
Kakinya bergerak cepat menuruni anak tangga, dia tidak perduli jika ada yang mendengar kegaduhannya, apa lagi soal keselamatan dirinya yang mungkin saja dapat terjatuh karena kakinya beradu untuk sampai ke lantai utama. Dadanya berdetak kuat, otaknya tidak dapat bekerja dengan baik karena membuatnya berulang kali bingung untuk pergi ke arah mana.
"Wanita itu membenci mama, dia tidak suka apapun yang bersangkutan sama mama. Keluarga Adietama sangat perduli pada kami, maka dari itu dia membuat seluruh orang terdekat kami kesakitan."
"Iya. Kami memang tidak kenal baik sama Om Raka, papa Meysa. Tapi, Om Raka kenal baik sama keluarga Adietama, paham kan?"
"Gue merasa bersalah sama Meysa, gara-gara papa, dia harus kehilangan papanya."
Isakan kecil itu terngiang di telinga Meysa. "Bangsaaatt!?!?!" Dia memukul kepalanya pada bagian telinga. Kenapa kalimat itu tidak hilang dari otaknya.
Meysa sampai kebingungan untuk keluar dari gedung ini, sialaan, dia sengaja mengikuti Clarissa dan Kanya karena takut mereka akan bertengkar, dengan dia sebagai penyebabnya. Tapi dia salah, Clarissa dan Kanya tidak sedang membahas soal Clarissa yang menerima ajakannya.
BRAK!!?!?!
"Hati-hati elahh...." Meysa tidak perduli pada laki-laki yang tengah berteriak kencang padanya karena tidak sengaja dia senggol. Meysa berdiri dan pergi dari sana. "Woy, gak minta maaf dulu lagi?!?!?"
Kakinya berlari semakin kencang, dia tidak lagi perduli pada tatapan adik kelas yang kaget karena dia berlari sangat kencang dan tidak memperdulikan sapaan ramah mereka. Hingga dia berhenti tepat saat bertabrakan dengan laki-laki tinggi dan langsung menahan kedua bahunya.
"Jatuh begoo."
Meysa menunduk dalam, dia tidak mengelak atau marah karena langkahnya dihentikan. Dalam tundukannya yang lama, isakannya mulai keluar hingga membuat laki-laki tinggi itu menunduk, memberikan jarak pada mereka untuk dapat melihat wajahnya.
"Mey...."
"Papa...."
"Kenapaa??"
Meysa mendongak, ini pertama kalinya dia menangis, entah kenapa dia merasa sesak sekali. Dia tidak perduli kalau laki-laki di depannya ini akan mengejeknya nanti saat sedang tidak dalam suasana bergejolak. "Apa aku salah kalau jadi bagian dari keluarga kamu?"
"Enggaklah, aneh lo." Putra mengusap air mata dipipi Meysa. "Kenapa sih? yuk masuk kelas,"
__ADS_1
...πΌπΌπΌ...
Jam kosong mereka menjadi berbincangan terkini, Meysa telah menjadi trending nomer satu di grup sekolah mereka. Pasalnya, ini soal perempuan itu yang mendadak mendapat perhatian manis dari Putra, foto mereka berdua dengan posisi Putra memeluk Meysa juga sudah tersebar. Bahkan nama Clarissa tidak lagi menjadi topik pencarian mereka di grup sekolah.
Hanya Meysa.
Yap, Meysa saja.
Saat ini sang topik utama sedang terduduk lemas di ranjang UKS sekolah SMA Gemilang Cahaya. Matanya kosong, kemungkinan pikirannya yang sedang menguasai dirinya saat ini. Rosita duduk disisinya, setelah mendapat panggilan dari Marisa sebagai ketua kesehatan sekolah, dia berlari kencang untuk menghampiri Meysa sekarang.
"Sorry ya...." Meysa tidak menjawab permintaan maaf Rosita, dia tidak perduli apa yang tengah mantan sahabatnya ini sesali. "Gue, gak dateng ke pemakaman bokap lo."
Meysa menatap kearah lain, dalam hatinya berbisik, ternyata soal itu ya? Meysa hanya menjawab. "Gue gak perduli."
"Keluarga Leo ada acara,,," Rosita hendak menjelaskan, tapi Meysa sudah berdecak malas mendengarkan penjelasan darinya. Rosita memilih diam saja.
