Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:43


__ADS_3

Clarissa yang baru memasuki pintu rumah keluarga Adietama sudah langsung disuguhkan dengan pelukan hangat dan erat dari Anita. Wanita itu melepaskan pelukan dan mencubit kedua pipi Clarissa dengan gemas.


"Ya ampun, satu hari satu malam tidak bertemu kamu rasanya hampa sekali ya rumah ini."


"Padahal Clarissa bukan tipe anak yang cerewet dan menyenangkan, bagaimana bisa anak sejutek dia bisa membuat hampa rumah sehangat ini."


Anita tersenyum lebar ketika mendengar kalimat panjang Dinda yang masuk diikuti oleh Rinda dan Noel yang menarik koper milik Dinda dan Clarissa. "Dinda..... Apa kabar kamu??"


Dinda membalas pelukan singkat Anita. "Baik mba, maaf ya merepotkan mba untuk menitipkan Clarissa disini."


"Kenapa membicarakan itu lagi," Dinda dan Clarissa dibawa untuk masuk kedalam rumah. "Kamu menginap disini kan?"


Dinda menggeleng. "Aku akan cari hotel terdekat saja, Jaksa menginginkan mediasi antara aku dan Dokter Doni besok."


"Soal apa?"


"Rumah. Itu adalah rumah milik kedua orang tuaku mba, bagaimana mungkin Dokter Doni menempatinya bersama selingkuhannya." Dinda bercerita dengan tersenyum getir, Clarissa senantiasa memeluk Dinda erat. "Ica tetap disini dulu ya, sampai rumah itu kembali sama mama dan kita akan berkumpul lagi bersama kak Bintang dan bi Siti,"


Clarissa mengangguk.


"Aku senang loh kalau Clarissa masih tetap berada disini, rumah itu pasti tetap menjadi milikmu Dinda, kamu memiliki hak atas itu." Anita mengelus puncak kepala Clarissa. "Jangan khawatir soal Clarissa, kami akan menjaganya dengan baik. Kamu tau sendirikan bagaimana sayangnya Gio sama Clarissa."


Dinda mengangguk, matanya berkeliar melihat kelantai atas. "Dokter Gio masih di rumah sakit?"


"Iya, katanya ada urusan."


"Ma...." Clarissa berusaha menahan semuanya, tapi dia ingin menanyakan satu hal.


"Iya sayang." Dinda menatap Clarissa yang masih memeluk dirinya.


"Kalau kita kembali kerumah itu, apa mama akan kembali kerja dirumah sakit? mama tidak akan kembali kerumah nenek lagi kan?"


Dinda mengangguk. "Iya, mama usahakan akan cari kerja dirumah sakit lain jika tidak bisa kembali kerumah sakit Adietama."


"Aku bisa bantu,"

__ADS_1


"Jangan mba, biarkan ini mengalir dengan sendirinya." Dinda tersenyum tipis. "Terima kasih mba, aku senang bisa kenal baik dengan keluarga kalian. Mba dan Dokter Gio yang begitu menyayangi Clarissa, Putra yang baik bahan seluruh teman-temannya yang dengan senang hati dekat dengan Clarissa walaupun aku tau, aku tidak pernah mendidik Clarissa menjadi anak yang ramah."


"Jangan berkata seperti itu, Dinda." Anita menarik tangan Clarissa dan digenggamnya. "Tetap ada hal yang menyenangkan dari Clarissa yang membutku begitu sangat merindukannya jika berjauhan."


Dinda masih tidak menyangka, dia begitu takut membiarkan Clarissa dekat dengan keluarga Adietama. Mungkin, bisa dikatakan penyebab Clarissa menjadi anak yang pendiam dan tidak menyenangkan adalah keluarga Adietama. Jika saja putra sematawayang mereka tidak menjadikan putrinya sebagai tempat pelarian dari perempuan-perempuan yang mengejarnya, sudah pasti Clarissa akan baik-baik saja.


Clarissa akan tumbuh menjadi anak yang menyenangkan, memiliki banyak teman dan mau ikut seluruh kegiatan disekolah.


Tapi, dilain sisi Dinda sangat sangat bersyukur dipertemukan dengan keluarga Adietama. Seluruh beban yang harus ditampungnya menjadi lebih ringan berkat bantuan Gio Adietama.


"Terima kasih mba, terima kasih sudah mau menjadi orang terdekat yang aku percayakan."


