Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:30


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Clarissa menangis kuat, dia datang bersama Daze dan Marisa yang kebetulan ikut bergabung berkumpul dikafe tempat mereka janjian. Daze dan Marisa berlari kearah lain untuk mencari keberadaan orang tua mereka yang bekerja di rumah sakit milik Gio, mereka semua tidak bisa menghubungi nomor Gio sejak tadi, meminta bantuan agar Kanya dapat diselamatkan.


Lira, mama Kanya sudah berlari tergopoh-gopoh kerumah sakit saat mendengar kanar buruk ini. Perempuan itu menangis dalam pelukan sang suami disamping Edo yang berdiri menatap pintu ruangan dengan nanar, beberapa petugas kesehatan dan salah satu Dokter panik didalam sana.


Erlangga yang berdiri disamping Clarissa, menarik perempuan itu kedalam pelukannya. "It's okey."


Clarissa terisak, dia tidak kuat menahan sesak didadanya, bagaimana jika Kanya meninggalkannya? bagaimana jika Kanya tidak selamat? semua pertanyaan bersarang dibenaknya. Clarissa tidak ingin kehilangan Kanya, saat matanya menatap darah merah yang menempel dikemeja putih Erlangga semakin membuatnya terisak kuat. Clarissa mengencangkan pelukannya pada Erlangga.


Pelukan mereka terputus saat Noel, Delisa dan Vina berlari datang, Clarissa berganti memeluk mama Kanya.


Kanya adalah teman terbaiknya sejak kecil, jika Kanya pergi siapa yang akan menjaganya nanti didunia perkuliahan?


Setengah jam belum ada kabar sampai Gio datang bersama Bramantio dan Rinda dibelakangnya. "Saksi?"


Erlangga mengangkat tangannya saat papa Rinda bertanya. Gio menepuk bahu Erlangga. "Tabrak lari om,"


"You sure?"


"Ya, pelakunya sama."


Rinda maju. "Maksud lo apa Er?"


"Dia."


"Dia?" semua orang menatap Erlangga.


Erlangga menatap Bramantio dan Gio bergantian. "Orang yang membuat Er kecelakaan beberapa bulan lalu."


"Sialan." Rinda berdecak. "Jangan bilang,,,,,"


Bramantio menarik putranya. "Siapa?"


"Musuh Erlangga pa, tiga kali kalah balapan sama Erlangga." Rinda mengusap wajahnya. "Dia masih dedam,"


"Er udah kejar sampai lombok om, kabarnya dia disana." Jelas Erlangga, "tapi nihil, Er udah lapor polisi soal platnya."


"K-kenapa anak kami?" Semua menatap papa Kanya. Pria berbadan gempal itu menahan air matanya. "Kenapa Kanya yang menjadi sasarannya padahal dia tidak dekat dengan Erlangga."


"Tenang om," Rinda menghampiri papa Kanya. "Mungkin ini salah paham, saat itu Kanya ada disekitar Erlangga. Kami akan usut tuntas."


Mama dan papa Kanya saling memeluk mencari kekuatan, masih kebingungan mengapa harus anak mereka yang kena imbasnya.


"Er, ikut kami kekantor polisi." Ucap Bramantio saat setelah dia menerima panggilan dari kantor polisi. Gio dan Rinda bergerak ikut.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


"Raisa...." Bintang berlari kalang kabut memasuki kantor polisi, dia melihat kekasihnya duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki yang tidak asing? kenapa dia disini, Bintang tidak perduli. "Raisa...."


Raisa mendongak, melihat Bintang yang menatapnya panik. Tangan laki-laki itu gemetar meraih kedua tangan Raisa yang diborgol.


"Stop Bintang," mengangkat tangan yang Bintang genggam. "Aku minta polisi kesini karena biar kamu paham."


"Apa maksudnya."


"Berhenti bego," mendengus kesal. "Aku cuma manfaatin kamu."


"Raisa,,,,"


"Lepas ihhh,," Raisa menepis tangannya. Laki-laki disebelah Raisa berdiri dan menggeser tubuh Bintang.


"Sialan." Umpat Bintang.


"Sorry kak, jangan ganggu Raisa." Ujarnya pelan. Bintang menatap pada laki-laki disebelah Raisa. Laki-laki yang dia kenal sedang mendekati adiknya.


"Ini ada apasih?"


"Bintang...." Bintang menoleh, pada Gio yang berdiri disebelah dua teman seumuran Clarissa dan satu pria berbadan tegap mengenakan pakaian seragam kepolisian. "Kamu sedang apa disini?"


Bintang menepis rasa kesal pada Gio saat ini, dia menatap Raisa lagi. Berjongkok dihadapan kekasihnya. "Raisa, jelasin ini ada apa?"


