
...πΌπΌπΌ...
Amarah tidak dapat melihat situasinya, pagi, siang atau malam, semua akan hadir begitu saja. Bahkan itu tidak melihat tempatnya. Pagi ini, SMA Gemilang Cahaya dipenuhi dengan keributan, dalangnya adalah Meysa Adelia. Perempuan ganas itu sudah masuk kedalam kelas dua sahabat lamanya, Jesika dan Tias.
"Gue lupa kalau kalian berdua itu busuk, lebih utama lo sih Yas."
Yang ditunjuk malah menunjuk dirinya dengan tidak tahu diri. "Kok gue?"
"Maksud lo apa nyebarin berita itu?"
"Berita apa ya nih?"
"Gak usah begoo, Tyas."
Tyas tersenyum. "Itu berita baik loh, lo gak mau ajak-ajak?"
Meysa menghela napas pelan, dia harus tetap sabar untuk mencapai jawabannya. "Gue gak lagi ngajak lo bercanda."
"Lah, siapa yang lagi ngajak bercanda." Jesika terkekeh mendengar ucapan Meysa. "Mey, lo seharusnya bersyukur sama kita karena udah nyebarin berita baik, semua orang merasa bahagia atas lo lohh,"
Meysa mendengus. "Bahagia? sini maju yang merasa bahagia atas gue?"
Tidak ada yang menanggapi, Meysa menatap tajam Tyas dan Jesika. "Gue tunggu loh permintaan maaf kalian berdua."
"Dalam persahabatan tidak ada kata maaf Mey,"
"Cuih, sakit lo berdua. Sejak kapan ada istilah gitu." Meysa maju selangkah, Jesika yang berdiri sedikit memundurkan tubuhnya. "Gak nyangka ternyata pertemanan kita sedangkal itu, gue sampai berpikir kalau Rosita orang yang menyebarkan itu,"
"Terus, kenapa lo gak stuck dipikiran lo itu aja?" Tyas berucap lantang. "Lo kan bangga punya dia, seharusnya lo bisa juga bangga karena dia udah nyebarin itu."
"Lo pikir ada yang perlu dibanggain soal itu,"
"Ada." Jawab Jesika cepat,
Tyas menahan tawanya. "Bangga dong, jadi bagian dari keluarga Adietama, pemilik Rumah Sakit terkenal, pemilik yayasan SMA Gemilang Cahaya, memiliki anak perusahaan dimana-mana. Bahkan lo bakal jadi adik Putra, laki-laki yang lo idam-idamkan selama ini Mey."
Beberapa siswi yang mendengar turut berbisik dibelakang, Meysa hanya menunduk sekilas lalu kembali menatap kedua mantan sahabatnya. "Itu bukan hal yang patut lo banggain."
__ADS_1
"Kenapa? karena lo gak bisa dapetin Putra, iya? sayang banget ya Mey, padahal beberapa orang ada yang nganggep kalian itu couple goals banget kalau berdua." Tyas terkekeh. "Pantes selama ini Putra kelihatan gak suka sama lo, bukan karena gak mau, tapi ya karena kalian gak bisa."
"YALL SHAT UP!!!!" Teriak Meysa, tentu saja itu membuat seisi kelas terdiam, dari kelas lain juga ada yang ikut menonton bahkan masuk kedalam kelas untuk mencari informasi. "Gini cara balas budi kalian ke gue, selama sikap baik gue ke kalian dibalas kayak gini."
"HEH, semua yang lo kasih ke kita juga bukan kerja keras lo Mey." Jesika maju, matanya menyalang pada Meysa. "Semua itu dari Adietama, lo yang harusnya malu bukan kita."
"Seharusnya gue sadar kalau selama ini kalian temenan sama gue gak pernah tulus, cuma butuh uang gue doang."
"YA MAKANYA LO MIKIR BEGOO?!!" Tyas lebih berani, dia datang kehadapan Meysa dan menunjuk-tunjuk Meysa hingga kepala gadis itu bergoyang akibatnya. "Siapa yang mau temenan sama lo kalau bukan karena uang,"
Mendadak Tyas tersentak kebelakang, setelah dia menunjuk kepala Meysa hingga terguncang, ada seseorang yang mendorong kepalanya hingga memundur kebelakang. Tyas hendak marah, tapi dia tahan ketika melihat Putra berdiri disana, dibelakangnya ada Rosita berdiri, matanya menatap tak suka.
"Teriakan kalian sampai di kantor guru," ucap Putra datar. "Lo sentuh Meysa, berurusan sama gue."
Jesika menampilkan senyum smriknya. "Lo mikir Putra, nyokapnya dia cuma manfaatin uang bokap lo doang. Orang miskin akan gila jika bertemu dengan uang."
"Termasuk lo berdua?"
Wajah Jesika dan Tyas berubah pias, tidak menyangka jika Putra malah membalikkan kata-katanya.
