Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:21


__ADS_3


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Tercium aroma ikan panggang dengan bercampur aroma khas sambal sebagai pelengkapnya dari arah dapur. Rehan memasak dengan lihai dan menyajikannya keatas meja hingga sang mama turun dari lantai atas menyapanya. "Kamu sedang masak apa?"


"Ini ma, ikan panggang."


"Jadi pergi keluar malam ini?" Berjalan mendekat.


"Iya ma, sebentar lagi setelah ini selesai." Jawabnya masih fokus pada penyajiannya.


"Kapan kamu pulang dan menyelesaikan cutimu." Duduk dikursi makan setelah Rehan mempersilahkannya, "jangan terlalu lama libur, mama disini tidak apa-apa."


Rehan hanya mengangguk, "sampai semuanya membaik ma."


"Semuanyaa baik-baik saja." Rehan tidak merespon. "Sudah bertemu dengannya? biasanya dia akan kesini, sudah lama juga mama tidak melihatnya." Meneguk air dingin yang disodorkan oleh Rehan, "mama merindukan kita yang selalu berkumpul."


"Rehan juga." Jawabnya sembari mencuci peralatan bekas masaknya, menaruhnya ditempat pengeringan. "Rehan pergi ma, mungkin akan pulang malam." Mengecup pipi sang mama.


"Kamu tidak makan??"


"Nanti, sewaktu diluar."


Setelah mendapat kecupan kedua dari Rehan, dia berteriak kecil. "Hati-hati sayang,"


Rehan hanya menggumam, dia meraih sepatu sneakers didalam rak sepatu dan memakainya diteras depan. Dia terdiam sejenak ketika sebuah mobil yang persis seperti miliknya berhenti diseberang luar gerbang. Terlihat seorang perempuan turun dari dalam mobil tersebut dan berjalan masuk kehalaman rumahnya, Rehan tersenyum kecil melihat perempuan itu mengenakan dress longgar selutut dengan balutan blazer rajut.


"Ada apa dengan pakaian itu. Lagi mendalami peran kah?" Perempuan itu tersenyum masam, "kenapa?"


"Hanya ingin menemui mama," dia bersidekap menatap Rehan yang sudah kembali fokus mengikat tali sepatunya. "Jadi, kapan lo selesaikan dia??"


"Sabar, ini lagi proses."


"Lambat amat gerak lo, ini udah hampir satu bulan selama lo disini Rehan.. Jangan memperlambat lagi atau gue cari orang lain." Dia berhenti berjalan masuk ketika tangannya dicengkam oleh Rehan.


Rehan mendongak, "gak ada cara lain kah buat hancurin dia?"


"Gak ADA!!!! jangan bilang lo suka beneran sama Clarissa.."


Rehan mengusap wajahnya dan tersenyum kecil. "Dia terlalu menggemaskan."


"Jadi lo mau nyerah?"


"Bagaimana gue bisa hancurin dia, kalau Putra aja selalu ada disekelilingnya. Buat berdua sama dia aja gue gak ada kesempatan Sa." Rehan mendesah kesal, "jemput dia pulang sekolah aja, Putra ngikutin dibelakang."


"Lo bodoh Rehan, Clarissa itu cewek lugu, kalau lo kasih masukan yang buat dia gak suka sama Putra aja, itu bakal diterima sama dia." Menepuk bahu Rehan. "Yang gue tau, keluarga itu cuma terobsesi sama Clarissa karena mereka gak punya anak perempuan. Itu aja bisa lo jadi bahan buat Clarissa menjauh dari keluarga itu."


"Dan Clarissa gak bakal percaya karena dia suka sama Putra, dari SMP." bantahnya. "Gimana gue mau racuni pikirannya kalau diotak dia aja udah terisi Putra."


Perempuan itu menyeringai seram, "sudah gue duga, gak ada satupun perempuan yang gak suka sama Putra. Jadi selama ini dia cuma omong kosong doang kalau gak menginginkan Putra." Dia maju menatap Rehan yang sudah berdiri memandangnya. "Kalau gitu, hapus rasa suka lo sama dia, selesaikan ini dengan cepat, gue gak perduli sama perasaannya dan perasaan lo." Berlalu pergi setelah menekan ucapannya dengan jari didada Rehan.


Rehan menepis tangannya. "Yang salah itu nyokapnya, kenapa kita harus balas dendam sama anak-anaknya," Rehan masih tidak percaya dengan pemikiran saudarinya itu. "Mama sudah hancur sekarang."


Perempuan itu berhenti diambang pintu, menatap tajam Rehan. "Waktu Dinda nyakitin mama kita aja, apa dia memikirkan orang disekelilingnya? engga kan, terus kenapa kita harus perduli sama hal itu." Rehan hanya diam dan menatap datar. "Hancurkan dia secepatnya, Rehan?!!"


...🌼🌼🌼...


