
...πΌπΌπΌ...
Anita menyesap teh yang telah tersaji dengan tenang, menegak, merasakan setiap rasa yang mengalir pada tenggorokannya. Bibirnya tersungging tipis setelah menaruh gelas kecil ke atas meja. Ia menatap lagi wanita yang sejak kedatangannya sudah menatap tidak suka.
"Kenapa?" tanyanya.
Wanita itu mendengus kesal. "Tidak bisakah kamu membiarkanku tenang, Anita. Rasanya, kemanapun aku pergi selalu bertemu kamu, hebat ya kamu selalu ada dimana-mana."
"Apa inti dari kalimatmu itu sedang mengusirku?"
Wanita itu menaruh dagunya diatas tangannya yang bertautan diatas meja. "Tepat sekali. Dari tadi aku ingin sekali memanggil satpam untuk mengusirmu."
"Sayangnya, itu tidak bisa kamu lakukan." Ia tersenyum tipis lagi. "Maaf Clara, kalau aku boleh memberitahumu, mall yang sedang kamu singgahi ini adalah milik adik iparku dan kafe yang sedang kamu nikmati tehnya adalah milik istrinya. Jadi, apa bisa mereka melakukan hal itu?"
"Huh, sombong sekali. Apa adik iparmu dan istrinya itu tahu, kalau kamu meninggalkan suami dan anak perempuanmu demi harta kakaknya." Clara menatap sinis, lemparan ini adalah yang tepat untuk menjatuhkan Anita.
Sialnya, Anita malah tersenyum simpul dan menatap ponselnya. "Duh, kamu tidak bosan ya mengatakan hal itu berulang kali. Adik iparku dan istrinya bahkan sesekali mengunjungi mantan suamiku yang terbaring sakit, dan terkadang mereka membawa anakku untuk berlibur."
"Penjilat."
"Pelakor." Balasnya masih dengan senyum tipisnya.
Clara tidak membalas lagi, dia ingin bangkit tapi tehnya baru saja datang. Lagian jika dia yang memilih pergi, Anita pasti akan merasa telah menang darinya.
"Tidak pergi?" tawar Anita. "Masalahnya, aku ingin bertemu dengan teman-temanku disini."
"Ya bertemu saja, kenapa malah menyuruhku pergi."
Anita menggeleng lemah. "Aku masih memikirkan perasaanmu, Clara. Ini teman-teman kuliahku, jika saja mereka melihatmu disini, kamu bisa dihina habis-habisan. Kamu tahu kan? kalau berita kamu merebut suami orang dan bahkan sampai hamil sudah menyebar."
Napas Clara memburu habis, dia ingin sekali menjambak dan menampar wajah teman lamanya ini.
"Soalnya image kamu sudah jelek dipikiran teman-teman kuliah dulu, apalagi kamu beberapa kali hamil diluar nikah bukan? oh iya, bagaimana dengan kabar kedua anakmu?" Anita kembali menyesap tehnya. "Sudah lulus kuliah atau masih kuliah? atau malah sedang bekerja sepertimu, merusak rumah tangga orang?"
"Sialan. Berani-beraninya kamu mengatakan itu." Ujarnya sembari berdiri, dia tidak lagi memperdulikan orang-orang yang menatapnya heran. "Tidak malu ya membawa-bawa anak dalam pertengkaran ini."
"Soalnya aku bosan. Kamu selalu mengeluarkan kalimat untukku yang orang lain saja sudah tahu itu. Jadi aku ingin membawa-bawa anakmu juga, sayangnya anakku tidak seperti anakmu bukan?"
"Kamu merasa maha sempurna sekali ya Anita? bahkan merasa anakmu itu bersih dibandingkan anak-anakku." Ujarnya semakin kesal.
__ADS_1
"Kamu sendirikan yang membawa masalah anak-anak. Kamu yang membuat anak semanis Clarissa menangis, dan membuat anak sebaik Bintang menjadi membenci ayahnya." Anita menggeleng kecil. "Kalau semua sudah terbongkar, kamu harus membayar semuanya."
"Apa yang perlu dibongkar?"
"Perlu aku bongkar saat ini juga?" tantangnya kembali. Wanita seperti Clara memang tidak perlu diberi kasihan.
Clara bersidekap. "Kamu tidak capek ya, terus mencampuri urusan rumah tangga orang. Apa kamu tidak takut kalau Dinda merebut suamimu? yang aku dengar dulu suamimu pernah mengejar Dinda."
"Dinda tidak akan mencontoh dirimu, dia sudah cukup belajar darimu." Anita terkekeh. "Lagi pula tidak ada yang perlu ditakuti. Sepertinya kamu yang harus takut, karena jika semua orang tahu apa yang terjadi. Kamu akan benar-benar hancur..."
Clara tersenyum tipis. "Lihat saja....."
"Clara....."
Clara menoleh, dia ingin marah karena seseorang menghentikan kalimatnya. Matanya melebar, melihat dua wanita seumuran dengannya menghampiri meja mereka.
"Iya, betul ini Clara..."
Wanita lainnya duduk disebelah Anita. "Kamu undang dia kesini juga An?"