"Sebentar kak," Erlangga mendorong Bintang menjauh. Tangan laki-laki itu mencengkram leher Raisa yang tersenyum sinis padanya.


"Erlanggaaaaa....." Bintang berteriak kencang, dua polisi menahan lengannya, membuatnya hanya berteriak melihat perlakuan Erlangga pada Raisa. "Stop, jangan sakiti Raisaaaa...."


"Gue kira lo udah gak ada."


"Gue masih ada."


"Gak takut lo berkeliaran disekitar Putra?"


Raisa tersenyum sinis. "Gue cuma mau lo."


Tangan Erlangga membuat Raisa mendangak, laki-laki disebelah Raisa langsung berdiri mencoba melepaskan tangannya dari leher Raisa. "Gak nyangka gue sama lo KAK Rehan."


Rehan terdiam menatap Erlangga, dia menurunkan tangannya.


Erlangga tersenyum tipis. "Lo berhasil dekati kak Bintang, dan saudara kembar lo berhasil deketi Clarissa. Gak puas lo sama apa yang Putra lakuin ke kalian?"


"Gue gak takut siapapun."


Erlangga menatap Gio. "Dia om, kakak kelas yang pernah membuat Clarissa trauma dan dirawat dirumah sakit selama satu bulan hanya karena mendekati Putra. Dan dia berhasil membuat Clarissa takut sama Adietama."


"Apa?"


"APAAA??!?!" Bintang berhasil melepaskan diri dari dua polisi yang mengungkungnya. "Apa yang kamu ucapkan barusan Erlangga?"

__ADS_1


Erlangga menatap Bintang, masih enggan melepaskan tangannya dari leher Raisa. "Dia perempuan yang udah buat Clarissa sakit dan sekarang dia buat Kanya sekarat."


"A-apa?" Bintang masih menatap tidak percaya.


"Kenapa Kanya?" Raisa hanya tersenyum sinis pada Erlangga. "KENAPA KANYA, GUE TANYAAA!!!!"


"Er tenang," Bramantio memperingatkan.


"KARENA GUE MAU LO, ERLANGAAAA!!!!" Teriak Raisa, membuat hati Bintang hancur mendadak. "Gue bakal hancurin kebahagiaan perempuan yang lo suka. PAHAM!!!!"


"Gak waras lo."


"Emang iya, kenapa? itu semua KARENA LO, ERLANGGAAA!!!!!" Raisa berteriak lagi. "LO GAK PERNAH ANGGEP GUE ADA, GUE SELALU DEKETIN PUTRA KARENA GUE MAU DEKET SAMA LO!!! KENAPA LO MALAH CUMA LIHAT....."


Erlangga membekap mulut Raisa, mengeluarkan seluruh tenanganya. "MATII LO BANGSAAAT, GO TO HELL!!!!! LO GAK ADA BEDANYA SAMA NYOKAP LO, PERUSAK!!!!"


"Er, stop Er...." Rinda menarik tangan Erlangga kuat-kuat, semua berusaha menyelamatkan Raisa dari diri kesetanan Erlangga.


...🌼🌼🌼...


Semua berubah tenang saat Erlangga dibawa oleh Bramantio keruangan lain bersama Rinda, Bintang berdiri disebelah Gio menatap Raisa datar. Bintang menunduk dan mencoba meraih tangan Raisa yang terdiam disana.


"Raisa... B-bagaimana dengan anak kita?"


Raisa mendongak. Lalu dia terbahak. "Anak kita? sejak kapan gue hamil, Bintang? gak sudi gue punya anak sama lo."


"R-Raisa..." Dia tidak menyangka jika Raisa tidak benar-benar mencintainya, bukankah selama ini hubungannya baik-baik saja? kenapa semuanya jadi berantakan.


Raisa tidak hamil?


Raisa adalah perempuan yang membuat adik kecilnya terluka?


Sebenarnya Raisa menginginkan Erlangga?


Apa yang sebenarnya terjadi, bahkan Bintang tidak bisa lagi berkata-kata, dia menelan semua kepahitan ini secara serentak.


Gio menerima panggilan dari rumah sakit, dan menyentuh bahu Bintang saat panggilan terputus.


"Kanya meninggal...." Selang beberapa detik Gio mengatakan hal itu, Raisa didepannya sontak tertawa keras dan bertepuk tangan kegirangan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


OKEY....


RASANYA PUAS NGEUPDATE BEBERAPA CHAPTER MALAM INI, HEHE...


AKU LAGI SEMANGAT GITU GUYS, NULIS.


MAKANYA SELAGI SEMANGAT, NULIS TERUS UPDATE AJA. DARI PADA DITUNDA-TUNDA KAN? HHHH.

__ADS_1


HAPPY ENJOY READING YAPSSS...


__ADS_2