Keamanan rumah Adietama terlalu ketat, setelah lama mendapatkan persetujuan dari rumah besar itu, akhirnya gerbang terbuka, Rehan menjalankan mobilnya masuk kehalamannya.


Dia menghembuskan nafasnya sebelum masuk kedalam rumah Adietama, rumah ini lebih mengerikan dibandingkan kelam hidupnya. Saat dia sudah memasukinya seorang wanita dengan setelan jas hitam dengan kemeja merah maroon didalamnya menyapa, "teman nona Clarissa ya?"


"Iya,"


Wanita itu tersenyum ramah, "sebentar ya? nona Clarissa sedang mengganti pakaiannya setelah makan malam."


"Iya bu,,,, eh tante..."

__ADS_1


"Panggil saya Veeta saja."


Rehan tampak kebingungan, yang dia tahu nyonya Adietama bukan seperti ini rupanya. Baru dia hendak duduk seorang wanita elegan dengan khas nyonya besar turun dari arah tangga, mengurungkan niatnya untuk duduk.


Dialah nyonya Adietama.


"Selamat malam tante..."


"Selamat malam," Anita tersenyum manis. "Mau pergi kemana???"


"Ah, hanya makan dan nonton tante."


Anita mengangguk, mempersilahkan Rehan untuk duduk. "Clarissa sudah makan malam,"


"Kalau begitu, kami menonton saja."


Anita tersenyum lagi padanya, entah apa arti dari senyuman itu, tapi Rehan dapat menyimpulkan bahwa wanita itu tampak tidak menyukainya. Namun hebatnya, nyonya Adietama itu masih bisa menutupinya dengan tetap bersikap ramah padanya.


"Emm, Putra kok gak kelihatan ya tante??"


"Ada dikamarnya, dia lagi sibuk belajar soalnya sebentar lagi harus tes masuk ke Harvard kan?" Rehan mengangguk saja sampai matanya melihat Clarissa berlari menuruni tangga, menyapanya dan berpamitan kepada Anita dengan memeluk kecil.


"Apa dirumah ini keamanan begitu ketat?" tanyanya saat membukakan pintu mobil untuk Clarissa.


"Enggak sih, biasa aja. Kenapa kak?"


Rehan menggeleng, tersenyum kecil kepada Anita yang berdiri diteras megah rumahnya, melambaikan tangan kearah Clarissa.


"Tadi didepan terlalu banyak pertanyaan, sampai diminta KTP segala."


Clarissa menerawang heran, "tapi yang aku tau gak gitu sih."


"Mungkin sama orang asing aja kali ya?'


"Mungkin."


Anita masih berdiri menatap mobil yang Clarissa tumpangi hingga keluar gerbang dan tidak terlihat lagi. Dia masuk menutup pintu,


Menatap kepala pelayannya. "Veeta, sana cari pasangan, kamu hobi banget malam minggu disini." Dia menunjuk chef Aldo dengan dagunya, "Chef Aldo saja sudah mulai beres-beres."


"Ah, ibu, saya masih banyak pekerjaan."


"Kalau begitu, sana urusi pekerjaanmu, saya mau istirahat selagi menunggu pak Adietama selesai dengan Inggrid diruangannya." Veeta menunduk kecil saat Anita berjalan melewatinya.


Anita menaiki tangga sembari menegak jus alpukat yang dia minta dari Chef Aldo sebelum pria itu pamit pergi keluar, disetiap malam minggu memang ada kegiatan tersendiri untuk semua pegawai yang ingin keluar.


Wanita cantik itu menjerit kecil saat melihat putra sematawayangnya duduk berleseh dilantai, menyandar pada pembatas dengan pandangan mata kosong. "Astaga Putra....."


Menghela nafas lega, melihat jus alpukatnya tidak tumpah. "Apa yang kamu lakukan disitu sayang, untung gelasnya tidak jatuh."


Putra tidak menjawab pertanyaannya. "Sayang, kamu tidak kesurupan kan? mama sama papa dokter bukan dukun yang bisa sembuhin kamu."


Putra mendongak. "Apa ica sudah pergi ma??"


"Baru saja."


Anita agak terkejut saat anaknya itu tiba-tiba bangkit dan berjalan masuk ke ruang papanya tanpa mengetuk, hal itu membuat Gio dan Inggrid tersentak kaget. "Ada apa Put? perlu sesuatu?"


"Kak, masih lama gak disini?"


Inggrid tampak bingung dengan anak dari bosnya itu malah menghampirinya saat papanya bertanya padanya. "Masih, mungkin agak malam, soalnya ada urusan yang urgent. Ada apa? perlu bantuan kakak?"


"Minjem mobil dong?" Putra menyerahkan kunci mobil sportnya keatas meja dihadapan Inggrid. "Mana..."


"Ehhh, tumben meminjamkan mobil, biasanya siapapun tidak boleh menyentuh mobil itu."


"Ini lebih urgent dari bisnis papa. Ini soal masa depan." Tegasnya.

