Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:71


__ADS_3


...(pict by pinterest)...


...PART INI DIDEDIKASIKAN UNTUK BINTANG, KARENA SUDAH MENJADI KAKAK YANG BAIK DAN TAMPAN....


...🌼🌼🌼...


TING!!!!


Bintang merogoh saku jaketnya, ponselnya menampilkan dua pesan. Satu dari Raisa dan satu lagi nomer tidak dia kenali, tentu saja pesan Raisa dia dahulukan, perempuan itu meminta tolong untuk Bintang jemput selasa siang di Bandara, dengan senang hati Bintang mengiyakan. Pesan kedua dia buka, sebuah tiket minuman dan cemilan gratis dari sebuah cafe.


Dia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku jaket.


"Bintang....."


Bintang menoleh kebelakangnya, seseorang berlari menghampiri dengan membawa beberapa map. "Jangan lupa jam tiga."


"Iya. Ini mau otw, gue ke rumah sakit dulu nemuin nyokap. Mau minta izin. Soalnya ditelepon gak diangkat." Jelasnya.


Temannya itu mengangguk. "Hati-hati."


"Iyehh.."


"Sekali-kali ajak calon lo kenapa."


"Lagi pulang kampung, selasa baru balik."


"Meysa deh bawa."


"Apaan dah." Moodnya menurun, tidak ada yang tidak mengenali Meysa. Saat mereka berpacaran, Bintang mengenalkannya kepada seluruh teman sekelas serta kelompok basketnya dan selalu dia bawa jika ada kegiatan diluar kampus.


"Mumpung calon gak ada, bawa mantan kali." Bintang hanya menggeleng disaat temannya itu terkekeh karena responnya. "Gram mau deketin gak bisa soalnya si Meysa bilang 'masih nunggu Bintang' mantep gak tuh."


"Gak usah didengerin. Gue cabut."


Bintang menepuk bahu Sapta sekilas lalu melangkah menjauh. Dia tidak suka jika temam-temannya membahas soal perempuan itu.


Tepat dihalaman rumah sakit, ia keluar dan langsung menemui sang mama. Dinda memang sedang sibuk dengan pekerjaannya, membuatnya mematikan ponsel dan hanya fokus pada pekerjaannya.


"Maaf ya, mama gak cek ponsel." Dinda tersenyum tipis. "Pulang jam berapa?"


"Mungkin malam ma."


Dinda mengangguk. "Boleh, tapi harus tetap pulang ya jam berapapun."


"Iya ma."


"Sudah makan siang?"


"Sudah ma."


"Ini masih jam satu, masih ada waktu satu jam lagi untuk kamu sampai disana sayang." Dinda masih tidak tega, membiarkan Bintang menemuinya jauh-jauh hanya untuk meminta izin. "Duduklah dulu, mama pesankan kamu minuman."


"Tidak usah, Bintang takut macet."


"Macet kok ditakuti."


Bintang tersenyum. "Soalnya ada pelatih untuk lomba enam bulan lagi. Enggak enak kalau Bintang telat kan Bintang kapten."


"Oh iya, mama lupa kalau anak mama itu kapten basket." Mengelus dagu Bintang manja. "Semangat ya,"


Pintu terbuka memperlihatkan pasien dengan perut yang cukup besar. "Ya sudah ma, lanjutkan aja pekerjaan mama. Bintang pamit."


"Iya. Hati-hati ya sayang."


"Iya ma. Jangan lupa makan,"


Dinda mengangguk, melambaikan tangannya ketika melihat Bintang keluar ruangan.


Bintang menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah pelan, matanya tertuju pada ruangan VIP dan langkahnya berhenti tepat diruangan tersebut. Dia berdiri tepat didepan pintu, mengintip pada celah kaca kecil pada bagian pintu. Tidak ada seorangpun, dan dari dalam terdengar sepi. Tangannya membuka handle dan masuk tanpa permisi.


Terbaring pria seumuran dengan papanya yang terbaring tidak berdaya diatas ranjang. Bintang mendekat dan menatap lekat pria itu, wajahnya tetap sama, hanya kulitnya yang semakin keriput dan rambutnya yang mulai memutih.


