Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:28


__ADS_3

Dengan gesit tangan Bintang meraih lengan Clarissa yang sudah mengangkat tinggi, mencegah kegilaan yang akan diperbuat oleh adiknya itu.


"Gak usah macem-macem dek, kamu baru beli ponsel itu." Ucapnya masih dengan menggenggam tangan Clarissa yang menjulang tinggi, dia berucap tanpa menatap sang adik, menunduk menyeruput ice chocolate.


Dia mengangkat kepalanya, mulutnya mengunyah boba yang banyak dia seruput tadi. "Mau kamu banting juga percuma, dia gak akan chat kamu."


"Ica gak lagi nunggu chat seseorang?"


"Kelihatan jelas kok, kamu dari tadi cuma fokus mandangin ponsel dan mendengus kesal sepanjang film berlangsung." Rehan ikut mengeluarkan protesnya terhadap sikap Clarissa selama menonton film di bioskop tadi. "Kamu lagi nunggu chat Putra?"


"Mana mungkin Putra mau chat dia."


Clarissa hanya menatap tajam Bintang, lalu menatap Rehan dengan memasang senyuman. "Lagi nunggu chat konfirmasi dari admin konser Bad Omens kak,"


"Ohh kirain."


Clarissa memandang ponselnya lagi, menampilkan roomchat antara dirinya dan Putra. Belum ada pesan masuk sampai sekarang,


Katanya harus bales setiap dia chat, satu pesan pun gak ada dari dia.


...🌼🌼🌼...


Setelah sampai dihalaman rumah besar Adietama, Clarissa keluar dari mobil. Melambaikan kedua tangannya kearah Bintang dan Rehan.


"Salam buat tante Anita sama om Gio, kakak gak bisa mampir, takut Raisa nungguin. Ini sudah malam soalnya."


Clarissa hanya mengangguk. "Bilang sama dia, kalau sudah buat janji buat jalan bareng jangan seenaknya batalin. Ica mau pergi karena kakak bilang dia ingin main bareng sama ica."


"Iya sayang, maaf, besok kakak kabarin lagi kalau dia ada waktu," Bintang melambaikan tangannya setelah Rehan juga berpamitan kepada Clarissa dan membawa mobilnya keluar.


Pelayan wanita membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. "Nona Ica mau saya buat kan makanan?"


"Saya sudah makan, terima kasih."


"Mau saya buatkan susu hangat sebelum tidur?"


"Boleh.."


Pelayan itu tersentak kaget dan menarik tangannya canggung ketika Clarissa menyentuhnya. "Maaf nona, anda butuh sesuatu?"


"Om sama tante belum pulang?"


"Bapak ada operasi malam dan ibu sedang menemui adiknya, tuan Putra sama sekali belum pulang." Jelasnya.


Clarissa berdecak, "saya gak tanya soal Putra tuh."


"Maaf nona, ada lagi?"


Clarissa menggeleng, "terima kasih."


"Saya permisi nona." Melihat pelayan itu sudah berjalan menuju dapur, bergegas Clarissa berlari masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piama tidur lalu mencari buku-buku sesuai jadwal pelajaran kelasnya besok.


Pintu terketuk membuat Clarissa berdiri dan membukanya, "Putra...."


Clarissa meraih gelas tinggi berisi susu putih hangat dengan alas kaca. "Dari mana?"


"Dari kamar."


"Kata mba yang tadi lo belum pulang dari siang?" tanyanya sembari menaruh gelas di atas meja belajar, dia duduk dan mulai membuka buku pelajaran.


Terdengar suara pintu tertutup, "cie nanyain keberadaan gue.."


"Gue cuma nanya om sama tante doang kok, tapi di jelasin semuanya." Melirik Putra sekilas.


Laki-laki itu tersenyum tipis. "Lo gemes gitu ya kalau lagi gerogi."


Apa dia tertangkap basah sedang gugup di perhatikan oleh Putra? Clarissa menoleh, dia menggeleng kecil. "Siapa yang gerogi?gue biasa aja kok."


"Berarti ada yang salah sama mata gue." Mengucek matanya pelan sembari mengintip Clarissa dari celah jari-jarinya. Dia tersenyum lagi. "Lagi ngerjain apa sih?? memangnya kita ada tugas?"


Clarissa menunduk, dia dalam kungkungan tubuh Putra, dia bahkan dapat merasakan hembusan napas laki-laki itu di ujung telinganya. "Memangnya harus ada tugas dulu baru kita buka buku? gue lagi belajar."


"Gue kalau lagi ada tugas aja sih baru buka buku, itupun kalau ingat." Memiliki otak cerdas memang beda ya? "Kenapa Ca?"

__ADS_1


"Lo bisa jauhan dikit gak sih? gue gak bisa napas."


Putra menegakkan tubuhnya, dia duduk di meja belajar Clarissa. "Ya tinggal napas aja sih. Kenapa ribet gitu."


