Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:67


__ADS_3

...CHAPTER INI DIDEDIKASIKAN UNTUK MEYSA, KARENA SUDAH BERANI UNTUK BERUBAH PERIHAL TIDAK MENGGANGGU CLARISSA....


...🌼🌼🌼...


Meysa menatap sinis Putra, dia selalu mendapat nasib sial. Meminta maaf? itu bukanlah dia, tapi demi keinginannya terwujud ia lakukan. Menemui Clarissa dan menjelaskan kesalahpahaman kemarin. Ya walaupun semua yang menjelaskan adalah Putra, tapi melihat respon Clarissa sepertinya perempuan itu tetap tidak percaya bahwa dia sempat menolongnya.


"Puas?"


Putra mengangguk. "Sangat."


"Capek banget."


"Pulang, nanti gue kasih hadiah."


Tidak menanggapi. Meysa melangkah menjauh meninggalkan Putra dilorong toilet perempuan, dia berjalan menuju parkiran mobil saat hendak menghidupkan tombol untuk membuka kunci mobilnya dari jauh, ponselnya bergetar. Meysa membukanya dan membaca pesan yang baru saja masuk. Matanya melebar, dia berjingkrak kegirangan dan berlari menuju mobilnya dengan sangat bahagia.


"Seneng banget."


Meysa berbalik, dua temannya menatap datar. "Biasa aja."


"Kok gue ngerasa lo semakin aneh ya Mey?"


"Aneh kenapa?" membuka mobil pada bagian penumpang dan menaruh tasnya, lalu menutupnya dan kembali menatap kedua temannya. "Perasaan gue biasa aja loh."


Tyas bersidekap. "Lo berubah?"


"Berubah gimana sih Yas? kalau ngomong itu yang jelas, gue ini bego jadi gak bisa mencerna omongan lo." Ujarnya dengan nada kesal. Dia sedang tidak ingin berbicara dengan kedua temannya.


"Lo kelihatan lebih perduli sama cebol? Why? apa lo udah gak berminat lagi untuk dekatin Putra?"


Meysa tersenyum tipis. "Masih kok, masih banget malah. Tapi untuk dapetin Putra, gue rasa gue perlu berbaik hati sama cebol."


"Lo mengganti strategi tanpa ngasih tahu kita berdua."


Meysa maju, menepuk bahu Jesika. "Kalian berdua tetap melakukan hal sesuka kalian aja. Untuk urusan gue, biar gue yang menangani sendiri."


"Lo berniat pergi kayak Rosita?" Langkah Meysa terhenti. Dia mengurungkan niat untuk memutar mobil dan masuk kedalam kemudinya. "Gue sama Tyas ngerasa gitu loh. Seperti ada yang lo sembunyikan dan lo tuju tanpa memberitahu kita, lo udah bertindak sesuka lo tanpa kasih tahu kita sedikitpun. Ini yang lo bilang teman dekat?"


"Please, Jes, Yas, kalian berdua itu temen gue sama kayak Rosita. Kalian yang gue cari soal apapun. Bahkan sampai sekarang gue masih butuh Rosita yang gak pernah ada lagi buat gue." Meysa menghela napasnya. "Jadi tolong, Let me take care of myself this time. Gue tahu apa yang gue perbuat. You don't have to bother, because what I do will never bother you." Ucapnya dengan nada tegas sebelum masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan kedua temannya.


...🌼🌼🌼...


Didalam mobil Meysa hanya diam, dia bukan berubah menjadi Meysa yang lain, dia hanya ingin merubah pola pikirnya. Selama ini, dia berusaha mengganggu siapapun yang ingin mendekati Putra, Putranya. Tapi saat dia ingin mengganggu Clarissa, sesuatu telah merubahnya.

__ADS_1


Dari dulu Gio tidak pernah ikut campur, dan sekarang pria itu mulai mencampuri urusannya. Berani mengganggu Clarissa, hidupnya akan hancur. Apalagi, Bintang, laki-laki yang seharusnya berada disampingnya sudah menjauhinya karena kelakuannya yang sudah sering mengganggu adik mantannya itu. Jadi, ada baiknya Meysa berubah, merubah pandangannya soal Clarissa, perempyan yang selama ini dia ganggu bukanlah perempuan pendiam kebanyakan. Diamnya mampu membuat seluruh kehidupannya hancur termasuk papanya.


Ada yang lebih penting dibandingkan menuruti kakeknya yang menginginkan dirinya bersama Putra Rizqi Adietama.


Bintang Angkasa Adams. Meysa tersenyum tipis. Sejak kapan dia jadi semakin terobsesi pada laki-laki itu, Bintang tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya kepada sembarangan orang, dia hanya menaruh perhatiannya pada orang-orang terdekatnya saja, dan dia pernah ada diposisi itu.


