Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:51


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Putra R. Adietama


Ica, lagi apa?


kangen gue gak?


Clarissa tersenyum tipis mendapat pesan singkat dari Putra. Dia sengaja tidak membalas pesan laki-laki itu dari tadi malam karena bingung harus mejawab apa. Bibirnya tidak berhenti tersenyum membaca setiap kata yang dia dapat dari laki-laki itu. Tangannya mulai bergerak membalas pesan itu.


^^^Clarissa Fatiyah A^^^


^^^Sorry baru bales, semalem^^^


^^^gue asik main game, kapan pulang,^^^


^^^seninkan mulai ujian.^^^


Dia memasukkan ponselnya kedalam saku celana olahraganya, tatapannya melihat Jesika dan Tyas yang duduk tidak jauh dari dirinya berjalan, ditaman depan halaman sekolah. Kepalanya berkeliling mencari seseorang yang perlu dia minta perlindungan, tapi sialnya, tidak ada satupun siswa yang berasal dari kelas dua belas. Kebanyakan dari kelas satu dan dua, tentu mereka beda arah kelas.


"Duhh,,," kakinya bergerak resah, kenapa mendadak tidak ada yang dia kenali, sampai dua suara motor kenalpot berat memasuki gerbang SMA Gemilang Cahaya, bibir Clarissa tersenyum tipis.


Kakinya bergerak mendekati dua motor yang baru terparkir. Salah satu dari mereka sudah melepas helm yang melindungi kepala.


"Ehh Icaa," sapanya. "Kenapa Ca?"


Kepala Clarissa melihat kearah Jesika dan Tyas yang sedang mengobrol asik. "Mau bareng dong."


"Kekelas?"


Clarissa mengangguk.


"Tapi gue mau kekantin dulu, laper, gak sarapan karena dia udah jemput." Rinda menepuk bahu laki-laki disampingnya. "Er, titip Ica ya? perut gue udah bunyi."


Rinda menatap Clarissa lagi. "Sama Erlangga ya? tenang, mereka gak akan ganggu lo kalau sama Erlangga. Dia lebih nyeremin dari harimau sumatra."


Erlangga turun dari motor, dan punggung Clarissa didorong lembut oleh Rinda. "Sana, ngekor Erlangga."


Dengan sangat terpaksa, Clarissa berjalan dibelakang Erlangga, jarak cukup jauh. Hanya Erlangga yang menatapnya tidak suka, maka dari itu, Clarissa harus benar-benar memberikan jarak.


"Selama Putra gak ada, dia sibuk nempelin temennya sana-sini yas," ucap Jesika menyindir.


Clarissa menunduk, tidak melihat kearah mereka berdua.


Tyas menganggukkan kepalanya. "Kemarin Rinda, sekarang Erlangga, besok siapa lagi ya???"


"Kalau Noel, habis dehh temen makan temen."


"Berisik!!" Keduanya tersentak kaget ketika suara gretakkan dari Erlangga menggelegar gendang telinga mereka.


"Kita gak ngomongin lo, Erlangga. Gak usah marah-marah deh."


Erlangga melangkah mendekati mereka, berdiri dengan jarak beberapa meter. "Lo ada nyebut nama gue,"


"Ya tapikan kita gak lagi ngomongin lo sih, santai aja kali."


"Bac*t bisa diem gak sih!!"


"Er,," Daze berlari dari arah parkiran menuju mereka, dibelakangnya Marisa juga ikut menghampiri. "Kalian berdua lebih baik banyakin ngomongin tentang pelajaran, bukan malah sibuk ngomongin orang."


"Loh, lo kok dateng-dateng sewot sih."

__ADS_1


"Bukannya sewot."


Marisa meraih lengan Daze. "Sudah, ayo kembali ke kelas. Ayo Clarissa, kita jalan bareng."


...🌼🌼🌼...


Selama tidak ada Kanya ataupun Putra, harinya semakin buruk, dia semakin dibicarakan dimanapun. Kemarin dia mengira selama Putra pergi, kehidupan disekolahnya pasti akan menyenangkan tanpa dibicarakan secara sindiran ataupun dilirik tidak suka karena Putra yang terus mengikutinya kemanapun. Tapi dia salah, Putra pergi malah membuat kupingnya panas dan dadanya sesak karena terus disindir, dibicarakan didepan.


