Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
00:37


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


"Yuk Ca," Kanya mengajak Clarissa untuk berkumpul dilapangan, hari ini kelas IPA satu memasuki jam pelajaran olahraga. Seperti biasa mereka akan berkumpul ditengah lapangan, namun yang membedakaan, hari ini mereka tidak melakukan lari jauh.


"Pemanasan dulu..." Teriak bu Aini dari pintu belakang kantor yang langsung mengarah ke lapangan. "Lima belas menitt..."


Setelah lima belas menit mereka pemanasan, bu Aini kembali datang dan berdiri ditunggakan yang membuat seluruh muridnya mendongak.


"Hari ini kalian cukup bermain basket, voly, atau bola." Ucapnya. "Biasa, ada pertemuan guru-guru," semuanya berjingkrak girang.


"Tapi inget, jangan kekantin, kekelas atau pulang malahan." Imbuhnya, "tetap disini dan berkegiatan, kalau mau duduk ya duduk terserah."


"SIAP BUU!!??!!" Teriak mereka kegirangan.


Bu Aini kembali kekantor setelah meng-absen para muridnya.


"Sekali-kali untuk mempererat tali persaudaraan, gimana kalau perempuan sama laki-laki main voly barengan?" tawar Daze yang sudah menempati posisi bu Aini tadi. "Kalau yang males boleh minggir jadi pemandu sorak, yang bisa gak perlu mahir yuk gabung."


Seluruh anggota kelas IPA satu menerima ajakan ketua kelas. Beberapa sudah masuk dalam tim masing-masing dan berdiri ditempatnya.


"Put, gak ikut?"


"Gak." Putra berjalan dan duduk disebelah teman-teman yang sedang menunggu giliran dan yang memang malas untuk ikut bermain.


"ICAA SEMANGAT!!??!"


Teriakan kencang Kanya membuat Clarissa mengangguk dan melambaikan tangannya. Untuk olahraga Voly, Clarissa cukup menyukai dan sedikit bisa dalam bermain.


Pertandingan semakin sengit, Clarissa tidak pernah merasa bersemangat seperti sekarang ini. Dia terus berlari mengikut bola, bahkan dia sempat berjingkrak senang karena bisa melawan. Namun saat dia tengah diajak Vina berbicara, sesuatu berlari kearahnya dan membuatnya terjatuh. Suara hentakan keras mengenai seseorang yang berada diatasnya.


"CLARISSAAAAAAA!!!!????!!!!" Teman-temannya berteriak kencang, bola Voly yang tanpa disadari Clarissa hampir mengenainya. Clarissa mengerjap matanya, Putra melindunginya dari bola Voly itu.


Putra bangkit, dan Kanya bergegas membuatnya duduk dan bersandar padanya. "Lo gak apa-apa Ca?"


"Clarissa." Daze juga terlihat panik dan berjongkok didekatnya, meraih dahinya memastikan bahwa dia baik-baik saja.


"Ya Allah istri gue..." Semua mendelik menatap Alec yang entah sejak kapan sudah duduk didekat Kanya, mengguncang lengan Clarissa dengan lembut. "Sayang..."


Daze menoyor. "Heh, sayang sayang,"


Semua tampak memperhatikan keanehan yang Clarissa respon, kehebohan semuanya tidak dia tanggapi.


"Ca..." Kanya mengguncang pelan, Clarissa membeku dan matanya terbuka lebar. "Ca,, woy Ica pingsan..."


"Emang ada pingsan buka mata?" tanggap salah satu teman sekelasnya.


"Ica."


"Bentar Nyak," Kanya dan yang lainnya menghembuskan napas lega. Clarissa masih mengerjapkan matanya, bersandar pada paha Kanya. "Sebentar ya,,,,"


Entah apa yang dilakukan perempuan itu, teman-temannya menurut dan menunggu Clarissa selesai dalam urusan pikirannya. Seluruh teman sekelasnya mengelilinginya. Clarissa berdiri dan menatap semua teman-temannya.

__ADS_1


"Sebentarr," ucapnya lagi. Lalu mengelus dada, menarik dan menghembuskan napasnya berulang-ulang.


"Ca, bengek lo kambuh ya?" tanya Kanya.


Clarissa hanya menyodorkan kelima jarinya. Meminta Kanya untuk diam dulu.


"Ca,,," Vina menegur Clarissa karena masih belum selesai mengelus dada serta menarik dan menghembuskan napasnya. "Lo ngapain sih?"


"Gue gak apa-apa, kaget aja."


"Terus tadi ngapain?" Alec ikut bertanya.


"Menenangkan diri." Clarissa mengembangkan senyumnya. "Yuk, lanjut."


"Enggak, enggak!!!" Daze mengangkat tangannya. Dia menunjuk Mira. "Anterin Ica ke Uks, kalau ada yang ngerasa gak enak badan, ikut sekalian."


Mira bergegas memapah Clarissa dan melihat kearah yang lain, barangkali ada yang ingin ikut, sayangnya tidak ada dan Clarissa juga menolak.


