Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:25


__ADS_3

...Menurutmu, kenapa aku selalu menghindar darimu padahal aku begitu menyukaimu?...


...Alasannya hanya satu, ya karena itu kamu...


...πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ...


"Ingat, tidak lama lagi kalian mengikuti ujian akhir sekolah. Jangan pernah main-main lagi dalam belajar, Azkaaaaa...." Bu Siska menatap Azka, matanya sangat tajam sekali.


"Iya bu..."


"Lagi ceramah nih, simpan ponselmu." Membuat Azka menyimpan ponselnya. "Ibu gak mau tau, mulai sekarang kalian harus serius dalam mengerjakan tugas dan soal-soal yang diberikan oleh para guru. Yang merasa nilainya kurang, cepat temui guru yang bersangkutan lalu minta perbaikan nilainya."


"Siap buuuuu......"


Bu Siska berdiri. "Putra, ikut keruangan ibu, mau membicarakan soal university yang mau kamu tuju."


"Iya bu..." Membereskan seluruh buku-bukunya yang berserakan diatas meja. "Ze, entar langsung kekantin aja jangan tungguin gue."


"Siapa juga yang mau nungguin lo." Putra berdiri, memasukkan seluruh buku-bukunya.


"Icaa..." Kanya berjalan mendekat, duduk dikursi Clarissa, membuat perempuan cadel itu bergeser memberikan sahabatnya leluasa duduk, tahu saja kalau dia ini kecil dan tidak menghabiskan banyak tempat. "Lo udah kepikiran mau masuk university mana? biar gue bisa langsung cari jurusan yang bisa gue tuju dikampus yang lo mau."


Delisa menoleh kebelakang. "Lo mau ngintilin Clarissa lagi, atau emang kalian janjian gak mau pisah?"


"Gue yang ngintilin dia." Jawabnya sembari melirik Clarissa, "hah? dimana?"


"Gue gak kuliah." Jawaban Clarissa membuat seisi kelas menatap kearahnya, bahkan Putra juga berhenti diambang pintu. Masalahnya Clarissa ini termasuk murid yang pintar, apalagi pendidikan keluarganya semua tinggi. Bagaimana bisa dia tidak ingin melanjutkan itu? "Kata Azka, kalau gue mau nikah sama dia, gue bakal hidup bahagia."


"Anjim..." Semua menatap kearah Azka yang tengah bermain game menggunakan headphone dia tidak akan mendengarnya. "Lo gak lagi becanda kan Ca?"


"Emangnya lo pernah denger gue bercanda?" mengguncangkan pantatnya agar Kanya bangkit berdiri. "Gue lagi mau ikut lomba nih, diem jangan ganggu."


"Gilaa..." Kanya sendiri tahu bahwa Clarissa hanya butuh kebahagiaan, tapi bukan berarti menikah kan? apalagi dengan anak seperti Azka. Jangankan mengerjakan tugas, berpikir saja dia malas, semua anggota kelas juga heran kenapa dia bisa masuk jurusan IPA dengan standard otak dibawah rata-rata. Tentu saja karena ayahnya seseorang yang berpengaruh disekolah.


Putra melanjutkan langkahnya, Azka tersenyum kecil saat itu. Dia mendengar semua percakapan teman sekelasnya yang membicarakan tentang dirinya, menikah dengan Clarissa?


Kapan dia mengatakan hal itu.


...🌼🌼🌼...


Brakk!!!!!!


"Astagfirulloh, kaget gue Caaa..." Vina berteriak keras, Clarissa yang sejak tadi diam saja tiba-tiba menggebrak meja dengan kuat. "Apasih?"


Clarissa tidak menjawab.


"Lo kenapa Ca? heh?" Kanya bangkit menghampiri.


Clarissa masih tidak menjawab.


"Jawab loh Ca?" Delisa juga sudah ikut menoleh kearah Clarissa.


"Malam minggu besok lo semua harus luangin waktu buat gue, kita pergi dan menginap bareng...." Clarissa mendongak, "di puncak."


"Hah??? kenapa, kok tiba-tiba."


"Gue menang kuis Bad Omens," Kanya berdiri, menutup mulut dengan kedua tangannya. "Gue udah janji sama Kanya, kalau gue bisa menangin kuis ini, gue bakal ajak dia kepuncak dan rayain ulang tahun dia disana."


Delisa dan Vina berdiri ikut bergabung dengan Kanya yang sudah memeluk Clarissa. "It's damn. Gue bakal minta izin sama Noel buat pergi sama kalian besok."


