
...(Pict by Pinterest)...
..."Berlian tidak selamanya terlihat berkilau"...
...πΌπΌπΌ...
Ruang makan terasa hening, bi siti sudah menyajikan semua menu diatas meja sejak satu jam yang lalu. Mereka yang duduk dibalik meja berisi makanan hanya diam tidak bergerak. Pikiran campur aduk masih berputar diotak mereka masing-masing.
Doni berdehem, dia memulai gerakan meraih ayam sambel. "Ica mau ini?"
Clarissa mengangguk.
"Papa sudah meminta izin sama wali kelas Ica, jadi Ica enggak perlu masuk sekolah dulu ya sayang." Ucap Doni disela dia menaruh beberapa sayuran keatas piring Clarissa. "Papa juga sudah bilang sama Anya, untuk gak jemput kamu hari ini."
Clarissa mengangguk lagi.
Doni beralih pada Bintang. "Kakak mau apa? ayam atau ikan."
Bintang tidak menjawab.
"Ikan ya? papa ingat kakak gak suka ayam sambel." Ucapnya ketika ingat pada makanan yang Bintang tidak suka. "Kakak juga gak usah kemana-mana, masih libur juga ya? tadi papa sudah tanya Dosen kamu, kalian istirahat saja dirumah. Papa mau mengurus hal lain."
Tidak perlu ditanya, mereka sudah tahu apa yang akan diurus oleh Doni.
"Ayo dimakan." Ajak Doni, dia menikmati masakan bi siti dengan mulut yang terasa pahit. "Um, papa kangen masakan bi Siti, masih enak."
"Pa..." Bintang memanggil lirih. Dia belum menyentuh piringnya.
Doni menatap Bintang, panggilan itu juga membuat Clarissa menatap kakaknya. "Iya, Bintang mau apa?"
"Apa benar yang dikatakan oleh pak Darmo?"
Jantungnya terasa berhenti berdetak. Jika Doni menjelaskan yang sesungguhnya apakah Bintang akan meninggalkannya? apakah Clarissa juga akan ikut Bintang dan meninggalkannya?
__ADS_1
Doni tersenyum. "Jangan dengarkan beliau. Bintang anak papa, anak kandung papa."
"L-lalu apa maksudnya kemarin?"
"Tidak usah dipikirkan. Mungkin beliau sedang tidak baik-baik saja. Apapun yang terjadi, Bintang dan Clarissa adalah anak papa, tidak ada yang boleh pergi kemanapun tanpa seizin papa. Ingat. Kita harus selalu bersama-sama." Doni mendorong piring Bintang untuk lebih maju pada sang pemilik. "Makan, lalu kalian kembali istirahat."
...πΌπΌπΌ...
Doni menaruh tas kerjanya diatas meja, menatap kekasihnya yang mengenakan pakaian tahanan. Mata Clara sembab, mungkin menangisi hidupnya. "Sayang, tolong, aku tidak melakukan apapun."
"Kalau begitu, jawablah jujur pada jaksa." Doni terus menunduk, dia tidak berani melihat karena takut merasa iba. "Jawab dengan jujur apa yang ditanyakan oleh semua orang, Clara. Aku akan membantu jika kamu berkata jujur."
"Aku sudah menjawab semua pertanyaan mereka dengan jujur, tapi mereka berlaku tidak percaya padaku." Clara menangis, mencoba meraih tangan Doni, namun sayangnya pria itu menariknya dan menyimpan kedua tangannya dibawah meja. "Tolong,, aku akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu."
"Kamu telat mengatakannya,"
"Aku bersungguh-sunggu."
"Dan aku tidak perduli." Doni berdiri, masih tidak berani menatap Clara. "Aku akan mencaritahu yang sebenar-benarnya. Jangan paksa aku untuk menuruti kemauanmu yang mungkin saja akan berdampak pada anak-anakku. Pikirkan saja tentang kandunganmu."
Clara berteriak ketika Doni pergi meninggalkannya, menghilang dari pintu yang menyisakan dirinya dengan satu polisi wanita.
"Anda sudah bertemu dengannya, Dokter Doni?" tanya Gio, dia berdiri ketika melihat Doni sampai di dekatnya. "Apa dia baik-baik saja?"
"Why do you ask the condition of a murderer?" Darmo menatap anaknya tidak suka. Gio memang selalu bertingkah baik hati. "Berhenti perhatian kepada siapapun, membuatku sesak saja."
"Pa. Wanita itu sedang mengandung anak Dokter Doni, setidaknya kita harus memperhatikan kondisi bayinya juga." Gio menjelaskan tentang pengertian kepada sang papa.
"Huh. Mengesalkan."
Doni tersenyum tipis. "Terima kasih sudah memperhatikan tentang calon bayiku, Dokter Gio."
"CALON BAYIMU??" Suara itu membuat ketiganya menoleh, mencari sumber suara. Seorang wanita dengan pakaian jas serba hitam dan kacamata hitam berjalan mendekati mereka, dia melepaskan kacamatanya. "Kamu yakin dengan itu?"
