
...πΌπΌπΌ...
Tiba-tiba saja orang-orang dikantor berdiri, menatap kaget pada pintu yang terbuka lebar. Bintang ikut berdiri, dihampiri dua teman magang lainnya, terlihat atasannya berjalan tergopoh-gopoh diikuti sekertarisnya berjalan melewati Bintang dan kedua temannya yang menatap bingung. Masuk pria berperawakan gagah yang mengenakan setelan jas berwarna abu-abu diikuti tiga pria yang mengenakan setelan jas hitam, satu yang mengenakan kacamata berdiri didepan pria berjas abu-abu menunduk kecil pada atasan Bintang.
Bintang dan kedua temannya menghampiri salah satu staf terdekat meja mereka. "Siapa itu mas? kok pak Rahmat kelihatan gugup."
"CEO perusahaan," bisiknya. "Tumben, biasanya lewat saja tidak."
"Kantor pemasaran ekspor-impor," ucap pria berjas abu-abu itu.
"Hehe. Iya pak. Selamat datang pak," Rahmat sebagai atasan dikantor memberikan salam pada CEO mereka.
"Halo pak Rahmat," mereka berjabat tangan. Rofi menatap sekelilingnya, "saya mengganggu ya?"
"Ah tidak kok," gugup. Tentu saja. Ini pertama kalinya CEO datang kekantornya, biasanya mereka hanya bertemu diruang meeting saja. "Mari duduk pak, diruangan saya."
"Tidak perlu pak Rahmat, saya hanya mampir." Rofi kembali menatap keseluruh staf, matanya bertemu pada tiga anak magang yang mengenakan pakaian khas mereka, kemeja putih dan celana dasar hitam. Langkah gagah Rofi mendekat, diikuti Rahmat yang bingung. Langkahnya berhenti tepat dihadapan Bintang, mendapat tatapan itu membuat mereka menelan saliva pelan dan dadanya yang berdetak lebih cepat. Terlebih Bintang yang ditatap intens dari atas sampai bawah.
"Bintang Angkasa ya?" Ucap pria itu, Bintang melebarkan matanya seperkian detik lalu kembali dia menunduk, sangat tidak sopan menatap lama mata atasan tertinggi.
"Iya pak,"
Rofi menepuk bahu Bintang lembut, "bagaimana magang disini?"
"Menyenangkan pak," jawab Bintang. Memangnya apa yang ingin pria itu dengar?
Pria dihadapan Bintang mengangguk dengan senyuman mengembang bahagia. "Kalau ada keluhan bilang pada saya ya?"
Bintang melirik pak Rahmat ragu, lalu menatap Rofi kembali dan mengangguk pelan. "Iya pak."
"Masa magang tiga bulan ya pak Rahmat?"
"Be-benar pak," jawab pak Rahmat kaget karena tiba-tiba ditanya.
"Setelah lulus mau kerja dimana?" Menatap Bintang lagi. "Any views?"
"Belum pak," memang benar. Bintang masih memiliki tanggung jawab yang dibuat bersama teman-temannya. Usaha kecil-kecilan mereka pada bidang photograp.
"Tinggalkan saja usahamu itu, bekerja disini ya setelah lulus?"
Bintang mengatup mulutnya kembali, bagaimana pria ini tau usahanya? tidak, maksudnya kenapa dia meminta Bintang bekerja disini?
"Tidak mau?"
"B-boleh pak?" Sial. Kenapa pula Bintang bertanya.
__ADS_1
"Tentu boleh dong," pria itu menepuk bahu Bintang lagi dengan pelan, berbalik dengan semangat menatap sekertarisnya. "Aryo, ajak anak ini makan siang bersama."
"Baik pak."
"Saya pinjam Bintang pak," menatap pak Rahmat, yang kaget lalu mengangguk tanpa menjawab.
...πΌπΌπΌ...
Banyak staf lama bahkan baru yang bergosip melihat Bintang berjalan masuk kedalam kantin pribadi untuk atasan. Bintang berjalan mengikuti satu pria berjas yang ikut menyambangi kantornya pagi tadi bersama sang CEO, yang baru Bintang ketahui bahwa pria didepannya ini adalah seorang bodyguard. Bintang merasa keren saja, CEO kantor ini saja pakai bodyguard.
Bintang menunduk kecil pada bodyguard yang mempersilahkannya masuk, dan yang membuatnya kaget pria itu menunduk lebih dalam padanya. Ia hanya menggeleng kecil bingung, sopan sekali, lebih kaget lagi saat diruang kantin pribadi ini. Seluruh meja seperti sebuah meja meeting diduduki dengan berbagai macam pria berjas, bahkan atasan Bintang ada disana. Merasa semua menatap kearahnya, Bintang menunduk kecil, lalu dia menunduk lagi pada CEO yang berjalan kearahnya.
"Ayo, cari tempat yang membuatmu nyaman."
"Saya diluar saja pak," lebih baik memilih tempatnya, kenapa pula dia harus makan satu ruangan dengan orang-orang tinggi.
"Kamu tidak nyaman disini?"
"B-bukan seperti itu," kenapa pakai tanya segala sih? tentu saja Bintang tidak nyaman. Memangnya ada yang nyaman satu ruangan dengan orang tinggi sedangkan jabatanmu hanyalah anak magang seminggu. "Lebih baik saya diluar."
