
...πΌπΌπΌ...
"Clarissa...." Erlangga memanggil panik, dia sudah berpindah duduk dibelakang. Rinda ketakutan seakan belum pernah melihat hal sesesak itu. Clarissa yang panik membuat Erlangga ikut bergerak mencari alat bantu Clarissa, dan laki-laki itu temukan dibagian pinggiran tas.
Menyerahkan benda kecil tapi berfungsi besar pada Clarissa. Erlangga dan Rinda sama-sama terdiam, memperhatikan bagaimana cara kerja obat itu. Clarissa yang mulai membaik kembali menghirup udara bebas secara serakah.
"Kan udah gue bilang, nunggu disana." Menatap Rinda tajam.
"Sorry ya Ca, gue gak tau kalau penderita asma gak bisa kena hujan." Ucap Rinda ketakutan.
"B-bisa kok, gue gak apa-apa cuma emang sering gitu aja." Clarissa menoleh, melihat Erlangga yang menggeser helai poninya yang panjang untuk tidak menghalangi wajahnya.
"Kerumah sakit Er," ucap Rinda serius, dia juga tidak mahir mengendarai mobil. Padahal dia lancar balapan, tapi tidak suka jika dikeadaan seperti ini.
"Gak usah," Clarissa menggeleng kuat. "Gue udah baik-baik aja kok,"
Erlangga keluar dari mobil dan duduk dibangku kemudi, dia mulai memutar kemudi, mobil mulai bergerak entah kearah mana yang Clarissa sendiri tidak tau. Ikut saja sebagai penumpang. Clarissa bersandar, duduk dibelakang bangku kemudi, matanya menatap ke arah Rinda yang dapat dia jelas dari pandangan matanya. Laki-laki itu sesekali melihat kearahnya lalu mengobrol hal random dengan Erlangga meski tidak ditanggapi atau hanya ditanggapi deheman atau jawaban 'iya'.
Pikiran Clarissa berlari jauh. Sampai pada laki-laki dimalam konser Bad Omens, laki-laki yang menolongnya saat asma dengan bantuan pernapasan yang berbeda. Bukannya ragu pada Putra, hanya saja otaknya liar, Rinda memiliki tinggi yang sama seperti Putra dan masih termasuk sejajar dengan tinggi laki-laki dimalam konser itu. Saat Rinda memeluknya tadi, wangi tubuh Rinda sama persis, wangi parfum John Varvatos Artisan, Clarissa mengingatnya karena dia mencium jelas wangi laki-laki dimalam konser itu, padahal Putra juga memiliki harum yang sama. Style laki-laki dimalam itu sama seperti yang Rinda kenakan saat ini, sudah memakai Hodie tapi tetap mengenakan jaket levis, diantara semua teman Putra, hanya Rinda yang selalu mengenakan hodie kemanapun dan berbagai warna, tidak menutup kemungkinan bahwa Rinda memiliki hodie hitam dengab banyak gambar. Ya, walaupun semua laki-laki pasti memiliki sweater hodie, mungkin hanya Noel saja, karena Clarissa selalu melihat Noel mengenakan kemeja dengan berbagai bahan lalu jarang mengancing dua kancing pada bagian atas.
Mata Clarissa masih menatap Rinda yang sudah mulai terdiam, Erlangga selalu fokus menyetir apa lagi cuaca sedang hujan deras. Yang sedang Clarissa pikirkan adalah bisa saja laki-laki dimalam konser Bad Omens adalah Rinda. Tinggi, wangi, pakaian, serta suara saat memanggil namanya lengkap, Clarissa sangat mengenalinya. Dia ingat Rinda satu-satunya teman Putra yang datang ke konser tersebut, sedangkan Putra sedang ikut pergi dinas bersama Gio. Lalu bagaimana bisa stik drum milik Nick Folio serta Album terbaru Bad Omens ada pada Putra?