"Lo tahu, gue yang minta bokap gue nikahi nyokapnya Meysa. Dan bokap gue sendiri yang mau membiayai hidup Meysa dan bokapnya, bahkan sebelum otak bokap Meysa tidak bekerja lagi, mereka sering mengobrol." Meysa menoleh, dia tidak tahu soal itu. "Bokap gue gak mau ambil Meysa karena takut nyokap bakal balik lagi sama bokapnya Meysa. Makanya bokap gue lebih baik mantau dari jauh aja, dan gak bolehin nyokap nemui Meysa."
Jesika dan Tyas tidak berkutik mendengar penjelasan Putra.
"LO!!!!!"
Putra mengangkat tangannya. "Terlepas dari kaya atau miskin, kami tetap keluarga. Lo tau? nyokap gue, maksudnya nyokap kami berdua adalah pemilik yayasan SMA Gemilang Cahaya, lo lakuin sesuatu sama Meysa, kalian berdua habis."
"Lo gak capek jadi tameng buat penjilat kayak mereka?"
"Mereka? who do you mean?" Tanyanya.
"Nyokap dia, dia sama cebol."
"Cebol? who is that?"
"Clarissa Fatiy....."
"Tutup mulu busuk lo, jangan pernah lo pakai untuk menyebut nama Clarissa," Putra maju, masih dengan wajah datar sepanjang berbicara, dia melihat seluruh teman-teman yang menyaksikan mereka. "Clarissa itu pacar gue, bokap gue sayang melebihi sayangnya ke gue dan Meysa. Bahkan nyokap kami gak akan melepaskan Clarissa bagaimanapun caranya, lo tahu? siapapun yang udah mengganggu Clarissa dari dulu sudah tidak terlihat di depan mata gue lagi. Kalian selamat, pembullyan yang kalian lakukan tidak berdampak buruk karena mama tidak mau mengecewakan teman-teman Meysa. Siapapun yang berani menyentuh Meysa ataupun Clarissa, gue pastikan tidak ada yang selamat kedepannya."
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab. Putra berbalik, menarik tangan Meysa dari kerumunan kelas itu, Rosita maju menatap mantan dua temannya. "Itulah kenapa gue gak mau berurusan sama Clarissa, karena apa yang udah ditempeli sama Putra, bakal berdampak besar. Kalian berdua sudah kelewatan, gak nyesel gue ninggalin pertemanan kita dari awal."
Jesika dan Tyas masih terdiam, wajah mereka masih kesal melihat sikap yang dilempar pada Putra dan kata terakhir yang Rosita ucapkan.
...πΌπΌπΌ...
"GUE GAK BUTUH BANTUAN LOO!!!??" Putra melepaskan tangan Meysa secara kasar ketika mereka telah sampai dikelas. Clarissa dan teman-teman yang lain menatap kaget dengan suara yang melengking itu, mata Meysa juga terlihat memerah.
"Lo kenapa sih? ngomong terima kasih aja susah banget."
Meysa mengelus tangannya yang kesakitan karena Putra tarik. "Karena gue gak pernah minta pertolongan sama lo,"
"Ya seenggaknya lo bilang terima kasih sama Kanya karena udah kasih tahu siapa dalangnya."
Kanya melirik Clarissa, dia duduk dibangku sahabatnya itu dan menyaksikan perdebatan pagi-pagi. "Sudah clear masalahnya?"
"Sudah," jawab singkat Putra lalu kembali menatap Meysa. "Susah ya Mey bilang terima kasih? gak lo minta tolong pun ya bakal gue bantu Mey, inget, semua orang tahu kalau lo itu adik gue sekarang."
"Tapi gue gak butuh perlindungan lo, gue gak butuh kekuasaan dari bokap lo. Kalau mau jadi pahlawan ya lindungi aja CLARISSA!!!!!" Putra menutup mulut Meysa untuk diam, dia terkekeh pelan ketika Meysa memberontak keras.
Kanya melirik Clarissa yang kembali bermain ponsel. "Gak cemburu Ca?"
"Berisik."
"Lo sama Clarissa berharga Mey."
"Cieee....."
Putra melirik Kanya tajam, melihat Kanya diam kembali Putra menatap Meysa. "Mama bakal marah kalau tahu putri kesayangannya tersudutkan kayak tadi, untung Rosita ngasih tahu gue."
"Bilang sama nyokap lo, TELAAATTTT!!!!"
"Nyokap kitaa," Putra mengingatkan pada Meysa bahwa yang dimaksud Meysa adalah ibu mereka berdua. "Mey, nyokap kita."
"Berisik loo,"
"Lo gak tahu selama ini nyokap mantau lo terus."
"Lo tahu berisik gak sih," Meysa menutup kedua telinga dengan tangannya, menunduk, berusaha tidak mendengar penjelasan Putra.
__ADS_1
Putra berlutut dihadapan Meysa, mengelus puncak kepala perempuan itu yang direbahkan diatas meja. "Pulang ya, mama nunggu."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