Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:58


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


"Lo gak bohong Ca?" Kanya butuh penjelasan lebih detailnya, bagaimana bisa Clarissa menghilangkan barang berharga dari Bad Omens? memimpikannya agar kebagian dalam penjualan saja tidak bisa, lantas ini, dia kehilangan barang sebegitu mudahnya tidak sebanding dengan mendapatkannya. "Begoo."


"Coba diingat-ingat lagi Ca? barang kali lo lupa taruh dimana." Vina mencoba menenangkan, mengelus bahu Clarissa agar dia tenang. "Mungkin dilemari lo,"


"Enggak, semua hadiahnya itu ada dipohon."


"Pohon?" Kanya menatap Clarissa dengan wajah penuh tanya dan tiba-tiba matanya melebar dengan sempurna. "Jangan bilang ada orang asing yanng nyeret lo kepohon-pohon terus ngerebut hadiah itu Ca?"


"Gak ngerebut sih, tapi tuh..." Clarissa menggaruk kepalanya, masa dia harus menceritakan semuanya, dihadapan Putra? tidak, tidak.


"Dan lo nanyain tinggi badan, dimana keberadaan kami-kami malam itu buat mastiin hadiah itu, dengan maksud lain lo nuduh kita yang ngambil dong Ca."


Clarissa menggeleng kuat kepada Noel. "Bukan,, bukan kayak gitu maksud gue."


"Terus?" Vina ikut membuatnya kebingungan.


"Masalahnya....."


Putra berdiri membuat Clarissa menghentikan kalimatnya, laki-laki itu mendekat dan mengelus puncak kepala Clarissa dengan lembut. "Udah ya, nanti gue cari cara biar lo bisa dapet album mereka lagi, tapi mungkin stick dari Nick Folio gak bisa gue dapetin."


"Bukan gitu....."


"Sudah Ca, biarin aja buat orang yang ngambil hadiah itu, lo cukup tenang. Tunggu gue buat dapetin album untuk lo." Kalimatnya terdengar menenangkan teman-teman dikelasnya, tapi itu tidak menenangkan untuk Clarissa. Dia tidak perduli lagi pada album atau Stick dari Nick Folio, dia hanya ingin tahu siapa laki-laki itu.


Untuk membuat semuanya terlihat baik dan tenang, Clarissa tersenyum dan mengangguk mendengar kalimat Putra. Bel berbunyi membuat teman-teman yang bukan menempati ruang ujian dikelasnya bergegas pergi meninggalkan termasuk Kanya, Putra, Vina dan Noel.


...🌼🌼🌼...


Ujian semester satu dihari pertama berjalan dengan baik, seluruh siswa SMA Gemilang Cahaya berhambur keluar setelah mendengar bel pertanda pulang. Clarissa duduk bersama Delisa dihalaman ruang ujiannya menunggu Kanya dan Vina untuk sampai diruang mereka. Kanya dan Vina mendapatkan ruang kelas yang lumayan berjarak jauh dari gerbang utama, membuat Clarissa dan Delisa yang sekelas terpaksa menunggu lama.


Delisa mengelus bahunya. "Sabar ya Ca, gue prihatin sama kehilangannya barang berharga lo itu." Ucapnya ketika melihat Clarissa memutar video konser Bad Omens yang baru diupdate.


Clarissa hanya mengangguk, dia tidak tahu harus mengatakan apa soal hadiah itu, mengingat hadiah itu bukanlah poin utama dirinya murung. Dia tidak bisa fokus dalam geraknya karena memikirkan hal bodoh soal apapun. Mungkin benar, bahwa hadiahnya itu yang membuatnya kesal dan tidak bersemangat, tapi mengingat hadiah itu membuatnya memikirkan tentang laki-laki yang bahkan dia tidak ketahui wajahnya.

__ADS_1


Mungkin karena itu adalah ciuman pertamanya, apalagi laki-laki itu menyentuhnya dengan lembut tanpa paksaan. Auhh, Clarissa menggeleng, dia seperti orang mesum yang memikirkan detail setiap sentuhan itu. Terlebih lagi, dengan rakusnya dia menginginkan laki-laki itu adalah Putra, iya, Putra teman sekelas yang dia sukai sejak lama. Clarissa memandang langkah Putra disamping Rinda yang berjalan lambat. Senyum laki-laki itu membuatnya terdiam membisu, Putra masih menjadi sesuatu yang membuat seluruh kinerja otaknya berhenti, tapi saat terlintas tentang laki-laki dikonser itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat dibandingkan saat dia duduk disebelah Putra atau saat Putra mengelus puncak kepalanya.


Dengan harapan yang sangat besar, dia sangat ingin melupakan laki-laki dikonser malam itu. Dia hanya menginginkan Putra saja, walaupun harapan itu mungkin tidak ada untuknya.


"Pulang sama siapa Ca?" Sontak Clarissa tersadar dari keresahan otaknya, kapan Putra dan Rinda sudah sampai didepannya? Putra tersenyum menunggu jawabannya.


"Sama Anya."


