
"Kayaknya gak ada yang perlu gue tanya deh."
"Kayaknya?" Putra membeo, "berarti ada yang mau lo tanyakan dong?"
"Apaan sih? emang gue gak ada mau nanya-nanya kok!?!" Clarissa meninggikan suaranya dikata terakhir, saat dia tersadar langsung berusaha menatap Putra dengan wajah memelas. "Sorry, sorry, gue gak maksud ngebentak. Tapi beneran gue gak ada mau nanya apapun."
Putra mengangguk. "Oke. Tapi janji ya, kalau ada pertanyaan apapun untuk gue, lo harus bilang langsung."
"Iya." Dia melirik mobil papanya yang hendak masuk kedalam halaman rumah ketika gerbang sudah terbuka. "Itu bokap gue, thank you ya."
Putra hanya memandangi Clarissa yang berlari menuju mobil papanya dan berlari memeluk, Doni terlihat tersenyum ke arah mobilnya. Putra hanya mengklakson sebelum dia membawa mobilnya pergi, dia tidak terpikirkan untuk turun dan menyapa.
"Cie, di anterin pangeran."
"Ihh apaan sih papa." Tolaknya, malu sekali mendengar kalimat seperti itu dari mulut papanya sendiri. "Papa dari mana? katanya belum masuk kerja."
"Ketemu teman papa di luar, ayo siap-siap, kita jemput kak Bintang lalu jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama sebelum papa kembali sibuk pada pekerjaan." Ajak Doni, dia memang sengaja meminta izin untuk hal itu, sudah lama mereka tidak pergi bersama-sama. "Kakak bilang sebentar lagi kelasnya selesai."
...πΌπΌπΌ...
__ADS_1
Hari ini hari yang tidak akan pernah Bintang dan Clarissa lupakan, sekian lama mereka tidak melakukan hal seperti ini. Doni menepati janjinya untuk membuat hubungannya dengan anak-anaknya membaik, dia tidak perduli akan diterima lagi atau tidak, yang terpenting saat ini baginya adalah untuk membuat mereka dekat saja. Setidaknya Bintang dan Clarissa harus ingat siapa sosok pahlawan yang selalu ada didekat mereka, anggaplah saja kesalahan kemarin adalah satu dosa yang tidak dapat dihindari lagi.
"Bintang cukup kaget sih, sewaktu mama sama papa bersikap baik-baik saja padahal kalian sudah saling membenci karena perceraian." Ucap Bintang disela mereka beristirahat setelah bermain ice skating. Mereka melihat kearah Clarissa yang sibuk bermain sendirian. "Apa selama ini kalian selalu bersikap seperti itu, baik-baik saja di depan anak-anak?"
Doni tidak dapat mengelak, dia sudah menyiapkan diri dengan banyak pertanyaan yang akan di berikan oleh Bintang maupun Clarissa. "Kami tidak pernah membenci, papa masih menyayangi mamamu, hanya saja saat itu rasa ego papa terlalu menguasi setelah lama tidak bertemu dengan mantan papa. Rasa rindu itu hanyalah sementara, papa melupakan hal itu."
"Kalau saja papa ingat, semuanya tidak akan seperti ini." Bintang menatap Clarissa. "Yang paling terluka disini adalah Ica, dia masih butuh kasih sayang papa dan mama, tapi sikap ego papa membuat Ica harus kehilangan kasih sayang dari mama."
"Maafkan papa."
"Bintang yang perlu minta maaf sama papa, kalau saja mama tidak mengandung Bintang, mungkin papa tidak akan meninggalkan mantan papa itu." Penjelasan itu membuat Doni terdiam sejenak.
"Papa tidak mau menjelaskan soal pak Darmo?"
Dada Doni sesak, dua pertanyaan pembuka dari Bintang membuatnya sakit. Pertanyaan pertama saja belum mereka selesaikan, Bintang sudah menanyakan hal lain yang sama menyesakkan itu. "Kak, soal itu......"
"Papa bisa simpan jawabannya, coba rangkai dulu sebelum papa menjelaskannya ke Bintang."
