
..."Merindukanmu tidak perlu melihat waktu"...
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menangis pada pelukan papanya, dia tidak tahu bagaimana memberitahu papanya kalau dia sangat ingin tinggal dengan papa dan Bintang dengan keadaan yang layak. Tapi kenapa dia memiliki kakak yang sangat keras kepala seperti ini, Bintang tetap kekeh ingin pergi meski Doni telah memohon padanya.
"Sebenarnya siapa yang harus disalahkan dalam kasus keluarga kita?" Clarissa berdiri, dia bertanya dengan suara sesenggukan. Bahkan pertanyaan dadakan itu membuat Bintang menghentikan langkahnya di ambang pintu ruang keluarga. "Kenapa semua saling menyalahkan, kakak menyalahkan papa dan papa menyalahkan dirinya sendiri."
Bintang berbalik. "Kamu sudah tahu jawabannya, papalah yang bersalah dalam kasus keluarga kita."
"Kakak yakin?"
Alis Bintang berkerut.
"Ica tanya, apa kakak yakin? yakin kalau papalah yang bersalah."
"Kamu masih belum paham,,,,"
"Mamalah yang bersalah."
Doni berdiri dan Bintang melebarkan matanya, dia tidak menyangka kalau adiknya akan menyalahkan semua kesalahan ini pada mamanya.
"Kakak tahu kalau semua berawal dari mama dan kakek Darmo, lalu papa mengorbankan cintanya demi cabang bayi mama, yaitu kakak." Clarissa mengusap air matanya. "Ya, papa memang bersalah karena sudah berselingkuh, tapi apa kota harus menyalahkan dua orang yang saling mencintai telah dipisahkan?"
"Dek,,,,"
"Kita harus melihat dari sisi yang lain." Clarissa maju untuk lebih menghadap Bintang. "Dalam posisi mama, mama selalu merasa bersalah karena tidak memberitahu kakak yang sebenarnya. Dalam posisi kakek Darmo, beliau merasa dirinya lah yang bersalah karena tidak bisa mempertahankan putra kandungnya. Dalam posisi papa, papa merasa bersalah karena tidak bisa menjaga baik keluarganya, dia tidak bisa memberitahu kakal tentang kebenarannya. Dalam posisi kakak,,,,,"
"Stop Ca, stop." Bintang mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu gak tahu,,,,"
"Kalau jadi kakak?" Clarissa memotong lagi. "Ica memang tidak bisa jadi siapa-siapa, tapi kalau kakak mencoba dalam pandangan kakak. Ica akan coba melihat sisi papa yang mencoba mempertahankan kakak dengan segala cara dari kuasa kakek Darmo padahal kakak tidak menginginkannya. Kalau kakak ada dalam posisi Ica, kakak akan merasakan kesedihan yang mendalam, bahwa keluarga yang kakak cintai tidak memiliki kepercayaan yang tinggi satu sama lain. Jangankan mengetahui kalau kak Raisa anak dari tante Clara, mengetahui anak yang dikandung tante Clara bukan darah daging papa saja itu dari orang lain."
Mata Bintang melebar. Dia tidak tahu soal itu.
"Papa terlalu bodoh soal itu, papa terlalu percaya pada cintanya sampai papa tidak melihat kepercayaan keluarganya yang di berikan kepada dirinya." Doni semakin membisu, sial, anaknya keren sekali saat mengeluarkan semua kata-katanya, bahkan dia melupakan kata bodoh yang Clarissa berikan untuknya. Sekali lagi Clarissa menghapus air matanya yang terjatuh. "Sekarang terserah kakak, kalau kakak mau hidup dalam emosi silahkan. Karena Ica akan tetap disini, menemani papa yang mudah bimbang dengan hatinya, papa sudah menaruh semua harapannya pada kita, jadi Ica tidak mau mengecewakan harapan papa."
__ADS_1
Clarissa pergi meninggalkan Bintang yang membisu dan Doni yang mematung karena setiap inci kata-kata putrinya.
...πΌπΌπΌ...
Clarissa menatap ponselnya yang terus menyala, dia duduk dimeja belajar dengan buku fisika yang terbuka. Ponselnya terus bergetar dan menyala, tapi entah kenapa dia sedang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun, padahal nama Putra yang tertera dilayar ponselnya.
