, Bintang duduk bersama Doni untuk makan malam. Doni memutuskan untuk pulang lebih cepat karena dikabarkan oleh Clarissa bahwa Bintang meminta Doni untuk makan bersama. Doni merasa dadanya membesar karena bahagia menghantamnya, Clarissa tersenyum tipis melihat bi Siti merapikan meja makan dan membantunya menyiapkan makan malam. Ya. Malam ini Clarissa sendiri yang turun tangan untuk membuat makan malam mereka.


"Sini, bibi saja." Pinta bi Siti saat Clarissa akan membawa mangkuk berisi sup ayam. "Non, mandi saja, biar bibi yang bereskan semua."

__ADS_1


Bi Siti benar, dia belum mandi sejak mulai memasak tadi. "Sebentar ya pa-kak."


Ucapan Clarissa dijawab anggukan oleh Doni, Bintang tidak menjawab, laki-laki itu sibuk dengan ponselnya. Doni tidak perlu menegur ataupun mengajak basa-basi Bintang, ia takut salah bicara dan membuat Bintang pergi lagi. Doni tidak ingin hal itu terjadi, semua harus dirubah mulai sekarang, apapun yang bersarang diotak dan hatinya harus dia pendam.


Clarissa turun dari lantai atas dan berlari menuju pintu utama membuat Doni dan Bintang menoleh namun tidak terlihat kenapa Clarissa berlari keluar. Tidak membutuhkan waktu lama, Clarissa datang dengan diikuti Kanya dan Edo.


"Pa, Kanya sama Edo mau gabung gak apa-apa kan ya?"


Doni tersenyum dan berdiri. "Oh ya, tidak apa-apa."


"Selamat malam om," Edo menunduk sedikit.


Doni mengulurkan tangannya. "Saya Doni, papa Clarissa."


"Saya Edo om, teman sekelas Clarissa semester satu dulu."


Clarissa menghampiri, meminta Kanya dan Edo duduk. "Edo yang bantuin Ica latihan basket dan dapat nilai bagus pa."


Doni mengangguk bangga dan menoleh pada Bintang yang tersenyum tipis. "Edo tidak akan dipakai kalau saja dulu Putra sudah memberitahu soal perasaannya."


Hal itu membuat semuanya terkekeh dan hanya Clarissa yang mengerucut sedih, kenapa juga kakaknya membahas soal ini. Bahkan Clarissa tidak menjawab pertanyaan Doni soal kenapa Putra tidak diundang sekalian.


"Terima kasih om, sudah diundang untuk makan malamnya." Ucap Edo pada Doni dan dia tersenyum menatap Bintang. Keduanya menanggapi dengan tersenyum pula.


"Anggap saja karena kamu sudah berbaik hati membantu Clarissa dimasa sulitnya selama disekolah, Edo." Doni menepuk bahu Edo pelan. "Huah, rasanya om seperti menyetujuimu bersama Kanya,"


"Ya harus dong om," sela Kanya.


Doni terkekeh. "Yang penting jangan lupa belajarnya, ya sudah, hati-hati dijalan."


Kanya dan Edo sama-sama mengangguk, keduanya berpamitan untuk pulang. Mereka sengaja tidak membawa kendaraan karena rumah Kanya dan Clarissa berdekatan, hanya perlu menyebrang dijalan yang tidak ramai, maklum, mereka tinggal diperumahan dengan penduduk yang terkenal sibuk.


"Buah kak," sapa Doni, menaruh piring berisi beberapa buah segar yang telah dikupas oleh bi Siti diatas meja. Bintang sedang duduk didepan televisi yang menyala tapi matanya fokus menatap laptopnya. "Bagaimana magang dihari pertama?"


Bintang berhenti sejenak dari kegiatannya. "Cukup baik, semua ramah dan tidak terlalu memberatkan Bintang."


"Kenapa kamu memilih perusahaan itu?"


"Siapa yang tidak tau soal perusahaan itu pa, nomer satu dengan hasil import-ekspor yang sempurna. Teman-teman Bintang juga mengatakan hal yang baik setelah magang dari sana." Jelasnya, cukup membuat Doni termangu sebentar sebelum dia meraih garpu dan menyantap buah. "Bintang dengar, mama sempat magang disana setelah salah satu Dokter ditempat pertama mama magang membawa mama kesana."

__ADS_1


"Betul,"


Bintang mendongak menatap papanya, dia tengah duduk dilantai berbulu dan bersender pada sofa panjang yang diduduki oleh papanya. "Kenapa mama bisa dibawa ke perusahaan itu pa? padahal mama magang dirumah sakit kan?"


"Katanya mamamu itu lumayan bagus kerjanya, makanya dibawa kesana, tambah pengalaman juga kan? menjadi dokter pribadi juga kan?"


"Mama kan dokter kandungan pa,"


"Yap, tapi dulu semasa kuliah mamamu hanya mengambil kebidanan terus lanjut S1-S2 menjadi dokter kandungan. Begitu," jelasnya, takut Bintang salah pemahaman. "Lanjutkan saja tugasmu,"


"Sebentar lagi siap."


Doni tidak mengganggu, bahkan televisi yang menyala sengaja Doni kecilkan volumenya. Takut mengganggu.


"Pa,"


Oanggilan Bintang membuat Doni mengalihkan perhatiannya dari televisi dan menatap putranya, Bintang sedang mematikan laptop pertanda tugasnya sudah selesai dan laki-laki itu duduk didekat Doni.


"Hm..."


"Bintang sudah putuskan,"


"Soal apa?"


"Raisa,"


Mendengar hal itu, Doni memposisikan dirinya menghadap Bintang dengan benar.


"Bintang akan tetap tanggung jawab, apapun resikonya, dan siapapun dirinya. Bintang terima Raisa,"


"Kakak yakin?"


Bintang mengangguk mantap.


"Papa, tidak tau harus mengatakan apa, tapi dokter Gio bilang dia akan membantu soal semuanya."


"Jangan," Doni mengerutkan dahinya. "Jangan libatkan keluarga itu, Bintang bisa atasi masalah Bintang sendiri, Raisa mengandung darah daging Bintang, tidak ada yang berubah. Bintang tetap akan bertanggung jawab seprti papa."


Doni tersenyum mendengar itu, setidaknya Bintang bangga terhadapnya.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2