"Mending lo ngerjain sesuatu yang bermanfaat, gue sibuk soalnya. Besok harus persentase tugas kelompok."


...🌼🌼🌼...


Kantin sudah menjadi markas khusus untuk Meysa dan teman-temannya, mereka tengah duduk dimeja paling tengah minus Rosita, perempuan itu sudah tidak ingin bergabung duduk dengan gengnya. Maaf, mantan geng maksudnya.


Kejadian Clarissa keluar dari gedung labor dengan ujung bibir mengeluarkan darah sudah sampai ditelinga Leo, dia di marahi habis-habisan. Tapi, untung saja berita itu tidak smapai di telinga Putra. Buktinya, Meysa dan lainnya masih dapat menghirup udara segar.


"Ros...."


Rosita berjalan melewati mantan gengnya, menulikan panggilan ramah Meysa.


"Sudahlah Mey, dia emang sudah berkhianat." Ujar Jesika sembari menyeruput kuah bakso. Dia berani mengatakan hal itu karena Rosita terlihat duduk di sebelah Kanya dan di kelilingi oleh teman dekat Kanya tanpa Clarissa.


Meysa hanya diam, di antara pertemanan mereka dulu Rosita memang berbeda, dia terkenal anak yang ramah dan berhati baik, tidak seperti anggota geng lainnya, bergaya sok berkuasa. Mengingat hal itu Meysa semakin berkecil hati, wajar saja Rosita berani keluar dari lingkaran pertemanannya. Karena saat dia memutuskan pergi, sudah banyak yang menginginkan untuk menjadi temannya.


Sekali lagi Meysa menatap Rosita hingga pandangannya di ketahui oleh mantan sahabatnya itu sendiri. Tatapan mereka sama-sama kosong, tidak ada sorotan menginginkan sesuatu, Rosita lebih dulu memutuskan pandangan saat Kanya menyenggolnya dan memberikan gorengan hangat.


"Kalau lo gak tega ninggalin dia, yaudah lo balik lagi aja kesana." Ucap Kanya sembari memotong tempe goreng di atas mangkuk bakso milik Rosita. "Gue tau, lo masih perduli sama dia."


Rosita tersenyum. "Kata siapa gue perduli sama dia? menurut Leo, gue harus tau diri untuk mendukung siapa sekarang."


"Maksud lo?" Delisa dan Vina ikut penasaran maksud dari Rosita.


"Orang yang harus gue dukung itu Clarissa, bukan Meysa. Itu kalau gue mau hidup nyaman sampai gue lulus." Delisa dan Vina saling pandang, "kalian pasti tau dong, kalau Clarissa itu dianggap special sama Putra."


"TAU!!!!"


"Itu udah dari kelas dua." Delisa dan Vina sama-sama menganga, sedangkan Kanya diam memandang Rosita. "Gue tau sewaktu Leo bilang kalau kakak sama adik kelas kita kalau gak salah ada enam orang di DO dari sekolah secara tiba-tiba."


"Iya, iya, gue tau tuh. Tapi gak ngerti sih apa alasannya karena di rahasiakan gitu."


Kanya menatap Vina. "Itu karena mereka bully ica."


"Apa!!!?????" Tidak hanya Vina, Rosita dan Delisa juga turut terkejut.


Kanya tersenyum tipis, bagaimana dia tidak tahu. Dialah orang yang mengadu langsung pada Anita, nyonya Adietama. Tidak hanya mengadu, dia bahkan mengucapkan setiap kalimat dengan amarah besar.


"Tau aja." Jawabnya, dia tidak ingin ada yang tahu tentang pengaduan kasar itu.


Ketiganya menggeleng takjub. "Cih, makanya Leo selalu kasih tau sama gue, kalau gue gak boleh berada di pihak yang bakal mengancam nyawa gue sendiri. Dia bahkan bilang, teman makan teman itu harus gue terapin di diri gue sendiri. Kenapa? karena itu gak bakal ngerugiin gue."


"Tapi lo bakal di cap sebagai pengkhianat sama temen-temen lo."


Rosita menggeleng, "gak masalah. Selagi sekolah sama hidup gak bergantung sama mereka, gue tetep enjoy."


"Lo emang keren Ros...."


...🌼🌼🌼...


Senyum di bibir tipisnya tidak memudar sama sekali, dia tengah menatap pujaan hati sedang bermain basket di tengah lapangan sekolah. Tidak lupa bluetooth earphone yang setia berada di telinganya, memutar lagu Jungkook BTS - STILL WITH YOU sebagai pemanisnya.


Clarissa menunduk, bersikap pura-pura membaca novel yang terbuka sejak tadi dalam pangkuannya saat tidak sengaja Putra melihat kearahnya.


Dia melirik lagi dengan posisi tetap menunduk. Namun, menghilangnya Putra membuatnya mengangkat kepala dan menacari sosok laki-laki mengagumkan itu.


"Cari siapa Ca?"