"Mi-Mika." Ucap Doni kaget, wanita itu adalah sahabatnya saat kuliah. Tapi dia memutuskan hubungan persahabatan mereka ketika wanita itu tahu Doni telah menjalin hubungan dengan Clara. "Kamu disini?"
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh berada disini?" Mika melemparkan pertanyaan Doni kembali. "Aku datang karena mendengar kabar bahwa mantan istri sahabatku meninggal, dan lagi aku mendengar bahwa penyebabnya adalah kekasih sahabatku."
"Mika,, ini tidak..."
"Aku ingin memberitahu sesuatu padamu, Doni." Wanita itu menyerahkan amplop kuning. "Bukalah, aku hanya merasa harus memberitahu semua ini padamu, bahwa pada kenyataannya Clara bukanlah wanita baik-baik."
Doni membuka perlahan amplop kuning itu, tangannya bergetar ketika melihat foto Clara dengan seorang laki-laki tanpa busana. "Aku tidak ingin menyakitimu, tapi kamu harus menerima semua ini dengan hati yang besar. Laki-laki difoto itu adalah suamiku. Perselingkuhan tetaplah perselingkuhan, karena itu aku membencimu, apa lagi saat aku tahu wanita yang menjadi selingkuhanmu itu adalah Clara, aku semakin membencimu. Dia adalah penyebab kerusakan rumah tanggaku dan kamu tidak pernah mau mendengarkanku. Aku membuat pilihan pada suamiku untuk memilihku atau Clara, tentu saja aku yang dia pilih. Maka dari itu aku memutuskan untuk pindah ke Jerman."
Wanita itu maju selangkah. "Demi apapun Don, aku masih perduli padamu. Aku masih sahabatmu yang dulu. Kamu hanya dimanfaatkan oleh wanita sialan itu, Anita yang memberitahuku soal itu. Bayi yang ada dalam kandungan Clara adalah anak suamiku, kamu tidak tahu kan?"
Doni mematung, lagi? apakah Doni harus menerima bayi yang bukam darah dagingnya lagi. Dia memandang kearah Darmo yang masih senantiasa duduk santai disofa.
"Jangan pernah perdulikan dia, Don. Dengarkan aku, dia yang telah membuat keluargamu hancur, dia yang telah membuat satu-satunya wanita yang menerimamu dengan baik pergi meninggalkan dunia ini." Mika menghela napasnya kesal. "Kalau kamu masih berkeinginan menerima wanita itu dan membuatnya lepas dari hukuman. Serahkan kedua anakmu padaku, aku akan merawat mereka demi membalas kesalahanku."
"Anda tidak bersalah nyonya Mika," ujar Darmo ditengah-tengah itu.
"Aku bersalah Tuan. Seharusnya aku membiarkan suamiku membusuk dengan perempuan itu didunia ini. Tapi aku malah membuat wanita itu kembali pada Doni dan menghancurkan anak-anak yang tidak seharusnya merasakan hal itu." Mika menghela napasnya. "Aku tunggu sampai lusa sebelum aku kembali ke Jerman. Aku akan membawa mereka."
Darmo berdiri. "Anda tidak perlu melakukan itu, karena anak-anak itu akan ikut denganku."
"Pa..." Gio kembali memperingatkan. "Sudah, jangan ikut campur."
"Kamu mulai lagi, Gio..."
Mika berdehem. "Maaf, anda Gio suami Anita?"
"Iya saya." Tangannya terulur dan langsung diraih oleh Mika.
"Saya sahabat baik Anita. Sebetulnya dulu sahabat baik Doni, tapi sebelum dia menjadi bodoh." Ucap Mika dengan penekanan dikata terakhir, dia menunduk kecil pada Darmo. "Maaf, entah apa yang terjadi pada keluarga kalian. Setidaknya membawa kedua anak Doni masih berlaku padaku sampai lusa. Permisi."
Darmo mengancing jasnya setelah kepergian Mika, dia menatap Doni yang masih mematung menatap amplop kuning itu. "Lihat, banyak yang menyayangi anakmu. Semua tergantung pada anakmu, karena omong kosongmu akan lenyap jika anak-anak tidak ingin tinggal denganmu."
Ini sudah menjadi penyesalan bagi Doni yang terlambat, dia tidak bisa lagi membangun rumah tangganya yang sudah runtuh. Dinda telah pergi meninggalkannya, dan kekasihnya yang seharusnya menjadi bentengnya untuk kembali berdiri adalah sebuah kesalahan besar. Clara tidaklah seperti yang dia bayangkan. Doni telah ditipu besar, dia ingat, Clara selalu membuatnya jauh pada anak-anaknya dan hanya berfokus untuk mengambilnya.
Gio mengelus bahu Doni untuk memberikan kesabaran. Kalimat papanya sebelum pergi memang benar adanya. "Berlian tidak selamanya terlihat berkilau, Dokter Doni."
__ADS_1
Benar, Doni hanya menatap Clara dari sisi memuja saja. Dia tidak melihat sisi yang lain, dia telah dibutakan oleh cintanya.
ππππππππ BERSAMBUNG ππππππππ