"Gue disini aja deh,"


"Gak!!" Alec berdiri dan mengibas tangannya seakan-akan menginginkan Clarissa pergi. "Aku gak mau kamu sakit, atau mau aku temenin."


"Anjir." Daze memukul bahu laki-laki itu. "Bisa diem gak itu mulut."


"Kok lo nyolot sih Ze,"


"Heh? lo juga aneh Lec," Kanya menatap Mira. "Udah gue aja yang anter."


"Gak!!" Daze menarik lengan Kanya. "Nanti dia jadi bergantung sama lo."


...🌼🌼🌼...


Sikap yang diberikan oleh teman-teman sekelasnya menjadi pikiran untuk Clarissa. Memang sedari dulu dia selalu mendapat perhatian lebih karena penyakit asmanya. Tapi kali ini, karena sikap Daze yang berlebihan membuat seluruhnya menjadi ikut berlebihan.


Clarissa tidak berniat berbaring, karena memang dia tidak sakit. Tapi untuk menghentikan sikap teman-temannya dia memilih untuk beristirahat didalam UKS saja. Dia berdiri didekat jendela menatap keluar.


Kanya sudah mengisi tempatnya bermain, dan dia melihat Putra juga sudah ikut masuk dalam permainan. Bibir Clarissa melengkung, mengukir senyuman mengingat bahwa yang menjadi penyebab lamanya mengatur nafas, adalah Putra. Laki-laki itu bersikap ketus namun menolongnya saat ia tidak sadar kalau bola voly tengah melayang kearahnya, dengan sigap Putra memeluknya untuk menghindari itu. Clarissa tidak menyangka kalau Putra sedang memperhatikannya.


"Memperhatikan atau tidak sengaja melihat?" Clarissa menggeleng kecil, benar juga, siapapun akan menolongnya jika tidak sengaja melihat itu. Secara kebetulan saja tadi Putra yang melihat bola Voly itu. "Gue aja yang terlalu berlebihan."


Pintu terketuk membuat Clarissa bergegas duduk disisi ranjang, tidak ingin terlihat sedang baik-baik saja. Tidak mungkin dia baik-baik saja tapi malah asik santai diruang UKS.


"Sudah baikan?" Marisa masuk dan membawa secangkir teh hangat, menaruhnya pada meja kecil disamping ranjang. "Tadi Daze ngabarin kalau kamu lagi di UKS, untung aku yang lagi giliran jaga."


"Sebenarnya gak sakit sih,,,,"


"Gak apa-apa, disini malah santai, kan pakai AC." Keduanya tertawa kecil. "Sudah makan?"


"Sudah."


Keduanya saling membisu, ayolah, Clarissa selalu tidak suka disuguhkan dengan orang-orang yang membuatnya canggung.


"Diminun," tawarnya. "Tapi pelan-pelan, takut masih panas."

__ADS_1


Clarissa mengangguk, memilih mendekati teh hangat dan menyeruput sedikit karena masih terlalu panas.


"Clarissa,,,"


"Panggil Ica aja." Ucapnya, karena merasa Marisa orang yang cukup baik untuk dekat dengannya.


"Boleh?" Clarissa mengangguk. "Aku denger yang panggil itu cuma orang terdekat kamu, berarti kita deket dong?"


"Sebenarnya siapa aja bisa sih, cuma kebetulan mereka mungkin kurang nyaman manggil gitu karena gak deket." Karena yang memanggil Clarissa dengan nama rumahnya itu hanyalah Kanya, sedangkan untuk Putra, Clarissa sendiri tidak tahu sejak kapan laki-laki itu memanggilnya dengan sangat nyaman.


Pintu terbuka secara mendadak tanpa adanya ketukan membuatnya dan Marisa sama-sama menatap kearah pintu.


"Putra..." Marisa berdiri dan menghampiri laki-laki itu, "kamu kenapa disini?"


"Sakit."


"Sakit?" tangan Marisa menempel pada dahi Putra dan tangan lainnya menempel pada dahinya. "Enggak kok,"


"Bukan demam."


Marisa menarik tangannya. "Terus,, sakit apa?"


"Sulit dilukiskan dengan kata-kata." Langkahnya berjalan menuju ranjang dimana Clarissa duduk, laki-laki itu langsung berbaring disana. "Mau teh."


"Okey." Perempuan itu menatap Clarissa. "Sebentar ya Ica,"


"Iya,"


Satu ruang dengan Putra? bahkan berada satu ranjang, tangannya mengepal dan ditaruhnya didada. Detak jatungnya terasa berdetak lebih cepat, Clarissa tidak berani melihat apalagi bertanya.


Matanya perlahan melebar, kepalanya yang tertunduk seketika terangkat dan menatap kearah pintu. Bagaimana ini? tubuhnya membeku ketika tangannya yang menjadi tumpuannya untuk duduk tiba-tiba disentuh oleh Putra.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


CLARISSA FATIYAH ADAMS



KANYA DEALOVA



DELISA ANDIRA



ALVINA ANGGRAENI



MEYSA ADELIA


__ADS_1


MARISA BETHANY GERALDY



__ADS_2