"Tidak, aku tidak sengaja bertemu dengannya disini. Kalau aku ingin mengundangnya, aku harus memberi kabar kepada kalian dulu kan?" ucapnya, dengan senyum yang Clara anggap sangat-sangat menyebalkan. "Tidak baik mengundang orang tanpa memberitahu anggota yang lainnya."
"Lebih baik kamu pergi dari sini, Clara." Ucap wanita yang berdiri didekat Clara. "Sebelum Mika datang, bisa berantakan acara hang out kami jika itu terjadi."
Wanita yang masih berdiri tertawa melihat tingkah Clara yang pergi terburu-buru tanpa memikirkan kandungannya. "Bodooh. Mika kan sudah menetap di Jerman, bagaimana bisa dia kembali kesini hanya untuk pertemuan sederhana kita."
"Dasarnya tolool ya tetap saja tolool." Ujar wanita yang duduk disebelah Anita. "Rasanya aku ingin membongkar kebusukan dia pada Doni, kasihan sekali, aku dengar mantan istrinya sampai serangan jantung ya?"
Anita mengangguk. "Kasihan. Anak yang menjadi korban."
"Dari dulu Clara tidak berubah ya."
Wanita yang duduk dihadapan Anita menggeser gelas bekas Clara. "Sifat seperti itu sudah mendarah daging, mana bisa dia berubah say."
...πΌπΌπΌ...
Clara menghentakkan kakinya disepanjang koridor Rumah Sakit. Napasnya memburu kesal. Dia ingin sekali menghancurkan Anita. Dia ingin melihat bagaimana Anita menangisi hidupnya.
Dia buka pintu ruangan Doni dengan kasar, hingga pemiliknya tersentak kaget. "Sayang, kamu kenapa?"
"Don, bisa gak sih kamu menyingkirkan Anita?"
__ADS_1
Doni berdiri. Menghampiri Clara dengan santai dan menuntun kekasihnya itu untuk duduk. "Tenang. Jelaskan apa yang terjadi?"
"Dia menghinaku didepan teman-teman kuliahku." Nadanya terdengar benar-benar kesal, napasnya memburu karena menahan emosi.
"Dokter Anita melakukan itu?" Tanya Doni santai.
Clara memandang sinis. "Kamu tidak percaya apa yang kubilang?"
Doni tampak diam, lalu dia mengelus lembut tangan Clara yang ada pada genggamannya. "Aku tidak tahu kalau kamu mengenal baik dengan Dokter Anita hingga membuat dia menghinamu didepan teman-temanmu. Katamu hanya saling tahu saja, kalau sekedar tahu tidak mungkin dia melakukan hal itu kan?"
"Don...." Clara lupa, dia tidak pernah mengatakan tentang hubungannya dengan Anita bagaimana.
"Kamu membohongiku? kamu tidak jujur soal itu?"
"Itu hanya kebohongan kecil. Kamu ingin mempermasalahkannya?" Clara mulai kesal terhadap sikap Doni.
"Hal kecil saja kamu mampu melakukan kebohongan. Bagaimana dengan hal yang besar?" Doni mulai memojokkan kekasihnya dengan pertanyaan-pertanyaan sarkas, terlihat Clara sudah kesal tapi tidak dapat mengambil sikap lebih. "Apa hubunganmu dengan Dokter Anita tidak baik? keluarga Adietama tidak akan pernah mengusik orang lain jika orang lain itu sendiri tidak mengganggunya lebih dulu."
"Kepercayaanmu mulai hilang ya, Doni? kamu tidak ingat dengan bayi yang ada pada kandunganku?" Ucapnya mulai membuat Doni menghela napas.
"Justru itu sayang. Aku perduli makanya aku menanyakan hal itu."
"Apa hubungannya? kamu menanyakan seperti memojokkan kalau aku yang telah melakukannya lebih dulu." Ujar Clara dengan nada semakin meninggi.
"Kamu yang tidak ingat dengan kondisi kandunganmu, padahal hal sekecil apapun dapat mempengaruhi kandungamu, Clara." Doni melepaskan genggaman itu dan dia berdiri, meraih jas putihnya yang dia gantung. "Aku harus memeriksa pasien, kamu pikirkan baik-baik siapa yang memulai lebih dulu, dan minta maaflah jika kamu yang memulainya."
"Jika bukan aku yang memulainya?"
Doni menerawang kearah lain. "Aku yang akan menanyakan langsung pada Dokter Anita dan aku akan mendiskusikannya dengan Dokter Gio."
Clara tersenyum tipis. Dia berdiri dan membantu Doni merapikan jas yang akan dikenakan. "Baiklah. Akan aku pikirkan siapa yang bersalah dengan matang-matang."
Doni mengangguk. "Aku pergi."
"Kamu akan memeriksa siapa?" Clara merangkul lengan Doni manja. "Dinda?"
"Dinda sudah aku periksa siang tadi." Mengelus dagu Clara lembut. "Aku pergi ya, berpikirlah."
Setelah kepergian Doni, Clara berjalan menuju kursi kebesaran milik Doni. Dia duduk dan memperhatikan seluruh sudut ruangan milik kekasihnya itu. Dia tampak tenang untuk berpikir, menuruti apa yang telah Doni katakan, memikirkan siapa yang bersalah dan kesalahannya karena sudah berbohong.
Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyuman. "Lihat saja Anita. Kamu akan mendapatkan balasan dariku."
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