
...(Pict by Pinterest)...
...πΌπΌπΌ...
Pandangannya meremang kedepan, perempuan berbalut celana kulot panjang dengan atasan tanktop krop melambai indah padanya. Clarissa termangu, tidak berani membalas atau bahkan kembali melanjutkan langkahnya. Kakinya pelan perlahan mundur ketika perempuan dihadapannya bergerak maju, bersidekap menatapnya, lalu berhenti dan berdiri tepat didepannya hanya berjarak satu langkah.
"Mau tidur disini?"
Clarissa menelan salivanya. "I-iya."
"Gak usah sok takut sama gue deh." Perempuan itu terkekeh, cuaca malam ini tampak akan hujan, tapi perempuan itu sama sekali tidak memakai jaket atau blezer. "Gue jahat pas disekolah aja kok, diluar itu gue jadi orang baik, beneran, sumpah."
Clarissa masih mematung, tidak berani menjawab atau pura-pura tidak mendengar.
"Umm, Bintang ada?"
"A-ada, lagi nemenin ma-mama." Ucapnya gagap, siapapun tolong Clarissa, dia sedang diselimuti rasa takut.
"Kenapa sih?" tiba-tiba perempuan itu mengelus puncak kepalanya dan tersenyum manis seraya menunduk sedikit karena tinggi Clarissa lebih rendah. "Santai aja kali, lo udah makan belom? temenin gue makan yuk, gabut nih sendirian."
"Me-memangnya ada yang makan malam jam sembilan?" Rumah Sakit sudah tampak sepi, hanya sepanjang lorong, lampu taman dan beberapa ruangan yang terisi pasien saja yang lampunya masih menyala. Selebihnya gelap, kantin juga terlihat gelap mungkin sudah tidak ada lagi pengunjung yang akan makan disini. "Kantinnya sudah tutup,"
"Itu lo bawa apa?"
Clarissa menunduk melihat plastik yang dia tenteng. Tangannya mengerat genggaman pada plastik itu. "Ro-roti, dari P-putra."
"Ohh.."
Clarissa menatap perempuan itu, kalau disekolah pasti sudah ada ocehan kesal dan perang kasar jika mendengar Putra memperhatikannya.
"Bagi boleh, sumpah laper banget." Mengelus perut ratanya. "Boleehhhh????"
Clarissa mengangguk kecil.
Dan....
Siaall.....
Kenapa dia mau duduk disini? Ditaman. Berdua dengan perempuan ini.
Clarissa menunduk, keberaniannya telah menciut, dia hanya menjadi pendengar perempuan ini mengunyah roti tawar miliknya yang diberikan oleh Putra hampir setengah. Kelihatan sangat kelaparan.
"Lo,,, gak kedinginan?"
Menatap pakaian yang dia kenakan. "Gue udah biasa didinginin, apalagi sama kakak lo."
Sumpah. Clarissa tidak tahu kalau perempuan ini sangat sangat menggelikan.
"Clarissa..."
Clarissa melebarkan matanya, menatap perempuan disebelahnya. Ini pertama kalinya Meysa memanggilnya dengan panggilan yang terdengar tulus.
"Hmm...."
Meysa menatap kedepan tanpa berkedip. "Gimana sih rasanya dikelilingi sama orang yang sayang sama lo?"
Clarissa tidak menjawab.
"Gimana rasanya punya keluarga yang hangat dan saling perduli satu sama lain."
"Keluarga gue udah berantakan."
"Tapi masih saling perduli." Kalimat Meysa membuat Clarissa diam. "Sedangkan gue,, berantakan semua dan gak ada satupun yang perduli sama gue."
"Pasti ada satu yang perduli sama lo."
Meysa tersenyum tipis, tampak menyedihkan. Hidupnya mungkin lebih sulit dari Clarissa, dan Meysa mampu mengeluarkan semua unek-uneknya dengan kenakalan. Mencari sebuah perhatian dari kesalahan yang dia lakukan, tapi tidak ada satupun yang perduli. Satu-satunya orang yang perduli padanya hanyalah papanya, tapi tidak mampu berbuat apa-apa pada kehidupan Meysa.
"Siapa? bokap gue? atau nyokap gue?"
__ADS_1
"Temen-temen lo?"
"Lo yakin kalau mereka perduli sama gue." Melihat Clarissa mengangguk, Meysa pun tertawa. "Astaga, inget gak sewaktu lo jatuh karena dijegal orang pas dikantin? semua orang percaya itu gue kan? padahal itu mah kerjaan Tias sama Jesika, tapi mereka aja malah ngedukung kalau gue yang salah. Itu dari mana perdulinya coba, yang ada mereka malah membuat gue terjerumus sama masalah lainnya."
