Bintang Clarissa

Bintang Clarissa
01:05


__ADS_3


...🌼🌼🌼...


Meysa memasang wajah kesal, kisah sedihnya dijadikan bahan tawa oleh Rosita, perihal selama ini dia mengejar Putra bukan karena menyukai laki-laki itu, tapi ini atas kehendak kakek dari papanya yang tidak perduli itu. Rosita juga memahami perasaan Meysa sebagai sahabatnya, bukan perintah kakeknya lagi yang perlu dia turuti, melainkan pengakuan dari sang mama yang dia inginkan. Meysapun cukup mengerti tentang kondisi buruknya ini, entalah, ini perlu dikatakan kondisi buruk atau baik, yang jelas ada plus minus didalamnya.


"Sorry to say ya Mey, cerita hidup lo itu berasa joking tau ditelinga gue. This sounds like something very unlikely to be well received. right?"


"Lo pernah gue ajak bercanda gak sih?"


Dahir Rosita berkerut, memudarkan tawanya yang enteng lalu dia rubah menjadi serius menatap Meysa. Mengingat bahwa selama ini mereka belum pernah tertawa untuk sekedar candaan ringan. Selama ini mereka tertawa untuk kebodohan orang-orang yang mereka bully. Yup, Rosita akan ikut menertawakan ketika olokan teman-temannya hanyalah olokan ringan, namun jika sudah menyangkut kekerasan seperti perlakuan mereka terhadap Clarissa, Rosita tidak ikut. "Sumpah ya Mey, otak gue beneran belom bisa nangkep soal kenyataan lo itu anak Anita Tiara Adietama, pemilik yayasan sekolah ini, istri dari seoeang Gio Adietama pemilik Rumah sakit terbesar diibu kota, dan lagi, lo bakal jadi adik Putra dong? itu diluar skripsi banget. Padahal lo tau faktanya, tapi lo tepis soal itu."


"Ya mau gimana, kakek gue maksa."


"Lo gampang keracun ya, emang kakek lo gak tau kalau nikah satu ibu itu perbuatan dosa. Lo sama Putra satu kandung anjiir." Rosita membara, "gak bisalah, begoo banget."


"Putra bukan anak kandung Anita."


"HAH? Apa lagi ini Tuhan? kenapa plot twits banyak banget." Rosita menggeleng kuat. "Tapi, mereka mirip loh, cantik dan tampan."


Meysa menoyor kepala Rosita. "Ngaco lo, cantik dan tampan bukan definisi mirip Roos,"


Rosita mengelus kepalanya. "Btw Mey, nyokap Putra kemana?"


"Meninggal, serangan jantung waktu Putra masih kecil." Jawabnya lemas,


"Yang gue heran, kok bisa ya Putra selengket itu sama bu Anita?" Mengingat bagaimana sikap cool laki-laki itu menghilang jika dihadapkan oleh Anita. Dan sikap itu juga laki-laki itu tunjukan pada Clarissa.


"Ya karena dari kecil,"


"****, gue gak tahu kalau lo memendam beban ini selama bertahun-tahun," tanggapnya. "Gue masih heran sama kakek lo,"


"Mereka gak mau kalau gue masuk kedalam rumah Adietama sebagai anggota keluarga posisi anak. Mereka maunya gue masuk kedalam rumah Adietama sebagai nyonya dari calon pewaris."


Rosita bertepuk tangannya kuat-kuat. "Gila!! ini gilaa bangeettt!!!! jadi lo gak suka sama Putra?"


"Gak lah, bahkan selama diluar sekolah, dia yang selalu nempelin gue, dia akting aja kalau disekolah benci sama gue."


"Soal itu kita pinggirin dulu," Meysa mengangguk, "Jadi, Putra suka sama Clarissa?!"

__ADS_1


"Astaga Rosita, ini lo sama sekali gak tertarik sama cerita ngenes gue?"


"Ya yang itu lumayan juga Mey," dia terkekeh. "Ya sudah lanjut."


"Yang jadi permasalahannya sekarang adalah, Gio Aditema mau gue hadir dikehidupan mereka setelah beberapa tahun dia menolak kehadiran gue." Meysa menatap kearah lainnya. "Gue gak tahu harus seneng atau enggak karena bakal sering bertemu nyokap gue, tapi disisi lain nyokap gue sepertinya gak terima soal keputusan om Gio."


"Kenapa?"


"Mungkin hal yang memalukan kalau sampai dunia tahu soal gue yang fakta terbesarnya adalah anaknya."


"Bukan soal itu, jangan suka menyimpulkan semuanya sendirian. Gue yakin ada alasan lainnya yang dia sendiri gak tahu cara nyelesainnya." Rosita mendekatkan diri, memeluk Meysa yang masih bimbang dalam pikirannya. "Sudah ya Mey, gue tahu kok kalau lo pasti kesulitan soal ini. Setidaknya, lo sudah diterima baik sama kepala keluarga disana, tinggal lo yang ambil tindakan."


