
...πΌπΌπΌ...
Sesuatu hal yang mustahil bagi Doni adalah soal putra sematawayang Adietama, masalahnya sejak duku tidak pernah terpintas bahwa hubungan putra Adietama dengan putrinya akan sedekta itu. Doni memijit kedua pelipisnya dengan satu tangan, mengingat bagaimana Clarissa tersenyum manis dalam pelukan Putra tadi malam. Dia menghela sejenak, perlu kah ditanyakan hubungan keduanya, atau dia perlu bertanya pada Gio mengenai ini.
Astaga,
Kenapa perasaan Doni malah bercampur aduk, keluarganya selalu berhubungan dengan keluarga Adietama, mulai dari mendiang istrinya, anak pertamanya dan sekarang anak keduanya.
Doni menghela napas. Dia menatap kosong pintu ruang kerjanya, bahkan saat salah satu perawat masuk kedalam ruangannya dia masih tidak sadar dari lamunan.
"Dokter....."
"Dokter Doniii...."
Doni tersentak kaget, dia memposisikan duduknya dengan benar dan menatap perawat yang ada di depan mejanya. "I-iyaa, ada apa?"
"Saatnya memeriksa pasien ruang VIP Dok,"
Doni menatap jam dinding, pukul sebelas lewat, sudah waktunya dia memeriksa istri dari salah satu sahabat kuliahnya dulu. Doni berdiri, "baiklah, ayo kita periksa."
Setelah memeriksa pasien, Doni beserta dua susternya keluar ruangan. Di tengah perjalan langkah mereka memelan karena melihat Gio tengah berjalan sendiri, dua suster dibelakang Doni menunduk kecil, lalu menunduk pada Doni karena diminta oleh pria itu untuk pergi lebih dulu.
"Sehabis memeriksa istri walikota kah?" Tanya Gio ketika mendekatinya.
"Iya, kebetulan walikota itu teman saya," jawab Doni sembari menghampiri kecil. "Bagaimana kabar anda."
"Yah, seperti biasa, oh iya, bagaimana kabar Clarissa. Sudah lama tidak melihatnya, tiba-tiba kangen." Doni terkekeh mendengar eluhan sang pemilik Rumah Sakit. "Bagaimana kalau kita makan malam bersama,"
"Makan malam bersama? maksud anda. Saya, Clarissa dengan anda, nyonya Anita serta Putra?" Doni masih belum menerima kenyataan ini.
Gio memicing heran. "Of course. Memangnya siapa lagi? oh iya, ajak Bintang juga, setelah kejadian itu kami tidak pernah bertemu."
Doni menggaruk tengkuknya, dia ingin menolak tapi tidak berani. "Bintang sedang tidak baik dengan saya,"
"Loh, kenapa?"
"Entahlah. Dia selalu menyalahkan semua kesalahan kecil pada saya tentang dia bukan anak kandung saya."
"Maksud anda?"
"Bintang merasa, kesakitan yang dia alami adalah perbuatan saya karena dia bukan anak kandung saya. Padahal, semua yang terjadi tidaklah atas kehendak saya."
Gio melangkah maju, menatap Doni dengan serius, melupakan soal janji makan siangnya bersama samg istri. "Apa ada masalah?"
"Anda tahu kan kalau kekasih Bintang sedang mengandung?"
"Um." Gio mengangguk.
"Kekasih Bintang adalah putri kandung Clara, mantan kekasihku."
Gio menutup mulutnya. "Astaga, ke-kenapa bisa??"
"Sepertinya semua sudah diatur oleh Clara dan Raisa."
"Bagaimana keadaan Bintang?"
__ADS_1
Doni menghela napas pelan, dia sendiri sulit menjelaskan tentang situasinya. "Diambang kehancuran, dia bimbang dengan darah yang mengalir pada Raisa. Tapi dia memperdulikan bayi yang ada dalam kandungan Raisa."
"Kita bisa diskusikan baik-baik, tetap minta Bintang bertanggung jawab atas bayi itu. Setelah melahirkan, kita tinggal ambil atau berikan semua kebutuhan tanpa pernikahan." Gio memandang kesal. "Mungkin saran saya salah, tapi buah jatuh tidak jauh dari pohonnya bukan?"
"Apa boleh kita berpikir seperti itu?"
"Why not?" Gio menepuk bahu Doni untuk menguatkan. "Saya akan bantu jika mereka meminta jalur hukum, ini juga penipuan."
...πΌπΌπΌ...
"Kak,,,,,"
Clarissa mengetuk pintu kamar Bintang, laki-laki itu memutuskan untuk tidak pergi setelah mendengar pernyataan dari Clarissa malam itu. Clarissa memang tidak pernah bersuara, sekali bersuara ucapan langsung didengar.
Walaupun sedang tidak baik-baik saja, Claridsa harus tetap memperdulikan kesehatan kakaknya.
"Bi Siti sudah masak kesukaan kakak."
Pintu terbuka, membuat Clarissa terkejut dan melangkah mundur. Bintang sudah berpakaian rapi mengenakan celana levis hitam panjang dengan kemeja kotak-kotak berwarna navy kombinasi hitam.
"M-mau kemana?"
"Ke tempat Aleta, ada tugas yang harus diselesain."
Clarissa meraih lengan Bintang, mencegah laki-laki itu pergi. "Kakak gak ada hubungan sama kak Aleta kan? walaupun kakak lagi ada masalah sama kak Raisa, kakak harus ingat soal kandungannya."
Bintang melepaskan tangan Clarissa secara perlahan, tersenyum kecil menatap sang adik. "Kamu urus aja soal asmara kamu sama Putra, gak usah mikirin soal orang lain. Kakak tahu apa yang terbaik untuk kakak."
