
...πΌπΌπΌ...
Jam istirahat masih panjang, hanya beberapa siswa yang menghabiskan waktu mereka didalam kantin tanpa memikirkan untuk belajar lagi. Clarissa masih duduk ditempatnya, ditemani oleh Kanya dan Vina, mereka memilih untuk diam dikelas sembari membolak-balik catatan pelajaran dan beberapa cemilan sudah tersedia dimeja berkat kebaikan Delisa.
Ketiganya mendongak, melihat Erlangga yang berdiri didekat mereka tanpa ekspresi. Tanpa mengatakan apapun laki-laki itu menaruh plastik putih diatas meja Clarissa.
"Apa itu Er?"
Erlangga menatap Vina datar. "Haruskah gue jelasin padahal lo bisa lihat sendiri apa isinya."
Kanya turut menatap Erlangga datar, dia langsung membuka plastik yang ditaruh oleh laki-laki itu. "Roti sama susu oreo, kok cuma dua,"
"Terus gue harus beli berapa?"
"Ini buat siapa?" Jawabannya terlihat dari dagunya yang terangkat, Kanya dan Vina menatap kearah Clarissa. "Buat Ica? kenapa cuma buat Ica,"
"Gue bukan babu yang harus beliin lo juga."
"Sejak kapan Ca, Erlangga jadi babu lo?"
Clarissa menggeleng. "Itu disuruh Putra."
"Ooohhhh!!" Kanya dan Vina sama-sama ber-oh, membulatkan mulut keduanya. "Bilang dong...."
Kalimat Kanya berhenti, Erlangga sudah tidak ada didekat mereka lagi. Sudah tidak heran bagi semua orang, bahwa Erlangga adalah salah satu manusia yang sempat tertinggal saat pembagian basa-basi sebelum dia dilahirkan. Kanya menatap Clarissa, "udah sering dia disuruh Putra buat nganterin lo ini Ca?"
Clarissa mengangguk.
"Mau aja si Erlangga."
"Kan pertemanan mereka itu erat banget loh, makanya gak heran." Ucap Vina, menjelaskan dari kebiasaan Putra dkk. Tidak hanya Erlangga yang mau dititipkan amanah oleh Putra, hanya saja saat ini Erlanggalah yang tersisa untuk dimintai tolong oleh Putra. Daze sibuk dengan Marisa, Noel sibuk dengan Delisa, Rinda tidak muncul dikantin sedangkan Putra sendiri masih sibuk diruang kepala sekolah entah sedang mendiskusikan perihal apa. "Nyak, balik kekelas yuk."
"Nanti ahh, masih lama juga bel masuknya." Tolak Kanya, dia kesal tidak bisa sekelas dengan Clarissa, selain susah mencontek juga dia tidak bisa jauh dari Clarissa barang sebentar. Alasan lainnya, karena Edo berada dikelas ini, dia bisa sepuasnya untuk curi-curi pandang.
...πΌπΌπΌ...
"Vin, lo mau roti gue gak."
"Boleh." Memotong kecil bagian roti yang Clarissa sodorkan, padahal itu siasat Clarissa untuk menyelamatkan Kanya dari ajakan Vina yang ingin cepat kembali kekelas.
Clarissa berdiri membuat Vina dan Kanya sontak mendongak. "Rinda...."
Rinda menghentikan langkahnya, dia menatap Clarissa sekilas lalu dia menunduk ketika perempuan mungil itu berjalan mendekatinya. "Lo kemana aja, nihh...."
Terlihat gemetar, Rinda meraih ponsel yang disodorkan oleh Clarissa, entah kenapa dia malah melihat kearah Erlangga dan beberapa teman yang sedang berkumpul didekat temannya itu. Rinda menekan tombol hidupkan pada layar video diponsel Clarissa, bibirnya mengembang perlahan.
"Ini seriusan Ca?"
Clarissa mengangguk, "gue mau ngasih itu tadi tapi lo kelihatan buru-buru mau nemuin bu Siska kan?"
"Iya," tanpa menjawab panjang lebar, dia berulang kali mengulang video yang dia putar. "Lo nepatin janji lo Ca."
"Iya dong," dengan membawa ponsel Clarissa, Rinda berjalan menghampiri gerombolan yang mengelilingi Erlangga. "Er, lihat deh..."
Erlangga melihat sekilas, tampilan itu membuat semua yang berkumpul disana ikut melihat penasaran. "Dih, Joakim Karlson, serius itu video ngucapin salam sama lo."
