Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:25


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Clarissa menelan salivanya kuat, menatap cermin sekali lagi. Ini sudah jam setengah delapan. Sebentar lagi Kanya akan menjemputnya, mengantarkan menuju konser Bad Omens, semoga rencananya berhasil. Sekali lagi Clarissa menatap cerminan dirinya, dia sengaja mengenakan sweater milik laki-laki asing yang masih dia simpan.


Meskipun sweater itu dia pakai hingga setengah paha tetap dia pakai, dan dia padukan dengan rok pendek span motif kotak-kotak berwarna hitam kombinasi merah, rok dan sweater saling menyaingi panjang mereka. Rambut pendeknya sengaja dia kuncir setengah. Tas slimbag berwarna hitam dia sudah pakai, dia lihat lagi, alat bantu pernapasannya tidak akan dia tinggalkan.


Terdengar suara klakson, menandakan Kanya sudah dibawah sana menunggu. Clarissa berpamit pada bi Siti, Bintang sudah lebih dulu meminta izin untuk menginap diapartemen bersama Raisa tentunya. Papanya sudah dari siang pergi dinas dan besok baru kembali. Karena tidak ingin mengganggu istirahat bi Siti, Clarissa meminta untuk membawa kunci rumah saja dan diiyakan oleh bi Siti setelah banyak ceramah yang disuguhkan terlebih dahulu.


"Cakep..." Kanya mengacungkan jempolnya melihat tampilan Clarissa.


Clarissa menghembuskan napasnya pelan. "Gue harus berhasil."


"Pasti, tapi seperti biasa, gue gak akan masuk."


"Taulah,"


Kamya hanya mengantar, dia sudah ada janji dengan Edo. Sedangkan teman lainnya hanya menyemangati dia lewat pesan singkat.


Riuh terdengar dari luar pagar yang gelap menjulang tinggi, hanya terlihat beberapa orang berlalu lalang untuk mengantre masuk. Lampu yang menyala dengan banyak warna terlihat menyilau keatas. Clarissa menghembuskan napasnya pelan sebelum melangkah menuju pintu masuk, kali ini tidak seperti kemarin, dia datang bukan untuk melihat Nick folio ataupun anggota lain Bad Omens, dia datang ingin mencari laki-laki misterius itu. Dia rapikan lagi pakaiannya sebelum melangkah masuk dan dia naikkan hodiee. Agar tidak terlihat.


Sebelum Bad Omens menguasai, beberapa jajaran band metal di Indonesia tengah mengusai, pekikan mengikuti iringan musik menyeruak kedalam telinga. Beruntung badan Clarissa mungil, dia hanya menyusut dan terus berjalan hingga ketengah kerumunan. Bentuk penonton tidak dibuat seperti pertama kali band ini manggung, semua di buat bebas tanpa ada penghalang. Clarissa menyenggol salah satu badan laki-laki tinggi.


"Ehh, maaf maaf." Hanya menunduk kecil saja.


"Hell, kamu datang lagi?" Clarissa mendongak, membuka penutup kepalanya, dan menyipitkan matanya mengingat siapa laki-laki tinggi dihadapannya ini. Laki-laki itu menepuk kedua punggung temannya dan mereka langsung melihat kearah Clarissa. "Ini nih, masih inget gue, dia little rich yang dapet konser VIP bulan lalu."


"Widihh, Clarissa.. Inget gue!!!" Teriak salah satu temannya, mereka harus berbicara sedikit kencang karena suara musik lebih mendominasi. "Dek, aku sampai follow kamu loh, follback dong."


Clarissa menatap wajahnya lama, lalu mengangguk, membuka ponselnya, menyerahkan pada laki-laki dihadapannya. Tentu saja laki-laki itu girang dan langsung mencari namanya, menekan tombol follow back.


"Gimana dek rasanya dipeluk Noah?" Tanya laki-laki yang lebih pendek.


"I feel so cool." Jawab Clarissa, kepalanya mendangak ke berbagai arah, masih berusaha mencari laki-laki misteriusnya. Sial, berapa lama lagi tiga laki-laki dihadapannya mengajaknya bicara.


"Papa kamu orang kaya ya? dua kali loh kamu nonton,"


"Nabung," Clarissa itu sedang dalam mode tidak nyambung. "Tapi yang sekarang dibeliin papa sih,"

__ADS_1


"Gila gak tuhhh.."