Secara tidak langsung, Meysa memberikan penegasan bahwa kecelakaan itu bukanlah perbuatannya. Dia hanya dijadikan kambing hitam oleh dua temannya.
"Belum lagi kasus ditoilet, lo aja gak percaya kan kalau gue beneran nolong lo waktu itu?" Clarissa masih menutup mulutnya. "Seumur hidup kenal sama orang-orang terdekat Putra, cuma Erlangga yang gak perduli sama sekitar, tapi kemarin mungkin dia kesel karena gue terus-terusan ganggu lo makanya dia ngelakuin itu."
"Nge-ngelakuin apa?"
Meysa mengangkat bahu, menyibakkan rambutnya yang terurai kebelakang. Perempuan itu melepaskan kalung kain yang melingkar dilehernya, menampilkan bekas merah yang hampir membiru.
"I-itu....."
"Gak usah kaget gitulah, Erlangga emang nyeremin." Dia mengangkat kedua jarinya membentuk pose peace. "Ini beneran ulah dia. untung ada Alec anak kelas IPA 2, gue ditolong dan Alec ngadu sama Putra. Makanya waktu itu Putra sempat marah sama Erlangga."
"Sekarang?"
"Udah baikan, mereka liburan ke puncak kok."
"Maaf."
"Lo minta maaf untuk apa?"
"Itu karena gue."
"Santai. Siapapun juga pastinya bakal ngira kalau itu gue." Ujarnya seakan-akan tidak heran oleh penuduhan banyak orang.
Clarissa berdehem. "Umm. Gue gak mencoba untuk sok tahu atau pernah mencaritahu. Tapi dari yang gue tahu, om Gio satu-satunya orang yang selalu menyelesaikan permasalahan lo, yang selalu maju waktu lo punya musibah. Berarti dalam garis besarnya Om Gio perduli sama lo."
"Dia ngelakuin itu bukan karena perduli, tapi dia takut nama baiknya akan diseret." Meysa menatap lurus kedepan lagi. "Lo kan tahu, hidup gue itu ditanggung sama dia, ya jelas dia sebagai wali bakal malu dong kalau gue berbuat sesuatu yang berdampak akan menjelekkan nama dia."
"Bagaimana dengan kakek Darmo? beliau juga perduli sama lo kan?"
"Lo kelihatannya tahu banyak soal hidup gue ya? sampai kesana juga lo tahu."
"Gak sih, kan gue cuma sekedarnya aja."
Mereka membisu, menatap langit dengan tatapan hampa. Clarissa mengeluarkan kain dari dalam tasnya yang lain, lalu memberikan kepada Meysa.
"Apa nih?"
"Kain."
Perempuan itu tertawa. "Ya ampun cebol, ya gue tahu ini kain, maksudnya kenapa lo kasih ke gue?"
"Lo beneran gak kedinginan dengan pakaian lo yang kayak gitu?" Meysa mengangguk. "Gue udah masuk angin pasti, terus nanti kak Bintang marah-marah karena gue gak jaga diri."
Meysa mengembalikan kain yang diberikan oleh Clarissa. "Seru tuh, gue jadi pengen masuk angin biar dimarahin sama Bintang."
Clarisa berdecak, hal itu tidak akan pernah terjadi. "Apa kak Bintang selalu bersikap seperti itu kalau ketemu sama lo?"
"Always, and I'm fine." Jawabnya lantang. "Bintang kok, sudah gak heran lagi sama sikapnya itu. Sewaktu dulu pacaran aja dia pernah nunjukin sikap kayak gitu."
"Maaf buat kata-kata dia siang tadi,"
"Santai aja."
"Kabar bokap lo?"
"Masih seperti dulu, tidak ada perubahan." Meysa berdecak. "Gue curiga, apa jangan-jangan Rumah Sakit ini malah memberikan efek buruk buat bokap gue ya..."
"Kok lo ngomong gitu,"
"Buktinya, beberapa kali operasi hasilnya sama aja. Tetap seperti mayat hidup."
"Fitnah dong."
Meysa tertawa. "Ya becanda kali, masih dikasih nyawa juga gue udah bersyukur banget."
"Maaf."
__ADS_1
"Kenapa lo yang minta maaf, gak asik banget lo gak bisa diajak bercanda."
