Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:74


__ADS_3

"Kakek....." Putra masuk. "Kakek disini?"


Darmo berdiri, meraih jasnya yang tergeletak dibahu sofa. "Hem, sedang menjenguk Dokter Dinda. Kenapa kamu disini? bukannya kamu sedang liburan? kenapa masuk kesini tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?"


"Ow...Ow..." Kedua tangan Putra menghadap kakeknya yang sudah berdiri tegap. "Hold on, hold on, ask me questions slowly."


"Talking to you doesn't take long."


Putra terkekeh mendengar kalimat kakeknya. Dia mengangkat bingkisan berisi buah. "Disuruh papa antarkan ini untuk tante Dinda."


"Masih saja papamu, kembalikan, kakek sudah membeli banyak."


Dinda tersenyum. "Ya ampun Putra merepotkan. Tidak apa-apa taruh sini saja. Nanti bisa dibagikan kepasien yang lain kalau tante tidak bisa menghabiskan semuanya."


Bintang berjalan meraihnya dan menaruh diatas meja yang lainnya, beberapa macam buah sudah ada diatas sana. Itu pemberian Darmo.


Putra tersenyum, dia menatap Darmo. "What are you fighting for here?"


"Shut up or i'll break your tongue." Clarissa tersentak, dia mendapatkan elusan lembut dari Darmo. "Hanya bercanda, jangan terlalu dianggap serius pembicaraanku dengan Putra."


Putra maju menatap kakeknya datar. "Keep your hands away from her."


"Mamanya tidak melarangku, kenapa kamu melakukannya?" Darmo berjalan menuju ranjang Dinda setelah memakai jasnya. Dan Putra terlihat mendekati Clarissa, menepuk puncak kepala perempuan itu, entahlah, sepertinya dia sedang membersihkan bekas elusan kakeknya disana. "Cepat sembuh."


"Terima kasih pak Darmo atas bantuan dan kunjungannya."


Darmo memandang Dinda cukup lama, lalu Darmo melihat Bintang yang spontan terkesiap ketika menatapnya. "Kabari aku jika terjadi sesuatu,"


"Baik pak. Terima kasih atas bantuannya."


Putra menghampiri kakeknya yang akan berjalan keluar ruangan. "Boleh pulang kerumah kakek?"


"What do you want now?" Melihat senyuman Putra membuat Darmo menggeleng, akan ada sesuatu yang dia inginkan jika tiba-tiba meminta untuk ikut dengannya. Langkah mereka berhenti ketika melihat sosok Doni dihadapan mereka.


Doni menunduk kecil. "Selamat siang pak Darmo."


"Get rid of your lover. Don't let her roam around here, making a rotten hospital smell." Putra tidak terlihat kaget dengan kalimat kakeknya, aktivitas Doni dan kekasihnya yang berkeliaran di Rumah sakit memang sangat menggelikan. Untuk Clarissa dan Bintang, mereka saling pandang mendengar kalimat itu.


Doni menunduk lagi. "Maaf, membuat anda tidak nyaman."


Darmo lebih dulu pergi, Putra menyempatkan menunduk kecil pada Doni serta melambaikan tangannya pada Bintang sebelum berlari mengejar kakeknya.


...🌼🌼🌼...

__ADS_1


"Bintang baru tahu kalau Darmo Sudrajat Adietama dekat dengan mama?" ucap Bintang sembari melihat papanya memeriksa mamanya.


"Berikan panggilan yang sopan pada beliau." Ujar Doni mengingatkan.


Bintang tidak bergeming. "Bahkan saat mama pertama kali dikabarkan jatuh pingsan, beliau langsung berada disini sampai mama sadar."


"Karena mamamu Dokter terlama disini, pak Darmo memang suka melakukan hal itu kepada para Dokternya." Ucap Doni, Dinda tampak melemas karena dia sedang menutup matanya.


Bintang menatap papanya. "Apa papa membawa wanita itu kesini?"


"Bintang......" Tegur Dinda untuk tidak berkata seperti itu pada papanya.


Bintang melengos, dia tidak perduli pada panggilan lirih mamanya. Doni hanya tersenyum. "Tidak ada yang menjaganya, papa belum menemukan perawat yang cocok untuknya. Makanya papa bawa kesini."


"Dulu, mama terlihat segar dan tetap bekerja saat kehamilannya memasuki umur delapan bulan." Menatap adiknya. "Saat hamil Clarissa. Papa ingat?"


"Tentu. Setiap wanita hamil itu berbeda-beda Bintang." Ucap Doni mencoba tenang, baru pertama kali ini Bintang berkata sedikit ketus padanya. "Nanti kamu akan merasakannya saat perut kekasihmu sudah mulai membesar."


Bintang tidak perduli.


"Ica sudah makan?" Mendengar kalimat papanya yang ditujukan padanya, Clarissa mengangguk. Doni menatap Dinda lagi. "Jangan terlalu sering menerima tamu, kamu perlu istirahat yang cukup."


"Kamu sedang memperhatikanku atau kamu sedang cemburu?"


"Cemburu?"


"Cemburu kepada siapa?"