Dia mengarahkan mobilnya berhenti diparkiran cafe langganannya bersama Bintang, dulu.


TRIINGG.....


"Meysaa..." Sapa barista perempuan yang melihatnya masuk dan berjalan langsung menuju bar. "Apa kabar? aku gak pernah lihat kamu kesini lagi."


"Sehat, hati aja yang gak sehat." Meysa tersenyum cuek.


"Dih, emang sejak kapan hati kamu baik-baik saja?" tanya perempuan itu. Meysa tertawa, hatinya memang sudah tidak baik sejak memutuskan untuk berpisah dengan Bintang.


"Hm..." Tidak perlu ditanggapi, Meysa menatap papan menu. "Gimana mau kesini, yang sering ngajak kesini udah gak pernah ngajak lagi."


"Kasiannya." Tawa ringan Meysa keluar. "Seperti biasa?"


Meysa mengangguk, matanya berkeliling menatap kelantai dua. "Dia pernah kesini?"


"Siapa? Bintang? enggak pernah kelihatan,"


Barista itu tertawa, "ya gimana ya? soalnya kalian dulu couple goals banget kalau lagi nongkrong berdua disini." Perempuan itu maju sedikit sembari menunjuk kelantai atas. "Tapi diatas ada adiknya Bintang."


"Clarissa?"


"Gak tahu namanya, soalnya Bintang pernah post foto bertiga sama mama sama adiknya itu."


"Ngapain kamu kepo sama instagram Bintang?"


Perempuan itu tertawa, menaruh minuman pesanan Meysa. "Ya sebulan putus sama kamu, aku berniat PDKT, tapi gak jadi, katanya udah ada gandengan terus semua sosial media Bintang dipegang sama pacar barunya."


"Dasar kamu ya." Meraih minumannya, "aku naik dehh.."


...🌼🌼🌼...


Matanya berkeliling mencari seseorang yang dikatakan oleh teman Baristanya itu, tapi pandangannya heran ketika melihat Erlangga tengah membaca buku disudut ruangan, sendirian. Meysa tersenyum tipis, dia berjalan kesana dan duduk tepat dihadapan laki-laki itu.


Kepala laki-laki itu sempay mendongak, dan kembali menunduk menatap buku. "Ada orang. Cari tempat lain."


"Penuh."

__ADS_1


"Gue gak perduli."


"Lo ngapain disini?"


"No comment."


Meysa tersenyum. "Ya elah Er,"


"Permisii...." Erlangga dan Meysa menatap seorang perempuan yang berdiri didekat mereka. "Kamu Erlangga dari SMA Gemilang Cahaya kan?"


"Iya." Erlangga berdiri, menatap Meysa. "Minggir, itu tempat duduk dia. Siapa nama lo?"


Perempuan yang berdiri didekat mereka menatap gelagap. "Naila."


"Minggir, itu tempat Naila."


Meysa tertawa. "Asekkk, lo lagi ngedate? gile, selera perempuan lo berubah Er??"


"Minggir,"


Bukannya menyingkir dia malah menatap perempuan bernama Naila itu. "Mba, maaf maaf nih ya, Erlangga gak akan bisa dideketin, soalnya dia suka sama perempuan kecil, pendek, pinter, pendiem dan dia gak suka sama perempuan yang ngajak dia ngomong duluan. Dia lebih suka sama yang mau diem-dieman sepanjang hari."


Naila hanya tersenyum tipis lalu menatap Erlangga. "Kalau kamu sibuk, lain kali aja kita ketemu."


"Sebenernya iya, tapi lo udah terlanjur disini." Erlangga menatap Meysa lagi. "Minggir atau gue seret."


"Santai," Meysa berdiri sembari menyeruput minumannya. "Gue kira lo disini lagi ngintai si cebol disuruh sama Putra. Ups. Kalian kan lagi gak bersahabat."


"Berisik." Menggerakkan tangannya memerintah Meysa untuk menyingkir. Lalu meminta Naila untuk duduk tanpa berbicara.


Meysa masih tidak pergi dari tempat itu. "Mbak, ngomong sama dia harus banyak-banyak istigfar."


"Pergi,,,, b*tch."


"Oww.." Meysa menahan tawanya. "Have fun ya mba ngomong sama batu."


Dia berlari kearah tangga dan menuruni dengan cepat, melupakan niatnya untuk menemui Clarissa. Toh untuk apa juga dia menemui Clarissa, sudah pasti akan dihujat dan dicemooh oleh teman-teman terdekay perempuan itu.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


...MEYSA AMALIA...


__ADS_1


__ADS_2