Mereka kembali terdiam, maaf, Clarissa memang tidak bisa bercanda. Dia lebih suka diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dan dia tidak cocok disandingkan dengan Kanya atau Meysa yang terlihat cerewet diberbagai tempat. Tapi sayangnya, Clarissa selalu dikelilingi oleh teman-teman yang cerewet seperti Kanya, Vina dan Delisa.
"Sekali lagi maaf, ini untuk hubungan lo sama kak Bintang." Kalimat itu membuat Meysa menatapnya, Clarissa menunduk. "Gue penyebab kalian putus."
"Tahu dari mana lo?"
"Gue sakit, dan kak Bintang gak nemenin lo untuk operasi bokap lo."
"Itu cerita Bintang?" Clarissa mengangguk. "Bukan itu kok, gue malah sempet dateng ke ruangan lo, tapi lo tidur."
"Iyakah?"
"Iyaa..." Meysa tersenyum tipis. "Putusnya karena kesalahan gue sendiri, keegoisan keluarga papa gue, dan yang dilakuin Bintang sekarang itu benar kok. Gue udah jahat sama dia dulu, jadi wajar kalau dia membalas itu sekarang."
Clarissa menunduk, hatinya bersyukur karena penyebab putusnya hubungan mereka bukanlah dirinya.
"Clarissa...." Panggil Meysa lirih membuatnya mendongak. "Lo pernah ketemu sama pacar kakak lo yang sekarang?"
"Belum."
"Sudah lihat fotonya?"
"Belum juga. Kata kak Bintang itu rahasia, cuma mama yang pernah lihat. Kenapa?"
Meysa menggeleng kecil. "Nothing. Gue cuma penasaran aja, apa lebih cantik dari gue?"
"Lebih tepatnya, lebih dewasa."
Mereka tertawa bersama dan tersadar lalu kembali terdiam. Masalahnya, mereka belum pernah seakrab ini, walaupun Meysa adalah mantan kakaknya, tapi mereka tidak sering bertemu atau saling bertukar sapa.
...πΌπΌπΌ...
Sekitar pukul sebelas malam, mereka berdua masih duduk ditaman. Obrolan mengalir begitu saja, Meysa tidak menunjukkan sisi emosinya seperti sewaktu disekolah. Perempuan itu benar-benar menampilkan sisi yang baik dalam dirinya kepada Clarissa untuk malam ini.
"Sepertinya gue harus kembali." Ucap Clarissa, merasa terlalu lama dia meninggalkan mamanya.
"Baru jam berapa?" menatap jam tangannya. "Astaga, jam sebelas, gilaa gak terasa ya."
"He'em."
"Gue anter deh."
"Gak usahh.." Clarissa menggeleng cepat. Mereka tidak sedekat itu harus sampai saling mengantar. "Gue bisa sendiri."
"Ya elah, lo masih gak enak aja sama gue." Meysa berdiri, kembali memakai kalung kainnya untuk menutupi tanda yang dibuat oleh Erlangga. "Yaudah, gue ikutin dari belakang aja."
Clarissa mengangguk. Itu lebih baik dibandingkan berjalan beriringan.
Mereka tetap tidak saling berbicara karena jarak yang mereka berikan beberapa meter. Apalagi, air hujan sudah mulai membasahi bumi. Lalu sampai dipersimpangan Meysa memanggil Clarissa sedikit lebih kencang, membuat perempuan mungil itu berhenti dan menoleh.
"Gue belok sini." Menunjuk lorong yang lain. "Itu ruangan nyokap lo kan?"
"Iya."
"Oke, daaa.."
"Hati-hati." Clarissa terlalu baik untuk mengucapkan itu kepada orang yang suka membully dirinya.
Meysa sesekali melihat langkah Clarissa mulai masuk kedalam ruangan Dinda. Lalu dia berjalan cepat karena angin yang sekaligus membawa rintikan hujan menusuk tulangnya. Kakinya berhenti, melihat Bintang yang berdiri tidak jauh darinya.
"Bintang...."
Laki-kaki itu menatap tubuh Meysa tanpa jaket, cuaca malam semakin dingin dan dia terlihat biasa saja.
Meysa tersenyum tipis, dia melangkah kakinya lebar dan berlari memeluk Bintang. Masuk kedalam tubuh laki-laki itu yang mengenakan jaket dengan kancing dibiarkan terbuka.
"Dingiinn......"
Bintang tidak bergerak dari posisinya. Membiarkan Meysa terus memeluknya erat.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