"Pak Darmo terlihat lebih suka padaku dibandingkan padamu, Doni." Dalam matanya yang tertutup Dinda terkekeh. "Akui saja, kamu menang dalam segala hal, tapi aku lebih unggul darimu."


Doni menghela napasnya. "Kamu sedang mengajakku bersaing? kalau untuk siapa lebih unggul, sepertinya aku tidak ingin bersaing sampai kapanpun. Pak Darmo selalu menguntungkan untukmu."


Keduanya tertawa, Bintang dan Clarissa sama-sama merasa heran. Kedua orang tua mereka bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. "Aku memang selalu unggul dalam apapun, hanya saja kemarin kamu maju satu langkah."


"Hentikan itu Dinda, ada anak-anak, aku tahu aku salah tapi ucapanmu benar-benar membuatku sakit." Doni berdiri tegap, menatap kedua anaknya. "Papa pamit ya, memaksa kalian untuk tinggal bersama papa pasti tidak akan mempan."


...🌼🌼🌼...


"Pa... Ayolah." Gio terdiam dibangku kerjanya, menatap sang papa dengan tatapan penuh kebingungan. "Jangan terus datang kesini, orang-orang akan merasa heran jika papa ada disini, diruangan Dokter Dinda lagi."


"Kenapa memangnya?" Menyesap kopi yang telah dibuatkan oleh sekertaris Gio. "Papa hanya membesuk Dokter terlama disini,"


"Ya memang, tapi ini pertama kalinya loh. Dokter yang lebih lama dari Dokter Dinda juga ada."

__ADS_1


"Apa pernah sakit?"


Gio menghela napasnya. "Ada, dan papa tidak hadir saat itu."


"Tapi papa memberikan ruang VVIP juga bukan? membawakan seluruh buah yang sehat dan segat untuk Dokter itu." Jawab Darmo, dia memainkan cincin berbatu besar pada jari manisnya. "Papa bertemu dengan kedua anaknya."


"Benarkah? bagaimana respon mereka?" Gio mulai penasaran.


Darmo menatap tajam. "Penasaran sekali."


"Ya... Ya... Ya... Up to you. Jadi, apa Dokter Doni juga ada disana? ini waktunya dia memeriksa Dokter Dinda." Ucap Gio yang membuat Darmo semakin menatapnya tajam.


"Listen to me, stop that disgusting attitude about attention." Ucap Darmo keras.


Gio menghela napasnya lagi. "Okey pa, sekarang jawab saja pertanyaan Gio."


"Hmm... Dan untuk Dokter Doni, papa sempat bertemu juga."


"Jadi, bagaimana respon mereka??"


Darmo menatap arloji. "Biasa saja, bukan suatu hal yang aneh ketika ada yang menjenguk orang yang sakit."


Gio menghela napasnya. "Memang tidak ada yang salah menjenguk orang sakit. Tapi posisi papa itu loh, sudah jarang di Indonesia, mendengar kabar Dokter Dinda sakit langsung kembali. Menantu papa sendiri saja sakit tidak ada papa kembali?"


Darmo hanya mengangguk-angguk. Saat Anita sakit dia memang sedang ada keperluan mendesak dan Gio tahu itu, jadi untuk apa hal itu dipermasalahkan kembali.


"Tidak bisa menjawab pertanyaan Gio kan?" Gio memancing. Ia berdiri dan duduk dihadapan papanya. "Please, seperduli apapun, tetap jaga sikap papa. Ini rumah sakit Gio, Gio tidak ingin ada yang membicarakan sesuatu yang buruk tentang papa."


"Lagi-lagi...." Darmo menggeleng. "Buruk apa sih? masa datang kerumah sakit membesuk orang kok berita buruk."


"Astaga papa, diulang lagi.." Menepuk dahinya. "Dokter dan perawat muda lainnya tidak akan paham. Tapi bagaimana dengan Dokter lama dan pekerja lainnya yang lebih lama berada di Rumah Sakit ini sebelum Gio membelinya? mereka sudah tahu kisahnya dan jangan membuat kisah itu terbuka kembali."


"You don't know the problem. I feel that way, so don't bother me about it." Menyesap kopinya lagi hingga tandas menyisakan ampas. "I won't repeat the same thing. Respect her properly, and stop your disgusting attitude about attention."


"Haiss..." Gio mendesah kesal, merebahkan dirinya pada badan sofa ketika papanya sudah melesat pergi. "Orang tua itu benar-benar tidak ingat umur ya."


Selama pembicaraan Darmo dan Gio, Putra berada diluar ruangan. Dan saat melihat kakeknya keluar, dia masuk setengah badan untuk berbicara pada papanya. "Pa, Putra ikut kakek pulang."


"Terserah!!!" Ucap Gio membentak.


"Pa, are you okey?"


Gio menghembuskan napasnya pelan. Dia melampiaskan kekesalan pada putranya. "Sorry, pergilah, bilang pada mamamu agar dia tidak mencari dan khawatir."

__ADS_1


"Baik." Pintu tertutup lagi, menyisakan Gio yang kembali sendiri, membiarkan otaknya berputar pada percakapan serta tingkah laku papanya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2