"Banyak yang gak terima soal tiket VIP, katanya gak adil. Kalau kata gua mah ya tiket VIP emang cocok untuk orang kaya yang punya waktu aja sih." Decaknya heran. "Jadi sekarang tiket itu dikosongi."


"Kalau pun ada, kamu mau ikut lagi dek?" Tanyanya lagi pada Clarissa.


"Umm, enggak sih, kasih ke yang lain dong kak." Jelasnya, lagian dia tidak berminat lagi. "Kemarin nyaris hadiah dari Nick Folio hilang."


"Hah? Really. Kok bisa?"


"Panjang ceritanya, tapi untung udah ketemu."


"Ketemu dimana?"


"Gak tau, pacar saya."


Mereka bertiga menggeleng takjub, gaya berdiri dan pose melipat kedua tangan di dada juga mereka lakukan bersama. Musik dari band lokal tidak lagi membuat mereka tertarik, sepertinya cerita Clarissa lebih menarik.


"Jangan bilang kalau pacar kamu kayak di novel, kaya raya terus bisa mendapatkan apapun untuk pacarnya." Clarissa terdiam, sebenarnya itu benar, tapi tidak mungkin juga Putra melakukan diluar nalar untuk mendapatkan barangnya yang hilang. Astaga. Kenapa Clarissa tidak terpikirkan akan hal itu. "Kayaknya iya dari diemnya kamu."


Mereka tidak lagi melanjutkan pembicaraan saat Bad Omens sudah masuk arena panggung, Noah dengan semangat menyambut para pecinta musiknya, sedikit memberikan basa-basi karena untuk kedua kalinya dia datang ke Indonesia. Noah masih seperti pertama kali datang, tampan dan mempesona, ciri khasnya ia menggunakan celana dasar hitam dengan kaos turtleneck hitam yang dimasukkan dan dia beri sentuhan cardigan hitam. Mungkin sekitar tiga lagu dia bawakan, seperti Take Me First, Like A Villain, dan Nowhere to go. Lalu pria gagah itu melangkah kebelakang panggung, digantikan oleh seorang laki-laki dengan setelan celana jeans berwarna biru dan kaos oblong. Tentu tidak ada yang menggunakan pakaian formal saat ini, memangnya mereka sedang ada diacara apa?


Laki-laki itu ketengah panggung, dan sedikit maju hampir diujung panggung, mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan lain-lainnya. Laki-laki itu berucap lantang.


"CLARISSA IS HERE!!!!!! " Clarissa tersentak saat namanya disebut oleh laki-laki diatas panggung itu. Dan lebih kagetnya lagi saat ketiga laki-laki didepannya bersemangat karena merasa mereka dekat dengan dirinya.


Tubuh Clarissa didorong oleh ketiganya, bahkan mereka memberi penjagaan saat salah satu petugas menghampiri mereka. "Kamu Clarissa?"


"IYA!!" Bukan Clarissa. Melainkan ketiga laki-laki yang tidak Clarissa kenalin. Clarissa menaikan hodie lebih dalam untuk menutupi seluruh wajahnya. Terdengar setengah teriakan dari belakangnya. "Dek, salamin buat Jolly."


Astaga. Bukan ini tujuan Clarissa datang menonton. Tapi sudahlah, dia ikuti saja arusnya, saat Clarissa sampai diatas panggung. Laki-laki yang kita sebut saja sebagai host acara mengulurkan tangannya, membantu Clarissa naik keatas.


"Apa kabar?"


"Baik kak." Jawab Clarissa. Laki-laki itu mengangguk dan membawa Clarissa menuju backstage. "Kenapa kebelakang?"


"Mereka ingin bertemu secara privasi," bisiknya. Dan saat Clarissa sudah masuk kesalah satu ruangan, laki-laki yang membawa Clarissa tadi sudah kembali keatas panggung memanggil band lainnya untuk menguasai panggung terlebih dahulu.


"Hey Ica, how are you, baby?" Sapa Noah Sebastian saat melihatnya membuka pintu dibantu oleh salah satu petugas, mereka sedikit berpelukan karena Noah yang mengajaknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Fine." Clarissa terkekeh. "I don't know about this private call."


Nick Folio berdiri dari duduk bersandarnya. "I heard you lost our gift. Look at your Instagram posts."


Nick tersenyum hangat. "So, we've come to give you what you've been missing."


