
...πΌπΌπΌ...
Putra memijit dahinya, merutuki siapapun yang membuat Kanya dan Meysa menjadi satu kelas. Dia ingin pergi keruang TU untuk mengatakan perombakan ulang, sayangnya dia teringat akan janjinya pada sang mama untuk tidak berbuat sesukanya setelah dulu membuat perombakan soal dirinya untuk sekelas dengan Clarissa. Pertengkaran masih terjadi antara keduanya perihal susu kotak yang ada pada Clarissa, Delisa dan Vina. Untuk yang sudah menghabiskan isinya, Kanya marah besar dan mendiami keduanya, dan untuk Clarissa masih selamat karena belum meminumnya sama sekali, itu juga terjadi karena Kanya merampas dan membuangnya.
Akibat perampasan dan pembuangan itu, membuat Meysa marah dan menjambak Kanya. Selebihnya semua akan berantakan, Kanya membalas-Meysa tidak terima balik membalas-Kanya kembali tidak terima dan balik membalas- begitu seterusnya hingga jam berakhir. Para guru tidak berani menghentikan, ups, bukan tidak berani, mereka lelah untuk menghentikan keduanya, bahkan sang guru yang paling ditakuti juga tidak bisa menengahi. Pertengkaran ini terdengar kecil meskipun membuat sekelas tidak melangsungkan pelajaran. Karena hanya berawal dari kotak susu untuk Clarissa, bukan soal pembullyan yang biasanya Meysa lakukan.
"Jadi ini soal kecemburuan antara Kanya-Meysa pada Clarissa, begitu?" Tanya kepala sekolah dibalik meja besarnya, pria berbadan gemuk itu tidak kaget lagi karena sudah biasa bertemu dua siswi disekolahnya ini sejak mereka kelas dua lalu. "Jadi, Meysa sudah berteman dengan Clarissa?"
"Gak pak!!" Kanya tidak terima, "memangnya ada tukang bully sama yang di bully berteman?"
Meysa tersenyum merendahkan. "Ada, saya pak."
"Eleh, ngaco. Gak usah sok bangga lo jadi pembully, cuih." Kepala sekolah tampak kaget dengan respon Kanya, namun dia sudah memahaminya. "Kenapa juga sih, bapak masih membiarkan pembully berkeliaran disekolah elit kita. Kalau saya jadi bapak, saya akan keluarkan dia dan bahkan membuat dia tidak bisa bersekolah dimanapun."
"Jangan seperti itu dong Kanya, saya terdengar jahat." Tanggap kepala sekolah. "Saya juga maunya seperti itu, tapi Meysa telah berubah bukan? dia tidak lagi membully adik-adik kelas, bahkan dia sering terlihat membela anak yang tertindas, benarkan Meysa?"
Sembari mengajungkan jempolnya, Meysa menjawab. "Benar sekali."
Kepala sekolah tersenyum. "Jadi, kenapa saya harus mengeluarkan siswi yang sudah belajar untuk berubah."
"Pak, dia itu ular."
"Manusia," potong Meysa.
Kanya mendelik tidak suka. "Bapak sudah terkena bisanya,"
"Keracunan dong saya," tanggap enteng kepala sekolah membuat Kanya kesal, dan Meysa tertawa kecil.
"Saya gak lagi ngelucu."
Kicep. Kepala sekolah memudarkan senyumannya saat tatapan menghunus Kanya menyerangnya. Dia sudah tahu kalau Kanya sedang cemburu saat melihat Meysa memberikan perhatian lebih pada Clarissa, dan sepertinya Meysa memang sudah merubah taktik mengganggunya dengan bertingkah menjengkelkan. Membully anak yang tidak bersalah memang salah, untung dia tahu inti permasalahan keluarga Adietama karena dekat dengan Darmo.
"Iya bapak minta maaf," pria itu menegapkan tubuhnya. "Jadi, kamu mau bapak gimana?"
__ADS_1
"Hentikan pemasukan susu kotak dikantin sekolah kita."
Meysa tertawa namun dia tahan mulutnya. Tangannya tiba-tiba mencubit pipi Kanya dan langsung ditepis oleh sang pemilik pipi.
"Apasih?"