"Ayo, jangan sungkan." Bintang ikut saja ketika Rofi menarik bahunya, sampai dikursi paling dekat dengan kursi utama. "Pak, biarkan Bintang duduk disitu."
Pria yang ditunjuk Rofi langsung berdiri, "siap pak."
"Jangan, bapak tidak usah pindah." Kepalanya mencari tempat yang kosong, sial, tidak ada, tapi dia melihat kursi panjang yang kosong dan meja yang lurus, ada beberapa orang duduk disana, salah satunya sekertaris CEO ini. "Saya disana saja."
"Iya pak,"
"Okey," Rofi menatap sekertarisnya. "Pindah kalian semua, Bintang dan saya akan duduk disana."
Mata Bintang melebar. "Saya saja pak,"
"Loh, saya mau makan bersama kamu kok, percuma saja kalau kamu disana dan saya disana." Menunjuk dua tempat yang berbeda dan jauh.
Bintang sangat bingung dengan ini, akhirnya dia menggeleng pusing. "Ya sudah saya disana saja."
"Begitu dong,"
Bintang menahan kursi pria yang dimintai Rofi untuk pindah tadi. "Bapak disini saja, boleh saya dekat pak Rahmat saja pak?"
"Pak Rahmat?" tanya Rofi sembari mencari wajah pak Rahmat pada kumpulan pejabat tinggi dikantor ini, pak Rahmat menegapkan diri ketika dicari oleh CEOnya. "Pindah didekat saya pak, Bintang ingin dekat bapak,"
"Ee-baik pak."
Pak Rahmat saja kebingungan, Bintang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ini sangat aneh sekali. Bintang ingin pulang.
...πΌπΌπΌ...
__ADS_1
Setelah acara ribet makan siang bersama selesai, Bintang ikut kembali kekantor bersama pak Rahmat dan bodyguard. Entahlah, CEO aneh itu mendadak meminta salah satu bodyguard nya untuk mengantarkan Bintang dan pak Rahmat sampai dikantor. Bintang mendekati pak Rahmat.
"Pak...."
"Nanti saja Bintang...." Jawab pak Rahmat secara langsung, mereka masih di lift bersama bodyguard pak Rofi, bahaya jika membicarakan soal atasan mereka didekat orang berbahaya.
Pak Rahmat melebarkan matanya ketika dia berterima kasih pada bodyguard itu karena sudah mengantar mereka, saat Bintang menunduk sopan, pria itu menunduk lebih dalam. Pak Rahmat melangkah lebar sampai dimeja para staf berkumpul untuk makan yang mereka pesan dari luar kantor, tangannya mengacung meminta sebuah air mineral, sekertarisnya paham dan langsung memberikan.
"Kenapa pak?" Tanya salah satu staf yang bingung melihat sikap atasannya.
Pak Rahmat menegak air mineral sampai setengah. Menaruh botol secara kasar dimeja, berbalik menatap Bintang yang berdiri dibelakangnya. "Saya yang harus bertanya pada Bintang. Kenapa?"
"Saya pak,,,,"
"Kamu yang seharusnya bertanya?" Potong pak Rahmat, Bintang mengangguk. "Saya juga tidak tau Bintang,,,,"
"Kenapa to pak?"
Pak Rahmat menatap staf yang bertanya. "Pak Rofi menuruti semua ucapan Bintang yang ribet soal duduk untuk makan saja."
"Memangnya bapak tidak heran? saya anak magang pak, kerjaan saya juga tidak semua benar, kata bapak CEO yang tidak pernah kesini bahkan sampai kesini meminta saya untuk makan siang bersama, duduk disebelahnya dengan mengusir orang yang jabatannya saja lebih tinggi dari bapak."
Pak Rahmat mengusap wajahnya gusar. "Saya sampai ditatap bingung sama semua petinggi karena kamu minta duduk didekat saya." Pak Rahmat menatap semua stafnya. "Kalian tau? pak Rofi mengusir dua petinggi yang duduk didekatnya agar saya dan Bintang yang duduk didekatnya."
"Bintang, kamu kenal sama pak Rofi?" Tanya salah satu staf laki-laki.
Bintang menggeleng. "Baru pertama kali ini ketemu,"
"Benar. Soalnya tadi pas pak Rofi masuk kantor kita, Bintang tanya sama saya beliau siapa." Timpal staf lainnya.
"Benar kamu tidak kenal pak Rofi?" Bintang mengangguk lagi ditanya pak Rahmat. "Anak pak Rofi laki-laki semua kan? kalau ada perempuan, bisa wajar kalau naksir Bintang,"
"Emangnya sinetron."
"Aneh lagi ya, itu tadi bodyguard ngantar kami sampai didepan dan menunduk dalam waktu Bintang menunduk."
"Hah? masa sih?"
"IYA!!!" Jawab pak Rahmat membara. "Kamu bukan anak pemilik perusahaan yang lagi nyamar kan Bintang?"
"Enggak pak." Bintang menggeleng kuat.
"Bapak kebanyakan nonton drama." Celetuk satu staf yang asik memakan ayam goreng.
"Saya heran." Pak Rahmat mengelus dagunya.
"Saya lebih heran pak," imbuh Bintang.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