"Hemm..." Clarissa menepuk lengan Delisa, "kalau gitu, bisa lepasin pelukan kalian, gue harus isi formulir."

__ADS_1


Mereka melepaskan pelukan, "lo mau beli apa Ca? kita mau kekantin."


"Apa aja." Jawabnya dengan mata yang tidak lepas dari laptop. Sebuah minuman dingin dengan botol menggemaskan berdiri menantang diatas mejanya.



Clarissa mendongak, Azka tersenyum menatapnya masih dengan memegang tutup botol. "Boleh ngobrol bentar."


"Gue gak punya waktu." Azka menghentikan Clarissa saat hendak memasang headset. "Lepas."


"Sorry. Soalnya gue kira lo mau ngomongin sesuatu sama gue." Melirik Putra, menenteng amplop cokelat lalu memasukkannya kedalam tas. "Tentang pernikahan kita."


"Besok aja, kalau gue udah gak sibuk." Azka berdiri, sesuatu hanya mengganggunya, kenapa juga tadi Clarissa mengatakan tentang pernikahan membawa bawa dirinya. Saat ditanya, dia malah berlagak sibuk. "Eh,,,"


Azka berbalik. "Kenapa, lo berubah pikiran?"


"Minum lo ketinggalan," mendorong minuman didepannya.


"Buat lo." Clarissa tidak lagi perduli saat Azka sudah keluar kelas, dia memasang lagi headset dan kembali mulai mengetik berbagai macam jawaban dari pertanyaan yang sangat banyak hanya untuk bertemu dengan Bad Omens, tidak masalah juga, karena dia sangat menginginkan ini.


Dia mendongak, saat Putra menaruh sebuah roti berselai cokelat dua bungkus tepat dihadapannya. "Buat ganjel perut."


Belum sempat Clarissa menjawab, Putra sudah berjalan keluar kelas dengan memandang ponselnya tanpa menoleh kearahnya.


Entahlah, mood Putra sedang buruk.


Dia tidak bisa menahan untuk tidak mendekati Clarissa, ucapan perempuan itu tentang menikah dengan Azka terus terngiang didalam pikirannya. Saat bu Siska menjelaskan panjang lebar, sama sekali tidak masuk kedalam otaknya. Tidak masalah, dia akan bertanya lagi nanti.


Putra sangat tidak tahu, Clarissa juga menahan sakit yang sama sepertinya. Dia sangat menyukai Putra, semua sangat jelas bukan? menyukai sejak SMP, bukanlah waktu yang lama. Hanya, Clarissa tidak menyangka akan sedekat ini dengan Putra.


Lalu, untuk apa mereka dekat kalau nyatanya banyak yang tidak menginginkan mereka bersama. Clarissa sendiri tahu, Putra memperhatikan dirinya dengan baik.


"Bisa ngomong sebentar?" Clarissa mendongak lagi, kenapa banyak sekali yang ingin bicara dengan dirinya. Dan lagi, dia tidak bisa mengatakan sibuk sekarang, karena menjawab pertanyaan sudah selesai. "Gak usah sok sibuk, karena gue tau lo gak sibuk."


Gedung labor fisika. Langkahnya tetap menapaki setiap anak tangga didepannya, hingga perempuan didepannya membukakan pintu menuju rooftop. Terlihat Meysa tengah duduk disana, mengobrol dengan teman-temannya.


"Udah gue bawa nih." Teriakan Jesika membuat semuanya menoleh. Tampak Meysa hanya menatap datar, sedangkan Tias begitu jelas menatapnya sinis. "Ayo masuk."


Clarissa melangkah maju.


"Gimana kemarin?" Meysa menanyakan sesuatu yang belum dia jelaskan pada Clarissa, tentu saja membuatnya kebingungan. "Jalan-jalan ke mallnya."


Clarissa menganga, lalu mengangguk kecil. Rupanya Meysa mengerti bahwa dia tengah kebingungan tadi. "Biasa aja."


"Biasa aja." Tias maju, "pengen gue gampar deh ni anak."


"Lakuin aja."


Meysa menatap datar, "ngerasa karena banyak yang bela lo ya? makanya jadi star syndrome gitu."


Clarissa tersenyum kecil, dia terlalu malas menjawab kalimat demi kalimat Meysa dan teman-temannya, otaknya malah kepikiran apa tadi dia sudah benar mengisi pertanyaan dari admin tiket Bad Omens. Karena itu lebih penting dari ini.


Astaga Clarissa, dia kurang mengerti situasinya.


"Kalau boleh jujur, actually i never complained to anyone, tentang masalah ini." Clarissa mundur sedikit. "Gue juga heran, kenapa semua bisa mendapatkan bukti kalau kalian selalu merundung gue setiap ada kesempatan. Dan lagi..."