"Ya dong." Ucapnya sombong. "Clarissa kan nonton, dia punya tiket VIP makanya bisa ketemu langsung."
"Astaga, iya, jadi lo Clarissa yang dipanggil keatas panggung itu?" laki-laki tinggi dengan sepatu biru menatap Clarissa. "Gue nonton tapi gak tau kalau itu lo temen satu leting gua, maklum kita gak pernah tegur sapa. Lagian dandanan lo terlalu cute malam itu, gue sampai gak ngenalin."
"Lo nonton konser Bad Omens?" Clarissa bergerak mendekati kumpulan mereka. "Lo berdiri dimana?"
"Barisan depan,"
"Sama siapa?"
"Ca!!" Clarissa menatap Kanya, ekspresi sahabatnya itu mengisyaratkan tentang apa yang tengah dia tanyakan.
"Sama rombongan gue," jawab laki-laki itu ketika Clarissa mengabaikan Kanya dan malah kembali menatapnya. "Gue juga lihat Rinda dipintu masuk kan, Rin?"
Wajah Rinda tampak kaget dengan lontaran tiba-tiba Jeno, laki-laki yang duduk santai diatas meja dan sedang berhadapan dengan Clarissa. Rinda mengangguk pelan. "Rinda, lo nonton konser Bad Omens juga?"
__ADS_1
"I-iya."
"Lo berdiri dimana?"
"Dibelakang,"
"Sama???"
"Anak motor."
Clarissa tampak diam, pertanyaan anehnya membuat semua teman yang sedang berada dalam kelas menghentikan obrolan mereka dan menatap Clarissa. Masalahnya mereka tidak pernah mendengar Clarissa secerewet ini.
"Ke-kenapa Ca?"
"Lo..... Ada kepohon-pohon gak?"
"Pohon?" Wajah Rinda tampak memucat, dia melirik Kanya yang menatapnya datar, melihat Erlangga yang duduk menantikan jawabannya, melihat teman-teman yang lain seperti ingin ikut campur dalam pertanyaan Clarissa. "Pohon mana ya, bay the way? kan ada dua pohon."
Clarissa memposisikan berdirinya lurus pada Rinda. "Pohon besar yang ada diujung kiri kalau dilihat dari atas panggung."
Rinda menggeleng pelan. "Enggak, gue-gue kumpul dipohon yang sebelah kanan."
"Sebelah kanan? menghadap panggung." Memastikan ulang agar tidak ada kekeliruan.
"Bu-bukan, yang kalau dilihatnya dari atas panggung."
Kanya berdiri dan bersidekap. "Kenapa Ca?"
"Gak apa-apa kok," Clarissa mengulurkan tangannya. "Hp gue,"
"Oh ini." Menyerahkan ponsel pada sang pemilik. "Lo ada nomer gue kan? nanti kirim ya?"
"Iya," Clarissa berbalik hendak kembali ketempatnya duduk, namun dia berhenti ragu dan kembali melihat kearah Rinda yang duduk didepan Erlangga. "Rinda,,,"
Rinda berdiri mendadak, menatap kaget kearah Clarissa. "Tinggi lo berapa?"
"170. Kenapa?"
"Pendek."
Clarissa berhenti tepat dimeja Delisa, dia melihat Noel yang ikut bingung serta gagu ketika Clarissa memperhatikan. "Kenapa Ca?"
Clarissa menggeleng melihat Delisa dan kembali menatap Noel. "Lo malam minggu kemana?"
"Dirumah gue." potong Delisa.
Clarissa menatap sekilas dan kembali melihat Noel. "Pulang jam berapa?"
Noel menggaruk pelipisnya. "Jam sembilan."
"Habis dari situ kemana lagi?"
"Pulang kerumah."
"Kenapa sih Ca?" Delisa turut menatap heran, perbincangan itu kembali membuat seisi melihat kearah Clarissa. "Lo lihat Noel jalan sama perempuan lain ya?"
"Ya ampun sayang, aku langsung pulang kok."
"Enggak kok Del, gue cuma iseng tanya aja." Dia melanjutkan perjalanannya lagi dan berhenti sebentar lalu menatap Delisa dan Noel yang masih memperhatikannya. "Bay the way, Arnold."
"Astaga, Noel aja kali Ca."
"Iya." Jawabnya.
"Kenapa?"
"Tinggi lo berapa?"