Clarissa ingin menangis, ingin sampai dirumah dengan cepat lalu menceritakan segalanya pada Kanya. Malam ini juga. Matanya melebar saat mobil yang Erlangga kendarai mulai masuk kedalam area rumah sakit.
"Loh, ngapain?" Tanyanya panik, Clarissa tau, ini pasti karena asmanya.
"Kondisi lo perlu di cek Ca." Ujar Rinda, karena pasti Erlangga tidak akan menjawabnya.
"Gak, gue gak apa-apa."
"Tapi kita khawatir sama lo."
Clarissa menatap kedua mata Rinda bergantian, lalu membuang wajahnya kearah lain, Pikirannya sudah bercampur, bagaimana jika Rinda adalah laki-laki itu dan bukan Putra?
"Gue pulang sendiri aja."
"No," Rinda menarik tangan Clarissa untuk kembali duduk, diluar masih hujan deras. "Okey, batal Er, balik aja."
__ADS_1
Erlangga tidak banyak bicara, dia hanya kembali membawa mobil keluar dari halaman rumah sakit milik Gio. Lajunya menjauh, membuat Clarissa kembali bersandar, menatap keluar jendela, dia masih tidak tau kemana dia dibawa oleh sang pengemudi.
"Thanks bro," Ucapan Rinda membuat Clarissa membuka matanya, dia tertidur? Clarissa menatap keluar, hujan sudah menyisakan rintikan kecil. "Ca, gue turun ya, lo dianter Erlangga aja gak apa-apa kan?"
Memangnya Clarissa bisa menolak? dia ingin menanyakan perihal konser saja sudah tidak bisa. Clarissa mengangguk, dia ikut keluar untuk berpindah duduk didepan.
"Sorry ya Ca, langsung istirahat." Ucap Rinda pada Clarissa sebelum Clarissa masuk kedalam mobil sembari mengelus puncak kepalanya. Hatinya langsung semakin berantakan.
Mendadak Clarissa menciutkan diri ketika Erlangga terlihat seperti memeluknya, bahkan hidungnya sempat menyentuh pipi Erlangga namun laki-laki itu sedikit jauhkan, beriringan dengan kursi yang Clarissa sandari perlahan mundur.
"Tidur aja," ucapnya. Melepaskan sabuk pengaman yang sudah Clarissa pakai tadi. Erlangga membawa setengah tubuhnya kebangku belakang, meraih sesuatu yang tidak Clarissa ketahui, laki-laki itu bawa kedepan dan dia buka lebar, sebuah selimut lalu dia taruh diatas tubuh Clarissa.
Dari rebahannya sedikit, Clarissa dapat melihat Rinda yang melambaikan tangan kearah mobil dengan tersenyum tipis. Lalu pandangannya itu menghilang dengan Erlangga yang sudah melajukan kemudinya.
Deringan pada layar mobil Erlangga mengalihkan pikiran Clarissa, tertera dengan nama 'Oma' disana, Erlangga langsung menjawab dengan menekan tombol dilayar.
"Yes madam." Ucapan Erlangga terdengar menggoda, Clarissa hanya menguping tanpa melihat kearah laki-laki itu.
"Where are you, son?" Terdengar dari sebrang dengan suara lembut,
"On the way, wanted to take Clarissa home." Jawab Erlangga pelan.
"No no, she's Putra's lover." Erlangga tetap dengan mode seriusnya.
...πΌπΌπΌ...
Clarissa membuka matanya, dia sedikit kaget saat seorang wanita dengan wajah mulai keriput tapi senyumnya masih mempesona. "Apa oma membangunkanmu?"
Clarissa mengangkat dirinya dari tidurannya, dia tertidur? lagi? Clarissa tersenyum tipis, mencari keberadaan Erlangga dibangku kemudi, kosong. Pintunya terbuka, dan Erlangga melihat Clarissa yang duduk menatapnya. Laki-laki itu menatap omanya datar.