Tangan Meysa perlahan turut memeluk Rosita, merebahkan kepalanya yang berat dan pundaknya yang butuh pelemasan. "Gue masih gak tahu harus gimana, apa gue harus bahagia karena keluarga nyokap gue bakal nerima gue sebagai anggota baru setelah gue kehilangan bokap gue? rasanya, hidup bokap gue selama beberapa tahun adalah satu-satunya penghambat kebahagiaan gue."


"No, lo gak boleh ngomong seperti itu Mey, mungkin waktu itu bokap lo belum yakin untuk ninggalin lo sendirian di dunia ini. Setelah tahu kalau keluarga nyokap lo bakal terima lo, baru deh bokap lo siap ninggalin lo dengan keadaan terpuruk sekalipun." Rosita tersenyum dalam pelukan itu, "lo kuat Mey, walau sikap nyebelin lo selama ini buat Gio Adietama marah, pasti dia tetep menerima lo seperti apapun karena lo anak dari istrinya."


"Sekalipun om Gio nikahin nyokap gue bukan karena cinta, melainkan karena Putra kecil yang menginginkan nyokap gue?"


Pelukan mereka terlepas. "Yap, itu jalan kebahagian lo juga kan? setidaknya, mereka ada rasa perduli sama lo Mey, bahkan semua biaya rumah sakit bokap lo, Gio Adietama yang tanggung kan? walaupun itu Rumah Sakit dia sendiri."


"Menurut lo, apa gue terima untuk tinggal sama mereka? sedangkan gue diberikan Tuhan satu keluarga kecil yang mau nerima gue dengan lapang dada, adik dari om Gio sendiri."


Meysa mengangguk, dia juga sempat kaget ketika kebahagiaan dibalik kehilangannya datang begitu banyak.


"Jadi, menurut lo gimana?"


"Lo punya pikiran, lo punya pilihan, you can choose the best for yourself, people's suggestions don't really matter because it's all in your heart."


...🌼🌼🌼...


Clarissa tersentak kaget, empat kotak susu dengan empat rasa mendarat dihadapannya. Bahkan sang pemberi turut membuatnya kaget bukan main, Delisa yang masih duduk dikelas mereka melirik heran bersamaan dengan Vina yang duduk didepannya, Kanya sedang tidak ada, dia sibuk bersama Edo diperpustakaan.


"Lo suka rasa apa?"


Clarissa melirik Meysa dengan ragu, dia kembali menatap empat kota susu dihadapannya.


"O-oreo."


"Okey." Menggeser kotak susu rasa Oreo dan ditaruh lebih dekat dengan dirinya. Rasa lainnya dia berikan pada Vina dan Delisa. "Buat kalian, tenang aja, gak gue racun."

__ADS_1


Delisa memicing menerima ragu kotak susu itu, tapi tetap dia terima juga.


Sisa satu kotaknya, Meysa menatap bingung. "Kanya gak mungkin mau dari gue," dia berjalan menuju meja Erlangga yang tersusun tepat dibelakang bangku Clarissa. "Gue tahu lo suka Vanilla, nih buat lo."


"Thank you," tanpa basa-basi Erlangga terima dan langsung laki-laki itu minum.


"Kalian ke kantin gak ajak-ajak gue?"


Vina terbatuk karena terkejut mendengar suara Kanya dan Edo berdiri dibelakangnya.


"I-ini Nyak, ini....."


"Gue yang kasih," jawab Meysa santai sembari tersenyum tipis memainkan ponsel dibangkunya, Kanya berjalan mendekati Meysa dan menatap tidak suka.


"Lo mau apain temen-temen gue?"


Meysa menggeleng. "Memangnya ngasih susu cokelat perlu suatu balasan??"


"Apa yang lo rencanain? lo lupa ya, gue pernah bilang sama lo, selama gue masih hidup lo gak bisa sentuh temen-temen gue?" Kanya menatap Clarissa. "Gak usah diminum."


"Apaan sih, lebay banget. Iya gue masih inget kok, gue tunggu kematian lo." Meysa menatap Clarissa. "Clarissa, minum aja susunya, gak apa-apa koj."


"Spoky, gak usah Ca!!" tanpa mengalihkan oandangannya dari Meysa. "Medusa kayak dia gsak bisa sipercaya,"


Meysa tersenyum lebar, senyum dengan arti yang sangat mengerikan, tapi Kanya ticak takut, dia lebih menambah kadar tatapan tajamnya.


"Apa?"


"Gak apa-apa," Meysa merubah senyumannya menjadi lebih ramah tapi tetap terlihat menyebalkan bagi Kanya. "Clarissa, minum gih, gak gue kasih racun kok. Expirednya juga masih lama, lo cek aja dikemasannya. Lihat aja Erlangga, dia juga gak kenapa-kenapa tuh padahal minumannya habis dari tadi."


"Gak usah Ca, nurut kata gue,"


"Kenapa nih?"


Kanya merubah posisi tangannya yang semula berkacak pinggang menjadi melipat didepan dada, melihat kearah Putra yang sudah berdiri diantara mereka.


"Gak perlu tahu, karena lo pasti bakal bela medusa." Ujarnya sembari merampas kotak susu ditangan Clarissa dan keluar kelas, lalu membuangnya.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ BERSAMBUNG πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


__ADS_2