Alis Noel berkerut. "168cm. Why?"
"Pendek."
Delisa menutup mulutnya, menahan tawa seketika, ingin mendukung ucapan Clarissa, tapi tidak ingin menyakiti kekasihnya. Wajah Noel terlihat ikut menahan tawa tapi tidak dia keluarkan karena hanya beradu tatap dengan Clarissa yang mulai berjalan menuju tempat duduknya.
__ADS_1
"Kenapa No?" bahunya ditepuk oleh Putra yang baru saja masuk keruang kelas.
Mulutnya menunjuk Clarissa. "Rese banget jadi cewek."
Putra berjalan menghampiri Clarissa, duduk dimeja sebrang perempuan itu. "Kenapa Ca?"
"Gak apa-apa,"
"Emhh, jawaban cewek banget." Rinda turut menimpali. Clarissa hanya menatap datar.
"Put,"
"Hem?" menatap Clarissa setelah tersenyum tipis kepada Rinda. "Kenapa?"
"Tinggi lo berapa?"
"185cm. Kenapa Ca?"
Kanya bertopang dagu diikuti Vina. "Lo kenapa sih Ca? dari tadi lo nanyain tinggi mereka-mereka ini?"
"Gak apa-apa." Clarissa menatap Putra dengan ragu-ragu, dia berusaha mengontrol deguban jantungnya ketika berbicara dengan Putra. "John Varvatos Artisan."
Kembali dia menjadi pusat perhatian, sepertinya setiap kata yang Clarissa lontarkan membuat semua orang penasaran dibaliknya. Putra menegapkan badannya. "Merek parfum kan?"
"Parfum lo?"
Putra mengangguk samar, "gue termasuk suka koleksi parfum si, dan itu termasuk dalam katogeri yang gue koleksi. Kenapa sama parfum itu?"
"Lo pernah denger musik Bad Omens?"
"Pernah, favorit gue Never Know sih? why Ca?" Mata Putra menyipit. "Nyambungnya parfum sama Bad Omens apa ya? jauh banget pertanyaan lo?"
Clarissa tampak berpikir tenan tidak menanggapi. "Sampai di Jakarta jam berapa?"
"Jam setengah sepuluh malam."
"Langsung ke rumah?"
"Iya dong, nyokap nungguin gue." Putra melirik Kanya dan Vina bergantian, bahkan dia sempat menoleh kebelakang melihat kearah Erlangga dan Rinda serta teman-teman lainnya yang melihat kearahnya. Putra juga sempat menatap Noel yang mengangkat bahunya pertanda tidak tahu. "Ada apa sih Ca? Ada masalah sama konser Bad Omens? gue denger lo sempet naik panggung."
"Hem.." Clarissa menunduk, meremas kedua tangannya dengan pelan. Lalu kembali menatap Putra. "Beneran langsung pulang? gak mampir kemana-mana dulu gitu?"
"Beneran." Tangannya terangkat dengan mengacungkan dua jari. "Sumpah."
Punggung Putra ditepuk pelan. "Gue mau kekelas, bareng gak?"
Melihat Rinda yang berdiri didekatnya, dia menggeleng pelan. "Nanti dulu. Lo mau kemana Er?"
"Nganterin Rinda."
"Dih, manja bener lo Rin?" Kanya spontan menyempatkan membuat Rinda melirik tajam sebelum laki-laki itu beneran pergi.
Melihat Erlangga dan Rinda keluar ruangan, Clarissa kembali berniat mengeluarkan pertanyaan dengan siapapun yang ingin menjawab. "Erlangga, berapa sih tingginya?"
"Astaga, apalagi sih Ica?" Noel yang tadinya hanya fokus pada Delisa, tiba-tiba sudah duduk didekat mereka. "Kenapa sih? ada yang salah sama tinggi semua orang?"
"Gue cuma mau tahu aja kok."
"182cm, rendah dikit dari Putra."
"Dia suka Bad Omens kan?"
Putra dan Noel sama-sama mengangguk. "Tapi dia gak mungkin nonton konsernya Bad Omens sih, soalnya Omanya masuk Rumah Sakit."
"Oma kenapa No?"
Noel menatap Putra. "Saham di Restoran anjlok, makanya drop." Noel melihat kearah Clarissa lagi. "Sebenernya ada apa sih Ca?"
"Stik drum pemberian Nick folio sama album terbaru Bad Omens hilang."
"WHATT!?!?!?!?"
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ
__ADS_1