Dengan perlahan dia menyentuh tangan pria itu yang tersemat jarum suntik. "Cepat sembuh om, Meysa butuh om."

__ADS_1


"Mas Bintang?"


Bintang tersentak, ia menarik tangannya dan melihat wanita berpakaian serba putih. "Suster."


"Sedang apa?"


"Tidak ada. Hanya melihat-lihat."


"Sehabis menemui Dokter Dinda ya?"


"Um." Dia tidak ingin berbasa-basi, takut cerita semakin panjang. "Saya permisi."


Suster itu tersenyum dan memberikan Bintang jalan untuk keluar ruangan.


...🌼🌼🌼...


"Hai Gram, where are you dude?"


"Sorry bro, tadi pelatih bilang ada urusan jadi jam latihan diundur jam lima sore." Ucap seseorang dari sebrang sana.


"Shiit. Are you kidding me?"


"Sorry baru ngabarin, gue lupa. Lo juga gak aktif di grup."


Bintang menghela napasnya, dia menatap detikan waktu dari lampu merah. "Gue udah setengah jalan."


"Sorry."


"Okelah," Bintang mematikan panggilan, menaruh ponselnya dibangku penumpang. Selagi menunggu lampu merah yang berganti, papan besar pada sebuah gedung yang tidak jauh dari lampu lalu lintas menjadi pengalih perhatiannya. Ia melirik jam tangan, dia sudah menghabiskan waktu satu jam lebih dijalan karena macet.


Saat lampu hijau mulai menyala, Bintang melajukan dan menghentikan mobilnya pada sebuah Cafe, dia masuk dan langsung berdiri dihadapan bar. "Mba."


"Iya." Perempuan berseragam hitam dengan clemek cokelat yang melekat pada tubuhnya tersenyum tipis. Perempuan ini adalah pemiliknya, Bintang yakini itu karena dia selalu melihat perempuan ini sejak dulu saat menjadi langganan. "Mau pesan apa?"


"Maaf, mau tanya nih." Perempuan itu mengangguk saat Bintang sibuk membuka ponselnya lalu memperlihatkan sebuah pesan padanya. "Jadi saya dapet pesan ini, katanya dapet voucher minuman sama cemilan gratis karena sudah jadi langganan dicafe ini."


"Wahh iya betul."


"Btw, saya enggak pernah langganan disini."


"Tapi....."


"Dulu pernah nongkrong disini?"


"Pernah." Sial. Kenapa sih ia harus kesini?


"Wah, mungkin itu yang membuat mas dapet voucher. Soalnya kami mengundi semua pelanggan dari pelanggan lima tahun yang lalu,"


"Oh begitu?"


"Yap, benar." Senyumnya mengembang lagi. "Dari pada kebuang sia-sia, ambil aja mas, saya buatkan sebentar."


"Oke kalau gitu. Kebetulan janji temu sama teman diundur."


"Nah, lumayankan jadi waktunya gak kebuang sia-sia. Cari saja tempat yang enak, nanti saya antarkan." Bintang mengangguk. "Oh iya mas. Silahkan balas 'yes' pada pesan itu."


"Baik." Jawabnya, dia berjalan mencari tempat duduk ternyaman.


Lima menit kemudian perempuan barista itu berjalan menghampiri mejanya dan menaruh pesanan gratisan diatasnya. Sebetulnya Bintang tidak enak, dia seperti laki-laki yang tidak punya uang sampai datang mencari gratisan, tapi ini sebuah keisengan yang mantap. Dia terkekeh mengingat hal ini.


"Iih kenapa mas ketawa sendiri."


Bintang menghentikan tawa kecil dan menatap perempuan itu. "Um, enggak mba."


"Lagi seneng ya?"


"Enggak juga."


Dia mengelus bahunya karena tiba-tiba ditepuk dengan keras oleh perempuan itu. "Jangan diambil semua dong mas, ganteng, manis sama humorisnya."


Bintang tidak paham.


"Suka baca buku mas?" Bintang mengangguk. "Itu dirak banyak buku baru mas, mau saya rekomendasikan?"


"Tidak usah." Bintang mengangkat novel yang ada pada genggamannya.

