Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:24


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Ruang keluarga menjadi hal yang serius malam ini, Doni tidak melepaskan obrolan mereka dari seputar keluarga Adietama. Televisi dibiarkan menyala, namun dengan volume terkecil, bahkan hanya suara samar yang terdengar. Biasanya Clarissa akan malas ikut campur, namun semenjak dia menjadi bagian dari hidup Putra, hal apapun yang menjadi perbincangan selagi itu menyangkut keluarga Adietama akan menjadi hal penting yang harus Clarissa dengar.


"Sepertinya Bintang akan bertahan," Bintang menghela pasrah, ketika surat pembatalannya ditolak, dia mendapat surat peringatan jika ingin membatalkan kontrak magang, dia harus membayar denda kerugian sebesar 1M. Sial, perusahaan macam apa yang memeras anak magang?


Clarissa ikut terkejut ketika Bintang menjelaskan soal dendanya. Dan dia mengangguk ketika papanya menyimpulkan bahwa denda itu sebenarnya tidak ada, Bintang hanya dibuat agar tidak pergi saja. Mereka tidak akan menyianyiakan kesempatan ketika Bintang sendiri yang datang kesana.


"Dua bulan lagi kan kak? bertahanlah," ucap Clarissa menyemangati. Bintang mengeram kesal, bahkan ini belum satu bulan.


Doni menepuk bahu Bintang pelan. "Papa tidak punya hak lebih kak, papa jadi bingung. Kamu anak papa, seharusnya papa punya kuasa, tapi kamu sudah ada dikandang mereka. Jadi ikuti saja, kamu tidak perlu pergi, mereka tidak akan bersikap berlebihan."


Bintang menggeleng. "Tapi mereka sudah berlebihan pa."


Keduanya menghela napas, Clarissa ikut menatap tak berdaya, apa juga yang bisa dia bantu untuk kakaknya. Permasalahan kakaknya sangatlah rumit. Bahkan lebih rumit dari yang dibayangkan. Mereka tidak menyangka jika keluarga Adietama akan segila ini.


...🌼🌼🌼...


"Pokoknya, ini minggu terakhir kalian bermain-main, senin sudah waktunya kalian ujian akhir semester. Menentukan kelulusan kalian," ucap bu Eva, selaku guru terkahir yang mengajar hari ini. "Ini sudah hari sabtu, puas-puaskan malam minggu kalian bermain, seminggu besok jadwal kalian siang-malam adalah belajar. That's it."


"Iya bu!!!!" Semua bersorak memekik, setelah doa selesai, bu Eva berpamit pergi. Clarissa melirik kearah Putra, terhitung sudah tiga hari dia dan Putra tidak saling berbicara. Putra sama sekali tidak menjelaskan lebuh detail soal alasan malam itu, bahkan terlihat cuek dan tidak ingin memperbaikinya.


"Ca, pulang bareng gue jadi kan?" Tanya Kanya, menatapnya sekilas setelah selesai memasukkan buku paket kedalam tasnya. "Mama masak kue bolu rasa pisang, kesukaan lo, pulang kerumah gue aja. Vina sama Delisa mau ikut,"


"Boleh." Dia tidak perlu meminta izin pada Putra seperti biasanya, tetap menjadi Clarissa sebelum menjalin hubungan dengan Putra.


Mereka berempat sudah duduk rapi didalam mobil Kanya. Perempuan itu menggelung rambutnya sebelum melajukan mobilnya pelan. Menoleh pada Clarissa. "Lo berantem sama Putra?"


"Baru gue mau tanya itu," celetuk Vina dibangku belakang, sembari merapikan liptintnya.


Clarissa tidak menjawab untuk beberapa menit, lalu dia mengangguk. "Gue heran aja, dia sama sekali gak mau ngejelasin atau minta maaf sama gue."


"Masalah apa?"


"Dia bilang bakal jemput gue setelah gue selesai kerja kelompok. Dia gak bisa nemenin karena sama bokapnya ada urusan, terus papa cerita katanya ada acara makan malam sama semua petinggi rumah sakit, ya gue pikir Putra ikut kesana kan?" Ketiga temennya memberikan pertanda mendengarkan, mengangguk atau berdehem. "Dia bilang balal jemput kalau masih sempet, tapi enggak, akhirnya gue pulang sama Erlangga sama Rinda. Pas sampai rumah, papa bilang kalau acara makan malamnya batal."

__ADS_1


"Hah?" Vina lebih dulu bersuara, Kanya kalah cepat, biasanya dia yang akan kepanasan. "Terus teruss..."


"Besoknya gue tanya, katanya dia ada urusan sama temen-temennya. Tapi waktu gue tanya, kemana? sama siapa? dia malah bilang gue childish karena mau tau tentang dia."


"Lah, aneh banget si Putra." Celetuk Delisa, dia menatap heran, selama ini Putra terlihat senang jika didekat Clarissa. Bahkan jika Clarissa bersikap sesikit posesif sudah membuat Putra bahagia setengah mati. Lantas ini? kenapa Putra marah.