"Serahkan semuanya padaku." Ucap lantang Anita membuat Dinda tidak bisa lagi menahan air yang sudah berkumpul dipelupuk matanya.


...🌼🌼🌼...


Kedua alis Clarissa berkerut, pasalnya kamar yang sudah dia gunakan selama tinggal dirumah Adietama menjadi ramai. Sejak kapan kamar yang dia tempati memiliki permainan yang disukai anak laki-laki, Clarissa berjalan masuk dengan perlahan.


"Ica...." Rinda melambaikan tangannya tinggi, meminta Clarissa untuk mendekat dan duduk disebelahnya.


Noel, Erlangga serta Daze yang baru tiba sehabis kabur dari amukan mamanya karena balapan itu langsung duduk disofa santai, mereka sedang bermain kartu. Putra tengah duduk dikasurnya memainkan stik Ps3 bersama Rinda yang duduk dibawah beralaskan karpet berbulu.


"Pinter banget sih..." Putra mengelus puncak kepala Clarissa ketika beranjak dari duduknya dan keluar kamar.


Tentu saja perlakuan itu membiusnya, Rinda yang mengajaknya untuk duel saja tidak dia dengarkan.


"Ca..." Clarissa tersadar ketika lengannya di senggol olwh Rinda. "Tekan okey tuh, duel kita."


Clarissa nurut saja dan memulai memainkan permainan bersama Rinda. Putra masuk membuat Clarissa tidak kosen, apalagi saat laki-laki itu berjongkok didepannya dan memberikan amplop hitam dengan sebuah tulisan berwarna perak.


"Apa tuh, Put?" Yang ditanya tidak menanggapi, dia tetap memandang Clarissa sampai perempuan itu meraih amplop. "Apa tuh, Ca?"


Amplop dibolak-balik, terdapat namanya yang tertera jelas dengan indah. "Tiket undangan dari Bad Omens."


"Anjir,,,," Rinda merebutnya dan berlari menghampiri ketiga temannya yang sibuk bermain kartu. "Lihat nih, Clarissa dapet undangan dari Bad Omens, keren kan?"

__ADS_1


"Dia yang dapet kenapa lo yang pamer."


Rinda mendengus menatap Erlangga. "Gue cuma mengekspresikan bahagianya Clarissa yang dia sendiri gak bisa menunjukkan."


"Lo terlalu berlebihan." Tanggap Erlangga lagi.


Daze menggeleng kecil dan beralih menatap Clarissa. "Kapan Ca?"


"Sabtu malam minggu..."


"Asek..." Timpal Rinda sembari menatap kagum amplop milik band favorit Clarissa. "Lo gak beli tiketnya Er? lo kan suka Bad Omens juga. Gue mau beku tapi gak banyak tau lagu mereka, jadi gak gue belilah."


"Suka bukan berarti harus nonton."


Rinda mengelus dadanya, berusaha sabar dengan ucapan kasar Erlangga. Coba saja kalau kecelakaan itu merusak tenggorokannya, Rinda yang akan bersorak gembira karena Erlangga tidak akan mengeluarkan kata-kata kasar lagi. Tapi mungkin jika itu benar terjadi, dia sendiri yang akan menangisi setiap harinya.


"Sama siapa Ca nontonnya?" tanya Putra.


Clarissa menelan salivanya, dia tidak mengalihkan tatapannya dari layar permainannya.


"Kanya mungkin."


Daze tertawa. "Kanya suka nonton ginian juga?"


"Enggak, dia cuma nemenin dari luar area."


"Sayang banget gak bisa nemenin Ica," Putra berujar, dia duduk dibawah sebelah Clarissa, bersandar pada kasur.


"Emang lo mau kemana Put? kok gue gak tau apa-apa soal perginya lo?"


Clarissa menghembuskan napas lega, pertanyaan yang ada pada otaknya telah diucapkan oleh Noel yang berjalan mendekat meraih minuman bersoda didekatnya.


"Papa ngajak ketemu rekan bisnisnya di luar kota." Putra menyandarkan kepalanya pada kasur dan menatap Clarissa. "Gak apa-apa kan Ca?"


"Kenapa harus nanya sama gue?" jawabnya tanpa melihat laki-laki disampingnya.

__ADS_1


Putra melirik tajam kearah keempat temannya yang menahan tawa, mengejek dirinya soal Clarissa yang terlihat sangat tidak perduli.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2