__ADS_1


"Ya sudah, saya balik kerja lagi." Bintang hanya mengangguk, tidak perlu membalas berlebihan. Perempuan barista itu terlihat aneh dan mencurigakan.


"Haii...." Terdengar teriakan perempuan itu disela menuju barnya. "Voucher gratis nih?"


Tidak terdengar lagi pada telinga Bintang, dia juga tidak perduli dan kembali fokus pada buku bacaannya. Selagi menunggu pelatih dan tim basketnya mengabari untuk berkumpul, tidak rugi juga dia duduk disini.


"Bintang...."


Bintang mendongak dan..... Napasnya berhembus pelan sebelum kembali menatap bukunya.


"Udah lama gak ketemu kamu di Cafe ini?"


Tidak ada jawaban.


"Wihhh, kamu dapet voucher gratis juga?"


"Juga?" Bintang menatap Meysa yang melihat ponselnya. Dia berdiri dan merampas kembali.


Meysa tersenyum. "Um, aku dapet voucher gratisan juga disini," dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan dari nomer yang sama dan isi pesan yang sama seperti miliknya.


Bintang tersenyum tipis, kembali menunduk membaca bukunya. "Kebetulan sekali ya."


"Oh iya, kamu inget gak dulu bukannya disebelah pohon itu....."


"Tolong tenang, aku lagi baca."


"Okey." Meysa diam, menatap barista yang sedang menerima pesanan dan membuatkan miliknya juga. "Dia masih awet aja ya, cantik."


"Um."


"Kamu juga, masih setampan dulu."


Bintang tidak perlu menjawab.


"Aku masih secantik dulu gak?"


Bintang mendongak, menatap datar dan kembali menatap bukunya. "Jangan berisik."


"Okey."


Meysa tersenyum ceria ketika pesanannya datang, "um, kalian saling kenal? aku taruh minuman sama cemilan kamu disini aja ya Mey?"


"Yaps, makasih baby." Meysa tersenyum lagi pada barista itu. "Kenalin dong, mantan aku nih."


"Dih, mantan kok dipamerin sih."


"Good looking sama good attitude loh, makanya harus dibanggain." Ucapnya terdengar bangga disela dia terkekeh geli.


Barista itu mencibir. "Sesempurna itu tidak jadi mantan loh Mey." Kemudian tertawa melihat respon Meysa dan memilih berlari kembali menuju bar tercintanya.


"Hahh..." Terdengar Kanya menghela napas dan menatap minumannya. "Bener sih, kalau sempurna gak akan jadi mantan." Dia bertopang dagu memperhatikan Bintang yang fokus pada bukunya. "Tapi mungkin rasanya tidak secinta ini kalau tidak jadi mantan."


Bintang tidak perduli, dia mengambil ponselnya yang terus bergetar lama, dia kira hanya getaran pesan saja, ternyata sebuah panggilan. Sudah ada puluhan panggilan tidak terjawab dari adiknya, beberapa panggilan tidak terjawab dari papanya, dan puluhan panggilan tidak terjawab dari telepon rumah.


Bintang mengrenyitkan dahinya, kenapa sampai papanya menelponnya. Dia hendak menelpon kembali adiknya, tapi ponselnya bergetar mendapat panggilan dari telepon rumah.


"Yap bi Siti?"


"......................" Kanya hanya memperhatikan Bintang yang terlihat sedang mencoba mencerna kalimat panjang pelayan rumahnya yang sudah bekerja puluhan tahun itu.


"Bi tenang. Mode telepon saya getar bi, tidak dengar. Bibi bisa jelaskan dengan pelan." Bintang berekspresi semakin datar. "Bintang ke rumah sakit sekarang." Laki-laki itu berdiri, membuat Kanya juga melihat panik.


"Bintang ada apa?"


Masih. Masih tidak ingin menjawabnya. Laki-laki itu sibuk memasukkan novel kedalam tas dengan tergesa-gesa.


"Bintang."


"Nyokap serangan jantung."


"Apa." Kanya berdiri, dia menahan Bintang untuk tidak berlari menjauh. "Aku ikut, please."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


BINTANG ANGKASA ADAMS

__ADS_1



__ADS_2