"Sumpah, ternyata gemes itu bisa nular ya pak?" Kepala sekolah tampak bingung tapi beliau tidak bertanya karena Meysa pasti akan menjelaskan. "Clarissa juga menggemaskan seperti dia."
Kepala sekolah mengela napasnya, mendengar ucapan Meysa membuat Kanya kembali menyala dan mereka berdebat dengan suara tinggi, membuat salah satu guru mengetuk dan masuk untuk menghentikan mereka. "Tolong bawa keluar, kami sudah selesai berbicara."
"PAK, GAK BISA GINI DONG!!!" Kanya berteriak, "BAGAIMANA SIH BAPAK SEBAGAI KEPALA SEKOLAH KOK TIDAK BERTINDAK."
Guru yang masuk itu menunduk kecil dan menarik keduanya, Meysa juga menunduk dan tersenyum. "Terima kasih pak, maaf sudah mengganggu waktunya."
"Oh, tidak masalah Meysa."
"SOK MANIS LO!!" Tangannya menoyor Meysa dan dia berlalu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada kepala sekolah setelah melepaskan tangannya yang digenggam salah satu guru dengan kasar.
...πΌπΌπΌ...
"Nyak udah dong, lo gak takut tenggorokan lo sakit teriak-teriak gitu,"
Kanya memudarkan kekesalannya dan menatap Clarissa. "Gue dejavu,"
"Dejavu? Soal apa?"
"Putra pernah ngomong gitu sama gue, waktu duduk disitu juga."
Clarissa menoleh padanya. "Putra? kapan dia duduk di mobil lo?"
"Gue lupa kapan deh, yang jelas pas lo masuk Rumah sakit karena perbuatan Meysa." Kanya menoleh keatas, tampak berpikir. "Dia minta dianterin ke RS dan gue teriak-teriak gak mau."
"Oh,"
"Itu kapan ya."
__ADS_1
"Yaudahlah, gue masuk Rumah sakit sering, mana inget yang mana waktunya."
"Iya juga sih,"
"Iyaudah buru jalan."
"ARGGHH, ANJIIR, SEBEL BANGET GUE!!!" Dia berteriak lagi, membuat Clarissa menghela napas dan menyumbat telinganya dengan headset. Sesaat Kanya kembali terdiam, sebelum menyalakan mesin mobilnya, dia menatap Clarissa. "Tadi, waktu gue teriak-teriak dan berantem, Edo masih dikelas kita ya Ca?"
Clarissa mengalihkan tatapannya dari ponsel. "Lo gak inget?'
"Inget apa?"
"Dia sampai meluk lo buat berhenti, tapi lo tinju."
"Ahh, seriusan?"
"Iya,"
Kanya memeluk setirnya, dia tidak sadar melakukan hal itu. Bagaimana ini? Kepalanya menoleh pada Clarissa. "Ca, si Putra bawa mobil gak?"
"Gak tahu, kenapa?"
Kanya menghilang, Clarissa baru tidak menatap Kanya belum ada lima menit dan Kanya sudah menghilang dari tempat duduknya. Kepalanya menoleh mencari sosok sahabatnya dan dia temukan tengah berbicara pada Erlangga didepan mobil laki-laki itu, dan saat Erlangga terlihat mengangguk, Kanya kembali dengan senyum yang sumringah.
"Ca turun," perintah itu membuat Clarissa kebingungan. Kanya sudah membuka pintu bagiannya. Dengan perlahan Clarissa turun, ditariknya tangannya dan sahabatnya itu bawa pada Erlangga. "Lo, pulang bareng Erlangga, Putra udah pulang dari tadi,"
"Lah, lo mau kemana?"
"Kerumah Edo lah gilak!! gue harus kasih penjelasan sama dia soal itu."
"Tapi Nyak, gue bisa ikut lo kerumah Edo."
"Enak aja, entar nyokapnya dia suka sama lo berabe." Mengelus puncak kepala Clarissa. "Lo gemesin sih, eh, kok gue dejavu lagi." Kanya menggeleng. "Dahlah, cuma Erlangga yang tersisa dari seluruh bodyguardnya Putra. Bye..."
"Nyaakkk!!!!" Kanya tidak mendengar teriakan Clarissa yang memelas. Erlangga adalah satu-satunya teman Putra yang ingin dia hindari selama ini.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