"Gue gak tau dia kenapa? jadi kemarin gue langsung keluar mobil terus jalan kaki. Untung ketemu sama kak Bintang, dan sampai sekarang Putra belum tegur gue, ya gue gak mau kalahlah." Ujarnya panas.


Mereka sampai dihalaman rumah Kanya, keempatnya keluar dan langsung masuk kedalam kamar Kanya setelah menyapa mama Kanya yang sibuk didapur. "Langsunh kekamar Anya saja ya, nanti tante bawakan kuenya kesana."


"Siap tantee...."


Lira menahan tangan Clarissa. Membuat Clarissa menoleh kaget. "Apa kabar sayang?"


"Baik tante,"


"Kenapa kok kurusan? jarang makan ya?"


Clarissa tersenyum tipis. "Iya, banyak tugas, jadi lupa makan."


"Kamu jarang kesini, kalau lapar kesini seperti biasa ya sayang. Tante suka masak banyak, tapi kamu gak pernah kesini lagi, seperti Anya ya, walaupun banyak tugas tapi makannya lancar." Keduanya terkekeh, Lira melepaskan Clarissa setelah anak sahabatnya itu mengangguk.


"Kalau mau ngabarin ya ngabarin aja Ca," senggol Vina. Mungkin melihat sekilas kegundahan Clarissa.


"Gak usah." Kanya yang baru keluar dari kamar mandi menolak keras, Delisa yang selesai dari urusan laporannya, masuk sembari menggeser pintu menuju balkon agar tertutup saat melihat Kanya menyalakan AC. "Kebiasaan, dia maunya didewakan."


"Gue boleh cerita sesuatu gak sih?"


"Cerita aja Ca,"


Clarissa menunduk, dia menatap Kanya sebentar dan tersenyum ketika Kanya mengangguk. "Gue udah anggep lo berdua sahabat gue, dan ngelihat gimana kalian selalu baik sama gue. Gue rasa, gak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi."


Delisa dan Vina mengangguk, memang itu pantas untuk mereka berdua. Mereka tulus menjadi teman dekat Clarissa, diberikan kepercayaan adalah hal besar yang perlu mereka jaga.


"Kalian tau kan soal sweater yang ada dikamar gue?"


"Yap, sweater laki-laki yang lo temui di konser Bad omens kan?" Jawab Vina.

__ADS_1


Clarissa mengangguk. "Gue ragu kalau laki-laki itu Putra."


Kanya mengangkat tangannya, meminta Clarissa untuk menghentikan ceritanya. Dia berjalan kearah pintu. Terlihat mamanya yang tampak kaget karena pintu dibuka. "Anya, mama kaget."


"Kenapa gak panggil Anya ma," meraih nampan ditangan sang mama. "Udah, mama istirahat, nanti Anya yang ambil sendiri kalau butuh sesuatu."


"Okey, bersenang-senanglah."


Kepergian mamanya, Kanya langsung menutup pintu, meminta Clarissa untuk meraih meja kecil lalu dia taruh nampan ditangannya keatas meja.


"Next."


"Gue rasa dia Rinda."


"Hah?" Delisa dan Vina bersuara kaget, mereka menatap kearah Kanya. "Lo gak kaget? jangan bilang kalau lo tau."


"Lo tau Nyak?" Clarissa bertanya.


"Enggak, tapi cuma dugaan gue aja."


"Lo selalu buat gue kayak orang bego Nyak," bibirnya maju pertanda kesal. "Terus kok lo diem aja."


"Gue tau sewaktu dipejalanan ke puncak, gue inget itu sweater Rinda. Pas divila kita ketemu mereka, gue ngomong berdua sama dia dan gue tanya soal itu. Tapi dia ngelak, makanya gue masih belum yakin."


Ketiganya menatap Clarissa lagi. Kanya yang bersuara. "Apa yang membuat lo yakin kalau itu Rinda."


"Sewaktu gue pulang sama Rinda dan Erlangga, malam itu hujan, Rinda narik gue buat ikut neduh dibawah jaketnya sambil lari ke mobil Erlangga." Clarissa menarik napas sebentar. "Gue dejavu, bahkan parfum yang dipakai Rinda sama persis sama parfum laki-laki itu. Parfum yang dipakai juga sama Putra."


"John Varvatos Artisan." Clarissa mengangguk menatap Delisa. "Parfum itu ada didasbor Noel, Ca. Apa. mungkin laki-laki itu Noel ya?"


"Ngawur," tangan. Vina mengambang didepan wajah Delisa. "Kan kalian sendiri bilang malam itu Noel ngapel kerumah lo sampai malam banget malahan."


"Iya sih, tapi waktu gue tanya soal parfum yang penuh itu, Noel cuma jawab punya Erlangga ketinggalan." Wajah ketiganya melala bingung, mana yang benar?


Kanya berdecak. "Sialan, mereka kayak lagi sengaja mempermainkan Ica gini."


"Nanti malam, Bad omens bakal konser lagi. Gue udah beli tanpa tiket VIP." Ketiga sahabatnya menatap binar bahagia. "Semoga laki-laki itu muncu lagi dan gue gak akan ngelepasin dia."

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2