Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:82


__ADS_3

..."Semua boleh pergi asal jangan ibu, nanti duniaku berantakan."...


...-Adipati_doolken-...


...🌼🌼🌼...


"Anak-anak sudah pada bangun Bi?"


Bi Siti mengangguk. "Sudah pak, tapi sepertinya belum enggan turun."


Doni mengangguk. Dia paham kalau semua ini terlalu cepat mereka pahami, seharusnya Doni mengatakannya lebih dulu pada Bintang tentang semuanya. Dan seharusnya dia lebih paham tentang kondisi Clarissa, gadis kecilnya itu sudah terlalu banyak menangis, semalaman dia mengurung diri dikamar dan terus menangis.


Merasa khawatir akan anak-anaknya, Doni bangkit dari duduknya, sudah hampir satu jam dia menunggu dimeja makan. Lauk pauk yang telah di sajikan oleh Bi Siti hampir dingin. Dibukanya pintu kamar Clarissa, disamping putrinya ada Bintang yang sedang memeluk Clarissa erat dengan wajah yang terlihat jelas, panik.


"Bintang, ada apa dengan Ica?" tanya Doni membuat Bintang tersentak kaget, Clarissa masih terbaring, dia terus mengigau dan badan yang sudah dibanjiri keringat. Doni berjalan kesisi Clarissa yang lain, di sentuhnya dahi putrinya. "Demam? kenapa tidak bilang papa?"


Bintang tidak menjawab.


"Astaga kakak. Ini demam tinggi, kamu bagaimana sih?" Doni hendak mengangkat Clarissa untuk dia bawa ke Rumah Sakit, namun tiba-tiba Clarissa memeluknya.


"Mama...." Rengeknya. "Ica kangen mama."


Ruang kamar Clarissa mendadak sempit, kata yang Clarissa keluarga begitu menghantam kepala Doni kuat-kuat. Ya. Ini semua kesalahannya, Dinda tidak akan pergi meninggalkan keluarga kecilnya jika dia tidak lebih dulu meninggalkan. Dengan gemetar Doni mengelus puncak kepala anaknya, "maaf ya. Papa tidak bisa menjaga mama dengan baik. Maafkan papa."


Bintang hanya menunduk disana, suaranya sudah menghilang sejak kepergian mamanya. Dia enggan berbicara karena rasanya menyesakkan jika dia bertanya atau sekedar memulai pembicaraan.


"Kita ke Rumah Sakit ya? Ica sakit." Pinta Doni sebelum menggendong Clarissa. Namun tangan mungil itu mencegahnya. "Kenapa sayang?"


"Ica gak mau ke Rumah Sakit," mungkin karena disana adalah tempat terakhir mamanya dapat dia lihat. Clarissa jadi takut untuk melangkah kesana. "Ica mau dirumah aja, sama papa."


"Iya, okey." Doni menatap Bintang. "Kak, tolong ya minta bi Siti menyiapkan air dingin untuk mengompres Ica, minta juga buatkan bubur dan obat penurun panas dan bawakan kesini."


Bintang mengangguk, dia berdiri meninggalkan kamar Clarissa.


Doni terus memeluk Clarissa erat, bibirnya menggumam maaf disela Clarissa yang tersedu menangis. Sekalipun Dinda sibuk, Clarissa selalu dapat melihat bagaimana keadaan Dinda, lalu bagaimana dengan sekarang? dia tidak bisa lagi melihat Dinda dimanapun dia berada, Rumah yang dia singgahi menjadi hampa dan kosong. Perasaan Clarissa juga turut kosong, kepergian mamanya adalah letak kehancurannya.


Satu-satunya orang yang harus disalahkan oleh musibah ini adalah Doni. Doni, ayah mereka. Donilah penyebab Clarissa kesakitan, Donilah penyebab Bintang tampak terasa kosong dan tidak bersemangat.

__ADS_1


Anak-anaknya berubah. Doni yang merubah mereka. Jangan salahkan siapapun, jangan salahkan Clarissa karena terus sakit, jangan salahkan Bintang karena sudah menutup rapat mulutnya, apalagi menyalahkan keluarga Adietama yang dalam benak Doni adalah penyebab kedua anaknya enggan berada satu ruangan dengannya. Cukup salahkan dia, salahkan Doni karena sudah mengkhianati kepercayaan keluarga kecilnya.


Dalam pelukan erat itu Doni menangis, mengecup puncak kepala Clarissa beberapa kali. Dia menyesal. Sangat menyesal.


Bi Siti masuk dengan langkah bergetar, diikuti Bintang yang membantu membawakan baskom berisi air dingin untuk Clarissa yang dipesan oleh Doni. Bi Siti menaruh nampannya diatas nakas dan berpamit keluar.


"Ica makan bubur dulu ya?" titah Doni, meminta Clarissa mengeluarkan seluruh tenaganya untuk makan beberapa suap bubur. "Minum obat, setelah itu Ica boleh tidur lagi. Papa temani."


Clarissa mengangguk. Dia mencoba bangkit dan menerima mangkuk berisi bubur ayam hangat, perlahan dia makan dalam pengawasan Doni yang tidak lepas menatap Clarissa. Ini baru sebentar ditinggal oleh Dinda, apakah Clarissa akan betah dalam jangka panjang? Doni mengusap dahi Clarissa yang dipenuhi keringat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kedepannya.