"Dan lagi???" Meysa mengulang kalimat Clarissa yang mengambang.


"Gue cuma ngadu sama kak Bintang aja,"


Meysa tersenyum sinis, bangkit dari duduknya dan bersidekap menatap Clarissa tajam. "Lo tau Clarissa? entah kenapa gue selalu kesal setiap lo bawa Bintang dalam masalah kita, gue gak seberapa kesal setiap Putra masuk kedalam masalah kita."

__ADS_1


"Kita? kayaknya cuma lo yang anggap gue sebagai masalah lo." Clarissa tersenyum tipis, "gue gak pernah sekalipun menganggap lo bagian dari masalah gue. Karena bagi gue, Putra adalah masalah gue."


Tias maju, bahkan dia selangkah lebih dekat dengannya dibandingkan Meysa. "Clarissa, lo tau gak? gue sama sekali gak ngerti sama masalah kalian berdua apalagi soal Bintang, gue disini sebagai sahabat Meysa memperingatkan sama lo, kalau lo gak lebih dari seorang munafik."


"Munafik gimana?"


Pertanyaan Clarissa mendapat tawa kecil dari Tias. "Lo bilang gak pernah sekalipun terlintas untuk dekat dengan Putra kan? tapi kenapa, gue kemarin lihat lo sama nyokapnya Putra lagi jalan-jalan tuh. Berusaha narik perhatian keluarganya ya?"


"Lo gak denger? gue udah bilang kalau saat ini gue butuh keluarga Putra."


"Ya itu berarti lo munafik," Clarissa menepis tangan Tias dari kepalanya. "Semua orang yang ketemu satu kali sama lo aja bakal tau kok, kalau lo itu suka sama Putra."


"Gue bilang, gue gak tertarik buat dekat sama dia. Bukan gak suka sama dia." Karena merasa situasinya semakin tidak baik, Clarissa memilih pergi.


"Jadi lo suka sama Putra?"


Tangan Clarissa meremas handle pintu, tanpa berbalik dia menjawab pertanyaan Meysa. "Kalau iya kenapa?"


"Hah, kan sudah gue duga, dia itu cewek munafik Mey." Kalimat Tias terdengar mengompori.


Clarissa berbalik. "Apa lo lagi gak ngomongin diri lo sendiri?"


"Apa maksud lo."


"Cewek munafik." Menatap Tias, "bukankah lo munafik.."


"Lo...."


"Berlagak menjadi seorang sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya ya? bukankah itu terdengar munafik,"


"Gue emang selalu ada untuk dia."


Clarissa menampilkan senyuman tipisnya, "selalu ada untuknya ya? gue bersahabat sama Kanya sejak kecil, kalian tau? Kanya selalu marah kalau gue gak pernah berkata jujur dan mempertahankan kebaikan gue buat nutupin kesalahan orang lain. Sedangkan kalian, mengompori Meysa untuk melakukan sesuatu yang gak seharusnya dia lakukan."


"Ngomong yang jelas."


"Bukankah gue adalah ancaman terbesar bagi bokap lo." Mata Meysa melebar terlihat jelas sangat terkejut. "Apa teman-teman lo gak tau akan hal itu atau mereka sedang bersikap pura-pura tidak tau."


Meysa menarik lengan Clarissa, menatap tajam Clarissa. "Kenapa?"


"Lo tau masalah bokap gue."


"Tau, dan apa gue harus bersikap pura-pura gak tau seperti sahabat lo?" Menarik tangannya secara kasar. "Gue tau lo gak pernah tertarik sama Putra, Meysa. Gue gak akan pernah menghalangi jalan lo buat dapetin Putra, yang terpenting jangan hancurin bokap lo karena keserakahan lo."


Clarissa menghentikan langkahnya. "Kalau masalah serakah, anak yang katanya lugu kayak gue juga bisa kan??"


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Kalian tau apa itu serakah?


Serakah merupakan kata sifat yang memiliki makna selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki.


Dan kalian tau!!!


Aku sedang merasakannya sekarang,


(β•₯﹏β•₯) , menginginkan semua yang ada diotak untuk dijadikan sebuah cerita. Dan sayangnya, itu adalah cerita yang berbeda.


Tolong οΈΆοΈΏοΈΆ


Dukung aku untuk menyelesaikan satu cerita lalu melanjutkan cerita yang sedang hiatus, lalu membuat cerita baru...

__ADS_1


Semangat untukku, dan untuk kalian semuaaa.....


__ADS_2