Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:79


__ADS_3


..."Ketidakhadirannya seperti langit, tersebar di atas segalanya."...


...-C.S. Lewis-...


...🌼🌼🌼...


Mendung, Meysa menatap kosong pada makam papanya. Sepi, tidak ada satupun kerabat atau sahabat yang menemaninya. Hanya ada dua orang begitu memberikan cinta yang tulus padanya. Meysa sudah memberikan kabar pada kakeknya, ayah dari papanya, yang hanya dibalas dengan ungkapan bela sungkawa tanpa berniat untuk hadir dipemakaman. Sebegitu bencinya kah kakeknya terhadapnya dan terhadap papanya? yang meninggal bukanlah saudara, tetapi anak kandungnya.


"Mey,,," Alia mengelus lembut bahu Meysa, memberikan ketenangan yang nyata pada bahu Meysa. "Mey tinggal sama Om dan Tante ya? kami akan mengurus semua hak asuh kamu."


Meysa tidak berani menjawab. Dia tidak memiliki kuasa dalam hal itu, seharusnya ada yang lebih berhak atas dirinya. Dalam kacamata hitam yang bertengger pada tulang hidungnya, matanya kembali menitihkan air matanya.


"Iya Mey." Jeri, suami Alia maju dan ikut mengelus puncak kepala Meysa. "Om dan Tante sudah sepakat untuk adopsi kamu, ya sayang? bahaya jika kamu hidup sendiri."


Seharusnya Meysa bersyukur, masih ada orang baik yang memberikannya rumah. Tempat yang layak baginya anggap sebagai keluarga. Tapi, Meysa merasa ini bukanlah sesuatu yang memuaskan untuknya, dia masih memiliki seseorang yang pantas untuknya.


"Apa Mey berhak mendapatkan kasih sayang dari Om dan Tante?" tanyanya pelan seraya menunduk menatap makam papanya, Meysa merasa ingin mendapatkan jawaban dari papanya atas pertanyaannya.


Jeri kembali mengelus puncak kepala Meysa dan Alia memilih untuk memeluk Meysa erat. "Kamu berhak sayang, kamu berhak bahagia, Om dan Tante akan memberikan segalanya padamu."


"Bukankah seharusnya ada yang lebih berhak atas Mey Om?" tanya Meysa, kini ia berani menatap yang dia tanya. Jeri tidak dapat melihat jelas mata Meysa karena tertutupi kacamata hitam, tapi dengan jejak air mata, dia dapat mencerna kesedihan itu.


Jeri dan Alia sudah lama menikah, mereka tidak dikaruniai anak oleh yang kuasa. Mungkin ini jalan yang harus mereka ambil, mengadopsi Meysa. Jeri menatap makam yang tidak jauh darinya, satu orang yang seharusnya menjadi penguat Meysa sedang memeluk erat anak perempuan yang telah ditinggalkan oleh mamanya.


"Ya. Memang ada yang lebih berhak atas kamu. Tapi jika ada yang lebih menginginkan hak atas kamu, apakah kamu ingin menolaknya?" Tanya Jeri. Mungkin Meysa lebih ingin untuk berada dekat dengan ibu kandungnya, tapi itu terlihat sulit untuk diwujudkan.


"Mey..." Alia mengalihkan perhatian Meysa pada Jeri. "Kami akan membicarakannya, keputusan mereka harus kamu terima dengan lapang dada ya sayang. Apapun yang terjadi, kami tetap menyayangi dan menginginkanmu."


Meysa tersenyum, dia membalas pelukan Alia tidak kalah erat.


...🌼🌼🌼...


Beberapa kerabat jauh, para tetangga yang mengenal baik Dinda sudah pergi, memilih untuk kembali kerumah. Menyisakan keluarga Adietama, dan Kanya sebagai orang lain disana. Doni duduk disamping Bintang, terus mencoba menguatkan putranya. Walaupun Bintang terlihat enggan berada didekatnya, namun Doni tetap mencoba menjadi penguat untuk kedua anaknya.


"Ica ikut sama Tante ya? Bintang sama Ica ikut Tante pulang. Kita tinggal bersama." Ucap Anita disela Clarissa yang belum melepaskan pelukannya sejak tubuh Dinda dikubur.

__ADS_1


Doni menghela napas, dia berdiri menatap Anita. "Dokter Anita, masih ada saya. Hak mereka kembali pada saya."


"Apa anda bisa menjaga mereka? anda harus mengurus kekasih anda dan bayinya bukan?" Ucap Anita, menatap Clara yang berdiri disekitar Doni. Matanya melirik tidak suka pada Anita, mungkin dia tidak perduli anak-anak Doni harus tinggal dengan siapa. "Sudahlah, lebih baik mereka ikut dengan kami."


"Tidak bisa begitu dong. Saya ayah kandung mereka, apapun yang terjadii......."


"Bintang tidak mau tinggal bersama papa," ucap Bintang membungkam Doni, dia melirik Clara sekilas. "Bintang dan Ica akan tetap tinggal dirumah kami, rumah mama."


"Bintang,, Tante akan jamin..."


"Maaf Tante." Potong Bintang lagi, dia berdiri mengusap jejak air matanya. "Terlalu merepotkan jika tinggal dirumah Tante, Bintang bisa jaga Ica."


Clarissa melepaskan pelukannya pada Anita saat dengan pelan Bintang memintanya untuk ikut dengannya, dan langkah mereka berhenti saat tiga polisi datang menghampiri makam mamanya.