...🌼🌼🌼...


Telepon rumah berdering berulang kali, bi Siti tergopoh-gopoh untuk segera mengangkatnya. Beliau sedang sibuk di kebun belakang, dan sepertinya seluruh penghuni rumah sedang sibuk dalam pikiran masing-masing.


"Selamat siang, dengan kediaman bapak Doni Bintara dan ibu Dinda Adams," ucap bi Siti setiap ada panggilan dan jika beliau yang lebih dulu menerima panggilan tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Halo bi Siti, ini saya Anita."


"Ohh, ibu Anita." Ucap bi Siti ketika dengar nyonya besar Adietama yang menelponnya. "Ada apa bu?"


"Sedang apa? lagi sibuk kah?"


"Clarissa sakit? sudah berobat?"


"Sepertinya kangen sama Almarhum ibu. Tadi menangis dan minta untuk ditemani Bapak saja, bu Anita." Ucap Bi Siti tadi sempat mendengar tangisan Clarissa yang merindukan sosok ibunya.


"Baiklah. Nanti saya mampir." Ujar Anita lagi sebelum berpamit untuk menutup telepon.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, kediaman Adams di datangi oleh tamu. Anita duduk di sofa ruang tamu dengan beberapa parsel berisi berbagai macam buah segar, Doni turun dan menghela napas lemas melihat tamu tidak di undang itu.


Anita yang duduk anggun berdiri melihat kedatangan Doni, dia tersenyum simpul. "Selamat siang Dokter Doni?"


"Selamat siang, ada urusan apa Dokter Anita kemari?" Tanyanya tidak suka, hubungan keduanya mulai tidak baik, ketika beberapa masalah hadir dikehidupan mereka kemarin. Mengingat Anitalah yang sempat membawa kedua anaknya tanpa izin.


Anita menggeleng. "Maaf, tadi saya bertanya pada Bi Siti bagaimana keadaan Clarissa, dan yang saya dengar dia sedang sakit. Benarkah?"


"Tidak ada urusannya pada dengan anda, Dokter Anita. Saya bisa mengurusnya sendiri." Maaf, mungkin Doni terdengar kasar. Tapi ini yang harus dia lakukan agar Anita tidak sembarangan menyentuh anak-anaknya. "Bukankah anda harus ke Rumah Sakit. Untuk apa bersusah payah kemari hanya untuk menanyakan kabar anak saya."

__ADS_1


Anita tersenyum tipis. "Saya tidak bermaksud. Saya kapok melakukan hal sesuka saya, kemarin papanya Putra sudah memarahi saya habis-habisan." Ujarnya, tidak perlu dijelaskan siapa yang dimaksud oleh Anita.


Memang sudah sepantasnya Anita diberikan peringatan. Wanita itu memang selalu suka seenaknya dengannya, walaupun Doni telah melakukan banyak kesalahan, tapi setidaknya dia ingin memperbaiki. Jadi, Anita sebagai orang lain tidak semestinya mencampuri urusan rumahnya.


"Bolehkah saya menemui Ica, saya ingin melihat keadaannya." Pinta Anita dengan penuh permohonan, dia tidak ingin bersikap sombong lagi pada Doni. "Boleh....."


"Tidak, dia sedang istirahat."


"Saya mohon..."


Doni menggeleng kekeh. "Tidak bisa,,,,"


"Tante Anita.." Suara lemah dari anak tangga muncul, Clarissa berjalan pelan menuruni dan Doni segera menghampirinya.


"Sayang, kenapa turun, kamu sedang tidak sehat."


"Ica dengar suara tante Anita, Pa. Ica mau nemuin tante Anita." Ucapnya pelan membuat Doni menghela napas, dia kalah. "Tanteee..."


"Ica.." Anita merentangkan tangannya mendekati Clarissa yang berjalan lemah. "Sakit apa sayang?"


"Demam."


Anita mengusap bahu Clarissa, dia menuntun Clarissa untuk duduk bersamanya. Doni yang berdiri mematung hanya menjadi penonton disela rasa rindu mereka, kini Doni menjadi penghalang Clarissa untuk melakukan apapun. Padahal bisa jadi yang dia tentang adalah sumber kebahagiaan putrinya.


Doni melangkah gontai, dia tersakiti lagi oleh sikap anaknya yang tidak melihat betapa dia perduli dan takut kehilangan.


Bintang berdiri tidak jauh dari tangga membuat Doni berhenti dan dia tersenyum tipis. "Kakak mau kemana?"


"Keluar."


Tidak. Doni tidak bisa melarang lagi, pasti Bintang lebih memberontak dari Clarissa.


Doni hanya mengangguk dan melewati Bintang dengan langkah yang semakin melemah.


"Nanti pulang, mungkin sewaktu jam makan malam." Kalimat Bintang membuat Doni mengembangkan senyumnya. Itu berarti Bintang masih ingin melihatnya disini, masih ingin makan bersama.


"Iya. Hati-hati, pamit sama Tante Anita di depan."

__ADS_1


Bintang mengangguk dan berlalu pergi.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2