Oma Erlangga menggeleng kuat. "No, no, no, not me." Merasa tau dari tatapan Erlangga, yang menuduh omanya adalah penyebab Clarissa terbangun, Erlangga keluar lagi, membuka pintu mobil Clarissa lalu membenarkan posisi bangku Clarissa.
"Kekasih Putra?" Tanya Oma Erlangga saat mobil kembali melaju.
"I-iya oma."
"Cantik."
"T-terima kasih,"
__ADS_1
Clarissa memposisikan dirinya untuk menatap oma Erlangga yang duduk dibelakang. "Oma kenapa masih diluar, ini sudah malam?"
Erlangga sempat menceritakan bahwa dia tidak berani membangunkan Clarissa untuk meminta izin menjemput omanya yang sedang berada diluar.
"Sedang ada arisan tadi, tapi hujan dan takut merepotkan supir pribadi, makanya merepotkan Erlangga saja. Tidak apa-apa kan?"
Clarissa menggeleng, mengerti maksud oma Erlangga bertanya padanya.
Mereka tidak saling berbicara lagi, sampai setengah perjalanan Oma Erlangga bersuara. "Senang berteman dengan Erlangga?"
Clarissa menoleh kebelakang, dia menanggapi dengan senyuman, mereka tidak berteman, tapi tidak enak juga kalau menjawab tidak ataupun iya.
"Kami tidak berteman," Erlangga menanggapi. Clarissa tidak kaget, dia sudah tau perangai Erlangga.
"Ouh, why? kalian terlihat cocok bersama, sama-sama pendiam." Oma Erlangga menatap keluar, "kamu masih saja tidak mau berteman, mungkin kalau kita tidak berhutang jasa pada Adietama, kamu juga tidak mau berteman dengan Putra."
"Don't talk about anything here,"
Clarissa paham, oma Erlangga memang membicarakan hal pribadi disalah tempat. Tidak seharusnya ada dirinya, Clarissa sudah duduk diposisi benar ketika mengetahui Erlangga sudah masuk kedalam area perumahannya.
"Selfish." Ucap Oma lalu ikut keluar saat Clarissa dan Erlangga keluar mobil, saat sampai didepan rumah Clarissa.
Erlangga malas menanggapi ucapan omanya, apalagi Clarissa. Mereka melihat Doni yang berdiri didepan pagar, tersenyum lebar pada oma Erlangga yang menyambut tangannya.
"Dokter Doniiii,,,, Clarissa your daughter?"
Doni mengangguk. "Yes,"
"Maaf ya, Erlangga harus menjemput saya, jadi sampai mengantarkan putri anda semalam ini." Memang, ini sudah pukul sebelas malam.
"Ouh, tadi saya pikir Clarissa jadi dijemput oleh Putra karena acara makan malam kami batal, ternyata bersama Erlangga ya?" Clarissa mendengarnya kaget, kalau tidak jadi kenapa Putra tidak menjemputnya? "Masuk yuk,"
"Ah, tidak perlu." Oma Erlangga menggeleng, "lain kali saja, ini sudah malam."
Clarissa menatap oma Erlangga yang berjalan perlahan kearahnya, "peluk sebentar boleh."
Clarissa mengangguk lalu bergerak memeluk oma Erlangga erat. "Uhh, sehat terus ya sayang,"
Clarissa dan Doni tetap berdiri diluar pagar sampai mobil Erlangga bergerak menjauh dari pandangan, Doni hanya mengelus bahu Clarissa yang ada pada pelukannya. Clarissa tidak benar-benar berada disana, dia memikirkan apa alasan yang tepat dari Putra besok saat ia tadi mengenai kemana laki-laki itu pergi saat acara makan malam para petinggi rumah sakit batal dilaksankan. Seharusnya Putra datang dan menjemputnya, Clarissa bukannya egois, dia hanya ingin laki-laki itu menepati janjinya.
__ADS_1
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