Clarissa datang, tapi dia memudarkan senyumnya karena melihat papa dan kakaknya memasang wajah serius. Dia hanya duduk di dekat mereka, tidak berani menghampiri untuk bertanya apa yang terjadi pada ekspresi keduanya.
__ADS_1
"Kamu memang darah daging pak Darmo, tapi kamu anak papa."
"Yeah, i know that." Bintang mengatakannya dengan bibir bergetar. "Apa alasan papa mau bertanggung jawab padahal papa bukan pelakunya. Seharusnya papa tidak melakukan hal itu. Seharusnya papa biarkan Bintang lahir tanpa seorang ayah."
"Kak, stop." Doni meraih tangan Bintang pelan. "Papa mohon, jangan mengatakan hal yang menyakitkan, papa sangat menyayangi kalian berdua. Ya. Awalnya memang semua karena uang, papa dibayar untuk bertanggung jawab pada mamamu oleh pak Darmo."
Bintang menengang, Clarissa yang duduk tidak jauh dari sana juga terlihat kaget mendengarnya.
"Saat kamu lahir, pak Darmo berniat ingin mengambilmu. Tentu saja papa tidak mau, apalagi saat melihat matamu yang cantik dan bibirmu yang selalu tersenyum melihat papa. Apa tega papa membiarkan hal itu terjadi?" Doni menghela napasnya. "Papa dan mama akhirnya mengambil jalan untuk menikah sah secara negara. Jabatan yang papa pegang sekarang juga, selain karena skill yang papa punya ya pak Darmo juga menolong, beliau ingin papa membuatmu menjadi laki-laki yang sukses agar kelak pak Darmo bangga untuk mengenalkanmu pada dunia sebagai anaknya."
Doni menjelaskan semuanya dengan sangat baik dan rapi, mudah di pahami oleh otak Bintang, tetapi tidak mudah di pahami oleh hati kecil Bintang.
"Kak, papa akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian berdua. Papa akan mempertahankan kalian, tapi papa tidak akan memaksa jika kakak ingin berada di posisi kakak sebagai keluarga Adietama. Tapi sebelum kakak memilih jalan itu, ingat Ica dan keluarga kita," Doni masih menggenggam tangan Bintang. "Kita harus selalu bersama untuk Clarissa, kakak yang bilang sendiri kan kalau Ica itu butuh kita, masih butuh banyak kasih sayang dan perhatian dari kita. Maka dari itu, kita harus memberikan yang terbaik untuk Ica, masalah pak Darmo akan papa urus."
Bintang tidak menjawab, dia hanya menatap Doni dengan tatapan lurusnya. Sedangkan Clarissa yang duduk tidak jauh, hanya menunduk menatap jari-jarinya, dia tidak menyangka kalau kepergian mamanya benar-benar membuat perubahan besar bagi siapapun. Ia kira dulu perceraian kedua orang tuanya adalah kehancuran untuk dirinya, tapi ternyata kehancuran kakanya lebih menyakitkan dari dirinya.
Dalam hati Clarissa berdoa, untuk kebahagian kakaknya setelah semuanya tergambar jelas. Papanya bukanlah orang yang jahat karena membuat keluarganya berantakan, tapi tidak juga baik karena menyembunyikan fakta sebesar ini. Alasan kenapa keluarga Adietama selalu baik padanya sudah dapat dia simpulnya, bahwa ada darah daging mereka di dalam keluarganya. Clarissa menoleh melihat sang papa, Doni masih menatap Bintang yang sudah tertunduk dalam, dalam hatinya dia berharap bahwa papanya akan selalu menjadi papa yang terbaik seperti sekarang ini.
Saat kepalanya kembali pada posisi awal, dia menatap perempuan berkaos oversize hitam dan celana pendek yang hampir tidak terlihat. Tangannya menggenggam tali minibagnya. Clarissa berdiri, mereka saling menatap dan bibirnya ikut melengkung ketika perempuan itu lebih dulu memberikan senyum sapa padanya.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG ππππππΌπ