Empat sampai lima deringan tidak dia gubris hingga satu notif pesan membuatnya bergerak melihat layar ponselnya.
Putra R. Adietama
Aku tahu kamu lihat
panggilanku, kenapa
tidak dijawab?
Clarissa merasa bersalah dengan pesan yang dikirimkan Putra, tapi satu pesan lagi membuatnya berdiri kaget dan langsung berlari kearah balkon. Melihat mobil sport Putra di depan rumahnya, bahkan sang pemilik sedang bersandar diluarnya, melambaikan tangannya demgan senyuman amat manis.
Putra R. Adietama
Aku dibawah.
Jantungnya berdegub cepat, dia seperti sedang akan melakukan sebuah kesalahan besar. Membuka pintu rumahnya dengan sangat hati-hati, beruntung kamar papanya berada dilantai yang sama dengannya, sedangkan kamar Bintang berada dilantai bawah namun tidak dikamar utama.
Semoga saja tidak ada yang mendengar.
Clarissa tersenyum lebar saat membuka pagar rumahnya dengan bantuan Putra.
"Kamu ngapain kesini?"
"Kangen."
Mata Clarissa melebar, mulutnya ternganga, dia tidak pernah membayangkan Putra berkata manis seperti itu padanya. Tanpa meminta izin, Putra menariknya dan memeluknya, "tadi siang pergi sama mama ya? makanya kamu gak mau pulang bareng?"
Clarissa mendongak, dia mengangguk masih dalam pelukan Putra.
"Kemana?"
__ADS_1
"Teman tante ada yang buka restaurant baru, jadi kami pergi untuk pembukaan."
"Sama Meysa."
"Um," Clarissa mengangguk, tangannya juga bergerak memeluk Putra. Entah kenapa tiba-tiba saja dia bersandar pada dada bidang laki-laki itu, baunya sangat wangi, Clarissa suka.
"Huah, kenapa sih kita harus backstreet?" Putra kesal, padahal tidak ada masalah jika semua orang tahu bahwa mereka sedang menjalin hubungan. Kekasihnya ini sangat memperhatikan perkataan orangnya, Putra mencubit pipi Clarissa gemas sebelum kembali memeluknya. "Padahal kamu tidak perlu memikirkan hal lainnya,"
"Aku sama kamu dekat saja sudah menjadi masalah, bagaimana kalau sampai mereka tahu soal hubungan ini."
"Astaga," mengacak rambut Clarissa, lalu dia kembali merapikannya. "Kamu terlalu memikirkan pikiran orang lain, kamu tahu, bahkan teman-temanku siap membantu kalau kamu sempat tersentuh oleh orang yang tidak suka kamu,"
Putra menatap Clarissa lekat, dia mengelus pipi gembulnya. "Padahal apasih yang mereka tidak suka dari perempuan segemas ini,"
Clarissa terkekeh. "Astaga, itu kamu aja yang menganggap gitu,"
Putra mengecup pipinya sekilas membuat matanya melebar. "Kenapa?"
Clarissa menggeleng, tolong jantungnya tahan sebentar.
"Kalian sedang apa?"
Clarissa dan Putra langsung melepaskan pelukan, mata Clarissa melebar, arghh bagaimana ini terjadi. Doni tengah berdiri menatap mereka berdua ditengah pintu gerbang yang terbuka kecil, memakai setelan piama dengan dibaluti kimono tebal.
Sekali lagi Doni bertanya. "Kalian sedang apa?"
Putra berdehem. "Malam om, maaf mengganggu waktunya."
"Malam juga. Kamu tahu ini jam berapa tuan muda Adietama."
Dengan polosnya Putra melirik jam tangannya, "jam setengah dua belas Om."
"Benar. Apa ini waktunya bertamu?"
"Ee... Anu om,,," Putra menggaruk pelipisnya, dia melirik Clarissa, memang salah rasa rindunya, kenapa harus datang tengah malam.
Doni maju menghampiri dua orang yang sedang panik, padahal Putra tidak pernah terlihat seperti itu. "Sudah malam, pulanglah,"
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