Clarisaa tersentak ke samping ketika Putra sudah duduk di dekatnya dan tiba-tiba mengajaknya bicara. Secepat itu dia berpindah?


"Lo kaget segitunya?"


"Biasa aja." Mengedipkan mata, menelan salivanya, meremas novel dan menggeser sedikit tubuhnya agar menghilangkan jejak tertangkap basahnya. "Gue pegel aja, makanya kepala gue tolehin gini." Memperagakan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Putra terkekeh melihat itu, "mau nemenin gue gak sepulang sekolah??"


"Kemana?"


"Mall, cari kado."

__ADS_1


"Siapa yang ulang tahun? tante Anita? om Gio atau temen-temen lo."


Putra mengembangkan bibirnya. "Bukan buat mereka. Mau gak? nanti gue pinjem mobil Erlangga. Soalnya kan gue bawa motor."


Clarissa diam sejenak, pergi berbelanja bersama Putra? astaga, itu belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Sudut bibirnya tertahan ketika matanya melihat Meysa tengah memperhatikannya. Putra yang tahu itu langsung mengelus puncak kepala Clarissa.


"Gue gak mau tau, lo harus nemenin gue." Dia berdiri menghentakkan kerah kemeja sekolahnya, "haus, mau nitip gak? gue mau ke kantin nih."


"Enggak."


"Yaudah, gue cabut dulu." Berlari menghampiri teman-teman main basketnya.


Clarissa merapikan buku dan meraih ponselnya yang tergeletak, bisa saja Meysa mengejar dan mulai menjahilinya. Walaupun nyalinya kuat untuk melawan, tapi kalau ratu kecantikan itu sudah bermain keroyok, dia bisa apa?


...🌼🌼🌼...


"Lo mau cari kado apa??"


Mereka sudah berdiri di pusat perbelanjaan, menatap ke sekeliling mereka untuk mencari tempat tujuan. Sayangnya, Putra tidak memliki tujuannya


"Setiap orang itu di wajibkan memiliki sebuah tujuan. Tujuan masa depan, tujuan hidup dan tujuan ke mana kita sekarang." Putra malah tersenyum mendengarnya. "lo bilang mau beli kado, ya seharusnya lo tau apa yang mau lo beli, keliling itu ribet, Putra."


"Kalau, tujuan gue itu lo gimana?"


Clarissa berdecak, dia menahan senyumannya. "Gue serius, mau cari apaan?"


"Mau cari perhiasan aja."


"Okey dokey." Mereka berjalan menuju toko perhiasan dengan berbagi macam bentuk dan tentu saja indah.


Clarissa berkeliling untuk melihat-melihat, membiarkan Putra mencari sendiri barang yang di inginkannya. Hingga dia melihat sendiri, raut wajah Putra begitu bersinar, memperhatikan satu per satu kalung berbandul berlian pada kotak di atas meja kaca. Clarissa memperhatikannya, dia penasaran siapa yang akan Putra berikan?


"Ca, sini." Clarissa menyadarkan lamunannya, dia berjalan mendekati Putra.


Laki-laki itu menunjuk empat kalung dengan model berbeda. "Menurut lo bagusan mana Ca??"



Clarissa menujuk kalung dengan mainan berbentuk kupu-kupu. Putra tersenyum, "ini yang gue tuju dari awal." Mendorong kotaknya, "ambil ini mba, Ca lo mau gak?"


"Gak."


"Yaudah mba itu aja," ucapnya sembari menyodorkan kartu black card yang membuat pegawai cantik itu ternganga kaget. "Bungkus yang ini juga deh mba."


Selagi menunggu Putra membayar dia berjalan keluar toko perhiasan dan meraih ponselnya, dua pesan dari Rehan ia dapatkan.


BRUKK!!!


"Ah, maaf." Clarissa berdiri dan membantu kain pel serta sapu yang tergeletak dilantai, "maaf tidak sengaja."


"Gak apa-apa kak, saya yang salah taruh di tengah jalan." Dia mencegah Clarissa untuk mengambil botol sabun pembersih lantai, "terima kas... ih, kak Ica?"


"Eh," Clarissa tersenyum tipis, "kamu kenal aku? maaf sebelumnya, kamu siapa?" Seluruh orang yang memanggilnya dengan panggilan singkat pasti mengenalnya sangat dekat, tapi siapa dia?


"Kakak gak ingat sama aku? aku Elia, adik kelas kakak waktu itu."


"Waktu itu? SMP atau SMA?? maaf."


Perempuan itu menatap lebar ke arah sumber suara yang memanggil Clarissa jelas. "Kakak sama kak Putra, maaf kak, permisi..."


Clarissa menatap kaget, perempuan yang mengaku adik kelasnya itu sudah berlari jauh sambil mendorong troli pengangkut alat-alat pembersih lantai.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


PUTRA RIZQI ADIETAMA



CLARISSA FATIYAH ADAMS



AUTHOR YANG KENTANK

__ADS_1



__ADS_2