Clarissa terharu, seharusnya mereka kecewa karena Clarissa tidak menjaga dengan baik pemberian mereka. Namun, Nick Folio dengan senang hati memberikannya stik dan Album terbaru mereka yang sempat hilang.


"Thanks, but, I've found them again.," Wajah mereka kaget, tapi tetap tersenyum dan memaksa Clarissa menerima hadiah dari mereka lagi, tapi dengan barang lain. Seperti kaos dan Hodiee dengan sablonan nama band merek yang sudah dikepak dalam papper bag. Lalu Clarissa memeluk satu persatu member dengan ucapan terima kasih, mereka mengantarkan Clarissa keluar dari backstage kedepan panggung, membantu Clarissa menuruni panggung.


...🌼🌼🌼...


Obrolan ringan mereka tidak menyadarkan bahwa diluar sudah dibanjiri oleh air, masih gerimis namun percikan itu tidak membuat mereka goyah meskipun basah telah membuat mereka kedinginan. Bad Omens menyanyikan lagu mereka saat Clarissa sudah keluar dari pagar dan sialnya semua orang mendadak gila saat Noah mulai menyanyikan salah satu lagu mereka yang berjudul Artificial suicide.


Clarissa tersentak, sebuah jaket levis menutupi tubuh mungilnya. Bukan marah, Clarissa malah mengembangkan senyumnya. Clarissa mendongak, tidak dapat melihat jelas siapa laki-laki yang tengah memeluknya, tangannya menggenggam satu tangan Clarissa dan tangan lainnya dia coba untuk mengangkat sedikit jaket levinya. Yahh, Clarissa menemukan laki-laki misteriusnya, dia tidak salah karena parfum itu lagi menyeruak hidungnya, ciri-ciri mereka sama dan style mereka lagi-lagi serupa. Clarissa hampir berteriak dan berjingkrak karena telah menemukan laki-laki yang dia cari selama ini.


Meskipun Clarissa tidak tau sedang dibawa kemana, Clarissa tidak protes, air semakin membuat dia merasakan jaket ini tidak lagi menahannya dari tetesan air. Tapi Clarissa tidak perduli. Clarissa menatap tangan laki-laki itu yang menggenggamnya, dia mengembangkan senyuman. Ada bekas luka disela antara jari telunjuk dan ibu jari.


Laki-laki itu berhenti membuat Clarissa ikut berhenti. Jaket yang semula menutupi mereka dibuka perlahan, karena hujan semakin lebat membuat lampu setengah padam karena ini diluar kendali mereka, namun Bad Omens masih terdengar semakin membara. Clarissa memeluk papper bag pemberian Nick, tidak dibiarkan basah meskipun bajunya sudah tidak kering lagi.


Clarissa memicing, tidak dapat mengenali siapa laki-laki dihadapannya. Gelap.


"Hai. Ketemu lagi." Ucap Clarissa lebih dulu. Dia ingin memastikan sesuatu, agar pikirannya tidak berkeliaran jauh. "Aku...."


Clarissa tersentak, laki-laki itu membungkam mulutnya dengan mulutnya. Ini bukan bantuan pernapasan seperti yang lalu. Ini Arghhh.... Clarissa tidak tau harus berbuat apa.


Kepalanya mendongak atas titahan laki-laki didepannya, Clarissa disandarkan pada pohon, matanya tertutup saat laki-laki itu melepaskan pangutan mereka. Tangannya meremas kuat ujung kaos laki-laki itu.


"I Miss, you look cute wearing my sweater." Bisiknya nyaris tidak terdengar.


Perlahan Clarissa membuka matanya, kepalanya tertunduk saat ponselnya bergetar. Dia ambil dan tertera nama Noel disana.


"H-halo.." Jawabnya terbata. Matanya melebar, masih dalam panggilan, dia menghidupkan senter diponselnya dan dia arahkan pada laki-laki didepannya. Sayangnya, dengan sigap laki-laki itu menutup setengah wajahnya.


"Silau." Berusaha menurunkan ponsel Clarissa.


Clarissa menunduk, laki-laki itu mengelus puncak kepalanya. "Damn. Why do I still wish you were Putra."


"Huh."

__ADS_1


Tanpa berpamit, Clarissa mengulangi perbuatannya seperti yang lalu. Berlari meninggalkan laki-laki itu yang berdiri mematung. Tanpa memanggil suara Clarissa seperti waktu itu.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2