"Maaf, atas kunjungan kami yang mendadak." Salah satu polisi berdiri maju mendekati Doni. "Kami turut berduka cita atas meninggalnya Dokter Dinda Eri Adams."


"Ada apa ini?" Tanya Doni kaget.


Polisi itu memberikan intruksi pada kedua rekannya untuk bergerak.


"Ehh... Apa-apaan ini?" Clara kaget, saat tangannya yang indah mendadak diborgol oleh salah satu polisi. Clara berteriak takut sembari melihat Doni yang mematung "Doniii...."


"SAYA TIDAK MELAKUKAN APAPUN." Teriaknya keras.


"Per-percobaan pem-pembunuhan?" Doni bertanya ulang. Dia tidak berkutik saat kedua polisi itu membawa kekasihnya yang terus berteriak meminta pertolongan. "Apa maksudnya..."


"Apa kamu kurang paham?"


"Papa...." Gio kaget saat Darmo Sudrajat Adietama berdiri didekat mereka. "Papa sudah kembali ke Indonesia?"


"Tidak becus kamu Gio," Darmo memberikan ekspresi mengerikan pada Gio, matanya yang tertutup kacamata hitam menatap kesal pada putranya. "Aku sudah katakan jangan biarkan wanita sialan itu berkeliaran di Rumah Sakitmu."


"Pa.. Apa aku harus mengusir keluarga dari para Dokter ku?" Gio masih tidak percaya pada jalan pikiran papanya. "Terus apa maksudnya ini?"


"INILAH HASIL DARI KAMU TIDAK MENURUTI PAPA?!?!" Darmo berteriak kencang, bahkan membuat Jeri, Alia serta Meysa mendekati mereka. Darmo melemparkan map cokelat pada Gio yang langsung ditangkap gesit olehnya. Gio membuka dan melebarkan matanya kaget. "WANITA ITU TELAH MEM-BU-NUH DINDA. KAMU TAHU?"


"Apa?" Doni menatap tidak percaya. Tidak. Bukan hanya Doni, tapi semuanya.

__ADS_1


"Pa.." Gio masih menggeleng heran, beberapa foto yang memperlihatkan Clara masuk kedalam ruangan Dinda beberapa menit sebelum Dinda meregang nyawa. "Astaga,,,,"


Clarissa kembali menangis dalam pelukan Bintang.


Doni menangis, dia benar-benar menangis dihadapan Darmo, dia tidak pernah menyangka bahwa kekasih yang dia anggap bak bidadari telah menyakiti mantan istri yang dia usahakan untuk sembuh dari penyakitnya.


"Bintang akan ikut denganku. Untuk Clarissa itu terserah pada Bintang, ikut atau tidak aku tetap menerimanya." Ucap Darmo dalam penekanan.


Dalam tangisnya Doni menggeleng. "Tidak pak, makam Dinda masih belum mengering, jangan lakukan ini sekarang."


"Aku tidak perduli." Darmo hendak mendekati Bintang namun langkahnya berhenti saat Doni berlutut padanya.


Jeri menghampiri Doni. "Dokter Doni, tolong berdiri."


"Tidak." Doni menangis, "tolong, biarkan aku menebus dosaku pada anak-anak. Jangan bawa mereka, aku hanya punya mereka."


"Dan mereka tidak menginginkanmu."


Gio maju, dia harus menghentikan kegilaan Darmo yang mendadak ini. "Pa, tolong hentikan ini. Mau hidup dengan siapa itu tergantung anak-anak. Dokter Doni adalah ayah mereka."


"DAN BINTANG ADALAH ANAK KANDUNGKU!?!" Mereka semua mematung, itu adalah kalimat tamparan terbesar yang pernah mereka semua dengar. "KAMU MAU APA GIO, MEMISAHKAN AKU DENGAN ANAK KANDUNGKU LAGI?"


"CUKUP PAA!?!" Gio tidak kalah menyalang. "Kita bisa bicarakan ini nanti, perasaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka baru kehilangan orang yang paling mereka cintai, jangan semakin menambahkan beban untuk mereka."


"Lalu bagaimana dengan perasaanku? apa kamu pernah memikirkannya? aku ayahmu, dan kamu selalu membuatku sakit."


Jeri berjalan menghampiri papanya. "Pah, sudah, tenang ya."


"Kamu tidak tahu apa-apa Jer, papa menahannya karena Gio terus meminta papa untuk tidak bicara. Kamu tidak tahu perasaan papa saat melihat anak kandung papa sendiri bersikap segan pada papa." Ujar Darmo bergetar.


Jeri menggeleng. "Iya maaf, Jeri tidak tahu perasaan papa karena Jeri tidak pernah memiliki anak. Tapi hentikan ini dulu papa, Biarkan anak-anak berada dalam pengawasan yang seharusnya."


"Seharusnya?" Darmo ulang bertanya. "Dia maksudmu? kamu tidak tahu kalau dialah penyebab anakku menangis hari ini."


"PAPA?!?!" Gio berterika. Dia tidak tahan, bahkan sampai adiknya mengatakan hal yang membuat istrinya menangis. "IKUT GIO KERUMAH."


Darmo menahan amarahnya. "Listen to me, Doni. Kamu selamat hari ini, aku akan datang mengambil anakku." Ucapnya lalu pergi meninggalkan makam saat hujan turut turun hari ini.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2