Setiap sabtu SMA Gemilang Cahaya akan melaksanakan senam sehat, Clarissa berlari langsung menelusup ditengah-tengah antara Delisa dan Vina, merangkul kedua lengan temannya. "Tolong, hari ini lindungi gue dengan baik."


"Kenapa Ca?" tanya Vina dengan tawa kecil karena Clarissa bertingkah aneh.


"Nanti malam gue kan mau nonton konser, gue gak mau kenapa-kenapa hari ini." Clarissa tersenyum tipis. Dia menarik kedua temannya mencari tempat untuk mereka senam pagi.


Vina maupun Delisa sama-sama mengangguk mengikuti arahan Clarissa, toh mereka juga telah dititipkan oleh Kanya untuk menjaga Clarissa dari dua pengikut Meysa.


Seluruh siswa Gemilang Cahaya tertib mengikuti senam pagi, bahkan guru sampai kepala sekolah mengikuti kegiatan tersebut setiap hari sabtu. Saat pada bagian gerakan maju dengan tangan merentang kedepan, Clarissa terhuyung dan menabrak siswi lain didepannya, Clarissa serta perempuan yang ditabrak tidak sengaja jatuh dirumput, membuat yang ada disekitar mereka kaget bahkan beberapa membantu mereka untuk berdiri.


Vina membantu membersihkan lutut Clarissa yang kotor, dia menatap Jesika dan Tyas yang tertawa kecil. "Gak usah kelewatan deh,"


"Udah gak apa-apa Del,"


"Kenapa?" Jesika bersidekap menatap Vina dengan tatapan sinis. "Ooh, lo sekarang udah dapet tugas ya buat jadi kacungnya cebol?"


"Bac*t banget, sini lo..."


Delisa menarik Vina, menahan perempuan itu agar tidak membuat keributan. "Vina udahh!!?!"


Untungnya mereka berada pada barisan paling belakang, musik terlalu keras membuat barisan depan dan barisan guru tidak mendengar apa yang sedang dilakukan oleh barisan paling belakang.


"Gak berani lo sama gue,"


Mendengar ejekan dari Tyan, Delisa maju dan menatap keduanya. "Bisa gak sih jaga kelakuan kalian?"


"Urusin aja wajah sama tangan kalian yang beda warna, jangan urusin orang."


"Heh!!?!"


"Jangan samain persahabatan kami sama persahabatan kalian. Kami saling menyayangi buat melindungi satu sama lain, gak seperti kalian yang berteman buat saling cari keuntungan terus membully yang lemah."


Jesika berdecih. "Jangan sok-sokan lo mentang-mentang pacaran sama Noel!!"


"Kalaupun gue gak pacaran sama Noel, gue tetep mau lawan lo yang gak ada apa-apanya kalau gak ada Meysa."


"ANJ**NG LO!!?!??!" Delisa terdorong hingga terjatuh, namun perempuan itu berdiri dan membalas dorongan Tyas lebih keras.


Tidak mau kalah, Tyas berdiri dan akan menampar wajah Delisa namun tangannya tertahan oleh Noel. "Lo cari mati?"


"LEPAS!?!?!"


"LO CARI MATII HAAHH!?!?!"


"LEPAS GUE BILANG!?!" Tyas berteriak keras, pertengkaran mereka membuat guru serta yang lain menghentikan aktivitas senam mereka. Guru-guru langsung berlari menemui sumber suara.


"APA-APAAN INI?!?!" Pak Joko berteriak lebih keras, membuat Noel yang menatap tajam Tyas langsung melemahkan tatapannya menatap guru yang paling ditakutkan. "ASTAGA?!! TIDAK MALU KALIAN BERTENGKAR DIDEPAN UMUM? HAH?!?!"


Bu Siska berjalan menghampiri Clarissa yang dalam rangkulan Vina. "Ada apa?"


"Jesika dorong Clarissa bu sewaktu senam tadi, bahkan sampai kena adik kelas." Vina yang menjawab, dia sempat menunjuk salah satu perempuan yang tidak sengaja ikut terjatuh bersama Clarissa. "Tadi kami cuma ngomong baik-baik, bahkan Delisa udah sempat gak perduliin ehh malah mereka berdua nantang kita katanya kita gak berani sama dia."


"Eh jaga mulut lo ya..."