Mata Clarissa melebar. "Kakak tahu?"
"Iyalah. Kalau mau bertamu jangan malam-malam, suruh dia lebih sore main kesini, gak baik dilihat tetangga." Bintang mengelus puncak kepala Clarissa lembut, "maaf soal kemarin, kakak pergi."
...πΌπΌπΌ...
"Bintaanggg....."
Langkah Bintang memperlambat, dia berbalik melihat Meysa, dia hendak mengeluarkan sebuah umpatan karena kenapa mereka harus bertemu. Sayangnya, pria tinggi disebelah perempuan itu membuatnya mengurungkan niat jeleknya.
"Loh, bukannya anaknnya Dokter Doni ya?"
Bintang berjalan mendekat, dia mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya Om, apa kabar?"
Jeri meraih tangan Bintang dan tersenyum lebar. "Baik, bagaimana denganmu?"
"Baik juga."
"Kamu sedang apa di area sini?"
"Rumah teman, ada tugas kelompok."
"Oh iya?" Jeri menepuk bahunya pelan. "Ayo mampir, Alia pasti sudah masak makan siang."
"Tidak usah Om."
"Haih, kenapa menlok, ayoo..."
Meysa meraih lengannya. "Ayooo,"
__ADS_1
Dan sial. Bintang duduk diantara mereka dimeja makan. Alia sudah menaruh piring dihadapannya, senyum perempuan itu sama teduhnya seperti milik mendiang sang mama. Tidak ada kehangatan yang tercipta seperti ini di rumahnya lagi, sudah beberapa kali dia hancurkan kehangatan yang papanya berusaha buat. Bintang juga tersadar, bahwa senyum Meysa telah berubah, dia menjadi lebih ceria dibandingkan dulu.
Perempuan itu membawakan satu mangkuk dengan pelan-pelan menuju meja, tanpa sadar Bintang berdiri dan mencoba membantu.
"Itu, tolong lebarin alasnya untuk ini."
Bintang menurut saat dimintai tolong Meysa, tingkah menyebalkan yang selama ini dia tunjuk pada Meysa seketika menghilang. Alia datang membawa minuman dingin dan dia tuangkan diatas setiap gelasnya.
"Mey, panggil Om gih, sudah siap semua."
"Okey,"
Alia tersenyum tipis melihat mata Bintang mengikuti kepergian Meysa hingga menghilang dari balik dinding.
"Clarissa apa kabar?"
"Baik tante,"
"Pertama kali bertemu sudah kacau ya? padahal kita belum sempat kenalan dengan baik,"
Bintang mengangguk samar, kacau? saat mereka demua tahu kalau Bintang adalah anak Darmo ya?
Jeri datang dengan menggandeng tangan Meysa, duduk didekat mereka dan memulai untuk makan siang.
"Papa kamu pernah sempat ajak makan siang bersama loh? tapi kami belum semoat bertemu lagi,"
"Akhir-akhir ini papa sibuk Om, mungkin karena lama tidak masuk."
Jeri mengangguk. "Papa kamu tidak tahu ya kalau Meysa anak dari mba Anita?"
Bintang menggeleng tidak paham.
"Kemarin saat bertemu, dia ingin menjodohkan kalian. Sepertinya semangat, tapi om tidak berani bilang, karena Meysa akan menjadi anak kami setelah semuanya setuju."
"Om Gio tidak setuju?"
Jeri mengangguk, "dari dulu dia yang menentang mba Anita untuk membawa Meysa, tapi sekarang saat kami ingin mengambilnya, dia bersikap seakan-akan menginginkan Meysa sejak lama. Tapi semua tergantung Meysa, ingin ikut siapa." Jeri menatap Meysa manis. "Yakan?"
Meysa terkekeh. "Iyaaaa."
"Makanya om tidak berani bilang, soalnya pasti akan kacau jika kalian bersama." Bintang dan Meysa saling pandang. "Akan jadi apa om dan keponakan bersama."
"Massa,," Alia melototi suaminya. "Kenapa pembicaraan serius kamu buat bercanda sih?"
"Maaf sayang."
"Kalau memang perasaan mereka bisa, kenapa tidak? walaupun Bintang itu jatuhnya adik kamu, atau Meysa itu anak dari kakaknya Bintang, perasaan tidak bisa dipaksakan." Alia mendelik lagi. "Sudah, selesaikan makannya, katanya Bintang mau mengerjakan tugas kan? nanti dia bisa terlambat,"
Makan siang selesai tanpa ada pembicaraan lagi settelah Alia membuka suara soal obrolan amburadul mereka. Bintang masih menurut saat Meysa ikut pamit pada Jeri dan Alia untuk mengantarnya.
Sampai di depan pintu lift, Bintang menoleh pada Meysa sebentar lalu kembali menatap kedepan.
"Kenapa om?" Pertanyaan Meysa membuat Bintang menoleh, bukan soal pertanyaannya, tapi soal panggilan Meysa untuknya. Melihat ekspresi Bintang, Meysa terkekeh dan memeluk lengan Bintang sembari mengelus kepalanya pada bahu laki-laki itu. "Kamu gemesin banget,"
Bintang melepaskan sentuhan itu, saat pintu lift tebuka dia langsung masuk dan menatap Meysa aneh.
"Bintang," Aleta menatap heran dan dia melambaikan tangannya pada Meysa.
__ADS_1
Meysa membalas dengan tatapan datar, lalu menatap Bintang dengan sumringah. "Dada oomm."
πππππππ BERSAMBUNG πππππππ