__ADS_1


"Wahahah," Inggrid tertawa, "pasti soal Clarissa."


Putra diam dan langsung merampas kunci ditangan Inggrid, padahal wanita itu belum memberi izin.


Dalam beberapa menit Putra dapat melihat kendaraan Rehan dengan jelas, mereka berjarak satu mobil. Mobil sedan biasa milik Inggrid sudah dibuat seperti mobil balap, cepat dan tidak terkalahkan. Beberapa mobil yang sudah dia balap mengklakson kaget karena Putra begitu cepat dan ugal-ugalan mengendarai mobil.


Untung saja polisi sedang tidak terlihat.


Putra mengikuti mobil Rehan sampai pada sebuah gedung mall, tidak sampai itu, Putra tetap setia mengikuti mereka dalam jarak tidak cukup jauh. Memasuki gedung mall dan memesankan minuman terlebih dahulu. Putra juga sengaja berdiri tepat dibelakang Clarissa saat memilih tiket menonton dengan jarak sepasang kekasih.


"Kita mau nonton apa??" Putra menurunkan topinya lebih dalam ketika melihat Rehan menatap Clarissa dibelakangnya. "Sudah nonton Come play? mau nonton itu??"


Clarissa mengangguk. "Boleh."


Percakapan itu membuat pendengaran Putra tampak kesal, Clarissa sudah menonton film itu saat bersamanya malam itu.


Putra menoleh kearah lain, sewaktu Clarissa dan Rehan keluar dari jalur antrian, tiba gilirannya dia masih diam menatap kepergian keduanya.


"Mas,, mau nonton apa?"


"Come play."


"Duduk disebelah mana??" Putra menunjuk asal dengan mata yang tidak lepas melihat Clarissa masuk kedalam toilet. "Untuk berapa orang mas."


"Satu." Setelah membayar dia langsung berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari mereka berdua.


Putra berdiri melihat Rehan meraih pinggul Clarissa dan mengajaknya masuk kedalam gedung yang akan menayangkan film yang mereka pilih. "Kurang ajar, berani dia sentuh ica."


"Mas.... Maju dong." Tubuhnya tersentak maju ketika seseorang dibelakangnya mendorong, "udah ngantri ni."


Bahu Putra ditahan oleh seorang penjaga wanita, "mas punya kepribadian berapa sih? waktu itu juga sesukanya masuk studio bioskop,"


"Saya mau nonton Come play mba."


"Ya saya tau, tapi bukan disini."


"Tapi studio ini nayangin come play kan?"


Wanita itu mengangguk, "iya mas, tapi yang mas pesan itu untuk studio tiga jam sepuluh nanti."


Putra menaruh lembaran uang ratusan entah berapa banyak ketangan wanita itu sekaligus menaruh tiket bioskopnya. "Kelamaan mba keburu saya mati jomblo. Kayak waktu itu ya, intinya saya mau disini."


Belum wanita itu menjawab dia sudah masuk dengan kembali memperdalam topinya, mencari tempat yang tidak akan ketahuan oleh Clarissa dan Rehan.


Banyak bangku yang kosong, mereka tidak akan ada yang berani menonton film horor apalagi perempuan, mungkin hanya Clarissa. Saat ruangan dipergelap Putra berjalan merayap hingga duduk tepat diatas Clarissa.


"Clarissa kok gak bawa jaket?"


"Iya kak lupa." Rehan melepas jaketnya dan memasangkan dibahu perempuan itu. "Ehh gak usah kak, nanti kak Rehan kedinginan."


"Dari pada kamu yang kedinginan mending kakak yang kedinginan." Clarissa hanya tersenyum tipis, dia tidak mau membalas ucapan itu lebih panjang, dia memakai jaket milik Rehan dengan benar. "Beneran AC nya dingin loh,"


Putra melotot tajam, pria itu mengangkat tangannya hingga merangkul bahu Clarissa. "Gini gak apa-apa kan."


"Hah..."


Brak.....


Rehan menarik tangannya saat bangkunya bergoyang akibat tendangan dari arah belakang. "Sorry mas."


Rehan tidak menjawab, mereka kembali fokus menonton sampai selesai tanpa ada gombalan atau modusan dari Rehan, Putra cukup tenang. Dia kembali pada posisi awal ketika film mulai berakhir, agar tidak ada yang menyadari keberadaannya.


"Mau kemana lagi nih???"


"Pulang aja kak, gak enak kalau aku pulang malem."


Rehan tersenyum tipis, menampilkan wajah kecewanya tapi dia juga tidak bisa memaksa atau apapun terhadap Clarissa. "Oke, kita pulang."

__ADS_1


Putra mengeram kesal nenatap Rehan dengan mudahnya menarik tangan Clarissa. "Lepas Ca, jangan mau disentuh orang lain selain gue." Dia semakin kesal ketika Clarissa diam saja. "Gue kayak orang bego njim, disini."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2