"JESIKA?!" Bu Siska melotot kearah Jesika. "Tidak sopan sekali kamu didepan para guru."

__ADS_1


"Kalau ibu gak percaya sama ucapan saya, bisa tanya yang lain, mungkin barisan paling belakang lihat sewaktu Jesika mendorong Clarissa." Vina menatap yang lain. "Delisa cuma mau memperingatkan mereka, tapi dia juga didorong bahkan sampai jatuh sama Tyas."


Mendengar kalimat Vina, rahang Noel mengeras saat dia tau bahwa kekasihnya sempat didorong oleh mantannya.


"Hentikan senam pagi ini, Jesika dan Tyas ikut saya kekantor. Yang lain BUBAR!?!?!" Semua murid yang ada dilapangan bergegas bubar meninggalkan tempat ketika pak Joko sudah bersikeras meminta semuanya untuk pergi.


...🌼🌼🌼...


"Udah sih No, lagian mereka udah diurus sama pak Joko kan?" Noel hanya melirik Rinda, kakinya tidak bisa diam karena gelisah dengan pertengkaran tadi.


"Sorry, gara-gara gue semua jadi kena."


Daze menggeleng. "Udah la Ca, emang mereka aja yang sakit, lo gak apa-apa kan?"


Clarissa merasa tidak enak, semua yang terjadi karena kesalahannya, Kanya diskors karena membela dirinya, dan sekarang Delisa ikut mendapat kekerasan fisik karena membelanya.


"Ca, gue sama Delisa itu emang niat banget buat bantuin lo kok, jangan ngerasa gak enak ya? kita kan temen, apa yang jadi masalah lo juga jadi masalah kita. Yakan Del?"


Delisa mendengus kesal. "Iya."


"Sorry ya Delisa." Clarissa menatap Delisa.


"Emang bener kata Kanya, sekali udah ngebelain Ica, itu bawaannya emang pengen ngebelain terus." Dia mengelus dadanya untuk bersabar. "Rasanya kesel banget waktu denger Jesika bilang gue jadi ngesok karena pacaran sama Noel, apaan coba? pengen gue jambak itu mulutnya."


"Sabar Del," Vina mengelus lengan Delisa.


"Serem amat pacar lo No," Rinda langsung menutup mulutnya saat Delisa menatapnya tajam.


Kaki Delisa menendang meja dengan keras, membuat seluruh orang yang berkeliling duduk tersentak kaget. "Kenapa sih? kamu masih punya urusan sama Tyas? kenapa dia kayak panas gitu waktu aku bilang wajah sama tangannya beda."


"Apa sih sayang,,,"


"Emang kamu gak mikir waktu dulu mau pacaran sama dia?"


"What? Noel pernah pacaran sama Tyas?" Vina ternganga kaget. "Noel Keren," mengacungkan jari jempolnya.


"Kenapa diungkit-ungkit sih," Noel berdiri. "Delisaa, tunggu..."


Daze menggeleng heran ketika Noel berlari mengejar Delisa yang entah lari kemana. Rinda menganga kaget melihat Delisa tampak kesal meninggalkan kafe dimana mereka duduk.


"Ca..."


Clarissa mendongak, melihat Kanya datang dan duduk didekat mereka.


"Nyak?!?!"


"Keren lo bisa bertahan diantara Delisa sama Vina. Gimana? enakkan gak ada gue?"


Clarissa memeluk Kanya dan bersandar dibahu sahabatnya. "Gue capek."


"Yuk pulang. Vin, Delisa mana?"


"Pergi sama Noel."


Kanya mengangguk. "Lo gue anter aja,"


Mereka bertiga berdiri, Kanya membawa tas Clarissa dan menarik tangan perempuan mungil itu pergi diikuti Vina. Belum sampai tangga untuk turun, ketiganya menghentikan langkah karena panggilan Daze.


"Ini gak ada yang mau ngucapin terima kasih."


"Buat apa?" tanya Kanya. "Kalian bertiga gak ada yang bantuin Clarissa kan?"


Daze menahan kalimatnya, dia lupa kalau Kanya sangat anti dengan mereka. Sikap membantunya pasti tetap akan salah dimata Kanya Dealova. Vina tersenyun dan mengucapkan terima kasih dengan suara kecil, lalu dia berlari mengejar Kanya yang sudah berteriak memintanya untuk segera turun.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2