"Mereka dimana? tunggu didepan aja kali." Ajaknya, mencari sosok Kanya yang belum terlihat. Tangannya terangkat menyapa Noel yang baru saja bergabung dan langsung berdiri didekat kekasihnya. "Langsung mau pulang No?"


"Iya, soalnya nyokap mau pergi jadi gue mau nganter kebandara."


"Mau kemana?"


"Biasa, bisnis." Noel mengelus puncak kepala Delisa. "Ayo sayang, mama udah nunggu."


Delisa menatap Clarissa dengan wajah menyedihkan, Clarissa dapat memahami hal itu dan langsung menyunggingkan senyuman. "Santai aja Del, gue kan cuma nunggu Kanya doang habis itu langsung pulang."


"Lagian ada Putra juga kan?" Noel tersenyum penuh arti pada Putra, tangannya memukul lengan Rinda yang berdiri dihadapannya. "Lo tumben banget Rin, diem gitu. Sakit gigi lo? sariawan?"


"Gak apa-apa kok, yuk Put keparkiran, pengen pulang gue."


Putra terkekeh diikuti Noel. "Tumben banget nih anak. Yuk Ca, tunggu didepan aja."


Ajakan Putra yang kedua membuat Clarissa menurut, hal itu dia lakukan juga untuk menghilangan rasa khawatir dari Delisa. Apalagi diujung gerombolan terlihat Meysa dan teman-temannya sedang duduk bersantai, seperti enggan meninggalkan sekolah dengan cepat. Untuk menghindari masalah, lebih baik Clarissa pergi mengikuti Putra saja.


"Om Gioo...." Clarissa sepontan berteriak, melihat Gio dengan gagah bersandar pada mobil sembari bercerita seru bersama Bram, papa Rinda. Dengan teriakan yang cukup keras membuat kedua pria gagah itu menatap Clarissa yang setengah berlari menghampiri keduanya.


Gio melepaskan kacamata hitamnya dan tersenyum lebar menatap Clarissa. "Sayang, jangan lari-lari nanti kamu jatuh. Rindu sama om ya?"


Clarissa mengangguk kuat, dia menatap Bram dan menunduk kecil. "Halo om Bram."


"Halo juga cantik." Bram dan Gio menatap Rinda dan Putra yang sudah sampai didekat mereka. "Hai dude, bagaimana ujianmu?"


"Lancar pap." Rinda menunduk kecil menatap Gio dan langsung menaruh tasnya kedalam mobil.


"Bukannya Putra bawa motor, kenapa om jemput?" tanyanya sembari merangkul lengan Gio, dia tidak pernah bersikap seperti ini. Anggap saja kalau dia sedang merindukan sosok papanya.

__ADS_1


Gio mencubit pipi Clarissa lembut. "Menjemputmu, tante ingin makan siang bersama. Om sudah izin pada mamamu kok."


"Benarkah? Ica kangen tante Anita."


"Dia lebih kangen sama kamu." Gio melihat kearah sahabatnya dan putranya. "Rin, ayo makan siang bersama, papamu ada tugas lain sepertinya."


"Maaf om, lain kali saja, Rinda mau main game, soalnya ada tanding sama temen online Rinda om." Rinda menatap papanya. "Sebentar kok pa, setelah itu Rinda belajar."


"Jangan terlalu sering bermain game, memangnya kamu Clarissa yang puas dengan permainannya dia juga puas dengan hasil ujiannya. Benarkan Clarissa???"


Clarissa tersenyum kikuk, dia memang selalu mendapat nilai baik walaupun dia terus saja bermain game bahkan sampai bergadang. Matanya bertatap dengan Rinda, laki-laki itu memang bersikap aneh, dia langsung mengalihkan pandangan tanpa memberikan sorotan mata yang ramah. Clarissa menatap sumber topik yang sedang dibicarakan oleh Bram dan Gio, Erlangga.


"Siang om Gio, om Bram."


"Hai Er, bagaimana kabar Oma? sudah baikan?"


Erlangga mengangguk. "Sudah pulang kerumah."


"Er bawa motor?" tanya Gio.


"Enggak om, mau ikut om Bram turun didepan."


Gio menarik Erlangga. "Bram, biarkan Erlangga ikut denganku. Er makan siang bersama om ya?"


"Boleh om."


"Pa, Putra pulang duluan deh." Pamitnya dan berlari pergi meninggalkan papanya serta teman papanya dan teman-temannya.


"Ayuk Er," Erlangga masuk dan duduk dibangku belakang, melihat itu membuat Clarissa langsung duduk dikursi penumpang didepan. "Kamu benaran tidak ikut, Rin?"


"Tidak om, lain kali saja."


"Baiklah." Gio dan Bram berjabat tangan sebelum pergi masuk kedalam mobil masing-masing, mobil putih milik Bramantio Agatha lebih dulu keluar gerbang meninggalkan halaman sekolah SMA Gemilang Cahaya. "Kalian sedang bertengkar?"


Merasa pertanyaan itu bukan untuknya, Clarissa hanya diam sampai Erlangga berdehem untuk menjawab. "Tidak om, Rinda sudah seperti itu dari pagi."


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2