"Karangan bunga segede itu juga udah ngasih tanda kalau lo perduli walaupun gak dateng." Jelasnya. Dia memang merasa sakit karena tidak ada satupun teman atau keluarga yang hadir saat itu. "Lagian gue gak suka keramaian, jadi nyantai aja soal lo gak hadir kemarin."
"Ros.."
"Hm...?"
"Lo,, masih marah ya sama gue?"
Rosita mengerjapkan matanya. "Marah? soal apa?"
"Sudah lama kita gak teguran, semejak lo marah karena gue sudah gak terkontrol buat gangguin cebol, ehh maksud gue Clarissa. Seharusnya gue dengerin kata lo, kalau Putra gak akan terima sesuatu sudah mengganggu miliknya."
"Gue memang gak pernah dekat atau akrab sama Putra, kami saling kenal juga karena gue selalu jadi girls flag balapan mereka sekaligus karena gue pacar Leo." Ujarnya. "Tapi gue tahu bagaimana sikap Putra selama gue kenal dia, Leo ceritain semuanya sama gue. Jadi ya gitu dehh..."
"Ros, selama kita sahabatan, ada rahasia yang gak pernah gue ceritain sama lo."
__ADS_1
Rosita menatap lurus, dia mengangguk pelan. "Ya santai aja, bukannya dari awal kita berempat sudah sepakat gak perlu umbar rahasia besar apapun." Rosita tersenyum lagi. "Walaupun lo tahu semua tentang gue, sekalipun gue gak pernah ingin tahu soal lo. Gue cukup jadi pendengar dan menunggu apapun cerita dari lo."
Meysa menghela npasanya, dia menerawang pandangan kearah lain. "Gue gak salah milih lo jadi sahabat gue."
Kalimat itu membuat Rosita berdecak. "Baru tahu ya kalau gue ini emang beneran tulus temenan sama lo. Cuma ya lo aja yang aneh, pakai ngajak dua cepu itu buat gabung di kita. Sudah lama emang gue gak suka sama tingkah mereka berdua, makanya gue gak pernah gabung lagi kalau kalian mau ngerencanain sesuatu. Yakan?"
Meysa baru sadar, mereka memang tidak pernah kumpul dengan anggota penuh jika Meysa hendak melakukan perbuatan menyebalkan. Rosita selalu menjauh atau pura-pura sibuk jika Meysa, Jesika dan Tias mengatur rencana untuk mengerjai adik kelas atau Clarissa. Meysa menatap Rosita lagi, saat dia terjatuh seperti saat ini pun hanya Rosita yang berdiri di dekatnya.
"Lo tahu nyonya Adietama?"
"Nyokap Putra kan?" melihat Meysa mengangguk, Rosita turut mengangguk. "Kenal, soalnya anggota perusahaan bokap gue kalau check up kesehatan harus di Rumah Sakit bokap Putra, jadi lumayan kenal pernah saling sapa. Kenapa?"
"Gue, anaknya dia."
"Hah? kocak lo."
"Serius."
Melihat wajah Meysa tidak merespon, Rosita menghentikan tawanya. "Ini lo ngomong beneran ya?"
"Iyalah."
"Rahasia besar nih." Celetuk Rosita keheranan. Ia menepuk dadanya kuat-kuat, "bentar bentar, gue masih gak paham. Dan ini dadakan banget buat otak gue,"
"Dulu bokap gue kurang berada, mama yang memang dasarnya cantik dan berpendidikan tinggi ngerasa kurang. Makanya pergi dan ketemu sama anak pertama Adietama."
"Gio Adietama?" Meysa mengangguk. "Ohh, gue paham kenapa keluarga Adietama baik banget sama lo, bahkan Gio Adietama jadi wali lo selama sekolah ini. Terus, semua biaya hidup mewah lo juga dari mereka kan?"
"IYA!!" Meysa menghela napas. "Yang masih gue sesali ya cuma satu, mama gak bisa nerima gue di rumah itu. Setelah bokap meninggal, dia sibuk mau bawa gue kerumahnya."
Rosita bergerak memeluknya, mengelus punggu Meysa untuk menenangkan, dia menceritakan segalanya dengan nada bergetar. Pasti sakit, selama ini sikap Meysa menyebalkan memang hanya untuk mencari perhatian.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